Gerakan masyarakat non partisan #BersihkanIndonesia menggelar aksi teatrikal di lintasan penyeberangan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Kamis (20/12/2018). Aksi tersebut digelar untuk mengajak pemilih milenial memilih pemimpin yang berorientasi jangka panjang dan berpihak pada energi bersih, adil, dan berkelanjutan.
Gerakan masyarakat non partisan #BersihkanIndonesia menggelar aksi teatrikal di lintasan penyeberangan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Kamis (20/12/2018). Aksi tersebut digelar untuk mengajak pemilih milenial memilih pemimpin yang berorientasi jangka panjang dan berpihak pada energi bersih, adil, dan berkelanjutan. Antara Foto / Dhemas Reviyanto Atmodjo
POLITIK MILENIAL

Berebut suara pemilih muda

Generasi milenial menjadi penentu utama dalam Pemilu 2019. Aktor politik dari generasi milenial pun banyak yang muncul ke permukaan.

Bagi Nuralam, debat perdana calon presiden dan wakil presiden pada 17 Januari 2019 seperti kalah pamor ketimbang permainan Mobile Legends dalam telepon selularnya.

Gim arena pertarungan daring multipemain itu membuat Nuralam merasa tak perlu menonton langsung adu gagasan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menjelang Pilpres 2019.

"Debatnya sih nonton, tapi setelahnya di YouTube," ujar mahasiswa semester ketiga asal Depok, Sabtu (26/1/2019).

Nuralam, 20 tahun, termasuk pemilih pemula dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 17 April 2019 nanti. Ia dan jutaan pemilih muda di Indonesia inilah yang kerap disebut sebagai kunci dalam Pemilu 2019.

Beritagar.id menurunkan tulisan berseri mengenai kiprah kelompok milenial pada Pemilu 2019. Gaya berpolitik kelompok milenial. Mengapa milenial penting dalam pagelaran demokrasi lima tahunan ini?

Bagaimana pula sikap politik milenial yang ditemui secara acak? Bagaimana peta kelompok milenial di masing-masing kubu tim pemenangan calon presiden dan wakil presiden? Siapa saja sosok calon anggota legislatif?

***

Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin memberikan tausiah saat  pada acara deklarasi Gerakan Nasional Indonesia Tolak Hoax (Ganas ITH) bersama Santri Milenial Center dan Forum Santri Nasional di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (19/1/2019).
Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin memberikan tausiah saat pada acara deklarasi Gerakan Nasional Indonesia Tolak Hoax (Ganas ITH) bersama Santri Milenial Center dan Forum Santri Nasional di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (19/1/2019). | Raisan Al Farisi /Antara Foto

Generasi milenial. Banyak orang menyebut generasi milenial adalah pemilih pemula dan muda dalam ajang Pilpres 2019. Istilah yang sebenarnya tak pas kalau mengacu pada Pew Research Center, yang sering menjadi rujukan ketika membahas milenial.

Pew Research Center menyebutkan bahwa mereka yang terlahir antara 1981 sampai 1996 adalah generasi milenial, disebut pula generasi Y. Jadi mereka yang berusia antara 23 sampai 38 tahun pada 2019 ini. Orang yang berusia lebih muda dari kelompok milenial ini masuk kategori generasi Z.

Dengan kategori Pew Research Center itu, kelompok milenial tak dapat menjangkau pemilih pemula pada Pemilu 2019 dengan rentang usia 17 sampai 21 tahun. Pemilih pemula berdasarkan usia, bukan sekedar mencoblos untuk pertama kali.

Kategorisasi Pew Research Center itu memang tidak saklek diterapkan, apalagi dalam konteks pemilihan umum di Indonesia. Beberapa lembaga survei membuat kategorisasi berbeda dengan Pew Research Center meski sama-sama menyebut milenial.

Lembaga survei Kelompok Diskusi Kajian Opini Publik (KedaiKOPI) mencatat kelompok milenial 22-36 tahun dan pemilih pemula 17-21 tahun. Bagaimana lembaga ini menetapkan kategori usia?

"Kami membuat sendiri kategori usia itu untuk membedakan dengan pemilih pemula karena tidak ada kesepakatan umum untuk rentang usia milenial ini," kata peneliti KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo, Senin (28/1/2018).

Berdasarkan riset KedaiKOPI yang diolah dari data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa kelompok milenial merupakan pemilih terbesar 37,7 persen pada Pemilu 2019.

Adapun pemilih pemula sebanyak 12,7 persen. Artinya, gabungan kelompok pemilih muda ini lebih dari setengah pemilih di Indonesia.

"Pemilih milenial menjadi signifikan dari sisi jumlah," kata Kunto. "Namun pelajaran dari data Pemilu 2014 yang dirilis oleh KPU, pemilih milenial yang paling banyak tidak pergi ke TPS."

Pemilih milenial, kata Kunto, bukanlah sebuah kelompok koheren. Sama seperti pemilih dari angkatan usia lainnya. Pemegang gelar doktor dari Wayne State University, Amerika ini mengatakan kaum milenial juga beragam secara psikografis maupun aspek sosialisasi politiknya.

Milenial urban, akan berbeda karakternya dengan milenial rural. Apalagi kalau memasukkan status sosial ekonomi. "Kita akan melihat milenial yang berwarna-warni," kata Kunto.

Lembaga survei lainnya menggabungkan pemilih pemula sebagai kelompok milenial. Pada November 2017 lalu, lembaga Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pernah merilis survei di kalangan milenial.

CSIS memilah responden berdasarkan kelompok milenial berusia 17-29 tahun dan nonmilenial di atas 30 tahun.

Ada 600 responden milenial dalam penelitian CSIS itu. Kelompok milenial ini hampir setiap hari mengakses informasi melalui media daring (online).

Dari penelitian itu, diketahui bahwa kegiatan yang menarik minat kelompok milenial adalah olah raga, musik, dan menonton film.

Adapun kelompok nonmilenial (851 responden), lebih tertarik dengan kegiatan beragama, memasak, dan olah raga.

Survei CSIS itu menyimpulkan bahwa pengaruh generasi milenial dalam aspek politik dan ekonomi belum terlalu kuat, namun bila informasi di media sosial semakin dapat dipercaya, akan membentuk generasi yang lebih kuat.


***

Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno menyapa para milineal usai hadir dalam acara dialog dengan milneal Depok, di Margonda, Depok, Jawa Barat, Senin (7/1/19). Sandiaga Uno meminta para milenial untuk menjadi penggerak ekonomi rakyat. ANTARA FOTO/ Kahfie kamaru/ama.
Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno menyapa para milineal usai hadir dalam acara dialog dengan milneal Depok, di Margonda, Depok, Jawa Barat, Senin (7/1/19). Sandiaga Uno meminta para milenial untuk menjadi penggerak ekonomi rakyat. ANTARA FOTO/ Kahfie kamaru/ama. |

Angka tentang pemilih muda sangat menggiurkan bagi politikus. Berdasarkan estimasi yang yang dilakukan oleh Alvara Research Center dari data BPS menunjukkan mereka yang berusia 17-36 tahun berjumlah 85,4 juta jiwa atau 44,6 persen. Pemilih inilah yang kemudian masuk kategori pemilih muda (Gen Z dan Milenial).

KPU telah menetapkan jumlah Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan 2 (DPTHP2) sebanyak 192.828.520 orang Pada Desember 2018 lalu.

CEO Alvara Research, Hasanuddin Ali, dalam keterangan tertulis, menyatakan generasi milenial secara statistik akan menjadi penentu utama dalam pemilu 2019. Bukan saja karena jumlah pemilih dari kelompok generasi milenial yang besar, aktor politik dari generasi milenial pun banyak yang muncul ke permukaan.

Gurihnya jumlah milenial menyebabkan berbagai aktor politik, partai maupun calon presiden dan wakil presidenberlomba-lomba mendekati pemilih muda.

Pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno beradu strategi untuk menggaet suara dari generasi ini.

Ketika Joko Widodo mengumumkan Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presidennya, banyak yang menyoroti suara kaum milenial lari. Sosok Ma'ruf yang sudah menginjak 75 tahun dianggap jauh dari kesan milenial.

Kubu Jokowi pun berkilah bahwa milenial itu bukan masalah umur, tetapi perbuatan dan sikap.

Sebelum pendaftaran calon presiden ke KPU, Jokowi dianggap telah memikat kaum milenial lewat aksi di motor Chopper, penampilan pada pembukaan Asian Games, sampai kegemarannya bermusik.

Sementara Prabowo Subianto menggandeng Sandiaga Uno, pengusaha berusia 49 tahun. Penampilan Sandi yang enerjik dan hobi lari dianggap sangat mewakili kelompok milenial.

Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Jakarta, Hendri Satrio, mengatakan kedua calon sampai saat ini hanya menggunakan jargon milenial, tapi tidak menggunakan cara milenial untuk berkampanye.

"Baru sebatas kulit saja, seperti media sosial atau mendekati diskusi milenial," kata Hendri, Senin (28/1/2019).

Hendri mengatakan peserta pemilihan umum 2019 harus mengeluarkan program yang dapat merangkul kaum milenial. Sebut saja program startup dan memulai bisnis.

Menggaet milenial, kata Hendri bukan sekadar membuat jargon dan berpakaian a la milenial.

Dalam debat perdana 17 Januari 2019 lalu, Hendri menilai pandangan calon presiden dan calon presiden jauh dari kebutuhan milenial.

KPU sebagai penyelenggara pemilu, kata Hendri, juga tidak menggencarkan partisipasi kelompok milenial. Menurut Hendri, KPU dapat melibatkan kaum milenial melalui panelis sehingga pertanyaan terhadap kandidat dapat mewakili kebutuhan milenial.

Hendri mengatakan sulit menggaet milenial apabila pandangan peserta pemilu dan KPU masih sebatas kulit. Padahal, kata Hendri, potensi golput di kalangan milenial sangat tinggi.

Golput alias golongan putih merupakan istilah yang digunakan ketika seseorang yang masuk kategori pemilih, tetapi memutuskan untuk tidak menggunakan haknya untuk memilih salah satu calon dalam pemilu.

Pada Pemilu 2019 ini, KPU menargetkan tingkat partisipasi sebesar 77,5 persen. Meningkat dibanding realisasi partisipasi pemilih dalam Pemilu 2014 yang sebesar 75,11 persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR