Keterangan Gambar : Pengunjung memadati malam pembukaan ajang Biennale Jatim 6 di Balai Pemuda Surabaya, Jawa Timur (11/11/2015)

Ada nuansa baru yang meruap dari ajang Biennale Jatim 6. Bukan sesuatu yang angker dan purba, seperti persepsi masyarakat tentang Biennale Jatim sebelumnya.

Di atas tembok yang berwarna merah seperti gulali, tergambar sebuah infografik tentang alur produksi pabrik gula dan sejarah perlawanan buruh pabrik. Bentuk rupa yang dipilih memperlihatkan sang perupa terpengaruh ilmu rancang grafika yang kuat.

Blabarnya yang terbuat dari kapur mudah sekali terhapus. Ini semacam penggambaran tentang narasi sejarah yang mudah sekali hilang pada sebuah bangsa yang tak pandai merawat ingatan.

Selain mural kapur, karya itu juga dilengkapi dengan instalasi. Rumah-rumah burung yang dicat seperti warna langit, dan awan kapas serupa arum manis, bergelantungan di tengah ruang. Seperti angan-angan utopis, angan-angan yang tak pernah terwujud.

Pencipta karya itu adalah Obed Bima Wicandra, salah seorang perupa yang mengisi Biennale Jatim 6. Karyanya berjudul "Gula Itu Merah, Jenderal!", mengangkat isu 1965 dari sudut pandang buruh pabrik gula Meritjan di Kediri, kota asalnya.

Jika ditelusuri di media sosial, karya Obed adalah salah satu karya yang cukup populer sebagai latar swafoto para pengunjung remaja. Tercatat ribuan gambar dibagikan di media sosial tentang ajang Biennale Jatim 6. Tujuh ribuan pengunjung terdaftar di buku tamu, dan terus menerus datang hingga hari pameran ditutup.

Pagelaran Biennale Jatim 6 kali ini melibatkan 82 orang perupa yang sebagian besar berasal dari Jawa Timur. Sebagian sisanya berasal dari Yogyakarta, Solo, Semarang, Bandung, Bali, dan Australia. Jenis karya yang dipamerkan beragam, mulai dari lukisan, patung, instalasi, pertunjukan, hingga seni media baru. Karena itu istilah perupa lebih tepat digunakan, dari pada pelukis, misalnya.

Karya-karya mereka dipamerkan di dua lokasi yaitu gedung Balai Pemuda Surabaya, di Jl. Gubernur Suryo, dan Emmitan CA Gallery, Jl. Walikota Mustajab, Genteng, Kota Surabaya. Kegiatan di dua tempat yang hanya terpisah 400 meter ini berlangsung pada 11 - 24 November 2015. Durasi pameran tersebut terhitung sempit untuk sebuah peristiwa besar yang hanya dilaksanakan dua tahun sekali.

Karya Obed Bima Wicandra bertajuk "Gula itu Merah, Jenderal!"
Karya Obed Bima Wicandra bertajuk "Gula itu Merah, Jenderal!"
© Ayos Purwoaji /Kontributor

Biennale Jatim kali pertama diselenggarakan pada 2006, dilanjutkan pada 2007, 2009, 2011, dan 2013. Ada nuansa baru yang meruap dari ajang Biennale Jatim 6 pada 2015 kali ini. Bukan sesuatu yang angker dan purba, seperti kebanyakan persepsi yang berkembang di benak masyarakat tentang Biennale Jatim pada tahun-tahun sebelumnya. Melainkan sebuah semangat perayaan dan eksperimentasi khas anak muda.

Dari susunan kepanitiaan dan sukarelawan, kecuali dua kurator Djuli Djatiprambudi dan Kuss Indarto, hampir semuanya tersusun dari anak-anak muda berusia kurang dari 30 tahun. Asy Syams EA, ko-kurator Biennale Jatim 6 yang menjadi pemimpin bagi tim teknis yang bergerak di lapangan, mengatakan bahwa kerja di balik bienial tahun ini nyaris dimulai dari nol.

"Kami tidak pernah mendapat petunjuk, jejak dokumentasi atau bahkan contoh proposal dari penyelenggaraan biennale sebelumnya. Jadi bisa dikatakan kita bergerak dari awal," kata Syams.

Kekurangan itu ternyata bisa menjadi berkah. Anak-anak muda yang ada di balik kepanitiaan pun merumuskan "rasa" bienial menurut definisi mereka sendiri. Sentuhan kebaruan itu nampak mulai dari teknik penyajian karya hingga tata ruang pameran.

"Tahun ini kami juga membuka mekanisme seleksi terbuka (open call) untuk lebih banyak menjaring seniman muda yang berada di luar jangkauan medan seni rupa selama ini," ujar Syams. Mekanisme tersebut banyak berpengaruh pada jumlah seniman muda yang mengikuti bienial.

Ajang yang juga merupakan program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, dan didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, inipun tak lepas dari kritik.

Sebuah pameran dengan tema "Pemuda Binal", ditujukan sebagai kritik atas rencana perhelatan Biennale Jatim 6 yang dianggap tidak memberikan apa-apa untuk masyarakat.

Pameran sejumlah seniman muda itu digelar di galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), di Jl. Gubernur Suryo, 10 November 2015. Di antara butir kritiknya menyebutkan, panitia dinilai tidak siap, dan memaksakan kegiatan itu untuk tingkat provinsi, bukan kota.

Karya Beng Herman, "Under Pressure". Tinta di atas kertas koran, sampah daun kering, instalasi plastik es. Ukuran bervariasi.
Karya Beng Herman, "Under Pressure". Tinta di atas kertas koran, sampah daun kering, instalasi plastik es. Ukuran bervariasi.
© Ayos Purwoaji /Kontributor

Di tengah waktu penyelenggaraan yang mepet, panitia menyiapkan delapan buah lokakarya, seminar, serangkaian acara pararel dan curatorial tour untuk memperlebar jangkauan bienial kepada masyarakat luas. Hal yang belum pernah dilakukan pada penyelenggaraan Biennale Jatim sebelumnya.

Namun hasilnya, pada saat pembukaan ramai seperti pasar malam. Masyarakat datang dari berbagai lapisan. Kakek sembari menggendong cucu, santri bersarung ikut mampir, anak muda datang bergerombol, dan para seniman tua punya tempat untuk reuni.

Pintu masuk dibuka tutup setiap lima menit. Sukarelawan terlihat payah dan kewalahan. Di dalam ruang pamer Balai Pemuda Surabaya, terbentuk antrean pengunjung yang mengular. Pemandangan yang cukup langka, terutama karena Surabaya jarang tersentuh pameran seni rupa berskala besar.

"(Sepertinya) seni rupa di Jawa Timur masih ramah buat publik," ujar Sukma Smita, salah seorang peneliti di IVAA yang hadir pada saat acara pembukaan. Bagi Sukma, tolok ukurnya mudah saja, "...karena bisa dikunjungi oleh semua orang," imbuhnya.

Pernyataan Sukma seperti mengamini pihak panitia. "Tujuan utama penyelenggaraan Biennale Jatim tahun ini sebetulnya sebagai edukasi untuk mendekatkan seni kepada publik," ujar Wahyu Gunawan, Direktur Pelaksana Biennale Jatim 6.

Karena itu, dalam ruang pamer utama, ruangan pertama yang dimasuki pengunjung adalah sebuah lorong panjang yang berisi beragam informasi tentang perkembangan seni rupa modern di Jawa Timur.

Di salah satu sisi dinding, ditampilkan sebuah grafik kronologi yang disusun dari batupal (milestone) perkembangan seni rupa di Jawa Timur dari tahun 1923 hingga 1994. Di sampingnya sebuah papan informasi menyajikan arsip penerbitan buku dan majalah yang ditulis oleh pelaku, sejarawan dan penelaah seni yang memperlihatkan dinamika wacana seni rupa di Jawa Timur.

Masuk lebih jauh ke dalam, pengunjung menemukan empat buah televisi yang memutar dokumenter singkat 14 seniman yang dianggap penting dan memberikan pengaruh dalam ekosistem seni rupa di Jawa Timur, sekaligus dipajang karya-karya yang mewakili para perupa tersebut. Di antara mereka adalah Makhfoed dan Dwijo Sukatmo yang merupakan eksponen Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera).

Kurator Biennale Jatim 6, Djuli Djatiprambudi, dalam esainya menulis bahwa tema bienial tahun ini merupakan sebuah upaya memahami ekosistem seni rupa di Jawa Timur melalui logika pertumbuhan yang ada di masing-masing daerah. Melalui pemahaman tersebut, didapat sebuah sosok pertumbuhan seni rupa yang memiliki kekhasan, baik dalam bingkai wacana, praktik, hingga dimensi historisnya.

Sosok itu menjadi cermin dinamika seni rupa di Jawa Timur, yang harus dibaca sebagai sebuah narasi majemuk dan bergerak sejajar. Setiap kota memiliki konteks dan keunikan masing-masing. Perupa dari Batu, Malang, bisa menghasilkan corak kreativitas yang berbeda dari perupa Banyuwangi, Trenggalek, maupun Surabaya.

"Maka sepatutnya Biennale Jatim tahun ini harus dipahami sebagai sebuah upaya untuk menulis sejarah seni rupanya sendiri," ujar Djuli.

Karya Agus Koecink, "Dadi Lakon Kok Kalahan" medium drawing, instalasi, video dokumentasi. Ukuran bervariasi.
Karya Agus Koecink, "Dadi Lakon Kok Kalahan" medium drawing, instalasi, video dokumentasi. Ukuran bervariasi.
© Ayos Purwoaji /Kontributor

Ajang inipun sukses mempertemukan perupa dari berbagai generasi. Seperti kisah Mas Dibyo, salah satu perupa yang turut menampilkan karya di Biennale Jatim 6.

Mas Dibyo ingat betul, suatu hari pada pertengahan 2009, seorang anak SMA berseragam putih abu-abu menghampirinya dengan antusias di sebuah pameran. Selapis senyum tak bisa lepas, jauh di dalam tatapan mata anak itu ada semangat yang mengeras. Pemuda yang datang jauh dari Bangkalan itu mengatakan ingin masuk jurusan seni rupa. Anak muda itu bernama Suvi Wahyudianto.

Selang beberapa tahun setelah pertemuan tersebut, mereka bertemu lagi. Mas Dibyo dipilih sebagai salah satu seniman tonggak yang berpengaruh di daerahnya, sedangkan Suvi, mahasiswa semester sembilan Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) itu, mendapat peruntungan melalui aplikasi open call yang ia kirimkan.

Mas Dibyo memajang sebuah serial karya berjudul "Malima" di atas kanvas sepanjang 15 meter. Karya figuratif itu menampilkan sosok-sosok dengan proporsi memiuh dengan warna-warna bumi yang berlapis sehingga memberikan dimensi dan kedalaman. Karyanya bercerita tentang ajaran tua untuk menghindari lima perbuatan tercela: maling, madon, madat, main, dan minum.

Maling, untuk perbuatan mencuri; madon untuk perilaku berganti-ganti pasangan kencan; madat untuk penyalahgunaan narkoba; main untuk bermain judi; dan minum maksudnya untuk kebiasaan minum-minuman beralkohol.

Untuk keikutsertaannya dalam bienial kali ini, Suvi menampilkan proyek monoprint berjudul "Sapirin Mancelat" yang banyak mengambil studi antropologis tentang budaya sapi dan manusia Madura. "Itu adalah entitas yang lekat dengan memoriku sejak kecil, dan aku menjadikan sapi sebagai metafora yang tidak ada habisnya untuk berbicara tentang masyarakat Madura," ujar Suvi.

Selain Suvi, perupa muda lain yang ikut serta adalah Justian Jafin Rocx W. Ia menampilkan karya yang cukup intens mengenai ayahnya, "Tribute to Supar Pakis", melalui medium found object yang khas; piring keramik, potongan kayu lapuk, dan bingkai lukisan bekas. Melalui tangan dingin Jafin, benda-benda tersebut diolah dan disusun hingga menyerupai altar peringatan bagi ayahnya.

Menariknya, di sela batasan primordial itu, Jafin masih bisa berkelit dan bermain-main dengan kata dan idiom yang kaya. Karyanya pun dapat dibaca dengan lebih luas lagi. Coba tengok sebuah bingkai bertuliskan "Tanah ini milik Gusti Allah" yang menyentil.

Found object merupakan medium yang dieksplorasi Jafin baru-baru ini. Sebelumnya, ia menggunakan medium yang sama untuk pameran iObserve di Jogja Contemporary dan mendapat sambutan baik oleh pengunjung. Medium inilah yang kemudian menjadi signature (karya penanda) khas Jafin.

Karya Mas Dibyo, sebuah serial karya berjudul "Malima" di atas kanvas sepanjang 15 meter
Karya Mas Dibyo, sebuah serial karya berjudul "Malima" di atas kanvas sepanjang 15 meter
© Ayos Purwoaji

Sentuhan lain, datang dari kolektif WAFT-Lab yang tampil membawa new media art bersama Benny Wicaksono dan Julian Abraham Togar. Karya ketiganya menjadi sebuah penekanan yang pas untuk membaca ekosistem lain dalam seni rupa di Jawa Timur.

Sebagai sebuah komunitas, WAFT-Lab terbentuk tujuh tahun lalu. Mereka berfokus pada pengembangan dan lokakarya untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan perpaduan antara seni dan teknologi. Kerja-kerja WAFT-Lab sebetulnya sudah merambah regional Asia Tenggara. Namun di Surabaya, jejak mereka belum mengakar kuat.

Pada bienial, WAFT-Lab menampilkan rangkaian instalasi interaktif--dua buah LCD dengan visual permainan pong, dua buah pengeras suara, enam perangkat sirkuit elektronik, dan sebuah sensor pelacak gerakan--yang memicu bunyi noise (berisik) yang dapat direspons pengunjung.

Berbeda dari karya WAFT-Lab yang hingar bingar, karya Iqi Qoror justru menawarkan sebuah jeda yang mencekam. Dalam sebuah ruangan seluas 4x4 meter persegi, yang dindingnya dicat hitam, Iqi menggantung enam bingkai lukisan hitam berbagai ukuran. Dari jauh, bingai-bingkai tersebut membidangi ruang hampa.

Tapi jika didekati, sebetulnya ada gurat-gurat lembut putih dan merah yang bisa ditangkap mata meski tak kentara. Di tengah ruangan, Iqi menggantung sebuah awan kertas berwarna marun. Di bawahnya berbaring tiga kaki bersepatu pantofel.

Awan berwarna merah itu seperti sebuah kesadaran dan perhitungan-perhitungan matematis yang kompleks. Sebuah cara kerja otak yang menerima respons dari kerja indera. Padahal ketika indera dimatikan, pikiran rasional dipinggirkan, justru terbuka intuisi untuk menikmati ekstase di bawah ambang batas kesadaran yang tercipta.

"Bagiku karya ini sebagai sebuah peristirahatan. Penonton dipaksa untuk melepaskan perhitungan rasional dan menikmati karyaku secara intuitif," kata Iqi. Intuitif, bisa dimaknai lebih mengandalkan perasaan, bukan sekadar hitung-hitungan logika.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.