Sukamiskin tempat koruptor tak miskin

MERENGES HAHAHIHI | Dua terpidana korupsi, Nazaruddin dan Bhatoegana, selepas Salat Id di Penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat (Rabu, 6/7/2016)
MERENGES HAHAHIHI | Dua terpidana korupsi, Nazaruddin dan Bhatoegana, selepas Salat Id di Penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat (Rabu, 6/7/2016) | Antyo /Beritagar.id

Hingga hari ini (Kamis, 7/72016) belum terwartakan ada terpidana kasus korupsi di Penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, yang meminta surat keterangan tak mampu dari kelurahan.

Maka bolehlah disimpulkan mereka itu bukan orang miskin. Uang yang mereka salah gunakan mencapai ratusan miliar rupiah. Denda untuk mereka pun mampu mereka tebus.

Muhammad Nazaruddin (37), misalnya. Koruptor yang bekas Bendara Partai Demokrat itu dihukum bui tujuh tahun dan didenda Rp300 juta.

Adapun Sutan "Ngeri-ngeri Sedap" Bhatoegana (56), koruptor yang bekas Ketua Komisi VII DPR, dihukum 12 tahun terungku dan denda Rp500 juta.

Bedanya, dalam Lebaran ini Nazaruddin mendapatkan remisi satu setengah bulan, hadiah Idulfitri, tetapi Sutan tidak.

Kedua orang itu bagian dari koruptor yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Sukamiskin.

Kemarin Pemerintah mengumumkan remisi Idulfitri untuk 63.170 narapidana (napi). Tentu Sukamiskin termasuk pula. Di sana ada 79 napi yang dapat remisi -- yang 49 adalah napi korupsi (Detik, 6/7/2016).

Sukamiskin menjadi penjara koruptor sejak 2012. Para koruptor menambah jumlah napi, tidak mengenyahkan napi non-tipikor. Berapa jumlah koruptor di sana tak disebut jelas dalam data harian penjara.

Kenapa perlu penjara khusus, Wakil Menteri Hukum dan HAM saat itu, Denny Indrayana, mengatakan karena koruptor sebagai penjahat kerah putih memerlukan pembinaan yang berbeda (Hukumonline, 26/12/2012).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR