Sejumlah massa yang teridentifikasi kelompok anarko meneriakan yel-yel ketika turut dalam aksi Hari Buruh di  Taman Cikapayang Dago, Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/5/2019) siang.
Sejumlah massa yang teridentifikasi kelompok anarko meneriakan yel-yel ketika turut dalam aksi Hari Buruh di Taman Cikapayang Dago, Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/5/2019) siang. Iqbal Kusumadirezza / Beritagar.id
ANARKO

Anarko, iman anarkisme dalam tubuh provokator

Provokatif dan konfrontasi merupakan bagian dari taktik kaum anarko-sindikalisme. Indonesia memiliki sejarah panjang dengan ideologi ini.

Negara dihuni tanpa aturan. Aturan merupakan penindasan yang harus dilawan karena menciptakan sekat masyarakat. Tujuan akhir dari semua itu ialah menciptakan masyarakat tanpa kelas politik, ekonomi, dan juga sosial.

Itulah gagasan besar dari ideologi anarkisme. Cara mewujudkannya bisa bermacam-macam. Ada yang melalui jalur kekerasan (aksi langsung). Ada pula lewat kepasifan. Namun, cara yang paling populer dilalui adalah yang pertama.

Maka, tak perlu heran jika aksi anarcho-syndicalism (anarko-sindikalisme), salah satu varian dari ideologis anarkisme, pada Hari Buruh kemarin, berakhir dengan keributan di sejumlah tempat, seperti Bandung, Surabaya, dan Makassar.

"Banyak varian anarkis yang taktiknya memang konfrontatif. Mereka tidak perlu menjelaskan pakai tulisan, yang dianggap cuma basa-basi. Yang kita mau, ribut," ucap Joni, salah satu tokoh anarko Indonesia yang nama aslinya tak mau disebutkan kepada Beritagar.id, Selasa (7/5/2019) malam.

Hingga saat ini, anarkisme memiliki banyak varian. Anarki-sindikalisme hanya satu dari sekian banyak, dengan corak gerakan lebih dekat dengan buruh. Selain sindikalisme, masih banyak lainnya, mulai dari berbasis agama, individual, hingga lingkungan.

Apa pun itu, semua kembali pada satu hal, seperti yang diungkapkan oleh Mikhail Bakunin dalam satu pidatonya di Asosiasi Pekerja Internasional, atau lebih dikenal dengan sebutan L'Internationale I (1864-1876), di Brussels, Belgia, pada 1868.

"Saya ingin melihat kekayaan kolektif sosial diorganisasikan dari bawah ke atas secara bebas, bukan melalui segala bentuk otoritas dari atas ke bawah," ucap Bakunin, dalam buku yang ditulis oleh E. H. Carr berjudul "Michael Bakunin" halaman 341 (fail pdf).

Bila merujuk pada konsepnya, anarkisme merupakan pola organisasi masyarakat tertua di dunia tentang bagaimana cara mereka bertahan hidup secara kolektif. Meminjam istilah Karl Marx, cara hidup demikian disebut komune.

Konsep ini jauh melampaui sistem kenegaraan yang ada, seperti kerajaan, republik, demokrasi, atau komunis. Anarkisme berorientasi pada kepemilikan alat produksi yang dikuasai masyarakat secara bersama-sama.

Hasilnya, akan didistribusikan secara merata. Sekilas, cara hidup seperti ini tak ubahnya ideologi sosialis.

Namun, sebetulnya tidak, Hal ini bisa dilihat dari pertentangan antara Bakunin dengan Marx, pada L'Internationale I 1872. Saat itu, kedua faksi dari masing-masing tokoh mempertahankan argumen konsep negara ideal.

Marx bersama pengikutnya mempercayai bahwa penggunaan sistem negara diperlukan untuk mewujudkan konsep sosialis. Sedangkan Bakunin dengan faksinya berpendapat sebaliknya. Negara digantikan oleh federasi tempat kerja dan komune yang dikelola oleh kaum pekerja.

Oleh karena itulah, bagi kaum anarko, anarkisme bukanlah ideologi masuk dalam garis politik sayap kiri. Ideologi kiri itu dianggap masuk "piramida kenegaraan".

Sejak L'Internationale I itu, anarkisme semakin menebarkan pemikirannya ke sejumlah negara: mulai dari Amerika Selatan hingga Asia. Sedangkan di nusantara, sebagian kalangan berkata tokoh anarkisme pertama di tanah air adalah Eduard Douwes Dekker.

Berkembang dan tertidur di Indonesia

Jejak waktu anarkisme di Indonesia
Jejak waktu anarkisme di Indonesia | Aghnia Adzkia dan Rabiatul Adawiyah /Beritagar.id

Akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 merupakan periode emas tumbuhnya paham anarkisme.

Tokoh-tokoh seperti Pierre Joseph Proudhon (orang pertama yang mendeklarasikan diri anarko), Bakunin (anarko-kolektif), Rudolf Rocker (anarko-sindikalisme), hingga Emma Goldman (anarko-komunis) adalah beberapa nama beken yang mengisi meja diskusi.

Di Indonesia--yang saat itu masih Hindia-Belanda--nama Douwes Dekker dianggap sebagai pelopor gerakan anarkisme. Memang, pria dengan nama pena Mulatatuli itu tak pernah menyebut diri sebagai seorang anarko.

Namun, tulisan-tulisannya menjadi rujukan anarko di Belanda awal abad ke-20.

"Pada awal abad ke-20, teks-teks Multatuli memberi pengaruh signifikan pada pekerja anarkis dan sindikalis di Belanda," tulis Biografisch Woordenboek van het Socialisme en de Arbiedersbeweging in Nederland.

Setelahnya, menurut catatan Anarkis.org, beberapa tokoh anarkis di Indonesia mulai muncul. Mereka menggunakan fasilitas media massa sebagai upaya persuasif menyadarkan masyarakat dari penjajahan.

Misalnya, yang dilakukan oleh Liu Shixin dengan menyunting artikel di surat kabar Soematra Po di wilayah Deli, Medan, Sumatra Utara. Ada pula Wang Yuting, pendiri surat kabar anarko-komunis Zhenli Bao di Semarang, Jawa Tengah, pada 1918.

Hingga 1965, beberapa tokoh anarkis di tanah air masih ada. Namun, pemberantasan Partai Komunis Indonesia (PKI), juga menjadi lonceng kematian ideologi anarkis di Indonesia.

"Paham anarkisme mulai tumbuh kembali pada awal 1990-an. Mereka masuk melalui genre musik punk rock," ucap Joni. "Mengapa punk rock? Karena mereka satu-satunya genre musik yang punya jaringan internasional. Jazz atau pop, nggak punya jaringan itu."

Lima atau enam tahun setelahnya, ideologi anarkisme semakin menjamur. Perkembangan internet dan banyaknya jumlah milis di dunia daring, menjadi pupuk penyubur.

Ditambah, menurut Joni, peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996: pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia di Jl. Diponogoro 58, Jakarta Pusat, yang saat itu dikuasai oleh pendukung Megawati Soekarnoputri.

Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketum Kongres PDI Medan) yang dibantu aparat kepolisian dan TNI. Peristiwa itu 5 orang meninggal dan kerusakan sejumlah gedung di daerah Kramat dan Salemba.

"Pascaperistiwa 27 Juli itu, semua milist yang isinya anti-Soeharto atau antipemerintah masuk. Itu kenceng dibaca terus. Ideologi anarkisme juga masuk saat itu," kata Joni.

Soeharto lengser, sebagaian anak-anak punk berideologi anarkisme tadi mencari saluran baru untuk mewujudkan cita-cita mereka: menciptakan masyarakat tanpa kelas politik, ekonomi, dan sosial.

Jalan yang diambil adalah dengan masuk dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD). Alasannya, menurut Joni, PRD adalah kendaraan ideal, karena memiliki premis yang sama dengan anarko dan, yang paling penting, punya pengalaman ribut dengan negara.

"Anarkis taktiknya kan memang provokatif. Jadi, kalau dibilang provokator, ya harus diakui memang iya," kata Joni.

Joni enggan disebut gerakan anarkis tunduk pada sistem atau hierarki dengan masuk PRD. Menurutnya, masuknya para anarko ke dalam PRD hanya sebagai tahapan belajar.

"Di beberapa titik kita nggak bisa bareng lagi, antara 1999 hingga 2000-an kita semua keluar. Alasannya ideologis. Dari awal, premisnya kan kita ga percaya sistem," ucap Joni.

Dengan keluarnya para anarko dari PRD , semakin menipis pula kesempatan mereka untuk sekadar show off kepada masyarakat. Maka, periode 2002 hingga 2007-an, tak banyak aksi kaum anarko di Indonesia. Seolah mereka tertidur.

Hingga kejadian demo pada Hari Buruh 2007, gerakan anarkisme mulai kembali muncul. Skalanya cukup besar, yakni mencoret beberapa gedung di pusat Ibu Kota hingga merusak halte di depan kedubes Amerika.

Sejak saat itu, hingga kini, gerakan kaum anarko rutin berlangsung, khususnya pada Hari Buruh. Joni mengatakan, keterlibatan kaum anarko di Hari Buruh bukan serta merta upaya infiltrasi.

"Kita enggak peduli sama mereka (buruh). Makanya kenapa kita mau pakai pakaian hitam-hitam, tidak merah atau biru," kata Joni.

Sejumlah massa yang teridentifikasi kelompok anarko meneriakan yel-yel ketika turut dalam aksi Hari Buruh di  Taman Cikapayang Dago, Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/5/2019) siang.
Sejumlah massa yang teridentifikasi kelompok anarko meneriakan yel-yel ketika turut dalam aksi Hari Buruh di Taman Cikapayang Dago, Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/5/2019) siang. | Iqbal Kusumadirezza

Meyakini laiknya iman

Pascapenangkapan ratusan orang anarko-sindikalisme, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Tito Karnavian, mengatakan bahwa ini adalah fenomena internasional dan baru berkembang di indonesia akhir-akhir ini.

Jika melihat sejarah anarkisme di atas, nampaknya penjelasan Tito tak salah, tapi tak sepenuhnya benar. Menurut Joni, Kepolisian RI sudah tahu mengenai sepak terjang anarkisme di Indonesia sejak lama.

"Ini kan masalah, seperti kapan mau dibuka ke publik. Tergantung kebutuhan saja, kapan dibutuhkan," ucap Joni.

Dan, Joni merupakan bagian dari sejarah perkembangan anarkisme Indonesia. Namun, kini Joni saat ini sudah tidak lagi terlibat dalam aksi praktis kaum anarko. Menurutnya, ia sudah lelah jika harus mengulang aksi-aksinya pada akhir 1990-an, yang saban minggu bentrok dengan polisi di sejumlah daerah.

Pun, ia sudah tak banyak bergaul dengan tokoh-tokoh anarko saat ini. Walau demikian, Jangan ditanya apakah ia tetap seorang anarko atau sudah luntur. "Itu (anarkisme) sudah seperti iman bagi saya," katanya.

Meski percaya bahwa konsep anarkisme sulit diterapkan dalam skala negara, ia tetap meyakini bahwa konsep bermasyarakat tanpa bernegara adalah yang paling manusiawi bagi masyarakat.

"Kalau percaya sesuatu, kenapa tidak kita lakukan. Meski banyak orang yang memusuhi, bahkan negara. Kalau tidak mau dimusuhi, mending berhijrah saja, main ke masjid," katanya.

*Baca juga: Jejaring konsep anarkisme di Indonesia.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR