Tampak muka Candi Kedaton Muara Jambi di Desa Muara Jambi,  Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, pada Sabtu (6/7/2019).
Tampak muka Candi Kedaton Muara Jambi di Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, pada Sabtu (6/7/2019). Ramond Epu / Beritagar.id
ARTEFAK KEBUDAYAAN

Ancaman pemugaran Candi Muara Jambi

Penanganan dalam pemugaran Candi Muara Jambi mengkhawatirkan. Penggunaan peralatan yang tak memadai, meski disebut lebih baik dari negara lain.

Tanah menggunung di tepi galian susunan bata-bata kuno. Tebaran pecahan bata terserak tak beraturan. Parit bekas galian memanjang, membuka arsitektur purba yang terpendam berabad-abad silam.

Bata-bata yang terlepas dari rangkaian diambil satu per satu, disusun dekat dengan para pekerja pemugaran. Susunan bata yang baru dikupas dari timbunan tanah dibersihkan menggunakan kape skrap dan centong semen.

Sedangkan yang sudah bersih, diukur satu persatu dan dicatat bagaimana letak dan posisi berdasarkan hasil temuan setelah digali.

Sudah satu dekade Candi Kedaton Muara Jambi dipugar. Rencananya, tahun 2019 ini, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi menyelesaikan pemugaran pagar penyekat ruang di sisi Timur Candi Kedaton. Pemugaran tahun ini sudah dimulai sejak pekan kedua Juni lalu.

Selain Candi Kedaton, BPCB juga melakukan pemugaran Candi Gumpung II, di sebelah barat Candi Tinggi. Pemugaran ini menyusul candi-candi yang sudah terlebih dahulu dipugar sejak 1976.

Banyak literatur yang menggambarkan kejayaan Kawasan Percandian Muara Jambi sebagai peninggalan Kerajaan Melayu Kuno dan Sriwijaya. Diakui, kawasan tersebut, menjadi pusat peribadatan agama Buddha abad VII-XIII yang terluas di Indonesia.

Kawasan Percandian Muara Jambi terdiri dari 82 reruntuhan bangunan kuno, Beberapa diantaranya telah dibuka. Seperti Candi Gumpung, Candi Tinggi I, Candi Tinggi II, hingga Bukit Perak.

Hingga sekarang, Kawasan dengan luas 3.981 hektare berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No: 259/M/2013 tersebut masih menyisakan 82 reruntuhan bangunan kuno (menapo) yang belum dipugar.

Pun, kawasan Percandian Muara Jambi masuk daftar tentatif UNESCO sebagai Warisan Dunia sejak tahun 2009.

"Masih banyak persoalan kalau kita berbicara Candi Muara Jambi ini," kata Abdul Haviz, Aktivis Pelestari Cagar Budaya kepada Beritagar.id di Desa Muara Jambi, Minggu 30 Juni 2019.

Salah satu persoalan yang dihadapi yaitu ketika pemugaran dilakukan. Ancaman kerusakan benda arkeologi dan temuan baru saat proses pemugaran. Penyebab kerusakan yaitu penggunaan peralatan seperti cangkul, tembilang dan linggis.

"Jika tidak hati-hati menggunakan alat-alat itu, bisa merusak benda arkeologi," kata pria yang arab disapa Ahok ini.

Dari data yang dimilikinya, banyak bata yang tidak bisa digunakan lagi akibat tercangkul. Apalagi bata yang tercangkul itu ada semacam tulisan, gambar dan relief. Apabila patah, maknanya bisa hilang juga.

Kerusakan bata yang ada ukiran mengakibatkan tidak bisa digunakan lagi. "Sebenarnya tidak secara sengaja. Tapi karena sistem, ancaman ini akan terus terjadi. Persoalan ini bisa dikurangi jika arkeolog menggunakan idealisme dan menjalankan kode etiknya," ujarnya.

Seharusnya, kata Ahok, bata bisa didapatkan utuh jika penggunaan peralatan pemugaran yang lebih aman. "Idealisme arkeolog yang bertanggungjawab terhadap pemugaran mulai pudar. Sepertinya disebabkan sistem birokrasi, senioritas dan atasan," katanya.

Selain persoalan penggunaan peralatan, kata Ahok, pihak BPCB juga bisa memperlakukan benda cagar budaya yang sudah digali dengan serius. Karena, baru-baru ini dirinya sempat menemukan bata-bata yang ada relief dibiarkan ditumpuk di lokasi pemugaran.

Seharusnya, bata-bata yang memiliki karakter khusus itu, jika tidak bisa dipasang, segera disimpan di tempat yang lebih aman.

"Jika studi kelayakan menyebutkan tidak bisa dipasang, harusnya segera diamankan. Termasuk dengan pembukaan ekskavasi. Setelah dibuka tidak boleh dibiarkan, harus segera ditutup," katanya.

Haviz berharap BPCB melakukan pengawasan lebih ketat. Selain itu, arkeolog sebaiknya bisa menginap di lokasi agar hubungan dengan tenaga lokal dapat emosionalnya. Jadi, tidak hanya sebatas hubungan pekerjaan saja.

Penyebab kerusakan

Kisah pemugaran Candi Kedaton Muara Jambi diungkapkan tenaga lokal, Kaspul. Ia harus berhati-hati dalam memugar benda cagar budaya itu.

"Pernah tercangkul hingga pecah. Bata yang paling banyak. Karena bata warnanya sudah menyatu dengan tanah. Kita kan tidak tahu bagaimana susunannya di dalam tanah," kata pria yang sudah menjadi tenaga lokal sejak 23 tahun.

Sebagai tenaga lokal, Kaspul juga mengetahui bahwa penggunaan cangkul, tembilang dan linggis bisa membahayakan benda cagar budaya yang mereka pugar. Namun, menurutnya, pemugaran akan sulit dilakukan jika tidak menggunakan peralatan itu.

Proses pemugaran Candi Kedaton Muara di Desa Muara Jambi,  Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, pada Sabtu (6/7/2019).
Proses pemugaran Candi Kedaton Muara di Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, pada Sabtu (6/7/2019). | Ramond Epu /Beritagar.id

"Pernah dulu, saya lupa tahunnya, dicoba menggunakan bambu dan kayu yang diruncingkan untuk proses pemugaran. Tidak selesai-selesai. Soalnya kawasan yang dipugar sangat luas," ujar Kaspul di kediamannya Desa Muara Jambi, Minggu 30 Juni 2019.

Seperti Candi Kedaton dicontohkannya, sudah menggunakan cangkul, tembilang dan linggis saja untuk pemugaran memakan waktu sepuluh tahun. "Saya ikut pemugaran Candi Kedaton ini dari tahun 2009. Dari awal," ucapnya.

Kaspul mengatakan, rata-rata tenaga lokal yang ada saat ini sudah berpengalaman. Bahkan, ada yang sudah ikut sejak awal Kawasan Candi Muara Jambi dipugar di tahun 70an. "Kalau pengetahuan dan kemampuan untuk pemugaran, kami dapatkan dari pengalaman bertahun-tahun," katanya.

Meski demikian, Kaspul juga berharap setiap ada tenaga lokal, apalagi yang baru agar bisa diberi pelatihan. Dengan demikian, tidak hanya mengandalkan pengetahuan dan pengalaman dari tenaga lokal yang lebih senior.

Sedangkan untuk menghindari kerusakan yang lebih parah akibat pekerjaan, mereka saling mengingatkan untuk berhati-hati. Apalagi sudah mencangkul dengan kedalaman 50 sentimeter. "Biasanya temuan benda di dalam tanah di kedalaman setengah meter," ucapnya.

Jika ada keramik atau tembikar yang tercangkul dan pecah, proses penemuan tetap dijalankan. Dengan mendokumentasikan temuan awal, sampai proses pengangkatan. Pecahan itu akan dikumpulkan dan dimasukkan ke plastik.

Pemugaran benda cagar budaya berbeda dengan pemugaran benda atau bangunan biasa. Dalam proses pemugaran ada 4 prinsip yang harus mereka jalankan, yaitu, keasilan bahan, bentuk, tata letak, dan pengerjaan.

Keaslian bahan sesuai dengan temuan saat pemugaran. Keaslian bentuk, tidak mengubah bentuk seperti temuan sebelum pemugaran. Keaslian tata letak, sesuai dengan posisi temuan, dan terakhir keaslian pengerjaan, disesuaikan dengan bagaimana cara pengerjaan masa lalu.

Yanto Manurung, Arkeolog BPCB Jambi mengungkapkan mengatakan proses pemugaran tidak bisa seratus persen menjalankan empat prinsip ini. Karena, tujuan dari pemugaran yaitu pelestarian sampai ratusan tahun. Jadi penggunaan semen untuk cor bata paling bawah harus dilakukan. Jika tidak menggunakan semen, akan kesulitan merekatkan bata.

Begitu juga penggunaan cangkul, tembilang dan linggis saat pemugaran, menurutnya masih dibolehkan. Karena, tidak hanya di Muara Jambi. Beberapa BPCB menggunakan cara sama saat proses pemugaran, seperti BPCB Banten dan Jawa timur.

Penggunaan alat-alat tersebut, demi mempercepat waktu pemugaran. "Pemugaran ini bukan untuk penelitian murni. Bayangkan dengan luas Kawasan Candi Muara Jambi saat pemugaran tidak menggunakan cangkul, kapan selesainya?" kata Yanto.

"Kita juga ditarget untuk menyelesaikan pekerjaan pemugaran. Karena ini menggunakan anggaran negara."

Meski dibayangi target waktu, Yanto mengatakan, BPCB tidak sembarangan dalam melakukan pemugaran. Pengawasan terhadap pekerjaan pemugaran terus dilakukan. Sehingga, risiko kerusakan terhadap bata kuno dan temuan cagar budaya lainnya dapat dihindari.

Sebelum masuk ke dalam proses pemugaran, mereka terlebih dahulu melakukan studi kelayakan dan studi teknis. Apabila dari kedua studi selesai, maka akan dilakukan pemugaran.

"Dalam satu tahun anggaran itu biasanya pengerjaan untuk pemugaran menghabiskan waktu empat sampai lima bulan," kata Yanto, di kantor BPCB Jambi, Senin 1 Juli 2019.

Setiap candi yang dipugar di Kawasan Candi Muara Jambi tidak bisa dipastikan waktu selesainya. Karena, masing-masing candi memiliki luas dan tingkat kesulitan berbeda. Seperti Candi Kedaton mereka sudah menghabiskan 10 tahun anggaran

"Kemungkinan candi Kedaton dan Gumpung Dua, tahun ini selesai pemugaran. Tahun depan BPCB merencanakan melakukan pemugaran Candi Teluk satu," katanya.

Perlu pengawasan lebih

Junus Satrio Atmodjo, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Nasional menjelaskan, penggunaan cangkul, tembilang dan linggis saat pemugaran tidak ada larangan. Pertimbangannya, sebelum pemugaran sudah dilakukan ekskavasi untuk penelitian, sehingga lapisan budaya sudah diketahui.

"Jadi ada level tertentu yang bisa menggunakan alat tersebut untuk mempercepat pemugaran," ujarnya kepada Beritagar.id melalui sambungan telepon, Rabu 3 Juli 2019.

Tidak menutup kemungkinan terjadi kesalahan pada proses penggalian. Temuan menjadi rusak, dan bata tercangkul sangat mungkin terjadi

Junus Satrio Atmodjo

Selain itu, kondisi tanah yang terlalu padat tidak memungkinkan hanya menggunakan sendok semen. "Bisa berbulan-bulan selesainya kalau pakai sendok semen yang biasa digunakan arkeolog," ujarnya.

Selanjutnya, tujuan penggalian saat pemugaran bukan ekskavasi penelitian. Lebih mengutamakan bagaimana menemukan struktur bangunan lama. Setelah melihat kondisinya, baru dilakukan pemugaran.

"Tidak menutup kemungkinan terjadi kesalahan pada proses penggalian. Temuan menjadi rusak, dan bata tercangkul sangat mungkin terjadi," katanya.

Kata Junus, jika yang melakukan pemugaran bukan orang berpengalaman, sudah tentu kerusakan besar akan terjadi. Sebab, tidak bisa membedakan tanah yang mengandung lapisan budaya dan mana yang tidak.

Ditegaskannya, pekerjaan rekonstruksi bukan hanya rekonstruksi bangunan saja, tapi rekonstruksi sejarah candi. Jika tidak hati-hati maka bukti sejarah bisa hilang. "Sekali hilang tidak bisa di-recover. Rugi kita," ucapnya.

Junus mengatakan, perlakuan dan penggunaan alat untuk pemugaran beda-beda kasusnya. Untuk bangunan pra sejarah harus dilakukan lebih berhati-hati. Selain masa yang sudah lama, juga tingkat kerusakan lebih tinggi.

Sedangkan pemugaran di Muara Jambi dan Trowulan menggunakan metode yang sama, yaitu penggunaan cangkul dan linggis boleh digunakan, setelah diketahui lapisan budayanya. "Kalau belum diketahui (lapisan budaya) tidak bisa. Harus pelan-pelan," ujarnya.

Soal proses pemugaran dan ekskavasi, kata Junus, meski terlihat kasar Indonesia lebih hati-hati, jika dibandingkan dengan negara lain. Dicontohkannya, di Inggris, Jerman dan Jepang menggunakan ekskavator saat proses ekskavasi. "Lebih gila lagi di sana," katanya.

Tapi untuk situs yang diketahui banyak sebaran keramik, memang harus lebih berhati-hati. Karena, keramik merupakan lapisan budaya. Sehingga, jatuhnya keramik di lapisan itu bisa diketahui pada abad berapa dan jenisnya apa saja.

"Sampai di level itu, pengawasnya harus turun, dan tidak boleh menggunakan linggis, apalagi ekskavator," katanya.

Untuk kasus Muara Jambi, diakuinya, sudah diketahui di bawah 40 sentimeter harus hati-hati saat proses penggalian. Karena, dengan kedalaman tersebut, banyak temuan benda arkeologi.

Junus mengatakan, siapa saja boleh terlibat bekerja membantu pemugaran. Namun harus ada pengawasan dan pelatihan. Meski pelatihan tidak bisa dilakukan secara formal seperti sistem pendidikan.

"Bisa melalui sistem pengawasan dari senior yang sudah lama terlibat proses pemugaran. Senior yang mengajari langsung. Yang belum punya pengalaman tidak bisa gali-gali sendiri, bisa rusak jadinya," kata Junus.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR