Seorang warga Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat tengah bekerja di atas selokan yang ditutup menjadi ruang kerja. Kampung Rawa adalah kelurahan terpadat di Jakarta.
Seorang warga Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat tengah bekerja di atas selokan yang ditutup menjadi ruang kerja. Kampung Rawa adalah kelurahan terpadat di Jakarta. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
TATA KOTA

Akrobat di ruang yang padat

Kampung Rawa adalah kelurahan terpadat di Jakarta. Keterbatasan ruang membuat warganya pintar berakrobat. Bagaimana mereka menyiasati keterbatasan ruang?

Kota bisa mengubah banyak orang. Jakarta bisa memaksa seorang perajin tahu menjadi praktisi 'tata ruang' karena sempitnya lahan.

Maman Suparman (50 tahun), perajin tahu warga RT 10 RW 4 Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat, sudah menetap di situ sejak 30 tahun lalu. Di kelurahan itu, rumahnya seluas 30 meter persegi, ia vermak agar bisa menampung 4 keluarga, yang terdiri dari 11 orang.

Maman, bapak tiga anak itu menempati rumahnya dengan dua adiknya, yang juga berkeluarga. Turut serta mertuanya. Maman menyekat rumahnya menjadi dua ruang. Satu ruang ia pakai buat dapur dan kamar mandi, sekaligus menjadi ruang depan. Satu ruang lagi untuk tidur.

Triplek dan kayu ia tegakkan untuk membuat bangunan semi permanen menjadi lantai dua. Isinya, kamar mandi, gudang, dan tiga ruang tidur. "Lantai satu untuk tidur 5 orang, lantai dua untuk tidur 6 orang," kata Maman kepada Beritagar.id, Kamis (14/3/2019).

Tak hanya itu, di rumah sempit itu tiga ekor kucing beserta anak-anaknya juga turut berteduh. "Kalau kucing-kucing itu sedang ribut, genteng rumah jadi korban. Rumah kami bocor," ujar Maman.

Maman beserta mertuanya di ruang yang memiliki tiga fungsi: dapur, ruang depan, dan kamar mandi.
Maman beserta mertuanya di ruang yang memiliki tiga fungsi: dapur, ruang depan, dan kamar mandi. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Satu rumah dengan banyak keluarga sudah jamak di Kampung Rawa. Menurut Anisha (37) Sekretaris RT setempat, di wilayahnya total ada 60 keluarga yang ditampung di 36 rumah. Satu rumah bisa ditempati hingga 4 keluarga. Rumah bersama ini terwujud karena tiga sebab.

Pertama, ada anak yang sudah menikah tapi belum juga memiliki rumah sendiri. Maka dia menumpang di rumah keluarga induknya. Kedua, keluarga besar datang ikut bernaung, seperti keluarga Maman. Ada juga pendatang, yang sudah memiliki KTP Kampung Rawa, tapi belum punya rumah. Mereka menyewa ruang yang disekat-sekat.

Kesih, 31 tahun, seorang pedagang kopi menyewa ruang-ruang yang sudah disekat menjadi 3 x 3 meter. Di ruang itu, ia tinggal bersama suami dan satu anaknya. "Sebulan sewanya Rp400 ribu," ujar penghuni RT 9 RW 4 ini.

Wajah rumah sesak jamak terjadi di Kampung Rawa. Tak heran, Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta 2017, Kampung Rawa adalah kelurahan terpadat di Jakarta. Di kelurahan seluas 30 hektare itu, berdiam 27.187 orang.

Dengan angka itu, kepadatannya mencapai 90.623 orang tiap kilometer persegi. Jauh melampaui kepadatan umum Jakarta yang hanya seperempatnya, 22.623 orang per kilometer persegi.

Dengan ruang hidup yang terbatas, warga di Kampung Rawa bersiasat dengan ruang mereka.

Warga Kampung Rawa tengah menghabiskan waktu, di Kamis (14/3/2019) siang.
Warga Kampung Rawa tengah menghabiskan waktu, di Kamis (14/3/2019) siang. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Selokan selebar dua meter yang membelah perkampungan itu disulap menjadi ruang publik. Mereka pasang palang kayu di bibir selokan sehingga menjadi ruang yang bisa digunakan.

Ratna (62 tahun), warga RT 10 RW 7 membangun warung di atas selokan selebar dua meter. Unit usaha perajin tahu tempe berdiri berjajar di sepanjang selokan, bahkan memanfaatkan badan got untuk menimbun kayu bakar. Limbah cair pembuatan tahu, juga mengalir di saluran pembuangan itu.

Jam biologis dan tawuran

Hidup berdesakan dalam ruang sempit seperti memaksa mereka untuk menciptakan konvensi di antara penghuni rumah. Sekadar contoh, mereka memiliki jam biologis yang berbeda dengan umumnya.

Menurut Suprati Harjo, Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Kampung Rawa, warga tidur bergantian sesuai dengan aktivitas mereka. "Anak-anak muda banyak yang tidur di siang hari. Malam, orang-orang tua berganti jatah tidur," kata Prapti.

Bambang Priyatno (49 tahun), warga RT 7 RW 4 menyatakan memiliki jam kerja berbeda dari orang umum. Pedagang makanan ini mulai berjualan di Pasar Senen, pukul 1 dini hari sampai matahari terang.

Di rumahnya seluas 30 meter persegi, dengan satu kamar tidur, waktu tidur Bambang bergiliran dengan tiga anaknya. Ia mengambil jatah waktu tidur jam 9 pagi hingga tengah hari.

Setelah itu, giliran dua anaknya yang remaja yang tidur. Sementara anaknya yang berumur 5 tahun dan istrinya, waktu tidurnya di malam hari.

Pergantian waktu tidur ini dituding sebagai pemicu tawuran dengan warga kelurahan sekitarnya.

Jumlah kejadian tawuran dan kepadatan penduduk Kampung Rawa dan kelurahan sekitarnya.
Jumlah kejadian tawuran dan kepadatan penduduk Kampung Rawa dan kelurahan sekitarnya. | Lokdata.id /Beritagar.id

Salah satunya dengan Kelurahan Tanah Tinggi. Dua kelurahan ini dipisahkan oleh Kali Sentiong.

Bambang mengakui, anak-anak muda banyak yang melek di waktu malam. Aktivitas malam para remaja ini tentu saja tanpa pantauan orang tua. "Untung anak saya cewek, jadi tak ikut tawuran," ujar bapak tiga anak ini.

Menurut penuturan warga, hampir dua tahun ini tawuran sudah jarang terjadi setelah jembatan yang menghubungkan dua kelurahan itu ditutup, sekitar Agustus 2017. Padahal sesungguhnya jembatan itu sangat vital bagi warga

Gara-gara penutupan jembatan itu, "Kami terpaksa ambil jalan memutar untuk pergi ke Pasar Gembrong," kata Maria, 54 tahun, warga Kelurahan Tanah Tinggi.

Anak-anak bermain di jembatan yang sudah permanen ditutup. Jembatan yang menghubungkan dua kelurahan ini ditutup sejak Agustus 2017 lantaran sering menjadi lokasi tawuran.
Anak-anak bermain di jembatan yang sudah permanen ditutup. Jembatan yang menghubungkan dua kelurahan ini ditutup sejak Agustus 2017 lantaran sering menjadi lokasi tawuran. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Tak hanya konflik sosial. Anak-anak juga tak terpenuhi kebutuhan ruang bermain. Sekalipun ada tiga Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di kelurahan itu, tapi tak mampu menampung anak-anak di kampung itu.

Jumlah anak-anak berusia 9 tahun ke bawah di Kampung Rawa kelewat banyak, ada 4.664. Atau setara 18 persen dari total penduduk di kelurahan itu.

Kesih, seorang ibu muda membiarkan anak yang berumur 2 tahun bermain air di atas selokan, dekat penggorengan tahu. "Dia besar di atas selokan," ujarnya santai.

Sementara Bambang, dengan jujur menyatakan, anaknya yang bungsu kerap kena omel pengguna jalan karena bermain di jalanan.

"Mau main di mana lagi? Elo mau kasih tanah buat main mereka?" kata Bambang.

Dua anak bermain bola di sebuah gang di Kampung Rawa. Minimnya ruang bermain, membuat mereka bermain di lahan yang ada.
Dua anak bermain bola di sebuah gang di Kampung Rawa. Minimnya ruang bermain, membuat mereka bermain di lahan yang ada. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Jalanan makin ramai oleh anak-anak yang bermain selepas ashar. Mereka tumpah ruah bersama remaja yang nongkrong. Orang dewasa juga banyak menghabiskan waktunya di pinggir jalan. Hampir di tiap persimpangan, papan catur atau kartu remi dimainkan, beserta iringan lagu dari pelantang suara.

Lingkungan padat ini, tentu tak layak untuk kesehatan. Namun warga merasa tak ada masalah dengan lingkungan ini. Selama ini mereka merasa sehat-sehat saja. Baik Maman, Ratna, Bambang, Kesih ataupun Anisha, tak pernah mengalami masalah kesehatan serius.

"Paling masuk angin, demam, atau batuk," kata Anisha. Penyakit remeh ini biasanya tuntas dengan periksa ke puskesmas.

Pemerintah setempat juga berusaha mengurangi kepadatan. Prapti menyatakan, mereka bersepakat, warga dengan KTP nonaktif disarankan pindah domisili. Mereka yang ber-KTP Kampung Rawa tapi tak tinggal di kampung itu disarankan pindah.

Alhasil, pada 2018, daerah dengan luas 0,30 kilometer persegi itu jumlah warganya susut seribu orang lebih, menjadi 25.933, sehingga kepadatan Kampung Rawa pada 2018 turun menjadi 86.443 orang per kilometer persegi.

Angka tersebut tetap sebagai rekor kampung terpadat di DKI. Bahkan kepadatan Kampung Rawa ini juga melampaui kepadatan kota terpadat di dunia: Dhaka. Tiap kilometer persegi ibukota Bangladesh itu 'hanya' dihuni 28.410 orang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR