Sahiane Matoke, seorang senior di komunitas adat Nuaulu, berpose di pantai yang berhadapan dengan Laut Banda di Dusun Rouhua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, Kamis (8/3/2018).  © Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
Gambar: Sahiane Matoke, seorang senior di komunitas adat Nuaulu, berpose di pantai yang berhadapan dengan Laut Banda di Dusun Rouhua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, Kamis (8/3/2018). | © Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id Nuaulu

Bertahan mengagungkan Anahatana dan Upu Ama

Suku Nuaulu dari Pulau Seram meneruskan keyakinan dari para leluhur hingga masuk abad ke-21. Namun, tantangan bagi mereka seakan-akan tak juga melonggar.

Riak teduh dari Laut Banda menyundul perut sampan-sampan nelayan yang terparkir di Pantai Rouhua, kawasan selatan Pulau Seram, Maluku Tengah.

Deburnya takluk oleh deru angkutan kota yang ulang-alik mengantar orang dan barang dari, dan ke, Pelabuhan Amahai atau kota Masohi di pulau yang sama.

"Sekarang sudah mulai banyak durian pertama yang jatuh," kata Sahiane Matoke, warga Dusun Rouhua, Negeri (Desa) Sepa, Kecamatan Ahamai, Kabupaten Maluku Tengah, Rabu sore (7/3/2018). "Bulan empat (April) akan ada lebih banyak lagi."

Sahiane anggota senior Suku Nuaulu (baca: Naulu). Komunitasnya merupakan penghuni asli Pulau Seram dan menempati lima kampung di Kecamatan Amahai. Orang Nuaulu dikenal luas dengan ciri khas ikat-kepala merah. Banyak dari mereka masih menganut agama moyang. Walau tidak sedikit pula telah beralih ke Islam atau Kristen.

Matoke marga 'tuan tanah' di Rouhua, salah satu kampung Nuaulu. Status itu menempel karena leluhur Matoke adalah pendiri dusun dimaksud. Sementara, 'tuan tanah' merupakan istilah Melayu Ambon untuk kepala marga, sosok dengan kewenangan tertinggi dalam urusan adat setempat.

Saya menemui Sahiane di beberapa tempat. Salah satunya di rumah Putriani Matoke, 40 tahun, anak sulungnya. Kedatangan saya dan fotografer, Wisnu Agung, membuatnya "tidak bekerja" di hutan karena kami direken sebagai tamu. Masyarakat Nuaulu mendudukkan tamu dalam posisi terhormat.

Padahal, banyak tanaman harus dia urus. Ada vanili, cengkih, durian, kelapa, ubi, untuk menyebut beberapa. Tentu saja semua bergantung musim. Aktivitas di hutan penting bagi kelangsungan hidup dia dan keluarganya.

Selama dua hari (7/3-8/3) Beritagar.id berada di Rouhua, Sahiane bertutur tentang rupa-rupa hal. Dia senantiasa melakukannya sembari merokok.

Sekali saja dalam rangkaian kisah yang seolah-olah tak menemu ujung, Sahiane menyelipkan ahinae --semacam puisi yang dinyanyikan--dalam bahasa Nuaulu lama. Kandungan ahinae itu lantas dia rangkum dalam bahasa Melayu Ambon. Isinya berkenaan dengan hubungan baik antara orang Nuaulu dan orang Sepa yang mayoritas Islam.

"Dulu tidak ada nota. Kami diingatkan tentang yang dulu-dulu lewat kapata (ahinae). Di situ (ahinae barusan) janjian orang tua-tua adat, orang Sepa dan orang Nuaulu semua sampai mati seng baku...lepas," ujarnya.

Pria beranak sembilan itu memeluk agama leluhur meski dulu pernah menjadi Muslim. Sahiane bersentuhan dengan Islam karena ayahnya, Teliam Matoke, anak asli suku Nuaulu yang terlibat gerilya Republik Maluku Selatan (RMS) di Seram pada awal dasawarsa 1950-an, menikahi seorang perempuan muslim di Desa Rutah dan masuk Islam.

Akibat ikut orang tua pula Sahiane sempat berkampung di Rutah. Namun, cinta menuntunnya ke Rouhua. Di dusun itu, Sahinae mengawini Waka, perempuan Rouhua bermarga Leipary. Dia lantas menanggalkan status keislamannya.

Bertahun-tahun kemudian, seolah terisap daur, Sahiane bersinggungan lagi dengan 'ritual' Islam ketika Putriani menikah dengan seorang pria Muslim pada 1998. Putriani lalu mengikuti keyakinan suaminya dan berganti nama menjadi Fitria.

Dusun Rouhua menjadi satu dari lima kampung di Negeri (Desa) Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, yang menjadi tempat bernaung orang Nuaulu. Dusun itu berhadapan langsung dengan Laut Banda dan berpunggungan dengan hutan yang memanjang hingga Taman Nasional Manusela.
Dusun Rouhua menjadi satu dari lima kampung di Negeri (Desa) Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, yang menjadi tempat bernaung orang Nuaulu. Dusun itu berhadapan langsung dengan Laut Banda dan berpunggungan dengan hutan yang memanjang hingga Taman Nasional Manusela.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Tetapi, dalam momen sakral itu, Sahiane tak bisa menjadi wali bagi anaknya karena berstatus non-Muslim. Fungsi wali kemudian digantikan oleh anggota keluarganya dari Rutah yang beragama Islam.

"Coba itu lihat, beta seng bisa jadi wali buat anak sendiri," ujarnya.

Nuaulu suku di Pulau Seram dengan anggota terbanyak yang menjalankan praktik, dalam kata-kata Roy Ellen, profesor emeritus di Jurusan Antropologi dan Ekologi Manusia di Universitas Kent, Inggris, animistik.

"Jumlah pemeluknya sekarang lebih dari 2.000 orang," katanya lewat email, Selasa (30/1/2018).

Roy telah meneliti masyarakat Nuaulu sejak awal 1970-an. Risetnya berfokus di Rouhua. Dia melabeli pemeluk keyakinan Nuaulu sebagai "animis" karena "satu aspek penting dalam sistem kepercayaan mereka adalah gagasan bahwa semua hal di alam--bahkan kendaraan--memiliki jiwa atau roh yang mesti dihormati".

Padahal, pada dasawarsa 1970-an, komunitas itu--beserta bahasa dan keyakinannya--terancam punah. Kondisi tersebut turut mewarnai masa 300 tahun terakhir ketika komunitas itu sedikit demi sedikit menyaksikan anggotanya menjadi Muslim dan Kristen.

Meski demikian, orang Nuaulu membuktikan ketahanannya. Sebab, mereka bukan saja sanggup memelihara 'agama' asli, tapi juga mampu menjaga laju pertumbuhan anggota komunitas.

Hal demikian, kata Roy, menjadikan Nuaulu sebagai "satu-satunya masyarakat animis yang hidup" di Pulau Seram. Menurutnya, ada sejumlah komunitas yang jumlah anggotanya begitu kecil sehingga mereka sulit menjalankan ritual-ritual tertentu.

Buku Roy, Nuaulu Religious Practices: The Frequency and Reproduction of Rituals in a Moluccan Society (2012), menopang premis di atas.

Dalam buku itu terlampir data hasil penelitiannya tentang Nuaulu sejak 1970-an. Di antaranya statistik kependudukan. Dia mencatat pada 1980, jumlah penduduk Rouhua 180 jiwa, dan angka orang Nuaulu di lima dusun di Amahai 496. Saat itu, total penduduk Amahai, 18.538 orang.

Enam tahun kemudian, warga Rouhua menjadi 218 dan orang Nuaulu naik menjadi 744 orang. Pada 2001, Penduduk Rouhua, 624--termasuk 350 animis, 147 Muslim, 100 Protestan, dan 27 Katolik--sementara Nuaulu 1.686 jiwa (total penduduk Amahai, 61.185).

Sensus Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Maluku Tengah pada 2015 menunjukkan data penganut Hindu di Kecamatan Amahai--agama yang acap dikaitkan sekenanya pada Nuaulu--mencapai 1.912 orang dan agama lainnya 376 orang.

Sementara, kantor Negeri Sepa dan Negeri Tamilouw mencatatkan anggota suku Nuaulu di empat dusun pada 2013 mencapai 1.232 jiwa.

"Di Rouhua sendiri kalau jiwa sekitar 1.000. Untuk jumlah KK (kepala keluarga), 180 KK orang Nuaulu, sedang Islam dan Kristen ada sekitar 20 KK. Tapi kalau orang Nuaulu di Sepa sudah lebih dari 5.000 jiwa," begitu Sonohue Matoke, memberikan angka versinya, Rabu siang (7/3/2018).

Sonohue Kepala Dusun Rouhua. Usianya 59. Dia berkantor di rumahnya yang beratap rumbia. Ketika saya temui, dia tengah duduk semeja dengan seorang warga senior Rouhua bermarga Peirisa.

Bibir Sonohue beraksen jingga tersebab kebiasaan mengunyah sirih-pinang. Seperti lumrahnya laki-laki di Nuaulu yang telah melewati upacara memasuki fase kedewasaan, Sonohue juga memakai ikat-kepala merah.

"Katong pung agama sejak dari leluhur. Bukan agama atau kepercayaan dari Timur Tengah, atau dari Eropa, atau dari mana. Itu agama yang asli sejak dari leluhur. Dari awal sampai sekarang," ujarnya.

Pikania, 13 tahun, gadis Nuaulu bermarga Leipary, baru saja menjalani upacara pubertas perempuan (nuhune pinamou) setelah mendapatkan haid pertama. Mulai saat ini, hingga waktunya menikah nanti, dia akan disebut pinamou. Foto diambil pada Selasa (6/3/2018).
Pikania, 13 tahun, gadis Nuaulu bermarga Leipary, baru saja menjalani upacara pubertas perempuan (nuhune pinamou) setelah mendapatkan haid pertama. Mulai saat ini, hingga waktunya menikah nanti, dia akan disebut pinamou. Foto diambil pada Selasa (6/3/2018).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Menurut dia, "agama asli" Nuaulu percaya Tuhan dan meyakini keberadaan perantara Tuhan. Mereka menyebut Tuhannya Anahatana, dan sang perantara--yakni roh leluhur--sebagai Upu Ama.

Orang Nuaulu membutuhkan Upu Ama karena Anahatana dianggap terlalu akbar untuk dicapai dan dialami sendiri. Meski begitu, menurut Roy Ellen, kemungkinan besar gagasan demikian berkembang setelah Nuaulu terlibat kontak dengan Kristen dan Islam selama beberapa abad.

"Kalau Upu Ama itu sama dengan Nabi Muhammad (dalam Islam). Kalau Anahatana itu kalau di Islam seperti Allah SWT," kata Sonohue Matoke.

Kebesaran Anahatana terpendar dalam berbagai ritual. Ambil misal proses pemasangan tiang pancang atau kuda-kuda rumah. Sebelum mengerjakan itu, orang Nuaulu biasa memanjatkan doa (mainisie) dengan mula-mula menyebut nama Anahatana.

Selain mempercayai Anahatana, orang Nuaulu, menurut Sonohue, secara eskatologis juga meyakini eksistensi surga dan neraka.

"Orang-orang tua cerita buat katong, kalau di neraka ada semacam tebing, jurang. Kalau berbuat salah di dunia, dia mati, seng bisa masuk surga. Ada yang menjorokkan ke tebing itu. Di bawah ada api, ada air panas, ada tonggak tajam," ujarnya. "Kesalahannya seperti pencuri, ilmu-ilmu hitam, bunuh orang, bermain dengan bini-bini, laki-laki. Pokoknya bikin kotor di dunia".

Bagi mereka yang masuk surga, "dia masuk sampai duduk berhadapan dengan Upu Ama".

Sebagai catatan pembanding, Roy Ellen menulis pada bukunya bahwa roh orang Nuaulu yang mati dalam keadaan baik akan menjadi Upu dan kembali ke desa. Tapi, jika mengakhiri kehidupan dengan buruk, rohnya akan menjadi jahat dan menuju mulut Sungai Nua demi mengulangi hidup. Kali ini sebagai tumbuhan atau hewan.

"Upu Ama sejak awal punya ikat kepala merah. Makanya pakaian laki-laki, pakaian adat, semua juga merah," kata Sonohue.

Dalam bahasa setempat, kain merah disebut karanunu. Istilah Melayu Ambon untuknya, kain berang.

Semua lelaki Nuaulu dewasa melingkarkan kain itu di kepala. Sepanjang waktu, terpokok ketika bersantap. Waktu tidur, kain itu boleh dilepas.

Kain merah juga dipakai di tubuh bagian bawah untuk menutupi cawat kulit kayu dalam upacara pria-menuju-dewasa. Karanunu pun penting dalam persembahan kepada roh leluhur saat orang Nuaulu melanggar pantangan.

Karena diasosiasikan dengan kelaki-lakian, kain itu akhirnya harus selalu dijauhkan dari posune, yakni gubuk kecil tempat perempuan tinggal semasa menstruasi atau melahirkan.

Selain kain merah, orang Nuaulu mengenal hewan-hewan tertentu yang disucikan. Jenis hewan tersebut bergantung marga. Klan Neipani-nesinopu di Hahualan menjunjung tinggi kuskus dan dilarang mengonsumsinya. Marga Soumori di Rouhua menaruh hormat pada ular sanca.

"Katong di sini tidak makan ayam," ujar Sonohue mengenai totem marga Matoke. "Itu karena katong punya Upu Ama, dia punya barang piara sejak lahirnya. Dia punya dua ekor ayam. Satu betina, satu jantan. Jantan berwarna merah, betina putih".

Kata Sonohue, ayam turun dari surga--sorakae dalam bahasa Nuaulu--ke dunia bersama Upu Ama. Ketika Upu Ama tiada, ayam jantan berkokok dan yang betina berkotek. Lalu, kaki dan tangan Upu Ama bergerak. Kokok berikutnya membangunkan Upu Ama. Itu menjadi simbol bagi permulaan hari.

"Makanya dengan dua ekor ayam itu, katong seng bisa makan," ujar Sonohue.

Tantangan

Lama menghuni Pulau Seram tak serta-merta menjauhkan Nuaulu dari masalah. Problem mereka pun tidak tunggal. Urusan administrasi kependudukan salah satunya.

Karena tidak termasuk sebagai agama 'resmi', orang Nuaulu yang belum berpindah keyakinan acap kali sulit mendapatkan akses ke pendidikan, pekerjaan di lingkungan pemerintah, serta angkatan bersenjata. Kesulitan tersebut tidak cuma muncul pada masa Orde Baru.

"Menyangkut di bidang studi agama, kalau anak saya punya nilai kurang, itu tidak boleh dipermasalahkan. Karena itu bukan agamanya. Padahal, yang diajarkan setiap hari di (kampung) bukan itu. Makanya nilai kurang," ujar Sonohue seraya menambahkan bahwa kaumnya kerap dicap secara salah sebagai orang Hindu.

Pria dewasa yang sudah melewati ritual pubertas memakai kain merah, atau karanunu dalam bahasa Nuaulu. Satu-satunya saat melepas hanya ketika akan tidur. Kain merah bahkan dikenakan pada jenazah lelaki dewasa.
Pria dewasa yang sudah melewati ritual pubertas memakai kain merah, atau karanunu dalam bahasa Nuaulu. Satu-satunya saat melepas hanya ketika akan tidur. Kain merah bahkan dikenakan pada jenazah lelaki dewasa.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Selepas itu, "katakanlah dia sudah sarjana," ujarnya melanjutkan, "atau belum sarjana tapi berijazah SMA. Lalu dong mau pergi ke pegawai negeri harus punya agama. Minimal salah satu agama resmi. Kalau tidak, berarti tidak diterima. Ini kendala. Banyak orang Nuaulu yang tidak duduk di pegawai negeri atau militer karena begitu."

Beberapa tahun belakangan tantangan terbesar bagi Nuaulu, setidaknya menurut Sonohue dan Sahiane, adalah aktivitas perusahaan penebangan hutan, PT. Bintang Lima Makmur. Kantor perusahaan itu berlokasi tidak jauh dari dusun.

Nuaulu sudah memanfaatkan hasil hutan seperti kayu, rotan, getah damar, dll., selama ratusan tahun untuk ditukar dengan kain dan keramik yang penting dalam ritual-ritualnya. Dengan begitu, hutan punya peran penting bagi kelangsungan hidup mereka secara ekonomi, sosial, dan budaya.

Tapi, sebenarnya, menurut Roy Ellen, akar masalah yang mendera Nuaulu mesti ditengok hingga jauh ke masa silam.

Hingga paruh pertama abad ke-19, orang Nuaulu masih tersebar di sejumlah perkampungan marga di dataran tinggi Seram bagian tengah, terutama di sepanjang lembah Sungai Nua.

Pada 1880, pemerintahan Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) menguasai wilayah pegunungan dan memasukkan kawasan pinggiran Seram ke dalam sistem administrasinya. Dengan begitu, berbagai komunitas lokal seperti Nuaulu dapat mudah diatur dan diawasi.

Seiring itu, orang Nuaulu mulai menghuni daerah sekitar Sepa, kawasan pesisir yang didominasi Muslim. Memang, kelompok masyarakat yang terbiasa hidup di pedalaman gunung ini mendapat manfaat setelah pindah ke pesisir (misal, akses ke pasar, kesehatan, dan fasilitas pendidikan). Tapi, mereka juga secara adat harus berkompromi.

Setelah terjadi relokasi di sekitar Sepa, VOC menganggap Sepa bertanggung jawab terhadap Nuaulu secara sosial dan ekonomi. Saat itu pula terbit raja-raja kecil di Nuaulu, yang bernaung di bawah Raja Sepa, hal yang menggerus otonomi Nuaulu untuk mengurus dirinya sendiri.

Tetapi akhirnya, setelah beberapa generasi, garis raja-raja kecil Nuaulu pelan-pelan habis.

Lalu, dekade 1970-an dan 1980-an ikut menjadi periode menentukan bagi cara hidup Nuaulu menyusul terjadinya percepatan dan konvergensi pada lima hal yang mempengaruhi perubahan ekonomi dan lingkungan di Amahai.

Kelima hal itu: partisipasi pasar dan budidaya tanaman komersial, penebangan hutan, pembangunan jalan, transmigrasi, dan pertumbuhan penduduk.

Bahkan, pada 1993, pecah masalah serius akibat transmigrasi. Tiga warga Rouhua didakwa bersalah atas pemenggalan kepala dua pendatang asal Saparua. Tiga orang itu sedang berburu hewan. Mereka dieksekusi karena dianggap menebang pohon di hutan milik komunitas adat Nuaulu tanpa izin.

Hasilnya, kejadian tersebut memicu ketakutan masyarakat non-Nuaulu karena tradisi lama penggal-kepala Nuaulu--yang kata Sonohue tak lagi berlaku sejak 1960-an--dicemaskan bangkit lagi.

Bonardo Maulana Wahono
penulis, editor

BACA JUGA