Keterangan Gambar : Fahri yang diperankan Fedi Nuril berada di tengah empat perempuan yang mengelilinginya dalam film Ayat-Ayat Cinta 2

Tayang perdana di jaringan bioskop pada 21 Desember 2017, Ayat-Ayat Cinta 2 meraup 200 ribu penonton.

Sembilan tahun berlalu sejak keberhasilannya menghipnotis penonton film Indonesia, Fahri Bin Abdullah (diperankan Fedi Nuril) kembali muncul sebagai protagonis dalam sekuel Ayat-Ayat Cinta (AAC).

Fahri kini bukan lagi pelajar asal Indonesia di Universitas Al-Azhar, Mesir. Posisinya telah mapan sebagai dosen filologi di University of Edinburgh, Skotlandia.

Selain itu, ia juga membuka butik, minimarket, dan restoran.

Walaupun hidup berkecukupan secara materi, Fahri sebenarnya nelangsa. Tiada Aisha di sampingnya.

Sang istri tercinta hilang secara misterius saat membaktikan diri sebagai sukarelawan di Jalur Gaza, Palestina.

Selama bertahun-tahun Fahri mengerahkan segala daya untuk menemukan belahan hatinya itu. Hasilnya tetap nihil. Aisha bak hilang ditelan Bumi.

Mengharapkannya hidup, tiada kabar berita. Menyangkanya meninggal, kuburnya tak jelas ada di mana.

Bak pepatah "mati satu tumbuh seribu", ketiadaan Aisha --juga Maria Girgis yang dikisahkan meninggal pada seri pertama-- berganti kehadiran banyak perempuan di sekitar Fahri.

Ada Keira (diperankan Chelsea Islan) sang tetangga yang mahir menggesek dawai biola, si cerdas Hulya (Tatjana Saphira) sepupu Aisha, Sabina (Dewi Sandra) wanita salehah yang menjadi asisten rumah tangga, dan Brenda (Nur Fazura).

Itu belum termasuk kehadiran seorang mahasiswi (Millane Fernandez) dan pegawai di minimarket (Melayu Nicole) yang tampak begitu ekspresif menunjukkan rasa suka. Sosok Fahri ibarat bunga yang menyita perhatian kumbang-kumbang mendekat.

Seperti bagian pertamanya, bagian kedua film hasil adaptasi novel karya Habiburrahman El Shirazy (41) ini memang sangat maskulin. Jalan cerita juga masih mengajak penonton menyusuri proses ke mana Fahri melabuhkan hati di antara sekian banyak pilihan.

Dalam prosesnya, Fahri juga masuk dalam pusaran yang menjadi sub-plot film. Semisal problem antara Nenek Catarina (Dewi Irawan) dengan anak tirinya, Baruch (Bront Palarae). Atau upaya mengubah stigma dunia global terhadap Muslim.

Kompleksitas narasi, plus kehadiran banyak tokoh, membuat 125 menit film yang naskahnya ditulis Kang Abik --panggilan Habiburrahman-- bersama Alim Sudio dan Ifan Ismail terasa sesak. Alhasil paruh pertama film dihabiskan untuk menjelaskan semuanya satu per satu.

Sang pemilik cerita sejak awal mewanti-wanti agar konflik dan watak para tokoh utama AAC 2 jangan diutak-atik.

"Autentikasi film ini 90 persen mengikuti novel. Memang ada beberapa improvisasi yang dilakukan, mengingat pertimbangan sinematik dan kendala teknis, tapi tidak menganggu benang merah cerita. Itu yang bikin saya puas dengan film ini," tukas Kang Abik kepada Beritagar.id usai press screening di XXI Plaza Indonesia (6/12/2017).

Ditambahkan Manoj Punjabi selaku produser, konflik utama dalam novel "AAC 2" sudah kuat dan banyak. Tidak perlu ada penambahan karena hanya akan mengganggu inti cerita dan memperpanjang durasi film.

Agar kesetiaan naskah film pada setiap lembar halaman novel semakin nyata di layar lebar, MD Pictures memboyong para kru dan pemain melakukan syuting selama 15 hari di Edinburgh, Skotlandia.

Beberapa tempat yang menjadi tempat opname, antara lain Prestonfield Road, The Shore Bar & Restaurant, Calton Hill, Edinburgh Central Mosque, kawasan perbukitan Arthur's Seat, sampai East Lothian yang berada jauh di luar pusat kota Edinburgh.

Yudi Datau sebagai sinematografer menangkap dengan baik panorama tempat-tempat yang disebutkan tadi. Plus sedikit penampakan Oxford, Inggris.

Walaupun terbiasa menyutradarai film dengan tema sejenis, sebut contoh 99 Cahaya di Langit Eropa (2013) atau Jilbab Traveler: Love Sparks In Korea (2016), Guntur Soeharjanto (41) yang terpilih menggantikan Hanung Bramantyo mengaku terbebani.

"Menyutradarai film sekuel itu selalu memberikan beban. Dalam kasus ini, beban saya bertambah mengingat Ayat-Ayat Cinta sudah jadi jenama yang sangat populer. Prekuelnya juga sukses menjadi film box office. Tapi saya yakin saja karena kami semua telah bekerja maksimal," ungkap Guntur.

Dalam proses penggarapan AAC 2, ada tiga kepentingan yang beradu argumen, yaitu Manoj sang produser yang tentu saja harus memikirkan jualan, Kang Abik selaku pemilik cerita yang tidak ingin ada perubahan besar dari versi novel, dan Guntur sebagai dalang film.

"Saya datang membawa visi bahwa film ini harus memberikan kebaruan. Itu penting buat saya. Kebaruan dari sisi karakter para tokohnya dan peristiwa yang melibatkan mereka agar sesuai konteks saat ini," tambah Guntur.

Perihal pergantian sutradara, Kang Abik dan Manoj kompak mengatakan demi menghadirkan sentuhan baru.

Beban yang dirasakan Guntur sebagai suksesor ternyata juga dirasakan para pemain. Dewi Sandra misalnya. Ia menginsafi akan muncul ekspektasi yang besar dari para penggemar.

Oleh karena itu, ia semaksimal mungkin melakukan yang terbaik. Untuk perannya sebagai Sabina, ia melakukan riset dengan banyak membaca dan menonton beberapa tayangan tentang konflik yang terjadi di Palestina.

Agar lebih mendalami karakter Sabina yang depresif dan introvert karena pengalaman pahit di masa lalu, Dewi menghabiskan masa workshop selama dua bulan dan reading satu bulan yang dijatahkan dengan banyak menyendiri.

"Tanpa saya sadari, sifat Sabina terbawa hingga di luar set. Susah melepaskan karakternya. Harus saya katakan, ini adalah peran film paling berat yang pernah saya dapatkan," kata Dewi yang berpengalaman main film drama religi seperti Haji Backpacker (2014) dan Air Mata Surga (2015).

Semua pengorbanan dan kerja keras tadi tampaknya mendapat respons positif masyarakat.

Menurut info akun @filmaac2 di Instagram, film yang dapat jatah 350 layar di jaringan bioskop pada hari pertama penayangannya ini meraup 200 ribu penonton. Awal yang bagus untuk bisa memecahkan rekor pendahulunya.

Adegan saat Fahri melakukan ijab kabul untuk menikahi Aisha dalam film Ayat-Ayat Cinta (2008)
Adegan saat Fahri melakukan ijab kabul untuk menikahi Aisha dalam film Ayat-Ayat Cinta (2008)
© MD Pictures

Kehadiran Ayat-Ayat Cinta yang ditayangkan pada 28 Februari 2008 memang cukup fenomenal. Meraih total 3,6 juta penonton dan sempat menggenggam rekor sebagai film Indonesia terlaris menjadi bukti.

Kurun empat hari pemutarannya, film itu mencapai 700 ribu penonton. Sebuah fenomena yang bahkan membuat Hanung Bramantyo sebagai sutradara mengaku terperanjat.

Padahal sebelum tayang di bioskop, versi bajakannya kadung bocor dan beredar luas. Ada yang menikmati hasil unduh gratis di internet. Tidak ketinggalan juga format Video Compact Disc (VCD).

Di Palu, Sulawesi Tengah, yang kala itu belum ada bioskop, pemutaran ilegal dan berbayar film AAC berlangsung di gedung serba guna berkapasitas sekitar 150 kursi.

Selama tiga hari beruntun pemutaran, setiap hari terdiri dari tiga kali pemutaran, meja tempat pembelian tiket selalu memajang tulisan "sold out".

Film AAC bisa dikatakan muncul pada saat yang tepat. Selain karena diadaptasi dari novel laris, juga memanfaatkan tren merebaknya drama religi --khususnya Islam-- yang telah lebih dahulu hadir dalam bentuk sinetron di berbagai stasiun televisi.

Khalayak penonton film Indonesia kala itu juga bisa dikatakan bosan karena melulu disuguhkan genre drama remaja, horor, dan komedi.

Munculnya AAC ibarat oase. Ditambah strategi promosi yang efektif dari MD Pictures, tidak mengherankan jika antrean penonton mengular pada setiap jam pemutaran AAC.

Pada tataran yang lebih luas, Indonesia pascareformasi 1998 melahirkan banyak komunitas kelas menengah Islam. Mereka giat melakukan syiar lewat kemasan berbagai media dan instrumen budaya populer.

Selain lewat beragam tayangan sinetron religius, muncul pula kelompok nasyid dan solis di ranah musik, barisan ustaz muda di televisi, dan novel-novel Islam.

Seperti yang lazim terjadi di mana saja, kesuksesan AAC memantik banyak film dengan genre identik bertebaran di layar bioskop. Sebut saja Ketika Cinta Bertasbih, Perempuan Berkalung Sorban, Dalam Mihrab Cinta, dan Surga yang Tak Dirindukan.

Para produser dan rumah produksi seolah tersadarkan, Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam merupakan ceruk pasar potensial. Kebiasaan memproduksi film religi --yang bahkan masih berlangsung hingga sekarang-- tak terhindarkan.

Isyana Sarasvati, Krisdayanti, Rossa, dan Raisa (dari kiri) saat tampil dalam "Ayat-Ayat Cinta in Concert with Live Orchestra - Colours of Love" di Plennary Hall Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan (20/12/2017)
Isyana Sarasvati, Krisdayanti, Rossa, dan Raisa (dari kiri) saat tampil dalam "Ayat-Ayat Cinta in Concert with Live Orchestra - Colours of Love" di Plennary Hall Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan (20/12/2017)
© Andi Baso Djaya /Beritagar.id

Menandai kemunculan Fahri dalam lanjutan AAC yang telah lama diidamkannya, Manoj Punjabi mengaku mengerahkan segala kemampuan agar film tersebut berpredikat film terlaris Indonesia sepanjang masa.

"Ini kali saya benar-benar all out. Kalau anda lihat sendiri, di kantor MD sekarang semuanya kerja keras agar film Ayat-Ayat Cinta 2 meraih sukses," ungkap Manoj dalam jumpa pers di di XXI Plaza Indonesia (6/12).

Apa yang diucapkan produser berusia 45 itu bukan isapan jempol. Salah satu buktinya adalah promosi dalam bentuk pergelaran konser musik bertajuk "Ayat-Ayat Cinta in Concert with Live Orchestra - Colours of Love" di Plennary Hall Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan (20/12).

Konser ambisius tersebut merupakan kelanjutan dari peluncuran album soundtrack film AAC 2 yang berisi 10 lagu. Disebut ambisius karena menampilkan empat solis perempuan papan atas di negeri ini, yaitu Krisdayanti (KD), Rossa, Raisa Andriana, dan Isyana Sarasvati.

Dalam jumpa pers sepekan sebelum konser, KD berseloroh bahwa mengumpulkan mereka semua dalam satu panggung bukan hal mudah.

"Soalnya masing-masing dari kami punya jadwal yang padat. Mungkin hanya Manoj yang bisa melakukan ini," kata adik Yuni Shara itu.

Masing-masing dari empat diva ini menyanyikan satu lagu untuk film AAC 2. Dua lagu diciptakan Melly Goeslaw untuk Rossa ("Bulan Dikekang Malam") dan KD ("Ayat-Ayat Cinta 2").

Lagu Isyana awalnya direncanakan ikut masuk dalam album soundtrack. Menjelang peluncurannya, tidak tercipta kesepakatan dengan Sony Music Indonesia selaku label yang menaunginya.

Alhasil lagu "Masih Berharap" tidak termaktub dalam album yang pendistribusiannya bekerja sama dengan gerai makanan cepat saji. Hanya saja dirinya tetap berpartisipasi dalam konser.

Terakhir adalah Raisa yang menciptakan satu lagu khusus bertajuk "Teduhnya Wanita". Suara string section yang menyisipkan alunan nada mirip bagpipes (alat tiup khas Skotlandia) pada bagian interlude membuat lagu tersebut sangat mewakili suasana syuting AAC 2.

Sepanjang konser berlangsung, para penonton yang memenuhi area Platinum, Gold, Festival, dan Tribune terpuaskan dengan penampilan keempat diva tadi, plus kehadiran Sarah Saputri dan kelompok Payung Teduh.

Kejutan dalam "Ayat-Ayat Cinta in Concert with Live Orchestra - Colours of Love" adalah tampilnya Dewi Sandra sang pemeran Sabina melantunkan "Jalan Cinta". Lagu yang dahulu dinyanyikan Sherina Munaf itu merupakan pengisi album soundtrack film AAC pertama.

Wajah-wajah sumringah penonton terpancar saat keluar dari tempat konser. Indra pendengaran terbuai menikmati merdu suara para penyanyi dari atas panggung berkat dukungan tata suara DSS Music.

Siraman lampu panggung yang bekerlapan dan suguhan visual melalui layar backdroop juga memanjakan mata.

Usai konser yang dilanjutkan sesi jumpa pers singkat di area lobi JCC, Manoj mengatakan; "Konser tadi sangat menakjubkan. Harapan saya filmnya juga menunjukkan amazing result."

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.