Suasana gedung Rektorat Universitas Negeri Semarang (Unnes), Selasa (16/10/2018).
Suasana gedung Rektorat Universitas Negeri Semarang (Unnes), Selasa (16/10/2018). Beritagar.id / Zakki Amali
PLAGIARISME

Benarkah Rektor Unnes Semarang memplagiat?

Tiga tim dibentuk untuk menginvestigasi dugaan plagiarisme yang dilakukan Rektor Unnes, Fathur Rokhman. Kementerian hanya menggunakan hasil Tim Unnes. Temuan dua tim lainnya diabaikan.

Fathur Rokhman sumringah. Hari itu senyumnya terus mengembang. Mereka yang hadir menyalami memberikan ucapan selamat, lalu berfoto bersama.

Rabu, (24/10/2018) itu Fathur baru saja memenangi pemilihan rektor Universitas Negeri Semarang untuk periode kedua (2018-2022).

Dalam pemilihan itu, ia menang mutlak atas dua pesaingnya. Dari 95 suara (63 suara senat Unnes dan 32 suara Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi), Fathur menyapu 89 suara. Sementara dua pesaingnya: Dr Achmad Rifai dan Dr Martitah (keduanya dari Unnes) masing-masing mengantongi tiga suara.

Pemilihan rektor Unnes periode 2018-2022 ini sempat tak mulus. Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi sempat membatalkan hasil penjaringan yang sudah dilakukan senat Unnes. Alasannya, saat proses penjaringan yang berlangung 3 Juli itu, perwakilan Kemeristek Dikti tidak hadir.

Padahal, menurut Ketua Senat Unnes Prof Soesanto, mereka sudah menyampaikan undangan pada 22 Juni 2018. Namun hingga pelaksanaan penyaringan, perwakilan dari Kemenristek Dikti absen.

Senat kemudian tetap melakukan penyaringan calon. Dari lima yang terjaring, tiga nama lolos dalam proses penyaringan. Ketiga orang yang lolos penyaringan itu: Dr Achmad Rifai RC MPd, Prof Dr Fathur Rokhman MHum (rektor petahana), dan Dr Martitah MHum.

Hasil penyaringan itu kemudian dikirimkan ke Kemenristek Dikti pada 4 Juli 2018. “Ternyata, kami sudah dititipi surat pemberitahuan bahwa penyaringan calon rektor perlu diselaraskan dalam beberapa poin," kata Soesanto. Penyelarasan yang dimaksud itu ya soal ketidakhadiran perwakilan Kemenristek Dikti itu.

Karena dibatalkan, senat Unnes akhirnya mengulang lagi penjaringan calon rektornya. Proses ini diumumkan di situs Unnes. Tahapan pemilihan ini dilakukan mulai Juli hingga Desember 2018. Pada proses penjaringan ulang, calon yang ikut sama persis dengan penjaringan pertama. Pun tiga nama yang lolos penyaringan.

Sampul muka skripsi Ristin (kiri) dan sampul muka penelitian Fathur (kanan).
Sampul muka skripsi Ristin (kiri) dan sampul muka penelitian Fathur (kanan). | Zakki Amali /Beritagar.id

Di tengah proses penjaringan pertama dan yang diulang, juga sempat muncul kabar tak sedap. Salah satu calon rektor, Fathur Rokhman, dikabarkan tersandung isu plagiat skripsi mahasiswa bimbingannya, Ristin Setiyani. Kabar ini sempat menghiasi pemberitaan di sejumlah media.

***

Sepekan menjelang pemilihan rektor, Senat Unnes mengirimkan surat bantahan plagiat yang dilakukan Fathur kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Dalam dokumen yang didapat Beritagar.id, surat bernomor 201/UN37/Senat/2018 tertanggal 18 Oktober ditandatangani Ketua Senat Unnes, Prof Soesanto. Ada tiga lampiran dalam surat itu: surat pernyataan Ristin Setiyani, mahasiswa Unnes lulus tahun 2001 yang disebut skripsinya diplagiat Fathur, berita acara investigasi internal Unnes, dan keputusan senat terkait dugaan plagiat Fathur terhadap Ristin.

Soesanto enggan menjelaskan detail surat itu. "Sudah saya laporkan kementerian. Tidak terbukti sama sekali (dugaan plagiat Fathur). Itu hoaks," kata dia saat ditemui usai pemilihan rektor Rabu (24/10/2018) sembari berjalan cepat menuju parkir mobilnya.

Hasil investigasi internal Senat Unnes bertentangan dengan hasil investigasi Tim Evaluasi Kajian Akademik (EKA) dan Tim Independen yang dibentuk Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi.

Beritagar.id memperoleh salinan berita acara pemeriksaan Tim EKA. Dalam berita acara Tim EKA menelaah tiga karya: skripsi Ristin (2001), artikel Fathur di Jurnal Lingua Artistika (Mei, 2002) dan draf disertasi Fathur berjudul, “Pemilihan Bahasa Jawa-Indonesia dalam Masyarakat Jawa Kajian Sosiolinguistik pada Masyarakat Tutur Jawa di Banyumas” (1998) di Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Hasil pemeriksaan di berita acara menyebutkan bukti ada kesamaan artikel Fathur di Lingua Artistika dengan skripsi Ristin.

Ketua Senat Unnes, Prof Soesanto tak mau tahu dengan temuan Tim EKA itu. Katanya, "Itu (terserah) urusan mereka. Mau menggunakan cara bagaimana. Kita menggunakan tata aturan yang ada. Kita betul-betul objektif."

Beritagar.id, dua kali menyambangi rumah Ristin di Dusun Kalipetung RT 2 RW 11 Desa Klapagading, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, pada Oktober 2018. Namun, Ristin tak dapat ditemui.

Rabu, (24/10/2018), kami berhasil menemui Hadiati, ibu Ristin. Namun ia bilang Ristin enggan ditemui siapapun yang hendak menanyakan soal plagiat yang diduga dilakukan Fathur terhadap karya anaknya. "Dik Ristin habis melahirkan secara sesar. Dia belum bisa ditemui," katanya.

Boleh jadi Ristin tak mau dikorek tak terlalu dalam. Yang jelas, di tengah isu itu, tiba-tiba tersiar kabar Ristin membuat pengakuan yang mengejutkan. Ristin membuat surat pernyataan yang diteken di atas materai 6.000. Dalam surat tertanggal 24 Agustus 2018 itu, Ristin mengaku dirinya pernah dipinjami draf disertasi Fathur. Drat itulah yang ia jiplak untuk skripsi. (Baca: Rektor Unnes, Fathur: Dulu mereka mahasiswa saya)

***

Profesor Psikolinguistik Universitas Negeri Semarang (Unnes), Subyantoro lamat-lamat mengingat tanda tangannya yang dibubuhkan di lembar pengesahan skripsi Ristin Setiyani, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Bahasa Unnes, 17 tahun silam.

Saat Kristin melakukan ujian pada 2001 lalu, Subyantoro menjabat sekretaris panitia ujian.

Nama Ristin memang tak diingatnya karena terlalu banyak mahasiswa yang ia didik. "Mungkin iya, saya kan menandatangani banyak skripsi. Sebagai proses akademis setelah diuji dan direvisi tugas kami melakukan pengesahan. Setelah itu, skripsi menjadi teks yang bisa dikutip siapa pun bahkan mungkin diplagiat siapa pun," kata Subyantoro yang kini juga menjabat Rektor Universitas Ngudi Waluyo Magelang kepada Beritagar.id, akhir September 2018.

Skripsi Ristin ini diduga diplagiat Prof Fathur Rokhman, dosen pembimbingnya.

Dugaan plagiat membelit Fathur sejak Juni 2018. Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Ristekdikti) bergerak merespons laporan masyarakat dan berita yang beredar terkait dugaan plagiat.

Anggota tim EKA, Prof Supriadi mengatakan, ada 10 dokumen yang telah ditelaah tim. Skripsi Ristin tahun 2001 memberi petunjuk penting ke arah dugaan plagiat Fathur.

"Sepanjang tidak ada bukti baru berupa data penelitian sebelum tahun 2001, tim berpendapat skripsi Ristin adalah karya asli. Tim menemukan data dan substansi sama pada berbagai dokumen karya Fathur dengan skripsi itu," ujar dia.

Beritagar.id, memperoleh sejumlah salinan dokumen dan karya asli yang menjadi objek telaah Tim EKA Kemristekdikti. Untuk membuktikan terjadi tidaknya plagiarisme, Tim EKA bekerja dengan cara menyandingkan skripsi Ristin dengan dua penelitian Fathur.

Dua karya Fathur itu, pertama, naskah yang berjudul “Pilihan Ragam Bahasa Dalam Interaksi Sosial Pada Ranah Agama di Pesantren Banyumas: Kajian Sosiolinguistik.” Karya ini termuat di jurnal Lingua Artistika Fakultas Bahasa dan Seni Unnes Semarang edisi Nomor 2 Tahun XXV Mei 2002 halaman 43-54.

Karya kedua Fathur berupa penelitian yang diajukan ke Lembaga Penelitian Unnes bulan November 2002 berjudul “Pilihan Ragam Bahasa Dalam Interaksi Sosial Pada Ranah Agama di Pesantren Banyumas: Kajian Sosiolinguistik” setebal 35 halaman+vi.

Menurut Tim EKA, pada bagian kesimpulan kedua karya Fathur terdapat kesamaan. Tim melihat adanya keanehan yang ada di poin pertama dan kedua kesimpulan yakni adanya dua objek pesantren yang disebut.

Poin pertama menyebut lokasi penelitian pada Pesantren Al Falah, Kecamatan Sokaraja, Banyumas. Sedangkan poin kedua kesimpulan menyebut objek penelitian di Pesantren (tanpa menyebut Al Falah) Mangunsari, Desa Tinggar Jaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas. Padahal objek kedua karya itu adalah Pesantren Al Falah, Kecamatan Sokaraja, Banyumas.

Kesamaan kedua simpulan di naskah itu persis dengan skripsi Ristin. Termasuk tidak adanya penyebutan Pesantren Al Falah di poin kedua.

Menurut Tim EKA, dua karya Fathur itu pada banyak bagian memiliki kesamaan, mulai dari latar belakang, rumusan masalah, metode penelitian, tuturan pada objek, kesalahan ejaan, hasil penelitian dan pembahasan sampai bagian kesimpulan dan saran.

Anggota Tim EKA, Prof Engkus Kuswarno membenarkan hasil persandingan itu. "Kami juga lakukan kajian. Kurang lebih sama hasilnya. Ada kejanggalan di sejumlah karya yang kami telaah," ujarnya.

Beritagar.id mendatangi pesantren Al Falah, Kecamatan Sokaraja, Banyumas, yang disebut dalam karya Fathur itu akhir September lalu. Entah kebetulan atau tidak, pesantren yang diteliti Ristin juga bernama Al Falah tapi berada di Jatilawang, Banyumas. Tak ada kaitan keluarga antara pesantren Al Falah Sokaraja dengan Al Falah Jatilawang.

Di dalam laporan penelitian Fathur pada 2002, tertulis nama pengasuh pesantrennya yakni KH Muhammad yang wafat 2015. Saat bertamu kami bertandang ke pesantren itu, kami ditemui putra KH Muhammad yakni Kiai Ali Mashad. Dia mengatakan, tak tahu Fathur meneliti di pesantrennya. Pesantren juga tak memiliki salinan dokumen penelitian Fathur.

Seingatnya saat mendampingi KH Muhammad mulai tahun 1997-2005, hanya ada satu penelitian tentang metode mempelajari tata bahasa Arab sekitar tahun 1996. "Saya tidak tahu dan tidak kenal Pak Fathur," kata Ali.

Beritagar.id, mencoba mengonfirmasi ke Ristin dengan mendatangi rumahnya yang beralamat di RT 2 RW 11, Dusun Kalipetung, Desa Kelapa Gading, Kecamatan Wangon, Banyumas. Di halaman rumah tampak dua mobil dan satu sepeda motor terparkir.

Namun saat kami ketuk, tak ada jawaban apapun dari sang pemilik rumah.

Beritagar.id, juga mendatangi tempat Ristin mengajar di SMPN 1 Wangon, Banyumas. Tapi Ristin tak ada di tempat. Informasi yang diperoleh, Ristin cuti hamil.

***

Anggota tim EKA, Prof Engkus Kuswarno mengatakan, sejak dugaan plagiat mencuat Juni lalu, data yang dikumpulkan berkembang. Semula dugaan plagiat Fathur, kata dia, berkutat pada naskah Fathur dan Anif Rida.

Belakangan, Fathur juga dilaporkan melakukan plagiarisme terhadap karya mahasiswa yang pernah dibimbingnya, Ristin Setiyani. Anif dan Ristin merupakan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Unnes. Keduanya mengerjakan skripsi di bawah bimbingan Fathur.

Anif Rida punya dua karya ilmiah. Pertama, Pemakaian Kode Bahasa Dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya Bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas terbit pada proseding Konferensi Linguistik Tahunan (KOLITA 1) Universitas Atma Jaya 17-18 Februari 2003. Kedua, skripsi di Fakultas Bahasa dan Seni Unnes Semarang berjudul Kode Dalam Interaksi Sosial di Pesantren Qur'an: Kajian Sosiolinguistik di Kudus, September 2003.

Sedangkan naskah Fathur yang dianggap menjiplak ada di Jurnal LITERA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2003 halaman 12-26 berjudul Kode Bahasa Dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas.

"Naskah Fathur di Letera dengan naskah Anif itu punya kesamaan hampir 100 persen. Dari pendahuluan sampai daftar pustaka,” kata Engkus.

Belakangan dalam surat pernyataan yang ditujukan ke Ketua Redaksi Jurnal LITERA tertanggal 3 Agustus 2018, Fathur mengaku bahwa dirinya meminjamkan draf karyanya kepada Anif untuk bahan latihan membuat artikel dan presentasi pada konferensi skala nasional.

Dokumen kesimpulan Tim Independen yang dibentuk Kementerian Ristek dan Dikti.
Dokumen kesimpulan Tim Independen yang dibentuk Kementerian Ristek dan Dikti. | Zakki Amali /Beritagar.id

Pengakuan pinjam-meminjam naskah itu juga terungkap dalam hasil kesimpulan Tim Independen tertanggal 27 September 2018. Saat diwawancara Tim Independen, Fathur mengaku ia meminjamkan naskah miliknya kepada Anif. Anif pun mengakui dirinya saat itu menyalin draf tulisan Fathur, mengubah judulnya, mengganti nama penulis, lalu mengirimkan ke KOLITA 1.

Dalam kasus Fathur dan Anif, Tim Independen menyimpulkan bahwa Fathur tidak melakukan tindak plagiarisme. Tindakan Fathur meminjamkan dan mengizinkan Anif menyalin itu, demikian kesimpulan Tim, merupakan tindakan tidak etis secara akademik.

Sedangkan untuk kasus Fathur dan Ristin, Tim Independen menarik kesimpulan berbeda. Dari hasil investigasi, Tim Independen menyimpulkan bahwa Fathur telah melakukan penjiplakan terhadap karya Ristin Setiyani.

Mengkaji perbuatan yang dilakukan Fathur, Tim Independen, menyimpulkan bahwa Fathur telah melakukan perbuatan tidak jujur (fraud) sebagai seorang akademisi. Selain itu, Fathur dianggap tidak memiliki integritas dan etika akademik yang rendah.

Anehnya, meski ada temuan tindak plagiat itu, Kementerian Ristek dan Dikti mengabaikan temuan dua tim yang dibentuknya itu. “Itu tidak relevan,” kata Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir di sela acara penandatanganan nota kesepahaman pembangunan gedung sekolah vokasi di Universitas Diponegoro Semarang, Sabtu (6/10/2018).

Merasa dapat angin segar dari Kementerian itu, Fathur pun akhirnya terpilih kembali menjadi Rektor Unnes untuk periode kedua. “Itu sudah selesai,” katanya menanggapi temuan Tim investigasi itu. “Tuduhan itu terkait dengan politik pemilihan rektor,” ujarnya.

Berita terkait:
Anggota Tim EKA: Itu tergolong penjiplakan
Rektor Unnes, Fathur: Dulu mereka mahasiswa saya
Bukti pamungkas yang terempas

BACA JUGA