Musisi berlatih sebelum bermain dalam pembukaan Amboina International Bamboo Music Festival (15/11/2018).
Musisi berlatih sebelum bermain dalam pembukaan Amboina International Bamboo Music Festival (15/11/2018). Beritagar.id / Bismo Agung
FESTIVAL BUDAYA

Ambon bersolek menuju Kota Musik Dunia

Musik telah menjadi DNA orang Ambon sehingga jadi bagian tak terpisahkan dalam keseharian.

“Musik itu bikin semangat. Seng ada musik seng rame, bung,” jawab Odang kepada saya saat menanyakan kenapa musik hampir tidak pernah absen menemani aktivitas warga di Ambon.

Odang (26) adalah salah satu pengemudi ojek yang mangkal di depan hotel sekitaran Jl. Said Perintah, tempat saya dan fotografer Bismo Agung menginap selama berada di ibu kota provinsi Maluku itu.

Bersama tiga rekan jurnalis lain, kami berangkat dari Jakarta dalam rangka meliput Amboina International Bamboo Music Festival & Convention (15-17/11/2018).

Acara tersebut didukung Pemerintah Kota Ambon bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Ekonomi Kreatif, Platform Indonesiana, dan sejumlah pihak lain.

Tujuannya untuk mempermulus niat Ambon menyabet gelar Kota Musik Dunia dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Kebetulan bagi kami berlima, menginjakkan kaki di Amboina, sebutan Kota Ambon dalam bahasa lokal, adalah pengalaman pertama.

Saat mobil yang menjemput kami melaju dari Bandara Internasional Pattimura menuju hotel, sang sopir langsung memecah sunyi dengan menyetel lagu-lagu Glenn Fredly dari album Selamat Pagi, Dunia! yang rilis lebih dari satu dekade silam.

“Ini pertanda kita sudah ada di Ambon,” kelakar saya yang disambut tawa oleh teman-teman rombongan.

Kami singgah sejenak di rumah makan tepi pantai demi mengisi perut yang keroncongan. Sayup terdengar suara organ electronic alias electone.

Ketika masuk, terlihat dua orang pria, seorang penyanyi dan pemain electone, sedang beraksi di atas panggung kecil yang terletak di sudut rumah makan.

Repertoar mereka berisi lagu populer milik penyanyi-penyanyi dalam dan luar negeri. Tak ketinggalan juga tembang-tembang romantis Ambon, seperti “Beta Mati Rasa” dan “Parcuma (Beta Susah di Rantau)”.

Pada kesempatan lain, saat mencoba naik taksi online maupun angkutan kota (angkot) alias oto dalam istilah di sana, musik juga tak pernah absen mengisi ruangan.

Musik juga tak pernah absen mengalun dari atas becak, truk, di dalam warung kopi, kafe, toko, hingga rumah-rumah warga di gang sempit yang memenuhi area belakang hotel.

Berdasarkan itu pula saya langsung mengambil kesimpulan cepat bahwa kota ini pantas dinobatkan UNESCO menjadi Kota Musik Dunia yang diumumkan tahun depan.

Potensi atau talenta musisi di kota ini sangat meruah. Persis sama dengan melimpahnya kekayaan ikan dan rempah-rempah di sana.

Faktor terakhir menjadikan Maluku primadona yang membuat Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda berebut ingin menguasainya beberapa abad lalu.

Belanda bahkan rela menyerahkan Pulau Manhattan ke tangan Inggris demi menguasai Pulau Run, daerah di Kepulauan Banda yang menghasilkan pala kualitas nomor wahid.

Menyadari potensi daerah yang tak melulu harus bertumpu pada hasil alam, Ambon sebagai ibu kota Maluku ingin menjadikan pekerjaan-pekerjaan kreatif sebagai sumber pemasukan utama daerah, sebagaimana tertuang dalam Sustainable Development Goals yang dicanangkan PBB pada 2030.

Dan musik sebagai bagian tak terpisahkan dari kreativitas manusia jadi kendaraan utama Ambon mewujudkan SDG tadi.

Salah satu gedung pertunjukan di Kampus IAIN Ambon, Jl. Dr. H. Tarmizi Taher, Batu Merah, yang dibangun dalam rangka kampanye sebagai Kota Musik Dunia
Salah satu gedung pertunjukan di Kampus IAIN Ambon, Jl. Dr. H. Tarmizi Taher, Batu Merah, yang dibangun dalam rangka kampanye sebagai Kota Musik Dunia | Bismo Agung/Beritagar.id

Sepak terjang musisi Maluku, totok maupun blasteran, memang sudah lama terbukti tokcer. Bukan sekadar legenda.

Pada awal dekade 90an, saat masih kecil saya mulai mengenal nama-nama seperti Bob Tutupoly, Enteng Tanamal, Melky Goeslaw, Harvey Malaiholo, Utha Likumahuwa, atau Broery Pesolima dari koleksi kaset lawas kepunyaan om dan tante.

Kekaguman saya pada seniman asal Ambon makin bertambah saat mulai mendengarkan lagu-lagu milik Ruth Sahanaya, Andre Hehanussa, Yopie Latul, dan Glenn Fredly.

Memasuki era kiwari, musisi berbakat yang mewarisi darah Ambon tak kunjung habis. Gamal dan Audrey dari kelompok GAC bisa menjadi contoh.

Semua nama yang saya sebutkan tadi memang berkarier di Jakarta yang nun jauh dari Ambon, tapi tidak membuat musisi lokal sepi penggemar.

Mitha Talahatu, Doddie Latuharhary, Jones Watimena, Nada Latuharhary, Essy Awondatu, dan Vicky Salamor adalah segelintir nama yang albumnya laris diburu warga Ambon manise. Berkat mereka industri musik pop di Ambon tetap menggeliat.

Di tanah perantauan, tepatnya di negeri Belanda, reputasi musisi keturunan Ambon tak kalah mentereng.

Dalam buku Recollecting Resonances: Indonesian-Dutch Musical Encounters (2014) karya Bart Barendregt dan Els Bogaerts, mereka bahkan disebutkan punya andil besar terhadap perkembangan musik populer di negeri kincir angin tersebut.

Salah satu grup musik yang sangat populer di Belanda adalah Massada. Para personelnya terdiri dari dua bersaudara Manuhutu, Johnny (vokalis) dan Jopie (perkusionis), plus Rudy de Queljoe (gitaris), Daniel Flower Berretty (perkusionis), James Sabandar (bassis), Alvin Manuhuwa (drummer), Fready Anindjola (kibordis), serta Jan Jermais (gitaris).

Formasi yang mengusung musik rock beraksen perkusif membuat mereka kerap disejajarkan dengan Santana.

Terbentuk sejak 1973 di Huizen, Belanda, Massada total menghasilkan lima album, termasuk album konser bertajuk Massada Live (1981). Lagu “Sayang e” yang rilis 1980 bahkan sempat memuncaki tangga-tangga lagu Top 40 di Belanda.

Setahun sebelumnya, tepatnya 4 Juni 1979, mereka jadi salah satu pengisi panggung Pinkpop, sebuah festival musik terbesar di dunia yang masih rutin berlangsung saban tahun hingga sekarang, bersanding dengan Dire Straits, The Police, Elvis Costello, Rush, dan Peter Tosh.

Hingga sekarang bibit penyanyi keturunan Ambon yang mewarnai ragam musik pop di Belanda juga tak pernah kering. Sebut misal Danjil Tuhumena (alumni The Voice Holland) dan Jessica Manuputty.

Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy saat pembukaan Amboina International Bamboo Music Festival di Lapangan Merdeka, Ambon (15/11), menuturkan bahwa musik telah menjadi bagian dari Dioxyribo Nuclead Acid (DNA) orang-orang Ambon. Tidak mengherankan kalau daerah itu tak pernah kehabisan musisi berbakat.

“Kalaupun ada orang Ambon yang tidak bisa menyanyi dengan suara bagus, setidaknya mereka tetap bisa membedakan jika ada suara yang lari dari titi laras alias fals,” ujar Ronny Lopies, Ketua Ambon Musik Office (AMO), ketika saya temui di Gedung Taman Budaya Maluku, Karang Panjang, Ambon (16/11).

Kemampuan alamiah tersebut oleh Ronny diistilahkan dengan “harmony by feeling” alias teknik pica suara alias intuisi untuk membagi (memecah) suara secara otomatis. Itu bukti saking menyatunya musik dalam urat nadi orang-orang Ambon.

Selama di Ambon saya dua kali membuktikan bahwa apa yang dikatakan Ronny bukan pepesan kosong.

Pertama saat pembukaan konvensi musik yang berlangsung di Gedung Taman Budaya Maluku.

Ketika tiba sesi menyanyikan lagu “Indonesia Raya” tiga stanza, para tamu yang datang secara acak dari berbagai rentang usia dan profesi bernyanyi laiknya anggota paduan suara.

Terdengar jelas ada yang bernyanyi dengan suara satu, dua, tiga, dan empat. Seolah mereka sebelumnya telah berkumpul lebih dahulu dan latihan berkali-kali.

Pengalaman kedua, dan ini lebih mencengangkan, terjadi saat menyaksikan penampilan Oscar Harris (74) di Lapangan Merdeka yang dipenuhi warga. Saat penyanyi kelahiran Suriname yang sangat populer di Ambon itu mengajak ribuan penonton menyanyi bersama, kor nan merdu kembali tercipta. Amboi.

Beberapa fakta terkait Kota Musik Dunia yang termasuk dalam program Creative Cities Network versi UNESCO
Beberapa fakta terkait Kota Musik Dunia yang termasuk dalam program Creative Cities Network versi UNESCO | Sandy Nurdiansyah/Beritagar.id

Dengan segenap potensi yang dimilikinya dalam bidang musik, tepat rasanya jika Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dalam acara Amboina Jazz Plus Festival, pada 29 Oktober 2016, mendeklarasikan dukungan kepada Ambon sebagai wakil Indonesia agar bisa menembus Creative Cities Network (CCN) versi UNESCO di kategori Kota Musik Dunia.

“Tema yang kami usung dalam kampanye pencalonan Ambon sebagai Kota Musik Dunia adalah music for peace. Ambon memiliki kekayaan musik, misalnya umat Islam dengan musiknya, juga Kristen dengan musik gerejanya. Lewat musik mereka berkolaborasi,” terang Ronny.

Ambon ingin menunjukkan kepada dunia bahwa musik bisa menjadi wahana perdamaian yang bisa menjalar ke bidang sosial budaya dan aktivitas masyarakat.

Untuk dapat menyabet gelar Kota Musik Dunia seperti 32 kota lain di dunia memang bukan perkara mudah.

Lima pilar utama yang secara umum harus dimiliki untuk menjadi kota musik dunia, yaitu musisi dan komunitasnya, infrastruktur, pendidikan, nilai sosial budaya, dan pengembangan industri.

Agar berhasil meraih predikat tersebut, AMO telah menggagas 25 langkah kerja melibatkan instansi pemerintah dan swasta. Isinya mengakomodir lima pilar utama yang menjadi syarat sebuah kota musik dunia.

Beberapa contoh pelaksanaannya dengan menggelar berbagai festival dan diskusi musik dalam upaya meningkatkan pengetahuan publik di Kota Ambon.

Koordinasi dengan sejumlah pemilik hotel, kafe, dan restoran agar menyediakan live music sejak jauh hari telah dilakukan.

Pembangunan infrastruktur seperti studio rekaman berkualitas internasional, gedung pertunjukan, dan konservatorium juga dikebut.

Dengan anggaran terbatas, AMO semaksimal mungkin berupaya memfasilitasi musisi dengan komunitas atau sanggarnya lewat program “Insentif Pertunjukan Musik”.

Ronny bersama tim telah pula melakukan kunjungan ke Adelaide, Australia (23-26/10) yang sebelumnya telah meraih titel sebagai Kota Musik Dunia. Selanjutnya mereka berencana menyambangi Tongyeong, Korea Selatan.

Tujuan dari kunjungan tersebut selain mempromosikan Ambon, juga untuk transfer pengetahuan semisal bagaimana tata cara pengisian dossier, aplikasi formulir dari UNESCO, mengingat dua kota tersebut sudah berpengalaman.

“Saat berada di Adelaide, beberapa lembaga seperti Music Development Organization, Adelaide Music Center, Elder Conservatorium of Music, juga Townhall dan Wali Kota Adelaide sangat mendukung pencalonan Ambon,” ungkap Ronny.

Pekerjaan rumah terberat yang saat ini berupaya dilakukan AMO adalah mendorong Pemerintah Kota agar segera menerbitkan regulasi-regulasi dalam bentuk Peraturan Daerah terkait musik.

Berikutnya adalah menghadirkan kurikulum musik di sekolah-sekolah. Termasuk pengadaan alat-alat musik untuk para siswa. “Kami sudah membahasnya dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon,” lanjut Ronny.

Rence Alfons, komposer dan konduktor Molucca Bamboowind Orchestra, secara jujur mengakui langkah meraih predikat Kota Musik Dunia butuh perjuangan keras. Masyarakat harus ikut berperan aktif dalam membantu.

“Tantangan terbesarnya mengubah pola pikir masyarakat bahwa musik bukan sekadar musik, tapi bisa memberikan nilai lebih dari sisi estetika, sosial, budaya, dan ekonomi,” ujar pria berusia 51 yang juga duduk sebagai Board of Advisor AMO.

Dalam hemat Rence, masih butuh waktu lama untuk menjadikan Ambon sebagai Kota Musik Dunia.

Indikator sederhana yang menjadi dasar pemikiran Rence terkait pendapatan daerah. Pajak terbesar Kota Ambon bukan dari musik (hiburan, red.), tapi dari pos pajak yang lain.

Pun demikian, Rence mengaku tidak khawatir bahwa usaha-usaha yang sudah dirintis sekarang akan berhenti manakala Ambon dinyatakan belum berhasil menyabet gelar Kota Musik Dunia tahun depan.

“Justru kalau belum terpilih harus lebih ditingkatkan. Terutama dari segi mengubah pola pikir dan meningkatkan apresiasi masyarakat tadi,” pungkasnya.

BACA JUGA