Warga bersama anjing peliharaannya di Jakarta, 18 September 2016.
Warga bersama anjing peliharaannya di Jakarta, 18 September 2016. Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Akhir nasib anjing di atas piring

Pencurian anjing untuk dikonsumsi di sejumlah daerah masih marak. Modusnya, mencampur makanan dengan potas.

Peristiwa itu terjadi empat tahun lalu, tapi Ferry (46) masih mengenangnya dengan jelas. Suatu sore sepulang kerja, warga Sucen Cibenda Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat itu tak mendapati sambutan dari si Boy. Tak seperti hari-hari sebelumnya, anjing kesayangannya itu tak tampak berseliweran di sekitar rumah.

"Kata tetangga ada anak-anak melihat anjing saya dibius orang," ujarnya menceritakan kembali peristiwa itu, Jumat (15/12/2017) siang.

Si Boy, nama anjingnya, langsung terkapar pingsan setelah seorang lelaki membekapkan kain yang telah ditaburi bubuk hitam ke moncongnya.

Tubuhnya terkulai lemas tapi perutnya masih bergerak naik turun menandakan anjing itu masih bernapas ketika lelaki tak dikenal itu membawanya pergi.

Setelah bertanya ke sana kemari, Ferry mencurigai warga desa tetangga sebagai pembius anjingnya. Banyak orang mengenalnya sebagai pengepul anjing dan memasok kebutuhan anjing untuk konsumsi di Yogyakarta. Tak ingin kehilangan si Boy, ia mendatangi orang yang dicurigai itu.

Cekcok terjadi, bahkan nyaris adu jotos. Untung masih terkendali. Ferry sempat berencana membawa perkara itu ke polisi tapi tak jadi. "Sudahlah saya tak mau urusan ini sampai panjang," katanya.

Ia relakan si Boy menghilang tapi tetap tak mampu membayangkan anjing kesayangannya itu berakhir jadi santapan di atas piring.

Tak hanya di Pangandaran, di Minahasa dan Manado, praktik pencurian anjing juga marak. Untuk mendapatkan mangsanya, para doger (pencuri anjing) sering menggunakan makanan yang dicampur potas. Para doger ini menjalankan aksinya malam hari, kala para pemilik anjing tidur.

"Dua minggu lalu, saat bangun pagi, dua ekor anjing milik telah hilang. Ada beberapa bungkusan ikan yang sudah dicampur potas tertinggal di halaman. Itu pasti ulah doger," ujar Alfred (40) warga Desa Pineleng, Manado.

Dog Meat Free Indonesia, koalisi empat organisasi pegiat kesejahteraan hewan, baru-baru ini merilis hasil investigasinya. Dalam laporannya tertanggal 2 November 2017, koalisi beranggotakan Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Change For Animals Foundation (CFAF), Animal Friends Jogja (AFJ), dan Humane Society International (HSI) menemukan jutaan ekor anjing mengalami penderitaan mengerikan dalam perdagangan anjing di Indonesia.

Anjing-anjing itu termasuk hewan peliharaan yang dicuri dan dijagal untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di warung dan rumah makan.

Dua ekor Anjing  di Pantai Sawarna, Lebak, Banten.
Dua ekor Anjing di Pantai Sawarna, Lebak, Banten. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Direktur Program Animal Friends Jogja Dessy Zahara Angelina Pane memperkirakan 215 ekor anjing dijagal tiap hari (atau 6.450 ekor per tahun) untuk memenuhi konsumsi daging anjing di Yogya. Daging anjing dipasarkan di 50 lebih warung dan rumah makan yang tersebar di penjuru kota.

Di Solo, jumlah pedagang makanan berbahan daging anjing malah lebih banyak lagi. Jumlah warung dan anjing yang dipotong mencapai dua kali lipat dibanding Yogya.

Ina, panggilan Dessy Zahara Angelina Pane, mengatakan ada seratus lebih warung sengsu di Solo. Untuk memenuhi kebutuhan daging, rata-rata 428 ekor anjing (atau 12.840 ekor per tahun) dibantai.

Tingginya keuntungan menjadi salah satu faktor masih maraknya perdagangan anjing. Perdagangan itu bahkan berlangsung lintas provinsi. "Itu easy money, malam ambil pagi jadi duit," katanya, Selasa (19/12/2017).

ME (68), lelaki pengepul anjing di Pangandaran, mengaku biasa membeli anjing seharga Rp75 ribu-Rp80 ribu per ekor. Anjing itu lalu dijual kembali ke tengkulak asal Solo dan Yogya seharga Rp150 ribu per ekor. Harga jual bertambah jika anjingnya gemuk. Seekor anjing berbobot di atas 10 kg dihargai Rp200 ribu.

Dari tangan tengkulak, pedagang membeli daging dengan harga kiloan. Perkilo daging anjing dibeli seharga Rp25 ribu.

Sementara di Cepu, Jawa Tengah, pasokan anjing mulai langka. Karena langka, di daerah ini harga anjing naik dua kali lipat. Jika sebelumnya anjing berbobot sedang dihargai sekitar Rp150 ribu kini menjadi Rp250 ribu hingga Rp300 ribu. Sedang untuk yang ukuran besar bisa mencapai Rp480 ribu hingga Rp500 ribu.

***

Di balik penampilannya yang ramah, Anung Endah Suwasti menyimpan kekhawatiran mendalam. Perempuan itu takut status bebas rabies yang disandang DIY terancam lepas karena masih maraknya perdagangan anjing lintas provinsi.

"Nah itu masalah kami," kata Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian DIY itu, Selasa 19 Desember 2017.

DIY menyandang predikat provinsi bebas rabies sejak 1997. Saat ini, dari 34 provinsi di Indonesia, ada sembilan di antaranya yang dinyatakan bebas rabies. Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat, Papua, dan DIY.

Pemerintah sejatinya telah memiliki aturan yang melarang perdagangan anjing dari daerah tak bebas rabies ke daerah bebas rabies. Toh, pemerintah DIY tak kuasa mengawasi jalur-jalur perdagangan hewan dari luar daerahnya.

Hanya ada lima pos pemeriksaan hewan di penjuru Yogya. Temon 1 dan 2, Kalibawang, Tempel, dan Ngemplak. Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding banyaknya akses keluar-masuk wilayahnya.

Di masing-masing pos ada empat petugas jaga. Tak hanya jumlah personel yang minim, masa jaga mereka pun terbatas dan belum mampu mencapai 24 jam sehari. Tak heran, jika lalu lintas angkutan binatang luput dari pengawasan. "Empat orang per pos, waktu jaga dari pagi sampai jam 10 malam," katanya.

Masalah perdagangan anjing, kata dia, juga dilematis. Jika mendatangi pedagang, pemerintah dikira membina. Padahal jelas-jelas anjing bukan hewan ternak konsumsi. Itu beda dengan sapi, ayam, kambing, dan babi.

Kalaupun menerbitkan surat keterangan kesehatan daging untuk pengiriman anjing, itu sama halnya melegalkan perdagangan daging anjing. "Tak mungkin juga kami bikin rumah pemotongan untuk anjing," katanya.

Menurut dia, perdagangan anjing telah menjadi masalah nasional yang pelik. "Pemerintah pusat juga bingung," katanya.

Ina mengatakan memang tak ada aturan perundang-undangan yang secara khusus melarang konsumsi daging anjing. Tapi larangan perdagangan anjing dari daerah tak bebas rabies ke daerah bebas rabies bisa menjadi senjata ampuh menekan perdagangan anjing.

Tiga kali sudah, ia dan relawan AFJ menggelar diskusi dengan pemerintah untuk merumuskan pencegahan perdagangan anjing di Yogya. Tapi tak sekalipun kegiatan itu melibatkan pihak kepolisian. Padahal peran mereka sangat strategis dalam penegakan peraturan.

Baginya hilangnya status bebas rabies bagi DIY hanya soal waktu. "Ini bom waktu," katanya.

Berita terkait:

Rumah aman penuh kasih sayang
Menanti ajal di tangan penjagal
Jalur gelap perdagangan binatang kesayangan
VIDEO: Menanti ajal di tangan penjagal

BACA JUGA