WNI pro-khilafah melebihi jumlah penduduk Singapura

CEMAS | Memang yang mengkhawatirkan NKRI tak sebanyak yang tenang saja tanpa kecemasan. Paham keagaman tertentu disebut menyumbang kekhawatiran khalayak.
CEMAS | Memang yang mengkhawatirkan NKRI tak sebanyak yang tenang saja tanpa kecemasan. Paham keagaman tertentu disebut menyumbang kekhawatiran khalayak. | Antyo /Beritagar.id

Bagi sebagian orang, kondisi Republik Indonesia sekarang mengkhawatirkan. Ada 14,5 persen orang, dari populasi 1.350 responden, yang setuju dan sangat setuju bahwa republik ini melemah dan terancam bubar.

Demikian simpulan survei NKRI dan ISIS: Penilaian Massa Publik Nasional oleh Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Jakarta, yang dilakukan 14-20 Mei lalu di 24 provinsi, dan dipublikasikan pekan lalu (4/6/2017).

Dari sisi angka, lebih besar yang tak mencemaskan Indonesia (57,4 persen). Namun lebih dari seperlima responden (23,7 persen) tak menjawab atau tak tahu apakah dirinya mengkhawatirkan negeri ini -- angkanya jauh melebihi yang cemas.

Isu keutuhan bangsa bertambah hangat sejak menjelang Pilkada DKI 2017, penyidangan Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama, dan kemeriahan lontaran sektarian. Istilah radikalisme, terutama Islam radikal, pun kian mengemuka. Begitu pun isu negara Islam dan khilafah.

Survei itu menanya responden apakah kenal ISIS. Setengah lebih (66,4 persen) tahu. Namun ketika mereka ditanya soal cita-cita ISIS menuju khilafah, separuh lebih (53,3 persen) ternyata tak tahu.

Kalangan yang tahu ISIS dan tak setuju jika ISIS beroperasi di Indonesia ada 64,1 persen. Yang sangat tak setuju ada 25,5 persen. Kalau yang setuju ISIS sih ada 2,7 persen.

Meskipun begitu survei mendapati bahwa sembilan dari sepuluh orang menilai ISIS sebagai ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jumlahnya 89,3 persen.

Begitulah, ISIS nun di Irak dan Suriah sana lebih dikenal oleh khalayak. Berbeda hasilnya bila dibandingkan dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Responden yang tahu HTI cuma 28,2 persen -- bandingkan dengan 66,4 persen yang tahu ISIS.

Biarpun yang tahu HTI tak sampai sepertiga, separuh lebih dari mereka (56,7 persen) tahu bahwa HTI mencita-citakan khilafah. Bahkan temuan survei menyebutkan "hampir satu dari sepuluh orang Indonesia secara eksplisit menginginkan NKRI diganti khilafah".

Menurut Saiful Mujani, pendiri SMRC, jumlah pro-kalifah itu 9,2 persen. Saiful memproyeksikan, "Jumlahnya bisa sampai 20 juta penduduk, lebih banyak dari warga Singapura." (Kompas.com, 4/6/2017)

Jumlah penduduk Singapura saat ini adalah 5,7 juta jiwa. Jika simpulan tadi benar, orang Indonesia yang pro-khilafah mencapai 3,5 kali penduduk Kota Singa.

Dari survei itu SMRC menemukan korelasi negatif komitmen demokrasi dengan dukungan terhadap HTI. Artinya semakin seseorang kurang suka demokrasi maka ia cenderung kian suka HTI.

Selain itu sikap positif terhadap HTI cenderung lebih banyak ditemukan pada pendukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ada 34,3 persen simpatisan PKS yang pro-HTI.

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, berkomentar, "Kita tidak tahu sampelnya, dan siapa yang disebut simpatisan PKS. PKS sendiri sudah tegas, kita bagian dari NKRI, Bhineka Tunggal Ika, dan Pancasila. Kita beda dengan HTI." (detikNews, 4/6/2017)

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR