Peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2019 di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (13/4/2019). Berdasarkan data Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), jumlah peserta UTBK 2019 gelombang pertama di Indonesia sekitar 698.505 peserta.
Peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2019 di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (13/4/2019). Berdasarkan data Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), jumlah peserta UTBK 2019 gelombang pertama di Indonesia sekitar 698.505 peserta. Didik Suhartono/aww. / ANTARA FOTO
PENDIDIKAN TINGGI

Berkompetisi cari perguruan tinggi negeri

Besar kecilnya peluang lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri ditentukan dari jumlah daya tampung, peminat, dan rentang skor ujian para pendaftar. Semakin tinggi skor, semakin tinggi peluang lolos.

Ana (18), lulusan SMAN 36 Jakarta, sibuk menunjukkan skor Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dari laman komputer saat ditemui di Perpustakaan Universitas Indonesia, di Depok, Senin (24/6/2019). Ia tak bisa menyembunyikan kecemasan lantaran skor yang diperoleh kecil, 553.

“Stres juga, ujian tahun lalu saya sudah gagal. Tahun ini saya lebih berhati-hati dan belajar, memperkaya soal-soal. Saya sengaja gap year (jeda sekolah) untuk belajar,” ujar Ana kepada Beritagar.id.

Tahun lalu, nilai ujian Ana tak cukup mengantarnya menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada atau Universitas Padjajajaran (Unpad).

Berbeda dengan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018, kali ini para peserta menjalani ujian terlebih dulu baru menentukan pilihan kampus.

Skor ujian digunakan untuk menentukan jurusan. Semakin tinggi skor maka semakin tinggi kesempatan untuk lolos perguruan tinggi yang diinginkan. Mereka yang skornya kecil akan tersisih dengan sendirinya jika daya tampung sudah terpenuhi.

Meski demikian, tak semua peserta ujian memutuskan untuk mendaftar SBMPTN.

“Dari 780.804 orang peserta UTBK yang eligible, hanya 701.073 orang yang mendaftar,” ujar Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Ravik Karsidi, melalui pesan singkat.

Perasaan was-was menghantui Ana karena tak bisa mengetahui skor peserta UTBK lainnya. Artinya, dia tak dapat memperkirakan ketatnya kompetisi suatu jurusan.

Untuk menguji apakah skornya cukup kompetitif dengan pesaing lain, ia menggunakan jasa penghitungan peringkat dari portal seperti Youth Manual, Eduka, dan Pantau Nilai.

“Semakin banyak daya tampung, semakin ada kemungkinan masuk. Dilihat juga jumlah peminatnya,” katanya.

Siang itu, Ana mengunggah hasil skor UTBK ke tiga portal tersebut dan memilih jurusan yang dia daftar. Kegagalannya tahun lalu membuat ia berpikir rasional dan tak mau nekat memilih kampus populer: “yang penting bisa sekolah di perguruan tinggi negeri di Jawa.”

Pilihan pertamanya jatuh pada Akuntansi UPN Veteran Jawa Timur, lalu Ilmu Hukum UIN Walisongo Semarang untuk pilihan kedua.

Meski jasa penghitungan tersebut tak sepenuhnya akurat karena tidak menunjukkan realitas pendaftar di kampus tertentu, buat Ana simulasi penghitungan tersebut membuat ia bisa bernafas lebih lega.

Youth Manual dan Eduka menyatakan ia lolos untuk jurusan Akuntansi di UPN Veteran Jawa Timur. Tapi, tidak dengan portal Pantau Nilai yang menunjukkan nilainya tak cukup kompetitif dibanding pendaftar lain di kampus tersebut.

“Ini untuk meminimalisir kemungkinan terburuk kalau tidak diterima di perguruan tinggi negeri. Jadi harus dihitung (rasionalisasi),” katanya. Nasib Ana sesungguhnya akan ditentukan saat pengumuman pada 9 Juli 2019 nanti.

Menurut data LTMPT Kemenristekdikti, satu kursi untuk program Akuntansi di UPN Veteran Jawa Timur diperebutkan 17 pendaftar pada 2018. Jumlah daya tampung cukup besar, yakni 88 kursi dengan peminat yang tak banyak, 1.498 pendaftar.

Tingkat persaingan relatif sama dalam tiga tahun belakangan. Pada 2017, satu kursi program tersebut diperebutkan oleh 17 anak, sementara pada 2016 diperebutkan 15 anak dengan jumlah peminat 1.755 pendaftar dengan daya tampung 116 kursi.

Persaingan ketat

Kisah Hana bisa jadi rujukan: pendaftar medioker menghindari kampus populer seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, atau Institut Teknologi Bandung karena kompetisi yang ketat. Alhasil, mereka cenderung memilih kampus lain dengan asumsi jumlah daya tampung yang tinggi dan persaingan skor yang lebih rendah.

Analisis Beritagar.id terhadap daya tampung dan peminat untuk 228 jurusan dalam empat tahun terakhir menunjukkan jurusan dengan jumlah pesaing per kursi terbanyak, atau lebih dari 100 pendaftar, justru kampus yang tak masuk 10 teratas versi Kemenristekdikti.

Di rumpun sosio humaniora (soshum), empat jurusan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) banjir pesaing per kursi. Misalnya, satu kursi di jurusan Ilmu Komunikasi UNJ yang baru dibuka pada 2018 diperebutkan oleh 315 pendaftar.

Jurusan lain yang selalu menjadi langganan 10 pesaing terbanyak adalah Manajemen dan Akuntansi. Pada 2018, satu kursi di jurusan Akuntansi diincar oleh 106 orang sementara Manajemen yakni 158 orang. Yang tak kalah sepi persaingan adalah jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, 214 orang.

Sementara itu, di rumpun sains dan teknologi (saintek), Ilmu Komputer UNJ menjadi primadona, diperebutkan 148 orang pada 2018 lalu.

Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru UNJ, Ifan Iskandar, mengatakan pola tersebut terjadi karena dua hal. Pertama, biaya pendidikan di UNJ yang relatif lebih murah dibandingkan dengan PTN populer lainnya menjadi daya pikat tersendiri.

Dari situs unjkita.com, biaya kuliah untuk rumpun soshum tahun ajaran 2018/2019 berkisar dari Rp500 ribu untuk kelompok I, Rp3 juta sampai Rp4 juta untuk kelompok III hingga yang termahal yakni Rp10 juta untuk kelompok VIII.

Sementara rumpun saintek yakni Rp2,7 juta hingga Rp4,5 juta untuk kelompok III hingga termahal Rp10,3 juta untuk kelompok VIII.

Alasan lain yakni akses. “Secara geografis, UNJ lebih mudah di akses dari pada yang lain. Lokasinya di kota Jakarta,” ujar Ifan ketika ditemui di kantornya pada Rabu (26/9/2019).

Selain UNJ, kampus lain dengan jumlah peminat banyak meski daya tampung sedikit yakni Teknik Informatika, Universitas Tanjungpura (120 pesaing untuk satu kursi), Teknik Informatika Universitas Halu Oleo (100 pesaing),

Meski jumlah persaingan untuk tiap kursi tak sebanyak di kampus UNJ, kampus populer seperti Unpad, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung tak sepi peminat.

Kedokteran Unpad menjadi primadona di rumpun saintek. Peminatnya membeludak, 6.513 pendaftar per 2018 dengan daya tampungnya juga relatif tinggi yakni 150 orang. Jumlah pendaftar di jurusan yang sama di Universitas Sebelas Maret dan Universitas Hasanuddin masing-masing yakni 5.658 pendaftar dan 5.335 pendaftar.

Di rumpun soshum, Hukum menjadi incaran banyak orang dengan daya tampung yang relatif lebih banyak. Misalnya, Hukum Unpad menerima 228 orang pada 2018 dan 191 orang pada 2019. Pendaftar pada tahun lalu mencapai 5.898 orang.

Kualitas calon mahasiswa

Besar kecilnya peluang lolos seleksi dengan penghitungan daya tampung tinggi tak menjamin kualitas calon mahasiswa. Skor nilai ujian dengan konsistensi menjawab soal lah yang menentukan kualitas mahasiswa baru. Tiap program studi di kampus masing-masing akan mengambil pendaftar dengan skor tertinggi.

Dosen Kebijakan Pendidikan di Universitas Malaya, Malaysia, Bambang Sumintono, menjelaskan sistem penilaian yang digunakan pada SBMPTN menguji kemampuan memecahkan masalah, menganalisis data, dan mengomunikasikan hasil riset.

“Sistem penilaian ini menggunakan Item Response Theory, yang dilihat bukan hanya skor tapi profil kemampuan peserta tes di setiap universitas, bahkan program studi,” kata Bambang ketika dihubungi Beritagar.id.

Cara kerjanya, permodelan yang diterapkan bisa mengidentifikasi soal mana yang dianggap mudah, sedang, dan sulit oleh peserta seleksi. Semakin tinggi tingkat kesulitan maka skor yang didapat untuk jawaban benar akan lebih tinggi.

“Untuk melihat konsistensi, kalau ada satu peserta ternyata skor benar 20 persen dan dari yang benar tersebut, ada satu soal yang tingkat kesulitannya tinggi. Artinya, bukan karena pintar tapi karena dia main tebak-tebakan,” ujarnya.

Sementara, jika ada peserta dengan skor benar mencapai 80 persen, tetapi dia salah untuk soal yang mudah, maka dianggap dia orang yang tidak teliti.

Idealnya, sistem ini dianggap menguntungkan bagi calon kampus. Ifan Iskandar menjelaskan UNJ akan diuntungkan kalau memilih pendaftar dengan nilai tertinggi.

“Mereka yang lulus adalah mereka yang trampil mengerjakan tes, berarti inputnya adalah orang yang terampil mengerjakan soal. Otomatis hasilnya akan lebih baik,” kata Ifan.

Dari penelitian yang dilakukan internal UNJ, mahasiswa yang lolos jalur seleksi SBMPTN memiliki rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) lebih tinggi ketimbang mahasiswa yang lolos jalur lain seperti SNMPTN atau ujian mandiri.

“Asumsinya karena proses seleksi lebih ketat maka kualitas mahasiswa lebih baik dan kecenderungan rata-rata IPK lebih tinggi meski tidak signifikan, tidak lebih dari 0,5,” tutupnya.

Harapannya, UNJ tak sekadar tinggi peminat tetapi kualitas pendaftar pun tinggi.

*Catatan redaksi: ada perubahan nama narasumber menjadi Ana.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR