Kelompok suporter PSM Fans mengibarkan bendera saat pertandingan PSM Makassar versus PS TNI di Stadion Andi Matalatta, Makassar (10/9/2017) © Hariandi Hafid / Beritagar.id

Api kecil yang menolak padam

Bagi suporter garis keras, sepak bola telah jadi “agama” kedua. Kehilangan apa saja direlakan demi tim kesayangan.

Matahari mulai condong ke barat saat Stadion Andi Mattalata, Makassar, penuh sesak oleh ribuan manusia. Hari itu, Minggu (10/9/2017), klub sepak bola kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, Persatuan Sepak bola Makassar (PSM), menghadapi PS TNI dalam lanjutan Liga 1 Gojek-Traveloka.

Stadion berkapasitas 13 ribu orang yang dahulu dikenal dengan nama Stadion Mattoanging seketika berubah ibarat lautan merah, warna yang jadi simbol klub berjuluk "Juku Eja" (ikan merah).

Sudah banyak cerita tentang fanatisme suporter PSM, yang berdiri sejak 1915 dan salah satu klub tertua di Indonesia, setiap kali bertanding. Jika bermain di kandang sendiri, jumlah penonton bisa melebihi kapasitas stadion.

Dari dominasi merah dalam pertandingan tersebut, nampak kontras sekelompok grup suporter berseragam hitam-hitam di Tribun Selatan.

Jumlahnya tidak lebih dari 200 orang, tapi begitu mencolok karena paling banyak mengibarkan bendera raksasa, juga ribut dengan nyanyian (chant) yang berbeda dengan mayoritas kelompok suporter lainnya.

Ardy Muchlis, seorang jurnalis, menceritakan bahwa dulu Tribun Selatan sepi penonton, hingga kemudian kelompok dengan pakaian serba hitam tadi datang sebagai penghuni tetap. Teriakan yang awalnya selalu tenggelam kini mulai terdengar nyaring.

Kelompok suporter itu adalah PSM Fans. Berbeda dengan komunitas suporter lain semisal Laskar Ayam Jantan, Red Gank, Maczman, Kopaskar, atau Kelompok Hasanuddin, PSM Fans mengklaim sebagai Ultras-nya PSM.

Walaupun tergolong muda usia, kelompok ini perlahan terus dapat simpatik walau tak lepas juga dari kritikan. Beritagar.id bisa melihat langsung aktivitas mereka saat mendukung pertandingan sore itu yang dimenangi PSM dengan skor 4-1.

Seorang berdiri di atas pagar pembatas lapangan sambil memegang toa. Tugasnya sebagai dirigen untuk setiap lagu yang dinyanyikan. Sesekali suaranya meninggi jika ada kelompok yang terlihat bercanda dan tak fokus pada irama.

Penampilan anggota PSM Fans jauh berbeda dengan kelompok suporter lain yang mengisi stadion. Mereka mengenakan baju hitam dan memakai sepatu. Banyak pula yang menggunakan penutup wajah dan menolak diabadikan kamera.

Beberapa orang yang berusaha memotret ketika mereka sedang beratraksi langsung dihadang seorang anggota PSM Fans.

Sikap tertutup tadi, selain karena memang tidak mencari popularitas, juga untuk melepas cap sebagai kambing hitam yang kerap dialamatkan kepada mereka jika ada masalah antarsuporter. Ultras dianggap sama dengan Hooligan. Padahal keduanya berbeda.

Ultras bermakna kelompok suporter garis keras. Beberapa orang sering mengaitkannya dengan Hooligan, simpul pendukung yang kerap melakukan vandalisme, intimidasi, dan adu jotos dengan pihak lain. Maka tidak heran jika Ultras sering kali dianggap sebagai preman.

"Mesti di dalam Ultras juga ada Hooligan. Namun tidak dominan," tutur Wahyu Hidayat, seorang anggota PSM Fans kepada Beritagar.id di salah satu warung kopi di Makassar Rabu (13/9). Tempat itu sering jadi titik kumpul para anggota PSM Fans.

Kelompok suporter membentangkan syal saat  pertandingan PSM Makassar menghadapi Semen Padang di Stadion Andi Matalatta, Makassar  (02/10/2017)
Kelompok suporter membentangkan syal saat pertandingan PSM Makassar menghadapi Semen Padang di Stadion Andi Matalatta, Makassar (02/10/2017)
© Hariandi Hafid /Beritagar.id

Bermula di sosial media

Reef Rahman terdiam sejenak sembari menarik nafas dan mengangkat gelas kopi. Dia mengenang awal mula pembentukan PSM Fans. Dari akun anonim pendukung PSM di media sosial, mereka kemudian bersepakat membangun afiliasi.

Kopi darat pertama berlangsung pada 2013. Ada banyak nama yang awalnya diusulkan, namun kemudian menyepakati PSM Fans sebagai identitas. Karena orang-orang yang bernaung di dalamnya juga pendukung klub sepak bola Eropa.

Sejak saat itu mereka aktif mengisi Tribun Selatan. Lama kelamaan banyak skuat suporter yang ikut melebur ke PSM Fans. Dengan ideologi berbeda dari kelompok penyokong kebanyakan mereka sukses mencuri perhatian.

"Semua orang yang bergabung posisinya sama. Satu rasa, sama rata, tanpa ada ketua," jelas Reef tentang makna dari moto no leader just together yang mereka anut. Kebersamaan jadi kunci.

Awalnya mereka sangat berharap dapat pengakuan dari manajemen PSM. Namun jalannya selalu mendapat rintangan, hingga tak pernah lagi membangun harapan tersebut.

"Kami mendukung karena kepuasan, bukan karena ingin diakui, apalagi menjadikan ini alat politik," tegas Reef.

Laiknya ultras di Eropa, beberapa kebiasaan suporter di benua biru juga mereka adopsi. Misalnya mewajibkan setiap anggota memakai sepatu setiap menonton pertandingan dan larangan menggunakan gawai saat atraksi berlangsung.

"Menonton sepak bola itu seperti beribadah, kami bahkan menganggap bola sebagai agama kedua, jadi semua harus khusyuk," jelas Reef.

Justru saat tim terpuruk dukungan dari fans sangat dibutuhkan. Jika hanya mendukung PSM ketika menang saja, itu bukan suporter sejati, ia hanya latah

Reza Djannatin (anggota PSM Fans)

Saat fase awal terbentuk, PSM Fans cukup sering terlibat baku hantam dengan pihak lain. Hampir semua kelompok pendukung telah berhadap-hadapan dengan mereka. Bahkan pernah bentrok di dalam stadion ketika Liga Primer Indonesia tahun 2016.

Karena jumlah yang sedikit, PSM Fans kalah telak. "Ketika keluar rumah dan menuju stadion, saya pribadi sudah siap berkelahi, meski itu bukan tujuan, tapi bonus dari kecintaan kepada bola. Intinya tujuan kami hanya cari senang. Tapi kalau ada yang ganggu, harus siap," ujar Reef Rahman.

Tapi semua kisah kelam itu adalah bagian dari masa lalu yang dijadikan pelajaran. Kini mereka lebih memilih jalan damai. Salah satunya dengan aktif melakukan gerakan sosial.

"PSM Fans bukan lagi sekadar tempat kumpul suporter bola, tapi juga mengusung misi edukasi. Kami bahkan menyediakan buku-buku bacaan kepada teman-teman yang ingin belajar," ungkap Reef.

Selain itu, kekompakan saat mendukung PSM juga tetap diutamakan. Sebelum ke stadion mereka biasanya berkumpul di satu tempat, kemudian berangkat bersama.

Begitu pula ketika laga usai, ritual mendatangi bus pemain dan asrama selalu disempatkan. Minimal menyanyikan lagu atau menyapa satu per satu.

Meski kecintaan mereka pada PSM sangat besar, fanatismenya belum seekstrim Uki Nugraha alias Daeng Uki, pentolan Laskar Ayam Jantan (LAJ) yang menguasai Tribun Utara.

Pria 44 tahun itu telah menghibahkan dirinya untuk PSM. Tubuhnya penuh rajah logo PSM, putranya ia beri nama Jayalah PSM Reski Ilahi, dan rela diceraikan oleh kedua mantan istrinya karena lebih memilih mendampingi PSM.

"Bagi saya, PSM adalah istri pertama, pendamping hidup saya adalah istri kedua," kata Daeng Uki yang ditemui Beritagar.id di Bengkel LAJ (22/9).

Daeng Uki telah ikut mendukung PSM sejak dekade 80-an. Ia melihat munculnya Ultras PSM sebagai sesuatu yang positif. Meski ia pula mengakui awalnya ada riak-riak yang muncul.

"Mereka bukan lawan, juga bukan bagian dari kami meski sekarang sering jalan bersama," kata Daeng Uki yang lebih senang dianggap suporter tradisional.

Uki Nugraha alias Daeng Uki, pentolan Laskar Ayam Jantan (LAJ), menganggap PSM sebagai istri pertama
Uki Nugraha alias Daeng Uki, pentolan Laskar Ayam Jantan (LAJ), menganggap PSM sebagai istri pertama
© Hariandi Hafid /Beritagar.id

Mencoba berdikari

Sebagai kelompok suporter baru dengan anggota yang kebanyakan masih remaja, secara keuangan PSM Fans belum bisa dikatakan mapan.

Dalam setiap aksi dukungannya kepada PSM, kelompok ini pun sering saweran jika hendak membuat atraksi, misalnya koreografi 3D di bangku penonton.

Adapun anggota yang mapan bekerja sebagai pegawai negeri, pengacara, dan pengusaha. Salah satu member bahkan baru saja menyelesaikan gelar magister di Inggris.

Keberagaman itu menjadi ciri khas. Tidak ada batasan dalam pergaulan sehingga dinamika internal berjalan mulus.

Agar bisa terus eksis, PSM Fans mendirikan unit khusus merchandise yang menyediakan beberapa item, antara lain kaos, syal, hingga penutup wajah. Namun, anggota tidak dipaksakan untuk membeli.

Keuntungan dari hasil penjualan merchandise digunakan untuk membeli inventaris, seperti bendera raksasa, alat musik, dan banyak atribut lain.

Reza Djannatin, member PSM Fans yang mengurusi soal merchandise, mengisahkan betapa susahnya mengumpulkan uang untuk membeli satu drum besar yang selalu ditabuh setiap pertandingan.

Dengan ikhtiar tak kenal lelah, saat ini mereka sudah punya dua koleksi drum dan berencana menambahnya.

Tetabuhan bunyi drum, plus kibaran bendera, koreografi, dan beragam nyanyian pembakar semangat, kini tidak pernah absen menggema dari Tribun Selatan Mattoanging, tidak peduli PSM menang atau kalah.

Hal itu yang kemudian membuat beberapa kelompok suporter lain mempertanyakan loyalitas PSM Fans. Mereka dianggap terlalu fokus memberi semangat ketimbang mengamati jalannya pertandingan.

Reza yang mengenakan kaos hitam bertulisan curva sud (bahasa Italia yang berarti kurva selatan), punya jawaban lugas, "Justru saat tim terpuruk dukungan dari fans sangat dibutuhkan. Jika hanya mendukung PSM ketika menang saja, itu bukan suporter sejati, ia hanya latah."

Ancha  Hardiansya
I’m a Journalist living in Makassar, South Sulawesi. Fan of technology, reading, and coffee. I’m also interested in web developer and travel.

BACA JUGA