Suasana fasilitas telepon seluler di Rumah Jil Belanda, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu siang (13/3/2019).
Suasana fasilitas telepon seluler di Rumah Jil Belanda, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu siang (13/3/2019). Bismo Agung / Beritagar.id
LAPORAN KHAS

Berbagi sinyal para eks begundal

Melarang kepemilikan ponsel bagi narapidana seperti perang yang percuma. Pasalnya, tetap saja ditemukan ponsel selundupan saat inspeksi dilakukan.

Terdengar dentang keras di pintu sel. Para tahanan menoleh. Seorang sipir kemudian membuka kunci sel dan mengisyaratkan jam istirahat dimulai.

Ini saat yang ditunggu Billy Fernando. Ia pun berlari hingga menubruk rekannya saat keluar sel. Merasa keki, Billy meneriakkan nama kemaluan laki-laki untuk rekannya itu, lantas tertawa.

"Soalnya buru-buru mau telepon anak," ujarnya saat bercerita kepada Beritagar.id.

Ia kemudian bergerak melintasi area olahraga dan serangkaian jendela besar sebelum duduk di taman.

Di sana sudah ada lelaki dengan ponsel di telinganya. Namanya Nasrun Djuhadi (45), yang terdengar mengulang perkataan ini terus-terusan: “Saya menyesal, saya menyesal,” kata narapidana (napi) kasus pembunuhan itu kepada lawan bicaranya di ponsel.

Giliran Billy datang. Petugas sipir memanggil dan memberinya ponsel. “Kamu mau telepon siapa?," tanya petugas itu. Billy menjawab bahwa ia ingin menghubungi anak dan istrinya. Petugas lalu mencatat dan ia pun berbincang selama 20 menit.

“Saya bilang kangen ke anak-anak di telepon tadi,” ujar ayah beranak dua ini saat ditemui Beritagar.id di Rutan Kelas I Tanjungpinang, Rabu siang (13/3/2019).

Rutan di Kepulauan Riau ini dikenal dengan nama Rumah Jil. Jil adalah pelesetan dari jeal, bahasa Belanda yang berarti penjara.

Sejak 8 bulan lalu Billy mendekam di penjara berstatus cagar budaya itu. Sabu-sabu mengantarnya masuk bui dengan vonis 7 tahun. “Sudah nasib harus jauh dari keluarga,” ujar mantan pegawai swasta ini.

Sebenarnya banyak tahanan di Rumah Jil bukan penduduk setempat. Termasuk Billy, yang asli Medan. Kebanyakan mereka tinggal puluhan bahkan ratusan mil dari penjara. Sehingga, sebagian keluarga napi belum tentu datang saat jam kunjungan.

Namun, dengan adanya fasilitas ponsel itu, para napi tetap bisa terhubung dengan keluarga mereka. “Saya sering teleponan dalam waktu lama. Karena sinyalnya bagus,” ujar Fadillah Ratna Malarangeng (52), seorang napi korupsi.

Saat awal-awal tinggal di penjara, Fadillah suka kesal. Pasalnya, telepon kerap terputus di tengah percakapan. Putrinya lalu menangis karena tidak mendengar kabar darinya lagi.

Ketika itu penjara memang cuma ada telepon kabel. Gratis. Tapi para napi menganggap kualitas suaranya jelek. “Bunyi kersik-kersik. Sering kesamber petir juga (teleponnya),” ujar Fadillah.

Billy Ferdinand, napi kasus narkoba, bersama rekan-rekannya di Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu siang (13/3/2019). Billy berdiri paling tengah dengan tato kelelawar di dadanya.
Billy Ferdinand, napi kasus narkoba, bersama rekan-rekannya di Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu siang (13/3/2019). Billy berdiri paling tengah dengan tato kelelawar di dadanya. | Bismo Agung /Beritagar.id

Sejak tiga tahun lalu Rumah Jil menambah fasilitas ponsel umum untuk napinya. Fasilitas ini berupa telepon seluler yang cara penggunaannya memakai kartu debit khusus. Kartu itu bisa digunakan dengan terlebih dahulu mengisi saldo dan hanya dapat dipakai di lingkungan penjara saja.

Mekanismenya mudah: sang napi menyebutkan nomor dan status orang yang hendak dituju kepada petugas, lalu ponsel diberikan. "Simpel prosesnya. Asal ada pulsanya aja di kartu he-he,” kata Billy yang mengaku menghabiskan Rp200 ribu per bulan untuk pulsa.

Fasilitas ponsel berada di tengah area penjara seluas 2100 meter persegi itu. Tepatnya dekat taman yang dikelilingi pot bunga. Di sana ada bangku panjang dari beton — tempat para napi duduk dan tiduran. “Ada sekitar 30 ponsel merek Nokia disediakan,” kata Kepala Rutan Kelas I Tanjungpinang, Fonika Affandi.

Yang tak disangka Fonika, fasilitas ini justru menjadi tempat intim sesama napi. Mereka berbagi kisah usai menelepon orang dekatnya. “Kita jadi terbuka dengan teman-teman, untuk ceritakan keluarga dan anak. Jadi merasa bebas, seperti di luar penjara,” kata Nasrun yang divonis 16 tahun bui.

Situasi penjara sebelum ada fasilitas ini cukup rumit. Meski dilarang, ponsel selundupan terus ditemukan. Para sipir kerap menyita puluhan ponsel selundupan. Ponsel itu diketahui dipakai untuk mengendalikan peredaran narkoba, mengintimidasi napi lain, bahkan untuk wawancara dengan media.

Saat itu, solusi yang diambil pihak penjara adalah melarang keras kepemilikan ponsel bagi tahanan. Tapi, kata Fonika, itu seperti perang yang percuma. Pasalnya, tetap saja ditemukan ponsel selundupan saat inspeksi dilakukan. “Setelah ada fasilitas ponsel umum, peredaran ponsel selundupan hampir tidak ada,” ujar Fonika.

Suasana fasilitas telepon seluler di Rumah Jil Belanda, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu siang (13/3/2019).
Suasana fasilitas telepon seluler di Rumah Jil Belanda, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu siang (13/3/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Ponsel di kasur dan dubur

Para napi memiliki metode kreatif untuk menyembunyikan ponsel selundupannya. Sipir Rumah Jil pernah menemukan ponsel itu di bawah kasur, buku berlubang, bahkan di rongga-rongga tubuh.

Menurut Fonika, ada seorang napi menyembunyikan ponselnya di dubur. Untuk membuat duburnya lentur, napi itu diketahui memakai sabun sebagai pelumas. “Modus itu sudah diketahui petugas,” ujar Fonika yang sudah dua tahun mengepalai rutan Rumah Jil.

Sebagai sanksi, napi yang kedapatan menyelundupkan ponsel itu biasanya diisolasi selama satu minggu. "Biar kapok. Tapi enggak kapok juga," kata Fonika.

Dus. Ponsel selundupan sebenarnya tak selalu digunakan untuk tujuan kriminal. Di beberapa kasus, ponsel selundupan digunakan napi untuk menghubungi keluarga mereka. “Tapi tetap saja itu tidak sesuai aturan,” tutur Fonika.

Ia menyebutkan aturan yang dilanggar itu adalah Pasal 4 huruf j Permenkumham 6/2013. Inti aturannya adalah melarang tiap napi memiliki dan menggunakan telepon genggam, laptop, pager dan sejenisnya.

Yang jadi persoalan, ponsel selundupan tetap saja ditemukan. Betapapun sanksinya juga sedemikian keras.

Sepengetahuan Billy, ponsel telah menjadi sama berharganya dengan narkoba. Dalam arti, ponsel juga bisa dibisniskan di dalam sel.

Berbeda dengan penjualan narkoba yang hanya berlaku satu kali. Seorang napi dapat menyewakan ponsel yang sama puluhan kali kepada teman-temannya. “Itu cerita lama. Sekarang enggak ada macam begitu,” kata Billy.

“Setelah ada fasilitas ponsel umum, peredaran ponsel selundupan hampir tidak ada.”

Kepala Rutan Kelas I Tanjungpinang Fonika Affandi.

Kasus-kasus seperti tadi itu yang membuat pihak penjara membuat kebijakan baru, yakni fasilitas ponsel umum.

Alhasil, fasilitas ini efektif untuk mengontrol situasi penjara. Karena, semua panggilan masuk dan keluar dipantau oleh sipir, tanpa harus kucing-kucingan lagi dengan napi.

Para napi juga mengaku senang karena tetap bisa terhubung dengan keluarga. Ikatan ini yang menurut Fonika mengurangi risiko mereka mengulangi perbuatan jahatnya lagi.

“Fasilitas ini juga sekaligus rehabilitasi para napi sebelum kembali ke masyarakat,” tutur Fonika.

Siang itu, Billy hendak masuk sel kembali usai menelepon anaknya. Mengenakan jin belel dan kaus hitam pudar, ia tampak menakutkan. Hampir separuh tubuhnya tertutup tato. “Ada 15 tato. Termasuk kelelawar besar di dada,” ujar pria 26 tahun itu.

Bagi Billy dan para napi, bisa melakukan panggilan telepon dari penjara adalah sebuah privilese. Tapi tetap saja tak ada yang bisa gantikan pelukan anak atau istri.

“Rasa paling sakit adalah bisa mendengar suara anak, tapi enggak bisa menyentuhnya,” kata Billy, yang masih menunggu enam tahun lagi untuk bebas.

Sebagai catatan, meski Rumah Jil adalah rutan, tapi status warga binaannya bercampur. Ada yang berstatus tahanan ataupun napi. Mereka menempati 21 sel dengan ukuran variasi. Sebagian besar berukuran 8 X 5 meter, yang ditempati oleh 395 orang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR