DISABILITAS

Difabel, diabetes, papa pula

Seorang pria penyandang disabilitas hidup sendiri dalam gubuk tak layak huni. Kebaikan tetangga menopang kehidupannya.
Seorang pria penyandang disabilitas hidup sendiri dalam gubuk tak layak huni. Kebaikan tetangga menopang kehidupannya. | Tito Sigilipoe /Beritagar.id

PEDULI | Ketut Yasa (40), penyandang disabilitas di Bali, hidup kesrakat. Dalam keterbatasan diri karena bawaan lahir, ditambah diabetes, dia menjalani kehidupan sebisanya. Beringsut setapak demi setapak karena sepasang kakinya bengkak.

Kebaikan warga sekitar di Banjar Padama Sari, Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, telah menopang dirinya yang hidup sendirian dalam gubuk reyot.

Makanan sehari-hari Ketut dapatkan dari tetangga. Untuk membeli es dan lainnya, dia harus menjual buah asem dan kembang jepun yang dia pungut dari kebun warga.

Menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah untuk menyediakan lingkungan yang kaum difabel dan penyandang disabilitas. Pada tingkat perorangan bisa dimulai dari kepedulian dalam transportasi publik. Pengelola sarana sudah menyediakan fasilitas namun sering kali orang yang tak berhak pun merampasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR