Kopi Flores diseduh menggunakan syphon, penyeduh klasik yang wujudnya menyerupai peralatan laboratorium.
Kopi Flores diseduh menggunakan syphon, penyeduh klasik yang wujudnya menyerupai peralatan laboratorium. Satrio Aristianto / Beritagar.id

Ada apa dengan kopi?

Benarkah kopi yang notabene telah dikonsumsi sejak lama kini menjadi tren? Laporan ini akan membahasnya lebih dalam.

Kopi, minuman penghilang kantuk, kini jadi lebih istimewa. Secangkir kopi yang dulunya biasa dinikmati di rumah menjelma menjadi minuman premium yang dinikmati di resto atau kedai kopi kekinian.

Para pencinta kopi pun merayakan Hari Kopi setiap tahunnya. Di negara seperti Malaysia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Ethiopia, dan Swedia, hari kopi dirayakan setiap tanggal 29 September. Sementara itu International Coffee Organization (ICO)--Indonesia salah satu anggotanya-- pada tahun 2015 meresmikan Hari Kopi Internasional jatuh pada 1 Oktober.

Meski orang Indonesia tak masuk dalam daftar bangsa peminum kopi terbanyak di dunia, posisi Indonesia cukup gemilang soal produksi kopi. Negeri ini adalah negara penghasil dan pengekspor kopi ketiga terbesar di dunia. Sejak abad ke-17, kopi Indonesia sudah diekspor Belanda ke penjuru dunia.

Di Indonesia, kopi bukan hal yang asing. Apalagi masyarakat di beberapa daerah yang menjadikan kopi sebagai gaya hidup, rutinitas harian. Tak hanya soal kebiasaan minum kopi, namun beberapa daerah di Indonesia juga terkenal menghasilkan biji kopi yang berbeda. Sebut saja kopi dari Sumatera, kopi Toraja, kopi Aceh Gayo, kopi Bali Kintamani, kopi Papua Wamena, kopi Flores Bajawa, dan kopi Jawa.

Kopi kini hadir dengan segala variasi. Bila zaman dulu orang hanya tahu kopi tubruk atau kopi susu, kini baik jenis biji kopi, teknik peracikan, juga bahan, hingga perniknya pun membuat kopi lebih menarik. Banyak profesi baru yang melahirkan sajian kreatif kaya cita rasa dalam secangkir kopi.

Saat ini, konon kopi sedang mengetren. Ini ditandai dengan kemunculan kedai-kedai kopi baru dan euforia orang-orang soal kopi. Muncul sosok penikmat kopi yang dijuluki coffee snob. Ada pula profesi baru yang dianggap keren seperti barista atau peracik kopi.

Orang-orang makin gemar minum kopi di kedai. Padahal harga secangkirnya pun tak bisa dibilang murah. Dana yang dikeluarkan untuk minum kopi mencapai Rp480.000-Rp600.000 tiap bulan. Banyak orang yang rela mengeluarkan uang tak sedikit untuk minum kopi, atau sekadar nongkrong

Bicara kopi tak hanya soal kenikmatan cita rasa dari biji kopi itu sendiri. Selain memengaruhi kondisi keuangan pribadi, kesehatan dan kecantikan, kopi juga berefek terhadap perputaran roda ekonomi.

Lantas, benarkah kopi yang notabene telah dikonsumsi sejak lama kini menjadi tren? Laporan ini akan membahasnya lebih dalam.

Dua orang sedang bercengekerama menikmati kopi sambil berbincang di Filosofi Kopi, Blok M, Jakarta Selatan (4/10/2016).
Dua orang sedang bercengekerama menikmati kopi sambil berbincang di Filosofi Kopi, Blok M, Jakarta Selatan (4/10/2016). | Satrio Aristianto /Beritagar.id

Mari kembali ke abad 17. Masa saat bangsa Eropa mulai membudidayakan kopi di daerah jajahannya di penjuru dunia. Salah satunya adalah orang-orang Belanda yang mengembangkan perkebunan kopi di Jawa.

Dari yang semula hanya kopi jenis Arabika, kemudian berkembang ke jenis kopi lain Robusta, dan Liberica. Meski menghadapi kendala pada awalnya, kopi bisa tumbuh subur di Jawa dan pulau lain seperti Sumatera. Belanda pun mengekspor kopi Indonesia ke seluruh dunia.

Dari tanah Jawa lah dunia mengenal istilah "A cup of Java". Kali lain Anda mendengar Java--dalam topik kopi--maka itu bisa diartikan secara harfiah sebagai "secangkir Jawa". Begitu tertulis dalam buku A Cup of Java yang ditulis Gabriella Teggia dan Mark Hanusz. Juga ditulis pengamat sejarah seni Martin Fox dari Stanford University.

Ratusan tahun berlalu, "A cup of Java" kembali ke asalnya, Jawa. Kedai kopi lokal bermunculan di penjuru pulau Jawa membujur dari barat ke timur. Tak hanya menawarkan suasana nyaman dengan interior kekinian, tapi juga kopi yang dianggap nikmat oleh para pencinta kopi.

Pemilik kedai Anomali Coffee, Irvan Helmi pernah menyatakan, pada 2014 saja pertumbuhan kedai kopi mencapai 100 persen. Pada 2013 ada 100 pengusaha yang mendaftarkan kedai kopinya di Asosiasi Kopi Specialti. "Sekarang sudah mencapai 200-an yang terdaftar di asosiasi. Saya pikir yang belum terdaftar ada dua kali lipat," kata Irvan.

Sejauh mata memandang, setidaknya ada lima kedai kopi baru di deretan rumah toko (ruko) Mendrisio, Tangerang Selatan. Belum lagi di belahan Gading Serpong lain. Tanamera dan Coffeedential hanyalah beberapa di antaranya. Tren serupa pun terlihat kasat mata di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Pigeonhole Coffee dan Brownstone adalah dua di antara banyaknya kedai kopi baru.

Beralih ke Jawa Barat, tren serupa juga terlihat. Puluhan kedai kopi dengan berbagai ciri khas menawarkan racikan kopinya. Sama halnya dengan Yogyakarta dan Surabaya yang kini punya banyak sekali pilihan tempat untuk menikmati kopi nikmat kekinian.

Pertumbuhan kedai kopi di Indonesia tak hanya semarak oleh kedai kopi lokal. Melihat data yang diperoleh lokadata, pertumbuhan gerai kopi Starbucks pun subur di Indonesia. Dalam kurun waktu hampir 7 tahun, sejak 2010 hingga kuartal ke-3 2016, jumlah gerainya meningkat tiga kali lipat, dari 76 gerai menjadi 248 gerai.

Sejak kuartal ke-3 2010, setidaknya ada penambahan lima gerai baru Starbucks setiap kuartal. Meski di antara kuartal pertama dan kedua 2014 hanya ada dua gerai baru, pertumbuhan gerai kopi asal Seattle, Amerika Serikat ini kembali menggeliat di kuartal ketiga hingga kuartal ketiga 2016.

Lantas, apakah kemunculan banyak kedai kopi di Indonesia berarti kopi sedang mengetren? Menurut data tidak demikian. Pertumbuhan gerai kopi justru tidak dibarengi dengan meningkatnya konsumsi kopi di Indonesia, baik itu biji, pun bubuk kopi.

Data yang dihimpun lokadata dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan Pusat Statistik menunjukkan rata-rata konsumsi kopi per kapita penduduk Indonesia cenderung stabil. Berkisar antara 1,25 kilogram per tahun per penduduk. Sejak 2002 hingga 2014, tak ada fluktuasi turun atau naik yang signifikan.

Masuk akal jika angka konsumsi kopi tidak melonjak signifikan. Itu berarti konsumsi kopi tidak bertambah, hanya saja kopi yang biasa dibuat dan diminum di rumah kini dinikmati di tempat lain. Ya, para pengopi pergi ke kedai untuk menikmati kopi.

Indonesia adalah negara penghasil dan pengekspor kopi ketiga terbesar di dunia. Negeri ini berpotensi menggeser Brazil dan Vietnam sebagai negara pengekspor kopi terbesar di dunia. Jenis kopi Indonesia juga masuk dalam jajaran kopi terbaik di dunia. Belum lagi, luasnya bentangan perkebunan kopi di negeri ini yang mencapai 1,24 juta hektare.

Semua itu merupakan faktor yang semestinya bisa jadi amunisi negeri ini untuk jadi juara satu dalam industri kopi. Apalagi Menteri Perindustrian terdahulu, Saleh Husin pernah mengungkap bahwa kopi merupakan komoditas ekspor unggulan yang menjadi penyumbang terbesar keempat devisa negara setelah kelapa sawit, karet, dan kakao.

Sayangnya, segala keunggulan tersebut tak diimbangi dengan budaya minum kopi yang tercermin dari angka konsumsi kopi. Indonesia tak termasuk dalam daftar bangsa peminum kopi terbesar di dunia.

Meski data membuktikan sebaliknya, pahit manisnya kopi menghadirkan banyak hal baru. Dari teknik penyajian, hingga orang-orang di balik secangkir kopi, baik peracik, pun peminumnya masing-masing muncul dengan istilah baru yang mungkin asing di telinga.

Pertiwi Sindra Aditya (26) tak menolak julukan coffee snob. Ia sangat suka dan merasa tahu banyak soal kopi.
Pertiwi Sindra Aditya (26) tak menolak julukan coffee snob. Ia sangat suka dan merasa tahu banyak soal kopi. | Satrio Aristianto /Beritagar.id

Kebiasaan minum kopi sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Juga bukan hanya di tanah Jawa. Masyarakat Aceh misalnya, menjadikan mengopi di kedai sebagai bagian dari rutinitas. Bisa dibilang, warung kopi adalah rumah kedua bagi para pria Aceh. Karena sering minum kopi, muncul istilah "ka candu kupi" yang berarti sudah kecanduan kopi.

Bukan sekadar menikmati kehangatan dalam secangkir kopi, kegiatan kongko di warung kopi pun menjadi ajang menjalin tali silaturahmi. Sambil minum kopi, topik pembicaraan pun mengalir dengan adanya surat kabar di setiap warung kopi.

Selain di Aceh, keberadaan tempat khusus minum kopi juga terdapat di beberapa daerah. Sebut saja beberapa nama kedai kopi legendaris di penjuru Indonesia.

Ada Kedai Kopi Hawaii di Kabupaten Bintan yang telah ada sejak 48 tahun lampau. Tanjung Pandan juga punya dua kedai kopi yang tak kalah tua, yaitu Warung Kopi Ake (sejak 1922) dan Warung Kopi Kong Djie (sejak 1943). Kedua kedai ini menawarkan cita rasa kopi yang khas dari Belitung. Proses penyeduhan kopi di kedua kedai masih menggunakan arang. Di Jakarta, ada Kedai Kopi Es Tak Kie yang telah dibuka sejak tahun 1927 dan terkenal dengan es kopi dan suasana kedai bak rumah di film-film kung fu zaman dahulu. Warung Kopi Purnama di Bandung pun masih bertahan sejak 1930 sampai sekarang.

Zaman dulu, pilihan kopi di Indonesia pun belum banyak. Orang hanya tahu minum kopi hitam. Pemanisnya hanya gula dan susu kental manis. Dari segi pembuatan dan penyajiannya pun cenderung sederhana. Kini, kopi dibuat dan disajikan dengan cara yang beragam, baik dari jenis sampai metode pengolahannya yang bermacam-macam.

Perbedaan lain kopi dulu dan sekarang adalah tempat minum kopi yang tak lagi di rumah atau warung, melainkan di kedai-kedai kopi keren. Karakter kedai kopi pun seolah memiliki keseragaman, kebanyakan mengadopsi desain industrial, menggunakan banyak elemen kayu, ada mural karya artis lokal, terdapat slogan-slogan tentang kopi, koleksi majalah-majalah keren, ditambah dengan penampilan para barista yang keren dengan apron atau celemek berbahan katun dan kulit.

Tak hanya menjual kopi, ada juga kedai-kedai yang memiliki galeri seni, menjual bunga, alat-alat selancar, toko permainan, sampai toko musik.

Kerennya kedai kopi menarik minat pengunjung untuk berdatangan, namun tak semua orang yang datang dengan tujuan utama minum kopi. Hal tersebut juga diakui Jack, barista Filosofi Kopi. "Ya 50-50 lah orang yang memang minum kopi dengan hanya nongkrong. Itu juga bisa dilihat dari pesanannya. Peminum kopi sejati kebanyakan pesan kopi hitam," ungkap Jack.

Jika Anda pengunjung tetap kedai kopi, perhatikan saja ada beberapa karakter orang yang sering kongko di kedai kopi. Ada yang memesan satu menu lalu duduk lama-lama, mencari akses internet gratis, menjadikan kedai sebagai lokasi diskusi, tempat bisnis dan mengerjakan tugas. Jarang ada yang sekadar datang, duduk dan menyesap kopi dengan nikmatnya.

Tentang sajian kopi, sebuah kedai biasanya tak hanya menyajikan kopi hitam ala warung kopi. Ada juga yang menyajikan kopi-kopi unik. Sebut saja kopi yang dicampur bir, mentega, bahkan minyak kelapa. Bosan minum kopi di cangkir? Baru-baru ini, ada kopi yang disajikan di dalam corong es krim.

Tren minum kopi di kedai pun melahirkan peminum kopi baru yang memiliki karakter unik. Istilahnya di barat adalah coffee snob. Coffee snob mungkin berkonotasi negatif. Seorang coffee snob merasa dirinya tahu banyak soal kopi. Ada memang yang benar-benar paham, walau ada juga yang hanya peminum kopi.

Coffee snob bisa didefinisikan sebagai seseorang yang benar-benar memerhatikan kopi yang diminumnya. Jangankan kopi instan, kopi bubuk yang sudah digiling beberapa hari lalu pun tak mau ia seduh. Pertiwi Sindra Aditya adalah salah satunya.

"Sebenarnya sudah mulai ngopi sejak SMP, tapi sejak kopi jadi tren beberapa tahun belakangan ini, jadi lebih tertarik buat belajar soal kopi. Ya bisa dibilang, mengikuti tren kopi yang sekarang sedang populer juga" kata Pertiwi (26) saat berbincang dengan Beritagar.id.

Sebelum kedai kopi begitu populer, Pertiwi biasa minum kopi hitam atau kopi dalam kemasan. Namun, sejak kedai kopi bermunculan, ia memilih menikmati kopi racikan barista. Pengetahuan soal kopi pun ia dapat dari para barista yang tak pelit berbagi ilmu, juga dari sesama pencinta kopi.

Ya, ciri lain seorang coffee snob adalah memiliki barista reguler di sebuah kedai kopi, hadir di acara-acara bertema kopi, paham teknik-teknik mengolah sampai menyajikan kopi, dan selalu mencari tahu informasi soal kopi dari blog serta orang-orang yang menggemari kopi.

Bila sebagian orang tak mempermasalahkan bagaimana cara minum kopi, atau mungkin bahkan tak peduli, berbeda dengan coffee snob. Para coffee snob menganut paham bahwa minum kopi itu diseruput, bukan diteguk seperti minum air putih. Ia juga fasih soal istilah-istilah kopi.

Pertiwi mengiyakan pernyataan tersebut. Saat memesan kopi, ia selalu bertanya soal jenis kopi dan bagaimana teknik pengolahannya. Bila tak ada kopi yang sesuai keinginan, ia tak ragu meminta sang Barista untuk membuat kopi yang diinginkan, misalnya pencampuran jenis kopi, takaran susu, dan lain-lain.

Saat ditanya apa kopi favoritnya, Pertiwi mengaku menyukai kopi gayo dari aceh dengan proses manual brewing dengan metode v60. Sebagai penikmat kopi, ia bisa minum kopi setiap hari minimal satu cangkir. Sebagai seorang pencinta kopi, Pertiwi juga memiliki alat french press dan penggiling kopi manual untuk menyeduh kopi sendiri.

Pun demikian ia tetap lebih memilih pergi ke kedai kopi tiga sampai empat kali seminggu. Pertiwi pun rela merogoh kocek sekitar Rp500 ribu setiap bulan. "Rasanya pusing kalau nggak ngopi, jadi setiap hari harus minum kopi. Kopi lebih enak tanpa gula, biar bisa ngerasain rasa asam dan pahitnya," kata Pertiwi sambil menyebut dua kedai kopi favoritnya, Dreezel Coffee di Bandung dan Kopikina di Jakarta.

Tak hanya menikmati kopi buatan barista, Pertiwi juga bisa belajar menyeduh, mencoba rasa asli kopi, sampai membuat kopi dengan latte art sendiri. Ia juga mengoleksi barang-barang serba kopi seperti kaus bertema kopi, aneka mug, serta toples isi biji kopi untuk pajangan. Saat melancong ke daerah tertentu, ia selalu mencari kopi khas, seperti Lampung, Banyuwangi, Dieng, Bali, dan daerah lain.

Di media sosial, Pertiwi juga selalu membagikan informasi soal kopi seperti rekomendasi tempat minum kopi enak dan sebagainya. "Ada rasa bangga saat bisa datang ke kedai kopi yang sedang hit. Aku suka membagikan info soal tempat-tempat ngopi di media sosial supaya orang lain juga tahu," katanya. Pertiwi juga menyatakan ia akan tetap jadi peminum kopi walau nantinya kopi tak sepopuler saat ini.

Pada akhirnya, keriaan orang-orang yang menikmati kopi di kedai seperti Pertiwi lah yang membuat kopi seolah mengetren.

Suasana di Filosofi Kopi, Blok M, Jakarta Selatan (4/10/2016). Desain interior industrial dan mural, ciri kedai kopi kekinian.
Suasana di Filosofi Kopi, Blok M, Jakarta Selatan (4/10/2016). Desain interior industrial dan mural, ciri kedai kopi kekinian. | Satrio Aristianto /Beritagar.id

Bagi penggemar kopi, kata "latte" atau "caffelatte" bukanlah istilah yang asing. Kata yang berasal dari bahasa Italia itu artinya "kopi susu", yaitu espresso atau kopi yang dicampur dengan susu dan memiliki lapisan busa yang tipis di bagian atasnya.

Namun, di antara sekian banyak penggemar kopi, besar kemungkinan jarang yang mengetahui arti istilah "latte factor".

Faktor latte merujuk pada istilah yang diciptakan oleh David Bach, seorang penasihat keuangan asal Amerika Serikat dalam bukunya yang berjudul Finish Rich. Bach memunculkan istilah faktor latte setelah mengamati kebiasaan para karyawan di Amerika Serikat yang selalu membeli kopi sebelum berangkat kerja.

Faktor latte menggambarkan pengeluaran kecil yang tidak terlalu penting dan kerap tidak disadari. Meskipun jumlahnya kecil, pengeluaran tersebut apabila diakumulasikan ternyata akan berjumlah cukup besar. Para penyuka kopi sebetulnya bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan pengeluaran tersebut yang bagi banyak orang dianggap sebagai pemborosan.

Selain di Amerika Serikat, kaum milenial di kota-kota besar di Indonesia juga gemar membeli kopi. Di Jakarta, mudah sekali menemukan gerai kopi yang menawarkan segelas kopi dengan harga sekitar Rp40.000-Rp50.000.

Jika Anda terbiasa membeli kopi mahal sebelum atau sepulang kerja, tiga kali sepekan saja, uang yang harus dikeluarkan mencapai Rp480.000-Rp600.000 per bulan. Jumlah ini bisa dikatakan cukup besar bila dibandingkan Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta 2016 sebesar Rp3,1 juta per bulan.

Inilah mungkin dampak yang pertama kali dirasakan oleh para penggemar kopi terhadap kondisi keuangan mereka. Untuk menekan pengeluaran membeli kopi, cobalah untuk mengurangi frekuensi membeli kopi di kedai kopi menjadi sekali seminggu.

Penggemar kopi juga bisa menggunakan trik untuk menghemat dengan berlangganan di gerai kopi yang memberikan diskon dengan syarat membawa tempat minum sendiri. Alternatif lain, jika Anda memang pecandu kopi, buatlah kartu anggota gerai kopi sehingga mendapatkan potongan harga khusus.

Alternatif terakhir adalah cobalah untuk menyeduh kopi sendiri sesuai selera masing-masing. Cara terakhir ini tentu adalah cara paling hemat namun membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membeli peralatan seduh kopi.

Selain berefek terhadap pengeluaran, kopi juga disebut-sebut bisa memicu sakit maag. Benarkah demikian?

Adi W. Taroepratjeka, seorang ahli kopi, mengatakan bahwa konsumsi kopi sebenarnya tidak selalu berdampak buruk pada asam lambung. "Secara ilmiah, orang bilang bahwa kopi sifatnya asam. Espresso umumnya punya tingkat keasaman sekitar 5 sampai 5,5. Padahal, jus jeruk punya pH 4 dan rujak cuka punya pH 3,5. Bila makan yang lebih asam bisa, mengapa kopi tidak bisa?" tutur Adi kepada KOMPAS.com.

Karena kopi adalah minuman yang bersifat asam yang bisa memicu produksi asam lambung, tidak mengherankan jika kopi bisa menyebabkan sakit maag. Asam lambung memang berfungsi untuk membantu proses mencerna makanan. Namun jika jumlah asam lambung terlalu banyak, timbullah sakit maag.

Wikikopi menyarankan antisipasi untuk ini sebenarnya mudah yaitu pastikan saat minum kopi perut dalam keadaan terisi. Bila perut kosong asam lambung ini bisa menggerus dinding lambung dan menyebabkan luka atau tukak lambung.

Tingkat keasaman kopi masih lebih rendah bila dibandingkan dengan rerata jus buah atau minuman bersoda. Kita perlu membedakan keasaman secara kimia dan keasaman perkara sensasi di lidah. Minuman yang berasa lebih asam di lidah belum tentu akan lebih asam bila diukur menggunakan pH meter.

Untuk yang sudah terlanjur sakit maag, minum kopi bisa dilakukan dengan sebelumnya makan pisang. Pisang dapat mencegah kelebihan asam dan mengurangi produksi asam lambung.

Selain dikhawatirkan memicu sakit maag, kopi juga dituding sebagai peyebab jantung berdebar-debar atau palpitasi. Seperti sudah banyak diketahui oleh orang awam, kopi mengandung kafein. Kafein merupakan stimulan alami yang merangsang sistem saraf pusat. Bagi beberapa orang, hal ini memicu gejala seperti sulit tidur, sakit kepala, gugup, jantung berdebar-debar dan pusing. Tapi efek kopi terhadap masing-masing orang bisa berbeda-beda.

Seperti diwartakan LiveScience, pada umumnya palpitasi tidak membahayakan kesehatan Anda. Namun jika Anda mengonsumsi kafein berlebihan maka dampaknya bisa mematikan. Khususnya bagi Anda yang memiliki masalah jantung seperti angina atau pernah mengalami serangan jantung, sebaiknya berbicara dengan dokter Anda sebelum mengonsumsi kopi.

Meskipun kopi dapat memiliki efek stimulan pada jantung dan tubuh, namun penelitian Harvard School of Public Health membuktikan manfaat kopi yang lain. Mereka menilai, konsumsi kopi secara teratur tanpa gula bisa menurunkan risiko diabetes, kanker usus besar dan batu empedu, hati dan penyakit Parkinson.

Kopi memang sebuah fenomena yang tiada habisnya dibahas. Berbagai penelitian tidak akan pernah berhenti menyelesik manfaat kopi, mulai dari dampak kopi terhadap kehidupan seksual, efek kopi terhadap hati (liver), manfaat kopi untuk menurunkan risiko penyakit Alzheimer, dan lain-lain.

Bahkan tidak berhenti pada masalah kesehatan. Kopi pun konon bisa membuat orang menjadi cantik dengan cara-cara tertentu. Ada perempuan yang memanfaatkan kopi sebagai masker wajah dan rambut. Sementara itu perempuan lain memanfaatkan serbuk kopi untuk menghilangkan kantung mata, menghilangkan selulit, mencerahkan kulit dan mengurangi rasa pegal pada kaki.

Melihat sederet dampak dan manfaat mengonsumsi kopi bagi kesehatan dan kecantikan, tampaknya memang biji kopi ibarat buah yang jatuh dari surga.

Nah, selain memengaruhi kondisi keuangan pribadi, memengaruhi kesehatan dan kecantikan, kopi juga berefek terhadap perputaran roda ekonomi. Munculnya kedai-kedai kopi yang baru juga akan membawa dampak turunan karena melibatkan investasi dan membuka kesempatan kerja.

HM Ali Badarudin, Ketua Umum Himpunan Pimpinan Pendidik Pelatihan dan Kewirausahaan Indonesia (HP3KI) kepada KONTAN mengatakan bahwa peluang bisnis kedai kopi masih menjanjikan, terutama konsep kafe di mal-mal.

Laman situs Fokusbisnis.com mencatat ada sekitar 35 waralaba dan kemitraan warung kopi yang bisa dipilih jika orang ingin menginvestasikan uang mereka. Investasi waralaba-waralaba yang berhubungan dengan kopi ini besarnya bervariasi dari mulai hanya Rp500 ribu sampai miliaran rupiah.

Menurut Ali, kedai kopi sebaiknya didirikan di tempat yang banyak orang nongkrong. Namun karena persaingannya yang ketat, sebaiknya pemain yang menawarkan waralaba atau kemitraan bisnis kopi harus sudah memiliki pengalaman sekitar sepuluh tahun di bisnis ini.

Tergantung pada besar kecilnya investasi, bisnis kedai kopi di Indonesia, seperti disebutkan oleh Anthony Cottan, Direktur Starbucks Indonesia, sangat menjanjikan.

"Pasar kami di Indonesia tumbuh dua digit, berkisar 10-20 persen dalam 3 tahun. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia di mana pertumbuhan pasar kami dua digit secara konsisten. Jika dilihat secara keseluruhan, pertumbuhan penjualan mencapai lebih dari 30 persen karena ada toko-toko baru. Dalam setahun, kami menargetkan untuk menambah 25-30 gerai," ujar Cottan kepadaTEMPO.

Cottan lebih lanjut mengatakan bahwa pertumbuhan pasar kopi di Indonesia cukup besar. Namun, menurut Cottan, volume transaksi hariannya belum terlalu besar, mungkin 30 persen lebih rendah daripada di Singapura yang memiliki pendapatan per kapita lebih besar. Meski demikian, peluang untuk meningkatkan volume bisnis kopi masih besar, tergantung cara menarik lebih banyak konsumen.

Demikianlah, bisnis kopi sebenarnya mempunyai dampak yang cukup besar karena melibatkan modal yang tidak sedikit dan pekerja yang banyak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR