Usia 16 boleh menikah, boleh beli bir 5 tahun lagi

PERBEDAAN | Untuk menentukan batas dewasa, beda urusan beda patokan. Selisih usia boleh beli alkohol dan umur saat menikah hanyalah salah satu contoh.
© Antyo /Beritagar.id

Tontonan untuk 17 tahun ke atas. Anggapan sebagian orang, tontonan itu untuk orang yang sudah dewasa -- sudah membawa e-KTP dan bisa punya rekening bank. Menurut Lembaga Sensor Film (LSF), memang ada film untuk penonton berusia 17 ke atas (17+). Namun penontonnya belum dapat disebut dewasa.

Penonton dewasa itu, menurut LSF, berusia setidaknya 21 tahun (Pasal 36 Ayat [a], Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2014 tentang LSF). Itulah kelas 21+.

Menentukan batas usia yang berhubungan dengan kedewasaan memang tak sederhana. Untuk kawin misalnya, seorang wanita (demikian hukum menyebutnya; bukan perempuan) boleh melakukannya setelah berusia 16. Untuk mempelai pria setelah ia berumur 19. Begitulah menurut UU Perkawinan buatan 1974.

Lalu 28 tahun setelah UU Perkawinan itu muncul UU Perlindungan Anak pada 2002. UU tersebut diubah 14 tahun kemudian pada 2016. Ada yang tak berubah di sana: batasan usia anak. Kalau belum 18 tahun berarti masih anak.

Oh, ari gini seorang anak perempuan berusia 16 jadi istri? Mahkamah Konstitusi menolak permohonan uji materi, oleh sejumlah pihak terhadap UU Perkawinan, agar batas minimum usia wanita kawin dinaikkan jadi 18 tahun (Kompas.com, 18/6/2015).

Tentang rokok dan alkohol, batasannya juga berbeda. Untuk rokok 18 tahun. Untuk minuman beralkohol 21 tahun. Jadi, seorang wanita yang berusia 16 dan sudah menjadi nyonya, tak boleh membeli -- dan mungkin juga dilarang mengonsumsi -- minuman beralkohol sampai ia berumur 21.

Peraturan Menteri Perdagangan No. 20/M-Dag/Per/4/2014 melarang pedagang menjual minuman beralkohol kepada orang di bawah 21 tahun. Untuk memastikannya, pedagang harus memeriksa kartu identitas calon pembeli.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.