Para penggemar dan pecinta berlian menyambut antusias dibukanya Wisata edukasi Indo Wisata Permata (IWP) di kawasan Komplek Citra Green Blok N No-1-10, Kota Bandung.
Para penggemar dan pecinta berlian menyambut antusias dibukanya Wisata edukasi Indo Wisata Permata (IWP) di kawasan Komplek Citra Green Blok N No-1-10, Kota Bandung. untuk Beritagar.id / Huyogo Simbolon

Berlian, Sang Tak Terkalahkan

Nama batu ini berasal dari adamas, kata Yunani yang artinya “Tak Terkalahkan”. Lalu menjadi lambang kekuasaan dan keabadian.

Indonesia pernah terkenal karena berlian. Salah satu intan atau materi berlian terbesar di dunia, ditemukan di Indonesia. Intan itu ditemukan pada 26 Agustus 1965 oleh H. Madslam dkk di pendulangan intan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Banjar (sekarang Kota Banjarbaru), Kalimantan Selatan. Presiden pertama RI, Soekarno, menamainya Intan Trisakti pada 2 September 1965.

Beratnya mencapai 166,72 karat sebelum dipotong di Amsterdam, Belanda. Karena tak mampu mengolah sesuai standar kualitas intan dunia, Intan Trisakti dipotong oleh JI Asscher & Co Amsterdam dan dibagi menjadi beberapa bagian. Intan bertipe IIa itu, tidak mempunyai pengotor, memiliki struktur yang sempurna, dan bersinar alami. Sayang nasibnya kini tak jelas.

Kini, pengetahuan tentang pengolahan intan menjadi berlian, bisa didapat di Indonesia. Salah satunya di wahana wisata berlian Indo Wisata Permata (IWP), di Kota Bandung, Jawa Barat. Tempat wisata ini menawarkan edukasi pembuatan berlian secara paripurna.

Di tempat seluas hampir satu hektare ini, wisatawan akan dipandu saat masuk ke ruangan pengolahan berlian. Para pemandu dengan hangat dan ramah menjelaskan proses produksi berlian dari material mentah (rough diamond) hingga menjadi berlian melalui teknologi laser sampai menjadi berlian kualitas teratas yakni excellent.

Pengunjung pun dapat menjelajahi tiap lorong ruangan berdinding kaca yang di dalamnya sudah ditempatkan beberapa staf berpakaian putih ala dokter. Mereka tampak sibuk mengerjakan material mentah batu permata.

Para pekerja itu menggunakan alat mutakhir yang didatangkan dari India dan Rusia. Alat-alat ini digunakan dalam pengolahan dan pembentukan berlian. Setelah puas melakukan perjalanan wisata berlian, pengunjung bisa mengunjungi galeri IWP. Di sini terpajang berbagai berlian di etalase dengan harga Rp1 juta hingga miliaran rupiah.

Buka setiap hari, untuk masuk ke wahana ini pengunjung akan membayar voucher seharga Rp50.000. Selain sebagai tanda masuk, voucher tersebut juga dapat digunakan untuk potongan harga bagi pengunjung yang membeli berlian. Apabila tak membelipun pengunjung dapat menukar voucher dengan makanan dan minuman di kafe ataupun resto yang disediakan.

Untuk menuju ke IWP, pengunjung hanya memerlukan waktu 5 menit dari terminal Dago. Wisata edukasi berlian ini terletak di Perumahan Citra Green, Blok N No.1-10, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat. Dengan mengangkat wisata berlian, konsep wisata ini menjadi yang pertama di Asia.

Kehadiran IWP diklaim untuk memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang proses sebenarnya sebuah batu intan (rough diamond) yang diolah secara baik dan benar hingga menghasilkan kualitas terbaik.

"Pengunjung datang dan tidak harus membeli. Namun, mereka dapat pengalaman melihat proses pembuatan berlian dari awal hingga akhir. Berlian itu pada akhirnya bisa dilihat di etalase," ujar Presiden Direktur IWP, Yudi Yopi Mesa (50) kepada kontributor Beritagar.id, Huyogo Simbolon, Minggu (21/2/2016).

Menurut Yudi, bahan mentah ia dapatkan dari Kalimantan. Meski diakui di dunia, selama ini penggosokan batu permata dilakukan dengan pola konvensional.

"Saya pikir kenapa tidak dikerjakan dengan cara yang modern dan baik," ungkap Yudi seraya menambahkan dirinya dibantu para tenaga terlatih dalam mengolah batu permata menjadi berlian.

Dengan pengolahan yang masih dilakukan secara tradisional, kualitas berlian tersebut akan kalah bersaing dengan berlian dari Afrika yang sudah lebih dulu terkenal. Padahal, menurut Yudi, intan asal Kalimantan punya kelebihan.

"Dari segi kematangannya berlian Kalimantan lebih baik. Setelah digosok itu pancaran sinarnya sangat baik. Menurut saya, cahaya yang dari Kalimantan ini lebih baik," ucapnya.

Indo Wisata Permata sebenarnya sudah dikenal sebagian masyarakat pada awal Januari 2016. Namun, baru dibuka untuk umum pada 14 Februari lalu. Salah seorang pengunjung, Winda (25) mengakui tempat wisata ini berbeda dengan datang ke toko berlian.

"Di sini kita bisa mengetahui secara langsung proses pembuatan berlian dari awal sampai akhir. Sangat berbeda," tuturnya. "Pengetahuan mengenai berlian di sini lebih lengkap, tidak semata seperti datang ke toko berlian," timpal pengunjung lainnya, Mutia (35).

Pengunjung menyaksikan langsung proses pengolahan berlian di IWP. Pengunjung diharpakan mendapat pengetahuan yang baik tentang tahap demi tahap pembuatan berlian.
Pengunjung menyaksikan langsung proses pengolahan berlian di IWP. Pengunjung diharpakan mendapat pengetahuan yang baik tentang tahap demi tahap pembuatan berlian. | Huyogo Simbolon /untuk Beritagar.id

Tak sekadar batu mulia

Sebelum masuk etalase toko perhiasan, berlian telah melalui banyak proses pengolahan agar memiliki kualitas terbaik. Maka tak heran bila naturalis Romawi, Pliny, sampai-sampai menyatakan, "Berlian adalah yang paling berharga. Tidak hanya dari batu mulia, tetapi segala sesuatu di dunia ini."

Nama batu transparan ini berasal dari adamas, kata dalam bahasa Yunani yang artinya "Tak Terkalahkan". Lalu dikenal sebagai lambang keabadian dan kekuasaan. Ide menggunakan berlian sebagai cincin pertunangan, sudah lahir sejak 1477. Kala itu, Archduke Maximilian dari Austria memberikan sebuah cincin berlian kepada Mary dari Burgundy.

Penggunaannya kian populer setelah pada 1939, perusahaan berlian ternama asal Luksemburg, De Beers, membuatkan iklannya. Mereka menjadikan berlian untuk mengukur besar-kecilnya perasaan cinta seseorang. Perusahaan yang dibangun sejak 1888 oleh Cecil Rhodes, meminta perusahaan pemasaran, N.W. Ayer and Company, memasarkan berlian dengan slogan "...semakin besar dan bagus berlian, semakin besar pula kadar cinta seseorang..."

Intan sebagai materi dasar berlian terbentuk di dalam bumi dengan panas dan tekanan yang ekstrem. Batuan keras namun transparan ini diangkut ke permukaan bumi melalui letusan vulkanik. Keberadaannya jauh sebelum dinosaurus ada di bumi ini. Intan berusia muda diyakini berusia sekitar 900 juta tahun dan tertua sekitar 3,2 miliar tahun yang lalu.

Di India, intan dikumpulkan dari sungai dan aliran air di negara tersebut oleh penduduk setempat. Endapan aluvial yang besar dari batu mulia ini dapat ditemukan di sepanjang sungai Penner, Krishna dan Godavari. Beberapa sejarawan memperkirakan bahwa di India telah memulai perdagangan intan pada awal abad ke-4 SM.

Berdasarkan keterangan dari Gemological Institute of America (GIA)--sebuah otoritas berlian di dunia--sebagian besar batu-batu tersebut awalnya dibawa di sepanjang jaringan rute perdagangan yang menghubungkan India dan Tiongkok, umumnya dikenal sebagai Jalan Sutra. Sumber daya alamnya menghasilkan jumlah terbatas untuk pasar yang sama terbatas: hanya untuk kelas orang kaya di India.

Lalu, secara bertahap berlian di India mulai melakukan perjalanan ke pasar Eropa ketika abad pertengahan di Venesia, Italia. Baru pada sekitar tahun 1400-an, berlian menjadi aksesoris modis untuk elite Eropa. Pada awal 1700-an, karena pasokan berlian India mulai menurun, Brasil muncul sebagai sumber penting penghasil berlian.

Sedangkan pertambangan berlian modern, dimulai pada abad ke-19 di Afrika Selatan. Saat ini, sekitar 80 persen intan kasar diperoleh dari tambang yang terletak di Botswana, Afrika Selatan, Rusia, Angola, Namibia, Australia, dan Republik Demokratik Kongo.

Sebelum menjadi berlian seperti yang ada sekarang ini, benda yang lekat dengan kaum hawa ini melewati serangkaian proses panjang termasuk perencanaan, pembelahan, pengasahan, dan penggosokan. Seluruh proses itu dilakukan secara manual dilakukan oleh perajin berlian.

Mulai pada abad ke-17, pengolahan berlian sudah mulai menggunakan tenaga manusia. Alat pemotong yang digunakan sudah menggunakan bahan intan pada bagian tajamnya, sehingga sanggup digunakan untuk memotong batu berlian. Baru pada abad ke-21 teknik pengolahan berlian sudah memakai teknologi laser yang menggantikan peralatan sebelumnya.

Untuk memudahkan menakar kualitas intan, terutama dilihat dari kandungan karbon, materi utama intan. Intan murni pada dasarnya hanya terdiri dari elemen karbon. Pembeda kualitas intan, akan dilihat dari keberadaan unsur lain, terutama Nitrogen (N) dan Boron (B). Tipe I adalah intan yang tercampur N dengan kadar tertentu, dan Tipe II adalah intan tanpa campuran N sama sekali.

Tipe I terbagi lagi menjadi Tipe Ia, yang biasanya mengandung unsur nitrogen dan pada umumnya berwarna semu kuning sangat muda hingga agak tua. Tipe ini adalah yang paling banyak ditemukan. Tipe Ib, merupakan intan yang mengandung satu unsur nitrogen dan biasanya berupa fancy yellow diamond.

Sedangkan Tipe II juga dibagi dua lagi. Tipe IIa, adalah intan yang bebas dari kandungan unsur N, umumnya berwarna putih, ada pula yang berwarna cokelat. Sedangkan Tipe IIb yang sangat langka, mengandung unsur B dan umumnya berwarna biru.

Konsep IWP memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang proses sebenarnya sebuah batu intan (rough diamond) diolah secara baik dan benar hingga menghasilkan kuaitas terbaik namun dengan harga yang relatif murah.
Konsep IWP memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang proses sebenarnya sebuah batu intan (rough diamond) diolah secara baik dan benar hingga menghasilkan kuaitas terbaik namun dengan harga yang relatif murah. | Huyogo Simbolon /untuk Beritagar.id

Lebih produktif dengan mesin laser

Kehadiran teknologi laser dalam pengolahan berlian menggantikan mesin konvensional membuat pengolahan berlian lebih produktif. Mesin milik galeri Indo Wisata Permata (IWP) mampu menghasilkan berlian dengan total berat 500 karat per bulan.

Salah seorang staf IWP, Sarfaraz (50), mengatakan untuk membuat berlian dari bahan mentah dengan potongan 1 karat hanya membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit. "Itu dengan kondisi baru pada 80 persen. Sisanya, melalui skill pada gosokan agar terlihat faceting-nya. Untuk bahan 1 carat bisa satu sampai dua hari selesai," paparnya.

Sebelum melakukan pemotongan berlian, Sarfaraz menjelaskan, dirinya memilah dulu bongkahan batu mulia. Butiran batu mulia itu diberi cairan putih dan dimasukkan ke mesin untuk dibentuk pola berlian menggunakan komputer agar mengetahui bentuk akhir seperti yang diinginkan.

Operator di ruangan yang sudah terhubung dengan komputer menampilkan grafis guna mencocokkan desain yang telah ditetapkan. Tahap selanjutnya memotong batu dengan laser mengikuti pola yang sudah ditetapkan menggunakan komputer. Mesin pemotong laser ini berfungsi untuk menggergaji, membentuk, memblokir, dan proses 4P.

Setelah selesai proses di atas, batu dibawa ke mesin robot penjepit untuk membentuk batu menjadi berlian. Selanjutnya berlian digosok hingga mengkilap dan sempurna. Tahap terakhir dari proses pembentukan berlian ialah pemolesan.

Dengan menggunakan mesin laser, Bharat mengakui pengolahan berlian kasar menjadi berlian dapat dilakukan dengan sangat tepat dan akurat. Selain itu, mesin tersebut dapat meningkatkan produktivitas.

Akurasi dalam pemotongan berlian sangat penting, karena bisa menentukan kualitas. Standar kualitas yang baru ditemukan pada akhir abad ke-20, diprakarsai oleh GIA (Gemological Institute of America). Standar itu meliputi: Color, Clarity, Cut, dan Carat atau disebut pula 4Cs of Diamond Quality.

Brosur standar pengukuran berlian
Brosur standar pengukuran berlian | Gemological Institute of America (GIA)

Color, atau warna, ditentukan berdasarkan nilai skala warna. Semakin tinggi skala warnanya, semakin rendah harganya. Menurut GIA, kisarannya antara tanpa warna (colorless) sampai kekuning-kuningan (light). Berlian yang benar-benar tanpa warna sangatlah langka.

Clarity, atau kejernihan, mengukur berdasarkan jumlah mineral pencemar, lokasi pencemar, ukuran pencemar, warna pencemar, dan jenis mineral pencemar yang ada di dalam berlian. Semakin jernih semakin mahal, karena semakin langka.

Cut, atau kesempurnaan potongan berlian akan menentukan pantulan sinar dari berlian tersebut. Skala potongan menurut GIA adalah poor, good, very good, dan excellence. Karena itu teknik pengolahan menjadi penting karena penentu kualitas berlian.

Carat, atau satuan berat berlian. Satu karat setara dengan 0,2 gram atau 200 mg. Berlian dengan ukuran karat lebih besar tidak selau berarti lebih baik. Kualitas yang lebih tinggi tetap dilihat berdasarkan tiga kriteria lainnya. Berlian kecil mungkin lebih bernilai karena kualitasnya.

Bharat tak sendiri dalam mengolah berlian. Dia dibantu tiga tenaga ahli lainnya yang juga berasal dari Kota Surat di India. Surat dikenal sebagai kota Berlian karena banyak pabrik-pabrik besar dan kecil yang dilengkapi dengan mesin berteknologi canggih serupa dengan yang ada di pusat pemotongan di seluruh dunia. Sekitar 90 persen bongkahan intan yang ada di dunia, proses pemotongan dan pemolesannya dilakukan di Surat.

Selain terkenal dengan penghasil berlian, India juga memproduksi mesin laser dan pemotongan berlian. Sahajanand Technologies Ltd salah satu produsen mesin tersebut. Produk asal India tersebut di antaranya Magnus Digital dan Magnus Ace untuk mesin perencana. Sedangkan untuk mesin pemotong ada Lazer NXT, Lazer Duo, Super Green, Lazer Super 9E, dan Lazer Super 9.

Yudi Yopi Mesa, pemilik IWP, mengatakan alasan dirinya mempekerjakan Bharat dan tiga asistennya asal India untuk mempertahankan kualitas intan yang menjadi bahan baku berlian kualitas tinggi.

"Mereka memang ahli di bidangnya. Mereka sudah puluhan tahun bergelut di berlian. Begitu juga bagian operatornya," terang pria yang sebelumnya menjadi pengusaha obat-obatan tradisional ini.

Secara keseluruhan, ungkap Yudi, dirinya mempekerjakan 80 karyawan saat ini. Empat orang untuk staf ahli dari India. Pihaknya sudah merencanakan pewarisan keahlian mengolah intan menjadi berlian itu dari tenaga ahli asal India ke tenaga lokal. Pihaknya tinggal memahami lalu menerapkan mekanisme transfer keahlian tersebut.

"Karena kita kan disarankan (Dinas Perindustrian) untuk mempekerjakan orang lokal atau perajin lokal. Pelan-pelan nanti kita didik mereka," katanya.

Salah satu perhiasan berlian yang dipajang di galeri Indo Wisata Permata di kawasan Komplek Citra Green Dago, Kota Bandung.
Salah satu perhiasan berlian yang dipajang di galeri Indo Wisata Permata di kawasan Komplek Citra Green Dago, Kota Bandung. | Huyogo Simbolon

Semua berawal dari hobi

Wisata edukasi berlian IWP berawal dari hobi mengoleksi batu permata, yang dilakukan Yudi Yopi Mesa sejak kecil. "Awalnya memang saya suka batu permata, sudah puluhan tahun," ungkapnya.

Meski menyukai batu permata sejak kecil, Yudi baru menekuni hobinya memiliki berlian sejak tujuh tahun yang lalu.

"Nah, saat melihat penggosokan berlian di negara kita masih konvensional dan mungkin juga tidak bisa presisi, akhirnya saya iseng beli-beli mesin. Setelah semua lengkap dan tahu tekniknya saya berpikir untuk membuka galeri ini, khususnya edukasi, agar masyarakat tahu bahwa di negara kita ada intan atau rough diamond yang sebetulnya potensial," beber pria kelahiran Bandung ini.

Bermodalkan mesin-mesin berteknologi canggih, Yudi kini bisa menghasilkan berlian dengan kualitas terbaik tanpa harus menunggu waktu lama. "Bila dengan tangan manusia bisa berhari-hari, kalau dengan mesin ini dalam beberapa jam saja kelar," sambungnya.

Indo Wisata Permata saat ini hanya ada di Bandung. Disinggung apakah dia akan melebarkan usahanya ke kota lain, Yudi mengatakan hal itu bukan prioritasnya saat ini.

"Saya buat di sini karena saya orang Bandung. Nggak kepikir ke kota lain," jelasnya.

Dengan membuat destinasi wisata edukasi berlian ini, Yudi berharap tempat ini bermanfaat bagi masyarakat luas.

"Karena ini satu hobi saya, nggak berpikir ke depannya bagaimana. Semoga (IWP) bermanfaat bagi nusa dan bangsa karena kita punya tambang potensial dan semoga tempat ini bisa menjadi suatu percontohan khususnya bagi perajin di Kalimantan, dan satu pembelajaran bagi masyarakat apa itu berlian. Mulai dari kriterianya, gosokannya, dengan mesin otomatis menjadi sempurna," harapnya.

Begitupun dengan usaha yang Ia buat. Yudi mengklaim tak khawatir akan bersaing dengan destinasi wisata yang lain. Ia lebih fokus pada edukasinya.

"Saya di sini bukan mengejar semata bisnisnya. Yang paling penting edukasinya buat anak sekolah, mahasiswa dan generasi ke depan supaya mengenal berlian. Itu lebih penting daripada bisnis," pungkasnya.

BACA JUGA