Salah satu rumah yang rusak akibat tsunami di Banda Aceh, Aceh, Indonesia, pada 26 Desember 2004. Foto diambil pada 26 Desember 2017 dalam peringatan ke-13 atas petaka yang menewaskan 230.000 jiwa itu. EPA-EFE / HOTLI SIMANJUNTAK
Salah satu rumah yang rusak akibat tsunami di Banda Aceh, Aceh, Indonesia, pada 26 Desember 2004. Foto diambil pada 26 Desember 2017 dalam peringatan ke-13 atas petaka yang menewaskan 230.000 jiwa itu. EPA-EFE / HOTLI SIMANJUNTAK EPA-EFE / Hotli Simanjuntak
MITIGASI BENCANA

Antisipasi tsunami dan ancaman sesar di Aceh

Aceh bersemuka dengan bahaya gempa dan tsunami. Ancaman datang dari laut dan darat.

"Warga kembali panik setelah tadi mendengarkan sirene tsunami di depan kantor gubernur."

Begitu suara Khiththati di ujung telepon. Ada nada panik dalam suaranya. Raung kendaraan bermotor yang bersahutan menambah tegang.

Rabu sore, 11 April 2012, Khiththati melaporkan situasi Kota Banda Aceh, pasca-gempa kembar melanda Provinsi Aceh.

Laporannya tersiar langsung lewat Radio Rumoh Palang Merah Indonesia (PMI) perwakilan Aceh. Saya mendengar ulang rekaman siaran itu pada Minggu (16/12/2018).

Istilah gempa kembar merujuk pada dua lindu dalam waktu rapat, berkekuatan nyaris seimbang, dan pusatnya berdekatan.

Gempa pertama bermagnitudo 8,5 terjadi pukul 15.38 WIB. Pusat gempa berada di laut. Kedalamannya 10 kilometer dan berjarak 346 kilometer barat daya Kabupaten Simeulue.

Setelah gempa pertama, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), merilis peringatan dini tsunami. Sirene berdengung. Warga berlarian menjauhi garis pantai.

Lebih dua jam setelahnya, pukul 17.43 WIB, kembali terjadi gempa dengan magnitudo 8,1. Pusat gempa di kedalaman 10 kilometer. Jaraknya sekitar 483 kilometer barat daya Simeulue.

Warga kembali berlarian. Jalanan sesak. Banyak kendaraan menumpuk.

"Suara azan di mana-mana. Orang banyak lari ke masjid. Bangunan escape building (gedung evakuasi) tidak ramai."

Khiththati, wartawan, tentang situasi gempa kembar di Aceh (2012).

Studi Nanyang Trechnological University, Singapura (2017), menyebut hanya 26 persen warga Banda Aceh yang menuju ke gedung evakuasi dalam peristiwa gempa kembar.

Sedangkan 74 persen warga lainnya memilih berlari menyebar menjauhi pantai.

Pasca-tsunami 2004, Aceh punya delapan escape building yang tersebar di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Gedung empat lantai itu punya tinggi mencapai 18 meter dan bisa menampung 500-1.000 orang.

Adapun peristiwa gempa kembar hanya diikuti gelombang air setinggi setengah meter di sejumlah wilayah pesisir--tak sampai area perkotaan.

Geolog Universitas Syiah Kuala, Ibnu Rusydy, mengatakan gempa kembar pada 2012 itu berpusat tak jauh dari NER (Ninety East Ridge).

NER merupakan jejak lempeng Samudera Hindia. Bentuknya berupa punggung laut yang memanjang sekitar 5.000 kilometer dari Teluk Benggala ke selatan hingga tenggara India Ridge.

"Dia berada di atas zona subduksi, tapi pusatnya di kerak bumi. Itu agak unik, biasanya di situ tidak pernah terjadi gempa," kata Ibnu, Senin (17/12/2018).

Adapun zona subduksi yang disinggung Ibnu merupakan zona pertemuan lempeng Hindia Australia dan Eurasia atau Sumatran Megathrust Aceh-Andaman. Panjangnya sekitar 1300 kilometer.

Tsunami hebat pada 26 Desember 2004, yang menewaskan 230 ribu jiwa, bermula dari gempa bermagnitudo 9,2 di zona subduksi tersebut.

***

Gedung evakuasi tsunami di Ulee Lheue, Meuraksa, Banda Aceh. Setelah tsunami pada pengujung 2004, Aceh punya delapan escape building yang tersebar di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.
Gedung evakuasi tsunami di Ulee Lheue, Meuraksa, Banda Aceh. Setelah tsunami pada pengujung 2004, Aceh punya delapan escape building yang tersebar di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. | Oviyandi /Beritagar.id

Riset Universitas Syiah Kuala bersama Nanyang Technological University (NTU, Singapura), menyimpulkan tsunami pernah beberapa kali terjadi di Aceh.

Ahli Geofisika Universitas Syiah Kuala, Nazli Ismail, ikut terlibat dalam riset tersebut.

Pintu masuk menelisik jejak tsunami tua, kata Nazli, adalah lapisan pasir di dalam goa, penggalian umur radioaktif unsur karbon, serta analisis fosil-fosil mikroskopis atau foraminifera.

Penelitian itu berkesimpulan tsunami pernah menghantam Aceh sebanyak tujuh kali: sekitar tahun 900, 1349, 1450, 1797, 1833, 1907, dan 2004.

"Ini yang tercatat saja, mungkin saja bisa lebih," kata Nazli Ismail, Rabu (12/12/2018).

Riset lain berpusat di Desa Pulot dan Cot Jeumpa, Aceh Besar. Hasilnya ada tiga jejak tsunami purba, sekitar 3.800, 5.800, dan 7.000 tahun lalu.

"Di Pulot dan Cot Jeumpa, kami identifikasi dengan benda-benda seperti keramik yang tercampur dengan sedimen tsunami," ujar Nazli.

Riset itu juga menunjukkan bahwa tsunami-tsunami yang menghantam Aceh punya jeda sekitar 50-an tahun, 100-an tahun, dan 2000-an tahun. Temuan itu membantah teori yang menyebut tsunami berulang dalam periode tertentu.

Selain ancaman dari laut, Aceh juga dibayangi pergerakan sesar darat yang bisa memicu gempa.

Ancaman datang dari Patahan Sumatra. Patahan itu terbagi dalam beberapa segmen utama dan lokal di Aceh. Tiap segmen bergerak sekitar 2-5 milimeter per tahun.

Segmen utamanya yakni Batee (131 kilometer), Tripa (286 kilometer), Aceh (232 kilometer), dan Seulimeum (181 kilometer). Adapun segmen lokal terdiri dari: Peusangan atau Lampahan (32 kilometer), Pidie Jaya (17 kilometer), Lhokseumawe (36 kilometer), dan Lhok Tawar (21 kilometer).

Banda Aceh berada di antara segmen Aceh dan Seulimeum. Kedua segmen itu punya karakter strike slip atau geser horizontal ke kanan.

Segmen Aceh terakhir memicu gempa sekitar 170 tahun lalu. Sementara Segmen Seulimeum pada 1965. Namun kekuatan dua gempa itu tak tercatat.

"Karena sudah lama tidak pernah gempa, dikhawatirkan segmen Aceh akan terjadi gempa besar," kata Ibnu Rusydy, Geolog Universitas Syiah Kuala.

Ibnu pernah bikin skenario kegempaan dari dua segmen yang mengapit Banda Aceh tersebut.

Dengan gempa bermagnitudo 6,5-7, guncangan yang terasa di Banda Aceh bisa mencapai 8-9 MMI, dan kerusakan bangunan diprediksi hingga 70 persen.

Wilayah kecamatan yang disinyalir mengalami kerusakan parah adalah Kuta Alam, Kuta Raja, Syiah Kuala, Ulee Kareng, Meuraksa, dan Jaya Baru.

"Kawasan itu tanah lunak, sehingga guncangan gempa bisa bertambah besar," ujar Ibnu.

Ibnu juga bilang sesar strike slip umumnya tak berujung tsunami. "Tetapi ada kemungkinan lain (terjadi tsunami), seperti longsoran bawah laut," katanya.

***

Rambu peringatan tsunami di pantai Syiah Kuala, Banda Aceh.
Rambu peringatan tsunami di pantai Syiah Kuala, Banda Aceh. | Oviyandi /Beritagar.id

"Rojer, kami ingatkan agar lima menit lagi memantau melalui frekuensi ini," kata seorang petugas Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) lewat radio HT.

"RAPI monitor," katanya lagi.

Dari seberang, seseorang menyahut, "RAPI standby."

Panggilan serupa juga ditujukan kepada Stasiun Geofisika BMKG Mata Ie, Badan SAR Aceh, BPBD Banda Aceh, Dinas Perhubungan Aceh, dan Satuan Polisi Pamong Praja Aceh.

Itu merupakan momen geladi kotor simulasi penanganan darurat dalam waktu lima menit setelah gempa berpotensi tsunami terjadi. Geladi dikendalikan dari ruang rapat Kantor BPBA di Banda Aceh, Jumat pagi (21/12/2018).

Komunikasi darurat menggunakan radio merupakan bagian dari kontinjensi gempa dan tsunami Aceh seperti tertuang dalam Peraturan Gubernur Aceh Nomor 43 Tahun 2010 tentang Sistem Peringatan Dini dan Penanganan Darurat Bencana Tsunami Aceh.

Setiap bulan, saban tanggal 26, BPBA menyimulasikan aksi kesiapsiagaan itu. Mereka latihan komunikasi lewat radio, menyalakan enam sirene tsunami, dan uji evakuasi.

Skenarionya, mula-mula, BPBA menerima laporan dari BMKG perihal kekuatan gempa dan peringatan dini tsunami.

Setelahnya, BPBA akan mengontak Badan SAR Aceh yang akan diteruskan ke Kapal KN Kresna 232 di Pelabuhan Ulee Lheue.

Kapal Badan SAR itu akan melapor kembali ke BPBA. Bila ada perubahan air laut, BPBA bakal membunyikan sirene peringatan tsunami di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Namun, beberapa bulan belakangan, dua dari enam sirene peringatan tsunami di Aceh mengalami kerusakan. Dua sirene rusak itu berlokasi di Lhoknga dan Kajhu. Empat yang lain ada di Peukan Bada, Blang Oi, Lampulo, dan Kantor Gubernur Aceh.

Selepas sirene berbunyi, BPBA menghubungi Dinas Perhubungan dan Satuan Polisi Pamong Praja. Mereka akan mengatur evakuasi warga di jalanan.

Bagi warga, bunyi sirene merupakan pertanda untuk menuju tempat evakuasi sementara, seperti escape building atau bangunan yang lebih tinggi. Bisa juga melakukan evakuasi mandiri dengan berjalan kaki atau berlari menjauh dari laut.

Bila tsunami berlalu, warga dari tempat evakuasi sementara akan dipindahkan ke Stadion Lhoong Raya, Istana Wali Nanggroe, dan Stasiun TVRI di Mata Ie, Aceh Besar.

Sepintas alur simulasi itu tampak ideal, tetapi implementasinya tak mudah. Pengalaman gempa kembar 2012 menunjukkan masyarakat tak hanya menyelamatkan diri. Mereka juga bawa motor dan mobil yang bikin macet jalanan.

Kepala BPBA, Teuku Ahmad Dadek pun ragu dengan kesiapsiagaan warga Aceh.

"Mereka harus kita berikan kompensasi baru mau simulasi. Jadi sekarang kita fokuskan dulu simulasi ke anak sekolah," kata Dadek. "Masalahnya, tsunami itu bukan hanya anak sekolah yang diincar."

Baca juga laporan tentang mitigasi bencana di Aceh, "Mukim di zona merah tsunami".
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR