Warga membaca Al Quran bulan suci Ramadhan 1440 Hijriah di Masjid Jamik Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Aceh, Jumat (10/5/2019).
Warga membaca Al Quran bulan suci Ramadhan 1440 Hijriah di Masjid Jamik Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Aceh, Jumat (10/5/2019). Irwansyah Putra / Antara Foto
LAPORAN KHAS

Anak muda dan komitmen hidup bebas riba

Prospek bisnis tanpa riba, baik peluang dan tantangannya makin menunjukkan titik terang. Seiring dengan berkembangnya wacana ekonomi syariah di berbagai kalangan, termasuk kaum muda. Gaungnya makin ramai dan banyak dibicarakan.

Lima tahun lalu, hidup Ridho Akbar (35) bagai diseret ke dasar palung. Ia kehilangan uang hingga Rp1 miliar dan akhirnya gagal mempersunting pujaan hatinya yang telah ia kencani selama dua tahun.

Naas yang menimpa Ridho berawal dari keikutsertaannya menjadi anggota koperasi simpan pinjam Pandawa Group yang menawarkan produk investasi pada 2012.

Koperasi tersebut tidak mendapat izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) alias bodong. Kegiatannya telah menelan cukup banyak korban, Ridho salah satunya. Ia tertarik berinvestasi lantaran diajak kerabatnya.

Dari uang senilai Rp40 juta yang diinvestasikan, Ridho bisa mendapat untung 10 persen atau Rp4 juta per bulan. Merasa dapat untung yang lumayan, Ridho makin semangat menaruh modal.

Ia bahkan sampai menjual rumahnya seharga Rp350 juta sebagai modal investasi. Semakin besar nilai investasi, semakin besar untung yang ia peroleh. Sampai akhirnya, ia putuskan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan hidup dari profit investasinya tersebut.

Selang dua tahun, OJK menghentikan kegiatan koperasi tersebut, karena dinyatakan sebagai investasi ilegal. Ridho juga tak lagi mendapat profit. Dana investasinya ikut lenyap seketika. Ia tak hanya kehilangan harta, tapi juga sumber penghasilannya. Alhasil, berbagai barang miliknya ia jual satu per satu.

Pada pertengahan Mei lalu, Beritagar.id menemui Ridho yang tengah mengikuti acara Hijrah Festival 2019, sebuah gelaran dakwah milenial yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC).

Kini keadaan hidup Ridho mulai pulih. Ia mantap berhijrah dan aktif mengikuti kegiatan dakwah. Pria asal Bandung itu membuka usaha kuliner berskala kecil untuk menyambung hidupnya.

Ia bergabung dalam Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR). Dari situ, ia mendapat banyak pengetahuan mengenai apa yang diperkenankan atau yang dilarang agama, praktik riba adalah salah satunya. Ia sadar apa yang ia dapatkan terdahulu merupakan buah dari produk riba. Riba merupakan perbuatan yang diharamkan dalam Islam. Allah dan Rasul-Nya, serta umat muslim telah sepakat akan keharaman riba.

“Saya bisa bilang, hidup saya jatuh karena saya jauh dari jalan Allah. Apa yang saya dapat dulu itu adalah riba yang tidak diridai oleh Allah,” ujarnya.

Pengunjung menghadiri Festival Roadshow Hijrah Fest 2019 di Medan, Sumatera Utara, Jumat (5/4/2019).
Pengunjung menghadiri Festival Roadshow Hijrah Fest 2019 di Medan, Sumatera Utara, Jumat (5/4/2019). | Septianda Perdana /Antara Foto

MTR adalah bagian dari komunitas Kampung Syarea World (KSW), sebuah komunitas yang awalnya merupakan komunitas bagi para pengembang, pemilik tanah dan pengusaha di bidang real estate dan properti. KSW mempunyai ikhtiar mengembangkan bisnis syariah tanpa riba, tanpa utang, tanpa akad-akad batil.

Komunitas yang dirintis beberapa anak muda itu memang mengagendakan percepatan bisnis anggotanya sekencang komitmen mereka menjauhi riba, sistem ekonomi berbasis bunga yang dilarang dalam Islam.

Gerakan komunitas ini sangat marak di kota-kota besar, ditopang promosi di media sosial. Kini anggota komunitas tersebut telah mencapai ribuan orang dengan latarbelakang beragam.

Dakwah mereka tidak lagi kaku, melainkan menekankan seputar gaya hidup. Awalnya mereka akan datang dan ikut beraktivitas bersama komunitas yang jadi sasaran, baru kemudian pelan-pelan mengajak orang mendalami ilmu agama.

"Pemahaman tentang agama itu kemudian dilanjutkan dengan pemahaman untuk menerapkan praktik pengelolaan keuangan yang halal dalam kehidupan sehari-hari," ujar Ridho.

MTR berusaha untuk membangun komunitas yang solid dan selalu berkomunikasi dengan anggota-anggotanya yaitu dengan cara membentuk grup dalam aplikasi WhatsApp di tiap kota. Pengurus atau adminnya akan disebut volunteer.

Komunitas sejenis ini yang kerap menjadi sasaran perusahaan keuangan syariah untuk menjaring nasabah. Seperti yang dilakukan sebuah perusahaan keuangan rintisan, SyarQ. Perusahaan tersebut menyuguhkan layanan pinjam meminjam dengan prinsip syariah. Sasarannya adalah para pengusaha UMKM.

SyarQ aktif mengerahkan para agennya untuk terlibat dalam komunitas kajian dan mengedukasi para peserta akan pentingnya memiliki prinsip hidup tanpa riba.

"Hasilnya cukup efektif. Ini menjadi peluang besar karena bank syariah yang ada saat ini tidak lincah melihatnya," ujar CTO SyarQ, Wisnu Manupraba kepada Beritagar.id.

Proses bisnis yang dijalankan SyarQ bukan dengan sistem kredit bunga, melainkan mengacu pada fatwa Dewan Syariah MUI tentang Murabahah, yakni perjanjian jual-beli antara penjual dengan pembeli.

SyarQ mendapatkan keuntungan dengan mengambil margin profit, oleh karena itu harga cicilannya lebih mahal daripada harga pasar. Setiap penawaran SyarQ akan ditambah dengan profit terlebih dulu, baru dibagi berdasarkan jangka cicilan yang dipilih.

Perkembangan investasi syariah

Instrumen investasi syariah sudah semakin lengkap saat ini. Banyak generasi milenial yang semakin tertarik menanamkan uangnya di pasar modal syariah. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, per Februari 2019 setidaknya ada 47 ribuan investor pasar modal syariah, yang juga banyak diisi oleh anak muda.

Infrastruktur syariah pun menjadi pondasi yang penting demi menjaring investor syariah yang ingin menanamkan uangnya di pasar modal Indonesia.

Produk syariah bukan sekadar label saja, para regulator pasar modal seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) sangat serius menggarap pasar modal syariah dari sisi infrastruktur.

Terbaru, KSEI memperoleh fatwa dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) terkait proses bisnis atas layanan jasa KSEI.

Fatwa tersebut tertuang dalam fatwa nomor 124/DSN-MUI/XI/2018 tentang penerapan prinsip syairah dalam pelaksanaan layanan jasa penyimpanan dan penyelesaian transaksi efek serta pengelolaan infrastruktur investasi terpadu.

Kepala Pengawas Eksekutif Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan, fatwa ini melengkapi fatwa dalam perkembangan pasar modal syariah.

KSEI juga meluncurkan fasilitas layanan dan pencatatan yang sudah berbasis dan menggunakan prinsip syariah, Syariah Online Trading System (SOTS). Sistem ini sudah diaplikasikan oleh 13 anggota bursa.

OJK mencatat dalam tiga tahun terakhir, penggunaan SOTS naik hingga 263 persen dan membantu meningkatkan penjualan reksadana syariah hingga 85 persen dan sukuk korporasi tumbuh 51 persen.

Data OJK per April menunjukkan, total aset saham syariah meningkat 6,5 persen per 5 April 2019 (yoy) menjadi Rp3.804,39 triliun dari R3.666,69 triliun. Sementara aset reksa dana syariah yakni Rp36,24 triliun atau meningkat 36,44 yoy dari tahun sebelumnya, Rp34,49 triliun.

Perencana Keuangan Eko Endarto mengatakan, makin banyak instrumen investasi akan memberikan pilihan yang beragam bagi konsumen.

Kemudahan dan pilihan alternatif akan membuat kenyamanan berinvestasi semakin terjaga. Obligasi syariah (sukuk), reksadana syariah, deposito bank syariah dan saham syariah akan melengkapi pilihan konsumen.

Menurutnya penting untuk memperhatikan risiko investasi, jangka waktu investasi dan imbal hasil yang beragam. Keberagaman ini tentunya akan memudahkan investor untuk mengatur portofolio investasi mereka.

“Investasi tergantung usia seseorang, semakin muda maka semakin tinggi profile risikonya,” ujar Eko.

Tips singkat berinvestasi di usia muda ala Eko antara lain; untuk investor usia di bawah 30 tahun bisa meletakkan portofolio investasi 10 persen di deposito, 20 persen seperti emas dan investasi jangka menengah lainnya dan sisanya bisa masuk ke saham reksadana dengan profil risiko lebih tinggi ini usia 20 tahun sampai 30 tahun. Semakin tua usia maka porsi deposito bisa diperbesar.

Harapannya sederhana saja dari investasi syariah ini. Pengembangan pasar modal dan menjadikan pasar modal sangat ramah bagi semua kaum sehingga kebutuhan akan berinvestasi semakin besar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR