REKAYASA GENETIKA

Rekayasa genetika ciptakan nyamuk yang tak sebarkan malaria

Rekayasa genetika ciptakan nyamuk yang tak sebarkan malaria
Rekayasa genetika ciptakan nyamuk yang tak sebarkan malaria | Shutterstock

Malaria adalah masalah besar bagi dunia. Menurut WHO, parasit yang ditularkan oleh nyamuk ini menginfeksi 198 juta orang pada 2013 dan membunuh kurang lebih setengah juta orang, sebagian besar anak balita. Memang ada vaksin antimalaria, namun tidak efektif dan tidak banyak digunakan.

Kini para peneliti dari University of California menemukan sebuah cara ampuh agar nyamuk tidak menyebarkan malaria, yaitu dengan cara melakukan rekayasa genetika. Mereka mengatakan berhasil melakukan rekayasa itu sehingga bisa menjamin untuk melepaskan nyamuk yang tidak mampu menyebarkan parasit malaria itu.

Ilmuwan itu menggunakan sebuah teknik baru yang disebut penyuntingan gen. Dengan teknik ini seseorang bisa dengan tepat menukar DNA baru sehingga mempunyai dampak seperti yang diharapkan. Teknik baru yang yang disebut CRISPR menyebabkan sifat yang baru bisa dengan cepat disebarkan karena bisa dijamin gen yang baru diturunkan ke generasi baru.

"Teknik ini membuka kemungkinan untuk diterapkan dalam upaya menghapus malaria," ujar Anthony James dari University of California Irvine yang memimpin studi ini kepada CNN.

"Kami tahu bagaimana gen bekerja. Nyamuk yang kami ciptakan ini bukanlah versi final, namun kami tahu teknologi ini memungkinkan untuk menciptakan populasi yang besar dengan cara yang efisien," ujar James.

Sebelumnya, para ilmuwan telah mencoba berbagai teknik yang membuat nyamuk tidak menyebarkan malaria dan penyakit lainnya. Salah satu halangan besar yang dihadapi para ilmuwan adalah membuat nyamuk yang sudah direkayasa itu mendominasi populasi nyamuk liar.

Sementara itu seperti diwartakan Nature.com, Valentino Gantz dari University of California San Diego dan rekannya, Ethan Bier, menggunakan pengeditan gen, teknik rekayasa genetika dimana DNA bisa disisipkan, diganti atau dihapus dari genom, pada spesies nyamuk Anopheles stephensi yang menyebarkan malaria di kawasan urban India.

Kedua ilmuwan itu kemudian mengombinasikan metode mereka dengan metdore CRISPR untuk mendapatkan gen antimalaria tepat seperti yang mereka inginkan, yaitu bagian dari DNA yang kemudian akan diturunkan ke generasi nyamuk berikutnya. Metode ini disebut penyuntingan germline.

Nah, agar mereka bisa yakin apakah eksperimen mereka berhasil, mereka menambahkan gen yang membuat mata nyamuk menjadi berwarna merah. Ternyata berhasil. Seperti dilaporkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences. Nyamuk yang sudah disunting DNA-nya itu kemudian meneruskan gen baru itu ke 99,5 persen keturunan.

Kini mereka harus menguji dan melihat apakah nyamuk-nyamuk itu menurunkan gen baru yang tidak mampu menyebarkan malaria.

"Terobosan strategi ini menumbuhkan harapan bagi penyakit-penyakit yang disebarkan oleh atropoda lain yang mempengaruhi manusia dan hasil panen yang selama ini diberantas menggunakan insektisida sebagai cara utama," ujar Anthony Shelton, seorang ahli entomologi dari Cornell University yang tidak terlibat dalam penelitian ini, seperti dilansir Telegraph.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR