Warga binaan di lapas Sukamiskin, Jumat (22/2/2019).
Warga binaan di lapas Sukamiskin, Jumat (22/2/2019). Aditya Herlambang
BUI WARISAN KOMPENI

Beda zaman beda perlakuan

Meski terikat sejarah panjang, catatan tentang lapas ini teramat sulit ditelusuri.

Jefferson Rumajar, 53, sampai juga di Sukamiskin. Korupsi membawanya ke penjara tua itu. Dia kena dua kali palu vonis. Total masa hukumannya 23 tahun.

Pertama tersebab kasus penggangsiran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2006-2008. Terakhir, perkara penarikan dana kas daerah pada 2009-2010. Dua-duanya terjadi waktu dia menjabat Wali Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Kasus-kasus itu menggeretnya ke sejumlah bui. Mulai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Lapas Kelas II A Manado, hingga Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung. Orang bisa pikir, kejemuan menguasai pikirannya.

Namun, katanya, "masalah bosan atau tidak bergantung pribadi masing-masing. Bagaimana kita siap mental menghadapi hukuman kita di dalam lapas".

Dia berkomentar demikian waktu Beritagar.id datang ke Lapas Sukamiskin pada Kamis (21/2/2019) siang, dan kebetulan bertemu dengannya.

Epe, begitu dia biasa dipanggil, saat itu tengah mondar-mandir di sisi kompleks lapas yang menampung perpustakaan dan percetakan. Kami akhirnya berbincang sebentar di ruang berisi mesin-mesin besar dan usang.

Sikap badannya tegap ketika berbicara. Menyiratkan kebugaran. Sebelah tangan dimasukkan ke saku depan celana jin, seperti gaya rata-rata orang di pusat perbelanjaan yang gandrung cuci mata. Kaus berkerah yang dia kenakan berkualitas premium.

Meski sudah lama di penjara, kulitnya bersih seperti permukaan buah-buah unggul di pasar swalayan luks. Satu resep untuk mencapai keadaan fisik seperti itu agaknya olah raga teratur.

"Pagi biasanya sesudah apel, ke gym sejam. Terus ikut program pembinaan yang dilaksanakan oleh lapas sesuai dengan bidang yang diikuti masing-masing sampai agak siang. Sorenya saya olahraga lagi. Bulutangkis. Jam dua sampai jam lima," kata penghuni Blok Barat sel No.8 itu.

Data warga binaan lapas kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.
Data warga binaan lapas kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. | Beritagar.id /Kemenkumham

Jika Jefferson di Sukamiskin pada dekade 1930-an, privilese serupa mustahil didapat. Contoh soal tentang itu boleh meminjam problem yang dihadapi salah satu pendiri Republik Indonesia, Soekarno.

Sang proklamator kemerdekaan pernah dibui di Sukamiskin pada akhir 1930 hingga akhir 1931 setelah sebentar mendekam di penjara Banceuy. Usianya belum 30. Dia ditahan karena dicurigai bakal berbuat makar.

Selnya di lantai dua Blok Timur. Bernomor TA01. Ia terletak dekat ruang berjaga di sumbu bangunan. Di sel itu, dia menyusun pidato pembelaan yang di belakang hari jadi masyhur. Judulnya Indonesia Menggugat.

Tujuh bulan sebelum bebas, Soekarno menulis sepucuk surat. Judulnya "Keadaan di Pendjara Sukamiskin, Bandung". Bertarikh 17 Mei 1931. Isinya secoret sketsa mengenai sepotong masa pembelengguannya. Catatan tersebut masih bisa dibaca di buku kumpulan tulisannya yang bertajuk Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I.

Pada satu bagian surat, dia melukis pengalamannya melakukan pekerjaan kasar di bengkel penjara. Mengerjakan "berpuluh-puluh rim kertas; memedat barang, memuat dan membongkarnya".

Setelah kerja kelar, badannya tinggal "letih lesu, dan otak (-nya) seolah-olah tertidur...Kitab yang terbuka di hadapan (-nya) tidak terbaca lagi, dan belajar pun tak ada hasilnya". Semua dirasakan ketika malam, setelah membilas kotor-kotor di badan.

Soekarno merasa penjara melucuti kemanusiaannya sedikit demi sedikit. Di nyaris ujung surat, dia pun menyimpulkan: bui adalah tempat manusia "tiada lain daripada seekor binatang ternak...Tiada mempunyai kemauan sendiri".

Ini berbeda dari pandangan Jefferson. Dalam hemat politikus yang sudah menulis dua buku itu, penjara justru merupakan "bengkel manusia...suatu university of life".

Kamar sel yang pernah ditempat Soekarno di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung, Jumat (22/2/2019)
Kamar sel yang pernah ditempat Soekarno di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung, Jumat (22/2/2019) | Aditya Herlambang
Fasilitas olahraga di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung, Jumat (22/2/2019)
Fasilitas olahraga di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung, Jumat (22/2/2019) | Aditya Herlambang /Beritagar.id

Dua zaman beda perlakuan

Keduanya memang hidup di masa berlainan, di sebuah lokasi yang cara penanganannya pun sudah berbeda.

Sukamiskin dibangun pada 1918 sewaktu Hindia Belanda masih berada di bawah pengawasan Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum. Fasilitas itu berdiri di tepi De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos, proyek ambisius nan merentang dari Anyer hingga Panarukan ketika posisi gubernur jenderal masih dipegang Herman W. Daendels.

Lapas tersebut awalnya ditegakkan untuk meredam perlawanan dari kaum jajahan. Aktif dipakai mulai 1924. Catatan lama tentang klasifikasi awal tahanan penjara memperlihatkan itu. Dari empat blok penjara, dua dialokasikan untuk tahanan politik, dan sebuah bagi orang-orang Cina serta para komunis. Hanya satu blok dihuni para kriminal.

Soekarno ketika itu tergolong tahanan politik, tapi tak beroleh perlakuan spesial. Dia mendapat pakaian orang kurungan berwarna biru. "Rambutku dipotong hampir menjadi gundul, dimilimeter dalam bahasa Belandanya," begitu dia menulis dalam suratnya tadi.

Jefferson Rumajar pindah ke Sukamiskin pada 2013 setelah penjara itu mendapat status cagar budaya kelas A, dan telah ditetapkan sebagai tempat khusus tahanan kasus korupsi oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (kemenkumham). Dia seblok dengan Anas Urbaningrum dan Akil Mochtar.

Sejumlah ruangan di kompleks itu sudah berubah fungsi. Di sisi bangunan yang awalnya gudang, kini menjadi klinik, dapur, gimnasium, ruang produksi roti, dan gereja. Di bagian tempat Soekarno bekerja dulu, masih tersimpan mesin-mesin pengolah kertas

Sekarang, orang seperti Jefferson sudah tak pakai seragam, dan tak pula mesti botak. Dengan daya tampung Sukamiskin 565 orang, Jefferson beruntung mendiami lapas yang tak mengalami problem kelebihan penghuni. Padahal, di banyak penjara lain di Indonesia, jumlah napi melebihi daya tampung hal lazim.

Kini, menurut Kepala Bidang Pembinaan Narapidana Lapas Sukamiskin, Suparman, Kamis (21/2/2019), sel-sel di Sukamiskin cuma diisi 470 pesakitan.

"Lebih dari 300 orang tersangkut kasus korupsi," katanya di sebuah teritis, "sisanya pidum", ujarnya lagi menyebut akronim untuk pidana umum (algemen strafrecht). "Rata-rata (dikenai) pasal 363 atau 365".

(Pada Kamis, 11/4/2019, Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Sukamiskin, Yosafat Rizanto, menginformasikan jumlah penghuni mencapai 483, dengan 373 tersangkut kasus korupsi dan 110 lainnya berkenaan dengan pidana umum).

Gayus H. P. Tambunan menjadi penjahat kerah putih pertama yang dijebloskan ke Sukamiskin setelah program kemenkumham dirilis . Eks pegawai Direktorat Jenderal Pajak itu terjerat urusan 'mafia pajak' pada 2010-2011.

Pada tahun-tahun berikutnya, sejumlah terhukum lain menyusul Gayus. Rata-rata nama-nama kesohor di Jakarta. Sebut saja Djoko Susilo, Luthfi Hasan, Muhammad Nazaruddin, dan Setya Novanto.

Penjagaan di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung, Jumat (22/2/2019)
Penjagaan di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung, Jumat (22/2/2019) | Aditya Herlambang /Beritagar.id
Seorang warga binaan sedang berolahraga di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung, Jumat (22/2/2019)
Seorang warga binaan sedang berolahraga di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung, Jumat (22/2/2019) | Aditya Herlambang /Beritagar.id

Catatan sejarah tak jelas

Namun, meski Lapas Sukamiskin terikat sejarah panjang, catatan tentangnya teramat sulit ditelusuri. Sedangkan ia menjadi saksi menggelindingnya sejumlah zaman. Di antaranya masa pemerintahan Hindia Belanda, periode pendudukan Jepang, dan era kemerdekaan.

Bahkan, untuk meyakini bahwa penjara tersebut diarsiteki oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker saja masih susah.

"Kita berhati-hati untuk klaim itu. Banyak yang menyebut (Lapas Sukamiskin) dibikin Schoemaker. Cuma kita belum tahu persis dari mana source-nya," kata Aji Bimarsono, Ketua Bandung Heritage, Jumat (22/2/2019), di markas Bandung Heritage, Sukaluyu, Bandung.

Bandung Heritage adalah paguyuban pelestarian budaya di Bandung, terutama bangunan cagar budaya.

Kelompok itu ikut mendorong kelahiran Perda No.19/2009 tentang Pengelolaan Bangunan dan Kawasan Cagar Budaya Kota Bandung, dan Perwal No.921/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya Kota Bandung.

Menurut Aji yang lulusan Arsitektur ITB, agak ganjil jika catatan tentang bangunan dengan skala sebesar itu sukar dilacak.

"Padahal (bangunan cagar budaya) Kelas A harusnya otentik sekali. Secara historis juga karena Bung Karno pernah di situ," ujarnya.

Wolff Schoemaker disebut di muka adalah arsitek berdarah Belanda kelahiran Semarang, Jawa Tengah. Kondang sebagai perancang banyak bangunan monumental di Bandung--kota yang terkenal sebagai laboratorium arsitektur di Hindia Belanda pada paruh awal abad ke-20.

Lelaki kelahiran 1882 itu pernah menjadi rektor Technische Hoogeschool te Bandoeng (berubah menjadi ITB), dan sempat mengajar Soekarno. Malah, konon, Si Bung menjadi asisten Schoemaker waktu membangun penjara Sukamiskin.

Sepanjang karier kearsitekannya, Schoemaker sering mengeksplorasi hubungan antara desain Eropa dan ekspresi keindonesiaan. Menurut Aji, Schoemaker menganggap candi-candi sebagai puncak penting karya arsitektur di Indonesia. Lantas, dia berupaya meminjam dan menerapkan filosofi bangunan kuno itu pada karya-karyanya.

Di antara hasil buah pikirnya adalah Gedung Jaarbeurs (kini Kologdam) di Jalan Aceh, Societeit Concordia (Gedung Merdeka) di Jalan Asia Afrika, Bioskop Majestic (sekarang De Majestic) di Jalan Braga, dan Vila Isola (sudah menjadi kantor rektorat Universitas Pendidikan Indonesia).

"Pencapaian dia itu Vila Isola. Main di massa dan komposisi bentuk. Mirip Einstein Tower di Potsdam, Belanda, karya Erich Mendelsohn," kata Aji.

Dalam hemat Aji, kelebihan Schoemaker adalah ketelatenannya mengolah detail. Tak semua arsitek bisa begitu. Karenanya, Aji bilang Lapas Sukamiskin mungkin saja dirancang olehnya.

"Dilihat dari fasadnya, memang ada kemiripan. 'Oh, iya, ini kayak Schoemaker'. Tapi itu tidak menentukan juga," ujarnya.

Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung sedang membuat roti, Kamis (21/2/2019).
Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Sukamiskin Bandung sedang membuat roti, Kamis (21/2/2019). | Aditya Herlambang
Artikel Terkait