Tentang istilah ''Galian C'' dalam pertambangan

Istilah "Galian C" sudah tak dicantumkan dalam UU tentang pertambangan terkini
Istilah "Galian C" sudah tak dicantumkan dalam UU tentang pertambangan terkini | Antyo /Beritagar

Istilah "Galian C" belakangan ramai diberitakan lantaran tewasnya seorang warga desa di Selok Awar-Awar, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Salim yang kerap disapa Kancil, kakek berusia 46 (bukan 52 tahun seperti yang ditulis dalam beberapa artikel di media ini), tewas mengenaskan karena dikeroyok massa pada Sabtu pagi, 26 September 2015.

Seperti ditulis dalam berbagai pemberitaan, Salim diduga dibunuh karena sering melakukan aksi menentang penambangan bahan "galian C" di desanya. Polisi sudah menciduk lebih dari 20 orang, dan dinyatakan sebagai tersangka. Ada yang akan dikenai pasal pengeroyokan, pembunuhan, atau kedua-duanya.

Menurut siaran pers Jaringan Advokasi Tambang (28/9), kegiatan penambangan sudah terjadi sejak awal 2014. Saat itu warga mendapat undangan dari Kepala Desa untuk sosialisasi mengenai pembuatan kawasan wisata tepi pantai obyek wisata Watu Pecak. Alih-alih terealisasi, yang marak justru penambangan pasir di area tersebut.

Penolakan terhadap tambang pun bergulir, dilakukan petani khususnya di Desa Selok Awar-Awar, termasuk oleh mendiang Salim dkk. Petani merasa gerah karena sebagian lahannya dijadikan jalan perlintasan untuk truk pengangkut pasir. Rumah mereka pun banyak berkarat akibat terkena pasir pantai.

Penambangan pasir, dulu termasuk kategori bahan galian golongan C, berdasarkan istilah dalam UU No. 11/1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan. Pada Pasal 3 disebutkan, (1) Bahan-bahan galian dibagi atas tiga golongan: a. golongan bahan galian strategis; b. golongan bahan galian vital; dan c. golongan bahan galian yang tidak termasuk dalam golongan a atau b.

Butir (c) pada pasal itu, yang kemudian populer sebagai "bahan galian golongan C" atau "galian C". Namun sekarang, istilah itu sebenarnya tak relevan lagi. Tengoklah ilustrasi.

Mengutip Parlindungan Sitinjak, Staf pada Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM, yang dimuat di laman Kementerian ESDM pada 2011, istilah ini sudah tak tepat lagi digunakan.

"Terminologi bahan galian golongan C yang sebelumnya diatur dalam UU No 11 Tahun 1967 telah diubah berdasarkan UU No 4 Tahun 2009, menjadi 'batuan', sehingga penggunaan istilah bahan galian golongan C sudah tidak tepat lagi dan diganti menjadi 'batuan'", tulisnya pada laman tersebut.

Galian C ataupun golongan batuan, mungkin sekadar istilah. Yang jelas, nyawa seorang warga hilang karena praktik ilegal penambangan bahan galian tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR