Suasana kota Shanghai, Tiongkok. Tampak wisatawan berdiri di dermaga yang disebut The Bund, di tepi Sungai Huangpu dengan pemandangan kawasan pusat bisnis kota tersebut yang disebut Lujiazui.
Suasana kota Shanghai, Tiongkok. Tampak wisatawan berdiri di dermaga yang disebut The Bund, di tepi Sungai Huangpu dengan pemandangan kawasan pusat bisnis kota tersebut yang disebut Lujiazui. EPA / Wu Hong

12 jam di Shanghai

Kota ini menawarkan hal lama sekaligus baru dalam berbagai cara.

Shanghai mirip Jakarta. Jalanan yang ramai. Pelabuhan yang sibuk. Padat penduduk. Kota perdagangan pada era kolonialisme yang berubah menjadi pusat bisnis seperti sekarang.

Perbedaannya, tentu saja banyak. Shanghai lebih rapi dan bersih. Transportasi publiknya banyak. Tapi ada kemacetan juga, walaupun tak separah di Jakarta.

Gedung-gedung pencakar langit di sana luar biasa banyak dan tinggi. Kalau di Jakarta jumlah lantainya hanya sekitar puluhan, di Shanghai lebih dari 100. Rasa-rasanya Gedung Wisma BNI 46 terlihat kerdil jika bersanding dengan Shanghai Tower.

Saya berkesempatan datang ke kota terpadat penduduk dan terkaya di Tiongkok itu pada awal November 2018. Cuaca telah masuk ke musim dingin. Hujan dan angin kencang kerap datang.

Banyak tempat wisata bisa dikunjungi di sana. Yang suka dengan taman hiburan, ada Shanghai Disneyland Resort di kawasan Pudong. Kalau lebih senang dengan sejarah, Shanghai menyajikan berbagai museum. Di Shanghai Natural History Museum pengunjung bisa melihat berbagai macam kerangka dinosaurus.

Tapi kalau waktu Anda mepet tapi ingin menjelajah Shanghai dari hal lama hingga baru bersamaan dalam 12 jam saja, berikut rekomendasinya.

Tong tembaga tempat pengolahan kopi di Starbucks Reserve Roastery, Nanjing, Shianghai, Tiongkok pada Sabtu (10/11/2018).
Tong tembaga tempat pengolahan kopi di Starbucks Reserve Roastery, Nanjing, Shianghai, Tiongkok pada Sabtu (10/11/2018). | /Alibaba Group

Pukul 07.00-08.00: Starbucks Reserve Roastery

Oke, mungkin Anda berpikir buat apa jauh-jauh ke Shanghai untuk sarapan di Starbucks. Tapi ini berbeda. Kedainya seluas 2.700 meter persegi. Terdiri dari dua lantai. Interiornya didominasi oleh warna tembaga. Ini adalah Starbucks terbesar di dunia.

Masuk ke sana ibarat berada di pabrik coklat Willy Wonka. Tapi kali ini kopi. Tong tembaga dengan berat 40 ton, yang berfungsi sebagai tempat pengolahan biji kopi, mendominasi ruangan di lantai satu.

Dari tong itu tertancap pipa-pipa transparan untuk mendistribusikan kopi ke seluruh bar di kedai tersebut. Hasil pengolahan biji kopi juga ada yang masuk kemasan untuk didistribusikan di seluruh Starbucks Tiongkok. Sebanyak 100 jenis kopi diolah di sana dari berbagai negara.

"Setiap hari ada delapan ribu pengunjung datang ke sini," ujar Direktur Komunikasi Starbucks Tiongkok, Derek Ng, pada Sabtu (10/11/2018). Sejak dibuka pada Desember tahun lalu, kedai yang berasal dari Seattle, Amerika Serikat ini menjadi destinasi wajib untuk para turis.

Lokasinya berada di Jalan Najing. Jalan ini ibarat Champs-Elysess di Paris, Prancis, tempat pusat perbelanjaan barang-barang merek kelas atas.

Pukul tujuh pagi Anda bisa menikmati sarapan di sana. Datanglah tepat waktu karena antriannya sangat padat.

Saat saya datang ke sana sekitar pukul 10 pagi situasinya lumayan riweh. Pengunjung berjejalan, terasa seperti dalam bar pada malam Minggu saking penuhnya.

Tapi sebelum masuk, ada baiknya Anda mengunduh dulu aplikasi Taobao untuk merasakan teknologi augmented reality di sana. Bekerja sama dengan Alibaba Group, Starbucks menghadirkan realitas tertambah untuk memberi informasi tentang pengolahan kopi kepada pengunjung.

Nah, kalau aplikasi itu sudah diunduh, tinggal arahkan kamera ponsel ke tong, pipa, atau bar kopi. Anda akan mendapatkan informasi cara kerja setiap elemen tersebut, bahkan bisa juga langsung memesan dan membayar dengan Alipay.

Tak suka kopi, ada coklat dan teh. Cobalah mencicipi hidangan dari toko roti Italia bernama Princi. Letaknya tak jauh dari pintu masuk kedai. Kalau ingin minuman beralkohol juga ada. Kopi campur anggur atau bir tersedia di sana.

Soal harga, jauh lebih mahal dari Jakarta. Maklum pendapatan rakyat Tiongkok, yang hampir US$9 ribu per kapita, dua kali lebih besar daripada Indonesia. Untuk secangkir kopi di Starbucks tersebut sekitar Rp70 rupiah. Sepotong kue coklat bisa mencapai Rp170 ribu.

The Bund pada malam hari. Terlihat bangunan cagar budaya bergaya art deco menjadi latar dermaga yang berada di tepi Sungai Huangpu, Shanghai, Tiongkok.
The Bund pada malam hari. Terlihat bangunan cagar budaya bergaya art deco menjadi latar dermaga yang berada di tepi Sungai Huangpu, Shanghai, Tiongkok. | Diego Azubel /EPA

Pukul 09:00-11:00: The Bund

Selesai sarapan, Anda bisa jalan ke The Bund. Kalau ingin berjalan, sekitar 45 menit dari Starbucks Reserve Roastery. Bisa juga naik bus.

Lokasi ini sangat terkenal bagi wisatawan yang datang ke Shanghai. Inilah dermaga yang menghadirkan pemandangan Sungai Huangpu.

Dari dermaga itu, terlihat pembagian kota tersebut. Sebelah barat banyak gedung-gedung cagar budaya dengan gaya art deco. Gaya ini muncul sebelum Perang Dunia I dan menonjolkan keahlian bertukang dalam konsep bangunan moderen.

Saat memandang bangunan-bangunan tersebut saya langsung teringat Gedung Chrysler dan Empire State di New York. Kalau di Bandung, ada Villa Isola (sekarang menjadi bagian dari IKIP) yang bergaya serupa.

Usia gedung-gedung hampir 100 tahun tapi masih dalam kondisi prima. Bahkan pemanfaatannya pun maksimal. Ada yang menjadi hotel dan kantor.

Di sisi sebelah timur sungai itu terlihat pemandangan lebih kontras dan moderen. Di sanalah pusat bisnis Shanghai yang bernama kawasan Lujiazui. Gedung pencakar langit terkenal berada di sana, seperti Shanghai Tower, Shanghai World Financial Center, dan Jin Mao Tower.

Di antara bangunan tersebut muncul ikon Shanghai, yaitu Oriental Pearl Tower. Warnanya pink dan seperti pena yang lancip menuju langit. Menara ini untuk memancarkan siaran radio dan televisi di kota tersebut.

Anda bisa berjalan-jalan terus mengelilingi The Bund atau bergeser sedikit ke kawasan Nanjing. Semakin banyak gedung tua saya temui di sana. Anda bisa membaca sejarah setiap bangunan tersebut dari plakat di dinding muka gedung.

Seorang pengunjung mengambil makanan dari robot pelayan di Hema Robotic Restaurant, Shanghai, Tiongkok, pada Sabtu (10/11/2018).
Seorang pengunjung mengambil makanan dari robot pelayan di Hema Robotic Restaurant, Shanghai, Tiongkok, pada Sabtu (10/11/2018). | /Alibaba Group

Pukul 12.00-14.00: Hema Robotic Restaurant

Sekarang saatnya makan siang. Kalau Anda tetap ingin berkeliling The Bund hingga Nanjing, ada banyak restoran dan makanan tersedia di sana.

Tapi jika ingin mencoba sesuatu yang baru, cobalah ke restoran robotik Freshippo. Letaknya di dalam supermarket Freshippo atau orang di sana menyebutnya Hema yang terletak di Jalan Yinxiang, Distrik Jiading.

Shanghai terkenal akan makanan lautnya. Supermarket Hema menyediakan aneka seafood yang bisa Anda pilih dan konsumsi di restoran. Robot akan bekerja mengambil pilihan Anda untuk diolah dalam dapur.

Tapi robot ini belum bisa masak. Beberapa staf dapur nantinya yang bekerja mengolah bahan makanan tersebut.

Kalau makanan sudah siap, robot kecil berwarna putih akan datang membawakannya ke meja Anda. "Nin de can lai le," kata robot itu. Artinya, makanan Anda sudah datang. Kalau sudah diambil, robot akan mengatakan, qing man yong atau silakan menikmat.

"Robot di restoran ini untuk menurunkan biaya service," ujar CEO Hema, Huo Yi.

Tapi restoran ini tak serta-merta tanpa pelayan. Masih ada. Saya melihat satu-dua orang berada di muka. Tugasnya, melayani tamu restoran yang mau memesan makanan. Tapi ia tak mencatat, tapi menyentuh tombol pada kios yang tersedia. Nantinya, tamu akan diarahkan ke nomor meja yang tertera pada nota yang telah dibayar.

Hidangan yang paling enak ketika saya datang ke restoran itu adalah udang goreng dengan taburan kremesan di atasnya. Tanpa perlu mengupas kulitnya, dari ekor hingga kepala bisa dimakan dengan renyah dan gurih. Bumbunya mirip ayam kremes di Indonesia.

Suasana Yuyuan Tourist Mart, Shanghai, Tiongkok, saat dipenuhi para turis dari mancanegara.
Suasana Yuyuan Tourist Mart, Shanghai, Tiongkok, saat dipenuhi para turis dari mancanegara. | Wenhao Yu /EPA

Pukul 15.00-18.00: Yuyuan Garden

Letaknya tak jauh dari The Bund. Taman ini berfungsi sebagai paru-paru kota dengan luas dua hektare. Kolam dan pohon berpadu asri di antara rumput hijau. Di dekatnya terdapat kuil utama kota tersebut.

Kejutan utama taman ini sebenarnya ada di bagian belakangnya, yaitu Yuyuan Tourist Mart. Di sinilah pusat perbelanjaan bagi para turis yang ingin membeli souvenir khas Shanghai.

Gantungan kunci, magnet kulkas, makanan, perhiasan, dan obat-obatan Tiongkok terjual di pasar tersebut. Luasnya jangan ditanya lagi. Benar-benar luas. Ada beragam blok dan gang di dalamnya.

Kalau jalan bersama rombongan lebih baik tentukan dulu tempat pertemuan bersama, sebab potensi tersesat sangat besar. Sedikit saran lagi, beli souvenir di kios bagian luar pasar untuk mendapatkan harga yang lebih murah ketimbang di dalamnya.

Tak tertarik dengan souvenir, pasar ini spot yang menarik untuk mengambil gambar. Bangunannya berpakem tradisional. Berada di sana bagaikan di tengah Tiongkok saat masih dipimpin oleh seorang kaisar.

Pukul 19.00-selesai: Xintiandi Plaza

Xintiandi artinya surga dan bumi yang baru. Lokasinya berada di sebelah barat The Bund. Tempat ini seperti Kemang di Jakarta. Anak-anak muda banyak datang ke sana untuk nongkrong atau berbelanja tren mode kekinian.

Beragam toko dengan merek kelas atas tersedia, seperti Christian Dior, Vera Wang, Dior, Louis Vuitton, dan Prada. Ditambah lagi restoran, cafe, dan bar dengan berbagai jenis masakan dari berbagai negara. Chef terkenal Wolfgang Puck memiliki restoran di dalam kawasan yang dulu masuk ke dalam konsesi Prancis ini.

Tapi tak seperti Kemang, di Xintiandi bangunan cagar budaya bergaya shikumen atau rumah tradisional masyarakat Shanghai di awal abad ke-20 tetap terjaga seperti aslinya. Gang-gang sempit juga masih dipertahankan. Jalanannya bebas kendaraan bermotor, jadi Anda bebas belalu-lalang di sana. Sudah pasti tak ada macet.

Pengunjung bisa merasakan suasana jadul tapi tetap moderen. Tempat ini cocok untuk memuaskan keinginan to see and to be seen alias, mengambil istilah anak zaman sekarang, biar eksis.

Anda bisa menutup perjalanan di Shanghai dengan berada di tempat ini. Pilihannya, bisa berbelanja barang-barang bermerek atau hanya nongkrong sambil minum kopi atau alkohol di bagian luar restoran.

BACA JUGA