Dua petugas salon Laris Love di Jakarta tengah menata rambut Yuliani, Kamis (22/8/2019)
Dua petugas salon Laris Love di Jakarta tengah menata rambut Yuliani, Kamis (22/8/2019) Aghnia Adzkia
TIP KECANTIKAN

Bersolek di salon tiap pagi demi menunjang karier

Kebutuhan perempuan pergi ke salon di pagi hari kini bukan hal yang langka, setidaknya di Jakarta. Semua demi tampil sempurna demi menunjang pekerjaan.

"Permisi, boleh duduk di sini?" tanya perempuan berambut sepundak itu kepada saya yang tengah menunggu giliran potong rambut di Laris Love Salon di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019) pagi. Saya mengangguk dan mengajaknya bicara.

"Sudah lama ke sini ya?" tanya saya berbasa-basi.

"Iya, biasanya sampai sini jam 07.00, tapi sekarang sudah lebih lima menit, jadi lama antre," ucapnya. Saya melongok ke samping, bangku panjang yang kami duduki memang penuh, lebih dari lima orang. Belum lagi yang berdiri karena tak kebagian kursi.

Namanya Yuliani (44), pegawai corporate sales di MNC. Tak seperti saya yang baru pertama ke salon ini, Yuliani adalah pelanggan tetap.

Saban dua hari sekali, ia harus menempuh perjalanan mulai jam 06.00 WIB dari Bintaro, Tangerang Selatan, menuju Bendungan Hilir. "Kalau hari genap, saya ke sini karena mobil saya pelat genap. Ini sejalan dengan arah kantor di Kebon Sirih (Jakarta Pusat)," ucapnya.

Pekerjaannya membuat Yuliani harus tampil kece. Ia mesti menata rambutnya agar terlihat rapi karena seharian bisa rapat atau bertemu klien di luar kantor.

"Saya sudah lama ke sini, sejak gadis. Ada mungkin 20 tahun. Kalau tidak blow rambut (di pagi hari) rasanya kurang," ucapnya sembari tersipu malu kemudian diikuti tawa.

Yuliani rela merogoh kocek hingga Rp500 ribu untuk menata rambutnya sebelum ke kantor. Sekali blow, ia mesti membayar sekitar Rp50 ribu.

Bujet ini tentu di luar biaya salon lainnya, seperti memasang bulu mata palsu atau perawatan muka dan rambut yang bisa menghabiskan hingga Rp1,5 juta sebulan.

"Biasanya ada salon langganan lain, tapi kalau untuk blow ya di sini. Dia pagi sudah buka dan sejalan sama kantor," ucapnya.

"Kita lanjut nanti ya," ujar saya yang segera dipanggil masuk untuk memulai perawatan rambut. "Iya, ngobrol nanti ya," kata Yuliani.

Situasi di dalam ruangan salon cukup hiruk. Kalau Anda pernah menonton kompetisi memasak selevel Master Chef, ya kira-kira seperti itu. Ada 13 kursi pelanggan di depan cermin panjang dari ujung ke ujung yang terbagi dalam dua baris. Semuanya penuh.

Kursi untuk cuci rambut di dalam ruangan hanya ada dua. Pelanggan lain bahkan diminta untuk mencuci rambut di ruangan lain.

Satu pelanggan ditangani dua orang. Pengering rambut buru-buru bergantian dipakai untuk melayani pelanggan selanjutnya.

"Saya sudah di sini dari tahun 1987. Kalau pagi ya selalu ramai begini, banyak nge-blow," ujar Titin (53), pemangkas rambut, sembari memainkan sisir dan gunting di rambut saya.

Saya melempar pandangan ke sekitar, ada yang sambil memegang bubur mangkok dan sesekali memasukkan sendok ke mulutnya. Ada yang bermain ponsel. Ada pula yang merias wajah sembari rambutnya ditata.

Sekitar 20 pegawai sibuk memainkan sisir dan pengering rambut. Sebelum menggarap rambut saya, Titin lebih dulu menata rambut dan menyanggul ibu-ibu paruh baya.

"Sudah ya (potong rambutnya), tunggu sebentar habis ini blow. Nunggu antre hair dryer dan petugas," kata Titin kepada saya. Sepuluh menit kemudian, rambut saya mulai ditata dua orang termasuk Titin.

Saya menengok jam. Sekitar pukul 08.15 WIB, rambut saya rampung digarap. Yuliani sudah pulang lebih dulu, lebih cepat karena dia tak perlu potong rambut.

Salon Laris Love bukan satu-satunya salon yang melayani blow di pagi hari untuk pelanggan kantoran yang mengejar waktu masuk jam 09.00 WIB. Di daerah Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan, ada salon bernama Gorjes.

Suasana Salon Gorjes pada Jumat (23/8/2019) pagi WIB. Gorjes menjadi salah satu salon yang buka sejak pagi hari.
Suasana Salon Gorjes pada Jumat (23/8/2019) pagi WIB. Gorjes menjadi salah satu salon yang buka sejak pagi hari. | Aghnia Adzkia /Beritagar.id

Bedanya dengan Laris, Gorjes tampak lebih sepi. Hanya ada enam kursi yang tertata rapi dalam satu baris di depan cermin panjang.

"Sudah janjian belum? Biasanya yang sudah langganan ke sini. Ini penuh dan kalau mau blow harus bikin janji. Tadi ada yang mau blow juga tapi tidak jadi karena penuh," ujar petugas salon Gorjes saat saya meminta untuk creambath dan blow, pada Jumat (23/8/2019) sekitar pukul 07.00 WIB,

Hanya ada dua pegawai yang piket pagi itu. Satu pegawai belum tiba. Satu lagi sedang melayani pengunjung yang sudah datang lebih dulu dari saya. "Yang piket creambath juga belum datang. Mau nunggu (sampai) jam setengah delapan?" tanyanya. Saya mengangguk.

Sembari menunggu, ada satu pengunjung lain datang. "Atas nama Nadira?" ujarnya. Satu orang petugas segera menjemput si pengunjung dan membawanya ke kursi. Rambutnya segera ditata.

Selang 15 menit kemudian, dua pengunjung datang lagi. Saya dipanggil dan rambut mulai dicuci. Di sebelah saya, ada seorang pengunjung yang juga menjalani treatment yang sama. Di depan saya, sudah mulai ramai. Ada dua pelanggan yang rambutnya sedang ditata.

Beda dengan Laris, situasi di Gorjes cenderung lebih tenang. Bunyi pengering rambut tak bersahut-sahutan seperti raungan motor saat balapan. Ruangan lebih bersih dan kecil. Petugas hanya ada empat orang.

"Kalau pagi memang sedikit petugasnya, yang lain masuk jam 11. Ini hanya yang piket," ujar petugas salon.

Buat beberapa orang, Gorjes lebih nyaman ketimbang Laris. Kiki Anjani, pekerja konsultan media, mengaku lebih suka ke Gorjes karena lebih tenang.

"Saya tidak suka kalau suasananya hiruk pikuk seperti di Laris. Semakin sedikit orang, maka kualitas servis juga lebih maksimal," ujar Kiki.

Selain itu, lokasi Gorjes yang berada di kawasan perkantoran membuat lebih mudah dijangkau dengan kendaraan. Buat Kiki yang tinggal dan bekerja di sekitar Mampang, Jakarta Selatan, pilihan Gorjes menjadi rasional lantaran lebih dekat.

Dalam sebulan, Kiki bisa tiga sampai empat kali menata rambutnya sebelum bertemu klien di sekitaran Jakarta. "Ini menghemat waktu saya daripada harus mencuci dan mem-blow sendiri. Jadi waktu di salon, saya bisa mengecek email atau mengerjakan lainnya. Biasanya sih butuh 30 menit," katanya.

Dibanding Laris, harga blow di Gorjes lebih mahal hampir dua kali lipat, Rp90 ribu untuk rambut sepundak. Lebih dari itu, maka dikenai harga Rp100 ribu hingga Rp110 ribu.

Menata rambut sebelum ngantor sudah menjadi kebutuhan gaya hidup bagi Yuliani dan Kiki. Salon-salon yang biasa buka pagi pun menjadi incaran kaum hawa Jakarta.

Tak hanya Laris dan Gorjes, ada pula Evergreen yang buka hingga 24 jam. Orang-orang seperti Yuliani dan Kiki tak ragu untuk merogoh kocek cukup dalam.

Buat saya yang cenderung cuek dan tak butuh menampilkan rambut tertata rapi, ke salon pagi hari seperti membuang-buang waktu. Tapi, bagi kedua perempuan ini, penampilan rambut menjadi nomor wahid jika harus bertemu dengan banyak orang.

Tidak sedikit perempuan ibu kota seperti Kiki dan Yuliani. Jejeran perempuan yang mengantre sejak pagi hari seperti pemandangan di Laris Love Salon tadi adalah buktinya.

Bersolek pagi hari di salon pun kini bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder bagi mereka. Mungkin, kini sudah menjelma menjadi primer. Semuanya demi satu tujuan: tampil cantik.

Suasana Salon Laris pada Kamis  (22/8/2019) pagi WIB. Salon Laris menjadi salah satu salon di Jakarta yang buka sejak pagi hari.
Suasana Salon Laris pada Kamis (22/8/2019) pagi WIB. Salon Laris menjadi salah satu salon di Jakarta yang buka sejak pagi hari. | Aghnia Adzkia /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR