Seorang ibu memberikan susu kepada anaknya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat, Papua. Foto ini diambil pada Sabtu (27/1/2018), saat status Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan Gizi Buruk masih berlaku di Asmat.
Seorang ibu memberikan susu kepada anaknya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat, Papua. Foto ini diambil pada Sabtu (27/1/2018), saat status Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan Gizi Buruk masih berlaku di Asmat. M Agung Rajasa / ANTARA FOTO
KESEJAHTERAAN RAKYAT

Badai gizi buruk di Asmat belum berlalu

Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan Gizi Buruk di Asmat berakhir pada Februari 2018. Namun, hingga kini, tak sedikit anak Asmat punya masalah malanutrisi.

Ester Sinabiparas, bocah perempuan berusia dua tahun, terkulai dalam pelukan ibunya, Rufina Sucem.

Wajah Ester tak berseri. Matanya sayu, pipinya kempot, tangannya serupa batang kering, pantatnya bak ban kempes (disebut baggy pants), perutnya buncit, dan beratnya cuma 5,2 kilogram.

Sedang Rufina mengunyah sirih pinang, mulutnya menggembung, dan bibirnya kemerahan. Perempuan berusia 32 itu sebenarnya terlihat kepayahan menggendong Ester sambil menanggung kehamilan anak ketujuh.

Beban Rufina memang berat. Dua dari enam anaknya sudah tiada. Kini Si Bungsu Ester sakit.

Keluarga Ester menempati satu gubuk panggung di Kampung Jewez, Distrik Akat, Kabupaten Asmat, Papua. Bila pakai longboat bermesin 15 PK, Kampung Jewez bisa dijangkau dengan dua jam perjalanan menyusuri Sungai Jet dari Agats, ibu kota Asmat.

Dinding gubuk Keluarga Ester sudah menghijau ditumbuhi lumut. Fondasi kayu besi yang menopangnya keropos di sana sini.

Tatkala ada orang yang masuk, gubuk bakal bergoyang bak sampan terhempas ombak. Itulah yang terjadi saat dr. Taufiq Islam Al-Asrul berkunjung guna memeriksa Ester, pada Rabu sore, 5 September 2018.

Taufiq sudah mengawal kesehatan Ester sejak medio Juli 2018. Waktu itu, berat Ester hanya enam kilogram. Idealnya berat badan anak seusianya mencapai 11,5 kilogram.

Hingga tengah Agustus, kondisi Ester tak membaik, beratnya susut jadi 5,2 kilogram.

Ester didiagnosis marasmus-kwasiokor, satu kondisi malanutrisi akibat kekurangan protein dan energi.

Kali ini, lepas menyusuri rongga dada Ester dengan stetoskop, Taufiq menambahkan dugaan pneumonia. Nafas Ester memang sesak, seperti tertahan tumpukan lendir di paru-paru.

Dokter lulusan Universitas Hasanuddin itu telah berulang kali kasih saran agar Ester dibawa ke puskesmas atau rumah sakit.

Anjuran yang sama kembali diulangnya pada sore itu, "Mama, anak (Ester) dibawa ke rumah sakit (ungkapan untuk puskesmas) ya."

"Ada kopi sama gula kah? Ini rumah tidak ada kopi gula," sahut Rufina.

Taufiq menangkap isyarat Rufina meminta derma. Dia sudah sering mendengarnya. Di pelosok Asmat, permintaan senada kerap terlontar dari orang tua yang anaknya punya masalah kesehatan. Mereka seolah-olah enggan menuju fasilitas kesehatan tanpa timbal balik.

Dokter berumur 29 itu sadar belaka bahwa memberi santunan tak baik bagi kemandirian warga. Namun kondisi Ester telanjur lemah. Lagi pula, tak terhitung lagi anjuran ke puskesmas yang diabaikan orang tuanya.

Situasi gawat itu berujung janji dari Taufiq, "Iya Mama, nanti saya kasih kopi sama gula."

Ester akhirnya dibawa ke Puskesmas Ayam pada malam hari.

Fasilitas kesehatan itu terletak di Ayam Kaos, pusat Distrik Akat. Jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari gubuk keluarga Ester.

***

Foto kolase profil anak-anak asal Distrik Jetsy, Kabupaten Asmat, Papua, Rabu (24/1/2018). Foto diambil ketika status Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan Gizi Buruk berlaku di Asmat, Papua, pada awal tahun 2018.
Foto kolase profil anak-anak asal Distrik Jetsy, Kabupaten Asmat, Papua, Rabu (24/1/2018). Foto diambil ketika status Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan Gizi Buruk berlaku di Asmat, Papua, pada awal tahun 2018. | M Agung Rajasa /ANTARA FOTO

Ester merupakan korban rentetan kasus gizi buruk di Asmat yang sempat jadi isu genting awal tahun ini.

Pada 9 Januari 2018, pemerintah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan Gizi Buruk di Asmat.

Saat itu ada 72 anak meninggal, 646 anak mengidap campak, dan 144 anak punya masalah gizi buruk.

Ester masuk kategori terakhir dan sempat beroleh perawatan di Puskesmas Ayam pada Januari 2018. Namun dia sekadar rawat jalan, beriring bantuan beras, mi, dan susu instan yang diterima keluarganya.

Padahal kondisinya tak pernah benar-benar pulih, termasuk saat Taufiq mulai menanganinya pada tengah Juli 2018.

Adapun status KLB Campak dan Gizi Buruk di Asmat dicabut pada 5 Februari 2018. Kenyataannya badai malanutrisi belum berlalu.

Sepanjang tahun, RSUD Agats--salah satu rujukan utama selama KLB--terus menerima pasien gizi buruk dari sejumlah distrik di Asmat.

Meski demikian, bagian informasi rumah sakit dengan kelas "belum ditetapkan" itu enggan kasih angka pasien gizi buruk.

Seorang staf yang memilih anonim menyelipkan info. Dia bilang ada 34 anak dengan kasus gizi buruk di RSUD Agats pada Oktober 2018. Masuk bulan November 2018 (sedang berjalan) tercatat sembilan pasien dengan kasus serupa.

Terkhusus Distrik Akat, tempat keluarga Ester berdiam, Kementerian Kesehatan mencatat dua anak dilanda gizi buruk (September 2017-Maret 2018).

Adapun Dompet Dhuafa (November 2018) mencatat tujuh anak Akat mengalami gizi buruk disertai macam-macam komplikasi, seperti polio, patah tulang, dan TBC.

Salah satunya adalah Askar Ossar. Bocah empat tahun itu menderita gizi buruk plus patah tulang di bagian selangkangan.

Berbeda dengan Ester yang sempat dirawat semasa KLB, Askar luput dari penanganan lantaran ikut orang tuanya mencari bahan makanan di hutan.

Baru awal November, bocah itu bisa dirujuk ke Merauke guna mendapat perawatan intensif--hingga kini.

“Bantuan makanan dan lainnya di KLB itu cuma jangka pendek."

Bonefasius “Boni” Jakfu, tokoh budaya Asmat

Pemerintah sudah menjalankan berbagai program bantuan demi mengatasi kasus gizi buruk di Asmat.

Untuk menyebut contoh: Program 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK), berupa pemberian makanan untuk ibu hamil dan anak hingga usia dua tahun, yang tahun lalu anggarannya sampai Rp9 miliar; Dan Bangun Generasi dan Keluarga Sejahtera Papua, berbentuk bagi-bagi dana tunai Rp200 ribu per anak saban bulan.

Pada level puskesmas juga berjalan program pembagian makanan tambahan dan susu.

Saya berbincang perihal penanganan gizi buruk dengan Steven Langi, Kepala Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat.

Steven bilang, "Pemerintah sudah berusaha dan berhasil mengurangi kasus gizi buruk."

Meski begitu, dia mengakui keberhasilan program sangat bergantung pada kesadaran masyarakat. "Kalau pasien mau, bisa berubah. Yang tidak mau, tidak berubah," katanya, Rabu (31/10/2018).

Penjabaran lebih rinci ihwal kendala penanganan kasus gizi buruk datang dari Dokter Taufiq, yang sudah empat bulan bekerja di Asmat.

Dia menyoroti kebiasaan Orang Asmat membawa anak mereka untuk berkebun.

"Pasien sulit ditangani karena sering ikut orang tua ke bivak (pondokan sementara di tengah hutan) atau dusun (kebun). Lamanya bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan," kata Taufiq, Minggu (28/10/2018).

Saat harus dirawat, ucap Taufiq, orang tua juga tidak sungkan minta derma--kopi, gula, hingga uang.

Tak jarang pula orang tua memaksa pulang. Mereka lebih suka rawat anak di rumah atau bivak sambil cari bahan makanan.

"Ada juga masalah lain, seperti jarak kelahiran antar-anak yang berdekatan, kebiasaan punya anak banyak, pola makan tak teratur, atau hanya makan ‘sagu kosong’ (tanpa lauk)," kata Taufiq.

Rabu (31/10/2018), saya mengobrol lewat telepon dengan Bonefasius "Boni" Jakfu guna mendengar pandangannya perihal gizi buruk dan kebiasaan masyarakat Asmat.

Boni dikenal sebagai tokoh budaya Asmat, seirama dengan statusnya sebagai Kepala Bidang Sosial Budaya Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Asmat.

Boni tak ragu kritik program bantuan instan, seperti pemberian dana tunai atau makanan tambahan kepada warga.

Bantuan instan, kata Boni, bisa menopang tapi sifatnya sementara dan tak mengubah cara pandang masyarakat perihal kesehatan.

"Kita kurang memberikan pemberdayaan dan pembangunan kesadaran kesehatan," ujar pria asli Asmat itu. "Bantuan makanan dan lainnya di KLB itu cuma jangka pendek. Tidak bisa berharap lebih akan itu."

Bantuan instan memang acap kali dipilih sebagai solusi penanganan isu kemanusiaan. Di sisi lain, ia kerap jadi sasaran kritik.

Peneliti isu kemanusiaan, James N. Schubert, pernah menyentil solusi instan dalam tulisan akademik bertajuk, "The Impact of Food Aid on World Malnutrition".

Schubert menyebut bantuan makanan dan finansial kepada masyarakat yang terpapar masalah malanutrisi acap kali tak tepat sasaran dan tidak menyelesaikan masalah.

Bantuan instan berkepanjangan, menurut Schubert, cenderung bikin warga kurang mandiri.

Sebagai gantinya, ia menyarankan proyek jangka panjang, seperti pemberdayaan sosial ekonomi dan menekan laju populasi.

Kasus Etiopia, yang sudah tiga dekade dihantam topan malanutrsisi, bisa pula jadi cermin.

Salah satu pemicu krisis berkepanjangan itu, sebagaimana dilaporkan BBC, adalah ketergantungan warga Etiopia pada bantuan instan dari lembaga-lembaga internasional.

***

Rufina Sucem di hadapan makam anaknya, Ester Sinabiparas. Di makam Ester popok, dot, pakaian, hingga kardus-kardus bubur dan susu instan.  Orang Asmat memang sengaja menempatkan benda-benda mendiang di makam. Pamali bila disimpan.
Rufina Sucem di hadapan makam anaknya, Ester Sinabiparas. Di makam Ester popok, dot, pakaian, hingga kardus-kardus bubur dan susu instan. Orang Asmat memang sengaja menempatkan benda-benda mendiang di makam. Pamali bila disimpan. | Dhihram Tenrisau /Beritagar.id

Matahari belum tinggi benar, 6 September 2018, ketika Dokter Taufiq menjalani harinya yang biasa sebagai relawan kesehatan di satu daerah terpencil.

Dokter muda yang taruh minat pada kerja-kerja kemanusiaan itu sedang kasih penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di SD Inpres Cumnew, Kampung Cumnew, Distrik Akat--sekitar 100 meter dari gubuk keluarga Ester Sinabiparas.

Tiba-tiba penyuluhan berhenti, lantaran ayah Ester, Daniel Berikraw menunjukkan batang hidung. Wajah Daniel tampak cemas. Taufiq pun segera menangkapnya sebagai isyarat buruk.

Daniel langsung melempar keluh begitu Taufiq mendekat. "Bapak Dokter, anak di rumah sakit. Sesak," keluh pria 35 tahun itu. Tanpa banyak kata, Taufiq dan Daniel langsung bergegas.

Setengah berlari, mereka menempuh jarak sejauh 2,5 kilometer menuju Puskesmas Ayam, menyusuri jalanan kampung berupa titian dari kayu dan papan keropos yang berdiri di atas lahan gambut.

Di ruang rawat inap, selang infus sudah menyuplai cairan glukosa lewat pembuluh darah di kaki Ester.

Balita itu pucat. Tubuhnya kejang dan dingin. Matanya kosong menengadah ke langit-langit.

Taufiq menempel stetoskop demi menangkap pertanda dari rongga dada Ester. "Nafasnya melemah," katanya dengan dahi mengernyit.

Namun hanya berselang beberapa menit, asa kesembuhan menguap, denyut Ester berhenti.

Nafas penghabisannya berembus di dekapan Sang Ibu. Perempuan mungil itu takluk dalam perang melawan gizi buruk.

BACA JUGA