Gerbang pintu masuk Desa Balun Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Kamis (28/5/2017). Disebut Desa Pancasila, karena warganya menjunjung tinggi toleransi umat beragama.
Gerbang pintu masuk Desa Balun Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Kamis (28/5/2017). Disebut Desa Pancasila, karena warganya menjunjung tinggi toleransi umat beragama. Sujatmiko / Beritagar.id

Belajar pluralisme dari Balun

Di Balun, pemeluk tiga agama hidup rukun. Mereka menyebut desanya sebagai Desa Pancasila.

Gerbang pintu masuk bertuliskan "Balun Desa Pancasila", berdiri kokoh di antara sungai dan tambak milik masyarakat. Balun, Kecamatan Turi, terletak sekitar empat kilometer arah barat daya Kota Lamongan, Jawa Timur.

Sekitar satu kilometer dari gerbang itu menara masjid Miftahul Huda tampak menjulang. Masjid ini berdekatan dengan kantor Balai Desa Balun. Di seberang halaman masjid, tampak berdiri tegak Patung Yesus dengan latar belakang Gereja Kristen Jawi Wetan. Sementara di halaman samping Masjid, berdiri kokoh Pura Sweta Maha Suci.

Desa Pancasila, bukanlah tempat Pancasila lahir. Namun kedamaian dan kerukunan antar pemeluk agama di desa itu yang membuat masyarakat setempat menyebut desanya sebagai Desa Pancasila.

Pura Sweta Maha Suci yang berada di antara masjid dan gereja yang ada di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Masyarakat desa ini hidup rukun dan damai. Foto diambil Kamis, 28 Mei 2017.
Pura Sweta Maha Suci yang berada di antara masjid dan gereja yang ada di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Masyarakat desa ini hidup rukun dan damai. Foto diambil Kamis, 28 Mei 2017. | Sujatmiko /Beritagar.id

"Ide nama Desa Pancasila berasal dari warga Balun sendiri dan disetujui Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Lamongan," ujar Kepala Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan, Khusairi (48) kepada Beritagar.id, Kamis (18/5/2017).

Untuk menegaskan desanya sebagai wilayah yang damai dan adem, mereka menggagas pembangunan gapura itu pada 2015.

Dari data yang ada di kantor desa ini disebut, Balun dihuni sebanyak 4.786 jiwa atau sekitar 1200 Kepala Keluarga. Dari jumlah tersebut 75 persen warga memeluk agama Islam, Nasrani 13 persen dan sisanya 7 persen memeluk Hindu.

Kerukunan dan kedamaian juga terjadi dalam satu keluarga yang menganut keyakinan berbeda. Ada yang Islam, Hindu dan juga Kristen.

Contohnya keluarga almarhum Sukir. Keluarga ini bisa jadi adalah prototype Bhineka Tunggal Ika. Almarhum Sukir, istri, dan dua anak serta tiga cucunya, menganut agama yang berbeda. Ada yang berkeyakinan Islam, Kristen, juga Hindu. Tapi selama ini mereka hidup rukun.

Almarhum Sukir dan istrinya, Ny. Karmani (55) adalah pemeluk Hindu. Keyakinan keluarga pedagang ini diikuti dua anaknya. Anak pertamanya bernama Indah (36) dan anak keduanya, Eva (33).

Namun keyakinan anak pertamanya berubah ketika memutuskan menikah dengan Sumantri (38) yang juga warga Desa Balun. Indah memilih mengikuti agama yang dipeluk suaminya: Islam. Perpindahan agama ini tak jadi soal bagi keluarga besar Sukir. Kini, pasangan ini dikaruniai dua anak yang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar.

Sementara Eva, punya pilihan keyakinan berbeda. Eva, meninggalkan Hindu yang dipeluk orang tuanya dan memilih Kristen, setelah dinikahi Yosef (35) tahun. Lagi-lagi, keputusan Eva itu juga tak soal bagi keluarga besar Sukir. Pasangan telah dikaruniai satu anak.

Menurut Ny. Karmani, kedua anaknya tidak pernah ribut soal beda-beda keyakinan. Justru yang terjadi, anak-anak, menantu dan juga para cucuk hidup rukun berdampingan dalam satu keluarga besar. "Bertahun-tahun mereka hidup rukun," ujarnya.

Saat peringatan hari-hari besar agama, kata Ny. Karmani, dirinya selalu berbaur dengan anak-anaknya. Saat Ramadan misalnya, dirinya kerap menyiapkan makanan untuk anak dan cucunya yang Muslim.

Begitu juga ketika Natal, Ny. Karmani aktif membantu anak bungsunya menyiapkan kado, makanan dan lainnya. Pun ketika Nyepi tiba, anak, menantu, dan cucunya selalu datang. "Kita guyub rukun di Kampung Balun," ujarnya.

Tak hanya keluarga besar Sukir. Data di Kantor Desa Balun menyebut ada tujuh Kepala Keluarga yang anggotanya pelangi alias berbeda keyakinan seperti keluarga besar Sukir. "Di sini wajar satu rumah beda agama," ujar Kepala Urusan Perencanaan Desa Balun, Hery Suparno.

Hery menambahkan, jika dirunut, para tokoh-tokoh agama di Desa Balun, masih ada hubungan darah. Dia menyebutkan ayahnya yaitu Naskan Daniel (68). Awalnya, kata dia, ayahnya memeluk Islam.

Namun pada 1967an, ayahnya memutuskan berpindah keyakinan ke Nasrani. Keputusan ayahnya itu tak menimbulkan gejolak di keluarga besarnya yang sebagian besar masih menganut Islam.

Toleransi beragama di desa ini bisa dibilang tanpa basa-basi. Soal kuburan misalnya, pemeluk Islam dan Hindu, lokasi makamnya masih jadi satu. Makam bersama Islam-Hindu ini lokasinya berada di antara Masjid Miftahul Huda dengan Gereja Kristen Jawi Wetan dan Pura Sweta Maha Suci.

"Orang Hindu di sini jika meninggal tak diaben (dibakar), tetapi dikubur," ujar Sekretaris Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Lamongan, Adi Wiyono.

Pintu gerbang Masjid Miftakhul Huda yang berhadapan dengan Patung Yesus di kompleks Gereja Kristen Jawi Wetan, di Desa Balun Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Foto diambil Kamis, 28 Mei 2017.
Pintu gerbang Masjid Miftakhul Huda yang berhadapan dengan Patung Yesus di kompleks Gereja Kristen Jawi Wetan, di Desa Balun Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Foto diambil Kamis, 28 Mei 2017. | Sujatmiko /Beritagar.id

Selain aktif di perkumpulan Hindu, Adi juga tercatat sebagai Guru Agama Hindu di Sekolah Dasar Negeri I Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan. Pria asal Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi ini, datang ke Balun atas tugas dari Pemerintah pada 1979 silam. Setelah menetap beberapa tahun, alumni Sekolah Guru Agama Hindu Singaraja, Bali ini, menikah dengan Sutarmi (57) yang berasal dari Santren, Kediri.

Menurutnya, toleransi beragama di desanya bukan hanya slogan belaka. Selama 38 tahun tinggal di Balun belum pernah ada gejolak berbau agama. Bahkan, kehidupan mereka malah damai.

Ia mencontohkan, saat ada tetangga Muslim menggelar hajatan, warga lain yang beragama Hindu atau Nasrani, hadir dengan pakaian menyesuaikan yang punya hajat. Seperti menggunakan kopiah dan sarung. "Itu pemandangan lazim di kampung kami," katanya.

Menurut pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama Lamongan, Fauzi, Desa Balun bisa jadi tempat percontohan kerukunan umat beragama. Itu bisa dilihat saat ada hari-hari besar Agama. Misalnya, saat ada upacara Pangrupukan atau upacara yang digelar sehari sebelum digelar Hari Raya Nyepi--warga biasanya membuat pawai Ogoh-ogoh.

Saat itu, kata dia, tak hanya mereka yang menganut Hindu yang sibuk tapi juga yang beragama lain. Mereka ramai-ramai saling membantu. "Ini jarang terjadi di Jawa," ujarnya.

Desa Balun, kini juga jadi langganan kunjungan dari pelbagai daerah di Indonesia. Entah untuk melihat kerukunannya atau untuk keperluan akademis.

Tak salah jika Balun yang pintar merawat keberagaman dan juga toleransi beragama diusulkan Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Timur, untuk dijadikan desa rujukan.

Apalagi syarat untuk menjadi salah satu daerah dengan Destinasi Nasional tentang kerukunan agama, sudah terpenuhi. Di antaranya, punya tempat ibadah beda agama yang lokasinya berdekatan, juga ada kegiatan keagamaan lintas agama, serta dalam jangka waktu lama, hidup rukun dan berdampingan.

"Kita tengah usulkan itu," ujar Kepala Sub-bagian Hukum dan Kerukunan Umat Beragama, Kantor Wilayah Departemen Agama Jawa Timur, Hikmah Rahman.

Sekelumit asal-usul

Sikap toleran antar umat beragama sepertinya tak lepas dari sejarah Desa Balun. Menurut Kepala Desa Balun, Khusairi, sebagian besar penduduknya saat itu menganut ajaran Darmo Gandul--sebuah ajaran yang muncul setelah keruntuhan Majapahit.

Di tengah perjalanan sejarah itu, kata Khusairi, muncullah tokoh bernama Mbah Alun, yang disebut-sebut keturunan Raden Brawijaya V--dari garis keturunan

Menak Lumpat atau Sunan Rebut Payung. Mbah Alun yang wafat pada 1654 silam, di Desa Candipari (sekarang jadi Desa Balun). Konon nama Mbah Alun kemudian diabadikan menjadi nama Desa Balun hingga sekarang.

Pendek cerita, hingga pasca-kemerdekaan tahun 1950-an, sebagian besar masyarakatnya masih banyak yang kejawen. Pada 1965 saat situasi politik nasional memanas akibat meletusnya gerakan 30 September, Desa Balun tak luput dari incaran. Sejumlah warga desa ini juga turut jadi korban karena dianggap menjadi pendukung PKI.

Namun, ada yang menyebut warga yang dibantai itu salah sasaran karena punya nama kembar dengan orang-orang yang diduga menjadi anggota PKI. "Ceritanya mencekam," ujar Khusairi, menirukan cerita para pendahulunya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR