Penumpang pesawat udara berjalan menuju terminal kedatangan saat tiba di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (14/1/2019). Sejumlah maskapai penerbangan yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) sepakat untuk menurunkan harga tiket pesawat terbang khususnya domestik yang sempat melambung beberapa waktu belakangan.
Penumpang pesawat udara berjalan menuju terminal kedatangan saat tiba di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (14/1/2019). Sejumlah maskapai penerbangan yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) sepakat untuk menurunkan harga tiket pesawat terbang khususnya domestik yang sempat melambung beberapa waktu belakangan. Septianda Perdana / Antara Foto
INDUSTRI PENERBANGAN

Akhir era mudik murah naik pesawat

Tahun ini, pemudik harus merogoh kocek lebih dalam untuk bisa terbang pulang ke kampung halaman. Sementara kebijakan tarif batas atas (TBA) pemerintah dinilai kurang tepat dan justru cenderung bisa mematikan industri penerbangan.

Dua minggu menjelang puasa, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution merapatkan barisan para pengurus ekonomi negara dengan menggelar rapat di kantornya. Rapat itu bertujuan untuk memastikan bahwa harga barang dan jasa stabil selama puasa.

Pembahasan serius itu berujung pada satu masalah yang tengah hangat di publik; tingginya harga tiket pesawat domestik.

Pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah Menteri Kabinet Kerja seperti Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko.

Topik ihwal kenaikan tarif tiket pesawat itu disampaikan oleh Darmin merujuk pada data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) April 2019. Seperti terlihat pada grafik di bawah, tiket pesawat turut andil dalam pergerakan inflasi sepanjang Maret. Jika hal tersebut terjadi hingga menjelang Idulfitri, lonjakan inflasi tak terelakkan.

Masyarakat pun mendesak pemerintah untuk mengintervensi harga tiket pesawat. Polemik ini berujung pada beredarnya petisi daring: Turunkan harga tiket pesawat domestik Indonesia--yang telah ditandatangani lebih dari 1 juta orang.

Di media sosial Twitter, tagar #PecatBudiKarya menggema. Warganet menuntut Menteri Perhubungan itu mundur dari jabatan karena dianggap tidak becus membereskan masalah tersebut.

Darmin pun berkesimpulan perlu ada aturan yang tegas agar maskapai tidak semena-mena menaikkan tarif. "Perlu ada aturan yang jelas, mengenai batas atas dan batas bawah itu supaya dipatuhi semua," ungkap Darmin, Kamis (25/4/2019).

Kesimpulan Darmin tersebut akhirnya berbuah regulasi di bawah naungan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Kementerian Perhubungan mengeluarkan Keputusan Menteri (KM) nomor 106 tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Dalam Negeri yang resmi ditandatangani Budi Karya pada Rabu 15 Mei lalu. Peraturan itu menggantikan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 72 Tahun 2019 yang diterbitkan pada 29 Maret 2019 lalu.

Dalam beleid anyar tersebut, maskapai penerbangan nasional wajib memberlakukan tarif batas atas (TBA) sebanyak 12 hingga 16 persen. Apabila maskapai penerbangan tak mematuhi aturan tersebut, maka Kemenhub akan menjatuhkan sanksi.

Penerapan tarif baru yakni meliputi tarif dasar yang berlaku sesuai peraturan yaitu tarif jarak yang belum ditambahkan komponen pajak, iuran wajib asuransi dan biaya tuslah atau surcharge.

***

Selang empat hari sejak peraturan tersebut dirilis, Senin (20/5/2019), Andi Iman mencoba menelusuri situs penjualan tiket online dan mencari tiket rute Jakarta menuju kampung halamannya, Kendari.

Hasilnya, harga rata-rata maskapai full service untuk keberangkatan enam hari sebelum Idulfitri dipatok hingga mencapai Rp2,5 juta per orang. Untuk rute kembali ke Jakarta, Andi memilih maskapai Batik Air yang mematok harga Rp2,1 juta.

Andi yang bekerja di perusahaan swasta di Jakarta memilih penerbangan langsung tanpa transit, dengan alasan efisiensi waktu. Ia membeli tiga tiket untuknya, isteri dan anaknya yang berusia 3 tahun.

Bagi Andi, aturan tarif batas atas tersebut sedikit membantu menurunkan harga tiket pesawat menjadi lebih rendah dibanding dengan posisi satu atau dua bulan lalu. Namun, jika dibandingkan dengan harga tahun lalu, tarif tersebut tergolong mahal.

"Tahun lalu saya mudik naik Garuda masih dapat Rp1,5 juta, untuk pulang pergi saya dapat sekitar Rp3 juta," ujar Andi kepada Beritagar.id, Selasa (21/5).

Untuk mudik kali ini, setidaknya ia harus merogoh kocek hingga Rp13 juta untuk membeli tiket pesawat. Jumlah tersebut belum termasuk pengeluaran lainnya seperti ongkos transportasi darat, makanan, hingga tunjangan untuk sanak saudara.

Untuk menutupi pengeluaran tersebut, ia harus merelakan seluruh Tunjangan Hari Raya (THR) yang ia terima dari tempatnya bekerja tahun ini. "THR saya sama isteri habis enggak ada sisa," ujarnya seraya tertawa.

Nasib serupa dialami Fitri Hedianti. Perempuan yang sehari-hari mengais rezeki di ibu kota Jakarta ini berencana pulang ke kampung halamannya, di Padang, Sumatra Barat saat musim mudik nanti.

"Biasa ke Padang itu dengan LCC (Low Cost Carrier) cuma Rp500-600 ribu, sekarang jadi Rp1,2 juta. Apalagi musim mudik lebaran lebih parah lagi, dulu cuma Rp1,3 juta, sekarang ke Padang hampir Rp2 juta," kata Fitri.

Belum selesai keluhannya soal harga tiket yang mahal, ocehan Fitri kini menyasar kebijakan sejumlah maskapai yang menerapkan tarif bagasi secara terpisah dengan tiket pesawat.

Menurut dia, kebijakan maskapai itu memberatkan penumpang. Ihwal bagasi pesawat ini yang akhirnya membuat Fitri menjatuhkan pilihan pada Citilink ketimbang Lion Air untuk mengantar dirinya ke kampung halaman saat mudik lebaran nanti.

"Maskapainya Citilink karena enggak perlu bayar bagasi lagi. Kalau Lion kemarin lebih murah, tapi belum bagasinya. Kalau dihitung-hitung mah sama saja. Mending yang enggak usah antre buat bayar bagasi, makanya pilih Citilink," tutur dia.

Beritagar.id mencoba menelusuri harga tiket penerbangan untuk periode tujuh hari sebelum (H-7) dan tujuh hari setelah (H+7) Idulfitri yang dijual lewat situs Traveloka (diakses pada 13-14 Mei).

Kami membandingkan perbedaan harga untuk titik pemberangkatan awal yakni Jakarta, dengan tujuan Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Padang, Makassar, Medan dan Manado.

Untuk arus mudik, penerbangan dengan tarif paling mahal dipasang oleh Garuda Indonesia dengan rute Jakarta-Manado, yakni Rp3,47 juta sedangkan rute sebaliknya, Manado-Jakarta dipatok sekitar seharga Rp3,4 juta.

Dari seluruh rute, rata-rata harga tiket termurah dimiliki oleh maskapai Lion Air dengan rute Semarang-Jakarta pada H+2 yakni Rp737.867 atau Jakarta-Semarang pada H+1 sebesar Rp781.833.

Akhir era tiket murah

Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah, menolak jika disebut maskapai mematok tarif selangit dengan semena-mena. Yang terjadi saat ini, menurutnya, adalah fase berakhirnya perang tarif.

Kata Pikri lima tahun yang lalu, industri aviasi mengalami over supply atau kelebihan penawaran penerbangan. Akibatnya semua maskapai saling berebut pasar.

Hal yang paling mungkin dilakukan saat itu adalah memberikan diskon untuk menarik hati penumpang. Tak tanggung-tanggung, maskapai banting harga dan menjual tiket hanya 50 persen hingga 60 persen dari TBA.

Persaingan tidak sehat ini berlangsung selama bertahun-tahun. Akibatnya, harga diskon tersebut dianggap sebagai harga normal oleh masyarakat.

"Bom waktu dari perang tarif kemarin. Bom waktu dan sekarang baru munculnya. Orang baru tersadar ‘wah gila ternyata’ (tiket pesawat mahal)," ujar Pikri kepada Beritagar.id.

Artinya perang tarif yang terjadi antar maskapai beberapa tahun lalu berdampak buruk di masa sekarang. Pikri mengatakan dulu pada masa perang tarif, ada banyak hal yang dikorbankan oleh masing-masing maskapai demi memberikan diskon tiket.

Luka akibat perang tersebut sangat terasa saat ini. Kini, industri penerbangan dikabarkan harus jungkir balik untuk bisa bertahan. Akhirnya jalan tengah yang ditempuh adalah menyudahi perang tarif. Sayangnya masyarakat terlanjur salah persepsi soal harga tiket pesawat.

Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen Agus Pambagyo mengatakan beleid pemerintah soal revisi TBA kurang tepat dan justru cenderung bisa mematikan industri penerbangan.

Ia menyebut pemerintah telah gagal menjelaskan ke publik mengapa harga tiket penerbangan tetap mahal meskipun sudah dikeluarkan berbagai aturan.

"Komponen tiket pesawat mempunyai banyak variabel, tergantung pada model pesawat dan jenis pesawat," ujarnya.

Selain itu banyak faktor lain yang harus dimasukkan ke rumus biaya per jam terbang, misalnya biaya operasi langsung tetap yakni sewa pesawat, premi asuransi pesawat, gaji, serta biaya operasi langsung variabel yang terdiri dari biaya avtur, biaya pemeliharaan pesawat, jasa bandar udara, biaya navigasi dan ground handling.

Biaya itu belum ditambah biaya operasi tidak langsung yang berisi biaya umum dan komisi agen. Setelah ditambah margin keuntungan, maka didapatlah biaya operasi pesawat per jam sesuai dengan model dan jenis pesawat.

Ia juga mengatakan tingginya harga tiket penerbangan saat ini disebabkan karena adanya pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen pada semua transaksi pembelian tiket penerbangan domestik. Apalagi harga avtur berfluktuasi tergantung harga minyak mentah dunia dan s nilai tukar dolar yang saat ini cenderung naik.

"Harga dasar avtur di Medan-Jakarta-Surabaya, menurut Kementerian ESDM, sudah lebih murah daripada di Changi Singapura. Namun ketika ditambahkan PPN 10 persen jadi lebih mahal," ujarnya.

PPN 10 persen tidak mungkin dihilangkan dan penurunan batas atas atau kenaikan batas bawah tidak mungkin dapat menurunkan harga tiket penerbangan kembali ke zaman harga tiket murah.

Faktor yang paling dominan dan paling menentukan untuk menurunkan harga tiket penerbangan adalah nilai tukar rupiah khususnya terhadap dolar AS. Jika nilai tukar mata uang negeri paman sam terus melambung seperti saat ini, sayonara tiket penerbangan murah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR