Perawat dari Puskesmas sedang memeriksa tensi darah Robet
Perawat dari Puskesmas sedang memeriksa tensi darah Robet Luh De Suriyani / untuk Beritagar.id

20 tahun terkurung di balik gerbang

Robet terkurung di balik gerbang selama lebih dari 20 tahun. Ia tidur di papan yang sama bersama anjing dan ayam, yang terkunci bersamanya.

Pondokan itu tertutup pepohonan gamal, menjadi pagar hijau. Gubuk di dalamnya tersembunyi dengan sempurna. Seorang perempuan paruh baya berlari tergopoh ketika ada panggilan. Ia merogoh kunci gembok kecil yang selalu mengunci pintu darurat ini setiap hari.

Perempuan itu, Ni Wayan Kerti (49), dikenal dengan nama Bu Buncing menjawab sapaan dengan senyum. Nama "Buncing" melekat padanya karena pernah melahirkan anak kembar buncing, yang artinya kembar laki-laki dan perempuan di Bali. Namun sepasang anak kembar buncing-nya sudah meninggal.

Masih ada tiga anak, dua perempuan sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Tersisa I Kadek Awan, akrab dipanggil Robet. Mengutip kartu penduduk, usianya tahun ini sudah 38. Namun Robet tak bisa berkomunikasi dengan orang lain sejak kecil.

Para tetangga menyebut Robet gila. Nak buduh dalam bahasa Bali. Orang tuanya meyakini Robet diguna-guna saat kecil. Ia pun tak pernah diizinkan keluar rumah. Hidupnya hanya di dalam halaman rumah dan gubuk yang kerap berpindah-pindah. Terkurung selama lebih dari 20 tahun. Tak bisa baca tulis seperti ibu bapaknya, Kerti dan Kacir.

Ketiganya mengandalkan kebaikan pemilik tanah kosong untuk dijadikan tempat tinggal. Saat ini mereka tinggal di wilayah Banjar Jurang Asri, Gang Arjuna Jalan Antasura, Denpasar, Bali.

Gubuknya dibuat dari aneka barang bekas. Spanduk bekas, seng, dan triplek seadanya. Rasanya jika ada angin ribut, gubuk miring ini akan rubuh. Di dalam ada dua tempat tidur sama kotornya dengan di luar, hanya ada kasur tipis kusam dan bau apek. Tempat masak ada di belakang gubuk.

Di pojok halaman rumah, samping tumpukan barang rongsokan, disitulah Robet tidur. Tumpukan karung yang dikumpulkan bapaknya itu berisi botol plastik, kardus, dan sangkar ayam. Robet tidur di papan yang sama bersama anjing dan ayamnya. Binatang peliharaan ini adalah temannya, karena tak diizinkan keluar rumah.

Di seberang gubuk ada kandang sapi. Kacir mengatakan, ia ngadas atau merawat sapi yang bukan miliknya itu. Juga ada beberapa bebek. Air got, sampah, limbah tetangga dan kotoran manusia melengang di halaman rumah. Saat hujan, got meluap dan halamannya tergenang penuh lumpur bercampur aneka limbah itu.

Sila bayangkan aroma yang dengan cepat menyelinap dari lingkungan ini.

Sangat mungkin air tercemar tersebut meresap dengan mudah ke sumur dangkal di depan gubuk. Padahal air ini digunakan untuk mandi dan masak. Di sebelah timur laut ada sanggah atau tempat pemujaan Hindu yang dibuat dari batang pohon gamal.

Bu Buncing bekerja menjadi buruh pemetik sayur di kebun mana saja yang mengizinkan. Dengan keranjang, ia membawa sayur kangkung atau bayam ke pelanggannya berjalan kaki. Tiap hari menyusuri sekitar 2-4 kilometer melewati gang-gang kota sampai jalan Bedahulu, Denpasar.

Sementara Kacir menjadi pemulung. Jika karung besarnya sudah terisi penuh ia menjual ke pengepul di gudang-gudang barang bekas jalan Bedahulu. Anjingnya berbulu hitam putih bernama Ayu, setia mengintil dari belakang sepeda yang dikayuhnya.

Jika keduanya di luar rumah, Robet dikunci dari luar dengan gembok itu. Ini agak jarang karena mereka biasanya bergantian menjaga.

Tempat Robet tidur dan menghabiskan hari-harinya
Tempat Robet tidur dan menghabiskan hari-harinya | Luh De Suriyani /untuk Beritagar.id

Demikianlah keseharian keluarga yang berkartu penduduk Banjar Dukuh, Desa Kenderan, Kecamatan Tegalalang, Gianyar ini. Hidup di tengah ibu kota Pulau Dewata, tanpa mengantongi kartu akses apapun sebagai warga miskin.

Saya pernah mengajaknya mendaftarkan diri sebagai penduduk pendatang di banjar setempat agar diperhatikan haknya. Kelian (pemimpin) banjar juga pernah diajak menengok gubuknya ini. Banjar, merupakan wilayah mirip kampung di Bali, yang bisa terdiri dari 50-200 kepala keluarga.

Dokter spesialis kejiwaan Gusti Rai Putra Wiguna dan Komang Parwati, perawat Puskesmas Denpasar Utara 3, berkunjung ke gubuk Bu Buncing untuk kali pertama. Keduanya berkenalan dengan penghuni rumah termasuk Robet. Pria berpostur tinggi dan agak gemuk ini, menyongsong roti yang dibawa Dokter Rai.

Tiap kali melihat tamu yang berkunjung, Robet kerap memberi kode dengan lenguhan seolah bertanya, "Apa yang kamu bawa?". Ibu dan bapaknya meminta Robet bersikap sopan, menjawab salam tamunya terlebih dahulu.

Dokter Rai memperkenalkan diri dan menyampaikan keinginannya untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan. Kedua tim medis ini bertanya latar belakang dan masa kecil Robet. Apakah pernah jatuh atau dipukul? Apakah agresif, pernah berobat, dan lainnya. Semua dijawab, tidak.

Robet memang cukup tenang. Malah seperti anak kecil, terlihat kanak-kanak. Ia hanya histeris sesaat ketika ada orang mengunjungi rumahnya. Ketika ada panggilan dari luar, ia segera membuntuti di belakang ibunya. Sering terlihat ingin ikut nimbrung ngobrol tapi dibatasi oleh kedua orang tuanya.

"Beberapa kali pernah keluar dari rumah dan hilang beberapa hari, dia tak ingat arah rumah kalau sudah keluar," ujar Bu Buncing menjelaskan alasan di balik penguncian pintu gerbang gubuknya ini.

Terakhir kali Robet menghilang beberapa bulan lalu. Sang ibu menangis mencari bantuan. Suaminya bergegas naik sepeda mencari sampai Kabupaten Gianyar. Dengan bantuan tetangga dan media sosial ia akhirnya ditemukan di daerah Lukluk, Kabupaten Badung.

Robet jalan-jalan seorang sendiri, dan tak ingat jalan pulang. Ia tidur di emperan toko dan mengandalkan makanan dari dermawan selama dua hari.

Dokter Rai merayu Robet untuk pemeriksaan awal, tensi darah. Namun ia mulai menjauh. Kacir meminta ia diperiksa terlebih dahulu karena beberapa bulan ini terganggu sering sakit kepala akut. Tensi darahnya saat itu 160/80. Lalu diikuti pengukuran tensi Kerti, sambil menunjukkan pada Robet bahwa ini tak menyakitkan.

Berhasil, Robet mulai mau diajak duduk walau sedikit berontak ketika dipasang alat pengukur tensi oleh perempuan petugas Puskesmas. Hasilnya cukup baik.

"Bisa minum obat, bu?" tanya Dokter Rai pada Kerti soal anaknya. Perempuan pekerja keras ini tak menjawab. Ia tak yakin Robet bisa minum pil karena sering memuntahkan makanan.

"Yuk coba disuntik," ajak Rai. Ia meyakinkan Kerti dan Kacir jika obat ini akan membantunya mengingat, sehingga tak perlu takut lagi jika Robet keluar rumah. Termasuk agar tak menguncinya dalam halaman rumah. "Mereka bisa produktif asalkan dirawat di rumah, jadi tak terlalu merepotkan keluarga lagi," urai Rai.

Mindset penanganan sebelumnya kalau ngamuk harus ditangani pamong dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa

Orang tuanya disarankan mulai mengajak Robet bekerja apa saja agar terlatih berinteraksi dan bisa produktif. Bu Buncing tampak kebingungan bagaimana akan melakukannya. Mata perempuan ini hanya menerawang, tak menjawab.

Upaya merayu Robet berlangsung belasan menit. Sampai akhirnya Rai minta bantuan Kerti dan Kacir memegangi Robet ketika perawat mulai menyiapkan sarana injeksi obat. Keempatnya sempat lari-lari sebentar di sekitar gubuk.

Ia sedikit memberontak namun segera tenang setelah disuntik. Kacir terlihat ngos-ngosan memegang anaknya yang berbadan lebih besar darinya. Perawat Puskesmas pun berjanji akan rutin menengok keluarga ini untuk memberi pengobatan. Termasuk untuk keluhan sakit kepala Kacir.

Adapun Robet diobservasi dokter sebagai orang dengan retardasi mental. Dia memiliki keterbatasan intelektualitas yang memengaruhi kemampuan adaptasi dan merawat diri sendiri. Baru tahap pemeriksaan awal, karena banyak klasifikasi dan terapi berbeda dalam upaya pemulihannya.

Rai mengatakan baru ada 4 puskesmas dari 11 unit di Denpasar yang punya obat jiwa sesuai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebagai fasilitas kesehatan tahap pertama. Mereka yang terlatih mengobati orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) pun baru perawatnya, belum para dokter.

"Mindset penanganan sebelumnya kalau ngamuk harus ditangani pamong dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli," katanya tentang rumah sakit jiwa satu-satunya di Bali, berlokasi di Kabupaten Bangli. Namun saat balik dari RSJ tidak ada rujukan ke Puskesmas sehingga pelayanan kesehatan tempat tinggalnya tidak tahu.

Ia berharap sambil menata sistem, Puskesmas dan kepala lingkungan mendata pasien di daerahnya. Puskesmas diajari pasien mana yang kronis, ketidakpatuhan obat, situasi keluarga, dan lainnya. Ini untuk mencegah pasien bolak balik RSJ dan menggelandang padahal masih ada keluarga.

Rai saat ini menjalankan program perawatan berbasis rumah (homecare) bersama RSUD Wangaya di Denpasar. Saat ini menurutnya sudah ada sembilan Puskesmas yang terlibat, dan ia tiap minggu dijadwalkan mengunjungi tiga hingga empat lokasi ODGJ. Kini terdata 319 pasien di Denpasar.

Menurutnya, masalah ODGJ juga masalah sosial, karena itu rehabilitasi sosial berbasis komunitas di tiap desa diperlukan agar tak perlu dikurung saat keluarga bekerja. "Kalau hanya diobati tapi bengong saja juga tak berguna dan relapse (kekambuhan) tinggi," tambah Rai.

Ia juga menyokong Kelompok Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali yang terdiri dari orang dengan skizofrenia (ODS) dan keluarganya. ODS ini termasuk ODGJ. Tak hanya warga miskin yang mengidap gangguan jiwa, karena semua bisa mengidap baik ringan maupun berat. Dalam kelompok dukungan ini, sebut Rai, ada yang kuliah, wartawan, dosen, pedagang, dan lainnya. Mereka bertemu dua minggu sekali.

Namun, kemiskinan dan ketidaktahuan membuat Robet dan keluarganya makin rentan, tak terjangkau pelayanan kesehatan dan layanan lainnya.

Perawat, dokter, dan orang tua Robet (berkaos biru) merayunya agar mau diperiksa
Perawat, dokter, dan orang tua Robet (berkaos biru) merayunya agar mau diperiksa | Luh De Suriyani /untuk Beritagar.id

Pada 2014 lalu pameran foto internasional mengenai korban pasung di Bali bertajuk "Tears in Paradise", dilaksanakan Suryani Institute of Mental Health (SIMH). Sebuah lembaga dengan pengalaman pengobatan pengidap gangguan jiwa di Bali. Foto-foto itu merekam kegiatan awal pendiri SIMH, Professor Luh Ketut Suryani, MD, PhD, mendata dan mengobati pengidap gangguan jiwa berat sejak 2007.

Didukung 13 fotografer dari enam negara, yaitu Alexandra Dupeyron (Jerman), Alit Kertaraharja (Indonesia), Brice Richard (Inggris), Cameron Herweynen (Australia), Christian Werner (Jerman), Cokorda Bagus Jaya Lesmana (Indonesia), Fanny Tondre (Perancis), Giulio Paletta (Italia), Ingetje Tandros (Australia), Luciano Checco (Italia), Nadia Janisz (Australia), Rudi Waisnawa (Indonesia), dan Tjandra Kirana (Indonesia).

Pameran yang dikuratori oleh Yudha Bantono ini menampilkan beragam ekspresi penderita gangguan mental, suasana lingkungan terpasung, peralatan pasungan, kondisi tubuh terpasung, penanganan medis, dan kesembuhan.

Pengunjung disuguhi pengalaman mencekam dan mencabik kemanusian, melihat orang dirantai, diikat, disel dalam kondisi penuh kotoran, luka, dan tidak makan. Pameran ini mengingatkan harus ada model penanganan yang lebih manusiawi dan tepat.

Luciano Checco, salah satu fotografer dari Italia memperlihatkan serial foto hitam putih yang menyayat hati. Dalam foto berjudul "Cruelty" ia merekam sepasang kaki dengan luka-luka bekas dirantai atau diikat. Ada juga foto close-up wajah perempuan memelas.

Sebagian korban dalam foto kini sudah dilepas keluarganya dari pemasungan termasuk dari ikatan rantai atau sel dalam rumahnya. Sejumlah korban lainnya masih dipasung, seperti yang dipotret Rudi Waisnawa dalam beberapa fotonya berjudul "Waiting."

Pameran ini mengingatkan harus ada model penanganan yang lebih manusiawi

Saat itu Gubernur Made Mangku Pastika yang membuka pameran. Ketika melihat satu per satu foto, ia berkali-kali heran kenapa Prof Suryani--yang juga Guru Besar Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana--selalu mengeluh tak bisa bekerja sama dengan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli.

"Itu saya pusing kenapa RSJ Bangli dibilang tidak nyambung padahal semua murid ibu. Jangan ada ego sektoral. Anggaran negara sangat besar untuk rumah sakit itu," ujar Pastika. Ia tak ingin ada lagi miskomunikasi antara Suryani Institute yang mengobati di rumah-rumah (homecare) dengan RSJ Bangli yang berbasis rumah sakit (hospital based).

Pastika menyampaikan di Bali tak hanya ada surga karena banyak ironi memang terjadi. Suryani Institute berharap dukungan masyarakat dalam bentuk uang untuk kelanjutan pengobatan dan pendampingan sisa korban pasung.

Puluhan dokter, perawat, dan staf Dinas Kesehatan saat itu berkumpul pada lokakarya tentang penanganan pengidap gangguan jiwa berat di Bentara Budaya Bali, rangkaian pameran ini. Mereka ingin mengetahui duduk perkaranya sehingga Bali masih memiliki pengidap gangguan jiwa yang dipasung. Gubernur Pastika minta Bali bebas pasung.

Walau beda cara, SIMH dan RSJ Bangli diminta mencari titik temu agar tak terus saling menyalahkan. Misalnya Suryani berharap pasien diprioritaskan dirawat di rumah. Kemudian mengikuti obat-obatan yang sudah diberikan pihaknya. "Kenapa mengganti obat tanpa tanya dulu sama profesor. Saya heran," katanya tentang pasiennya yang dirujuk ke RSJ Bangli.

Dewa Gede Basudewa dari RSJ Bangli menjelaskan, ia mendukung perawatan di rumah jika keluarga siap menerima dan merawat pasien. Dari sejumlah laporan, ada beberapa pasien yang dipulangkan. Bahkan ada yang mati bunuh diri atau kelaparan karena tak dipedulikan keluarga. Menurut dia, stigma pada pengidap gangguan jiwa termasuk mantan pasien RSJ Bangli, masih sangat tinggi.

Basudewa yang dikonfirmasi pada 18 Februari 2016 lalu tentang kondisi terakhir pemasungan, mengatakan korban pasung masih ada di Bali. Ia belum tahu detailnya berapa karena sedang dilakukan pendataan oleh Dinas Kesehatan.

"Ada yang belum dilaporkan, dipasung lagi, atau keluarganya menolak untuk dibawa ke rumah sakit," kata Kabid Pelayanan RSJ Bangli ini. "Kami akan jemput dan rawat di rumah sakit. Kalau punya KTP Bali kan gratis," lanjutnya. Bagi yang tak punya KTP Bali, pasien harus membayar biaya perawatan sendiri.

Pihaknya menargetkan 50 pasien korban pasung (termasuk diikat, dirantai, dan lainnya) per tahun dirujuk ke RSJ Bangli. Pada 2015 lalu, menurut dia, RSJ merawat lebih dari 50 korban pasung. Saat ini RSJ Bangli hampir penuh karena ada 355 pasien yang dirawat dari 400 tempat tidur yang tersedia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR