Gambar sekadar ilustrasi
Gambar sekadar ilustrasi Salni Setyadi / Beritagar.id
BENYAMIN S

Betawi di urat nadi

David Nurbianto dan Muhammad "Kojek" Amrullah merupakan penampil milenial berdarah Betawi yang teguh dengan kebetawiannya. Berkaca pada seniman Betawi lawas seperti Benyamin Sueb.

1. Keserimpet lidah

Di kebanyakan perkampungan Jakarta, begitu seseorang berhadap-hadapan dengan pendekar ceng-cengan atawa jago cemooh, dia niscaya jadi target olok-olok.

Daya rusak ejekan bergantung sikon. Efeknya lumayan bikin engap-engap. Residu kedongkolan bisa mengendap bertahun-tahun. Apalagi kalau menyangkut nama.

Pemegang isim Muhammad Arif bisa bergelar Jantuk kalau bentuk dahinya direken tak proporsional.

Nama Yusuf, yang dalam kisah biblikal bertaut dengan ketampanan dan kewibawaan, bisa ujuk-ujuk menjadi Ucup. Kesialan membiak kalau si Ucup ini kebetulan kena infeksi telinga. Dia kudu berlapang dada untuk diingat sebagai Ucup Congek.

Karena itu, kalau anda hanya jadi korban keserimpet lidah atawa salah ucap--dan itu sementok-mentoknya--bersyukurlah sedikit. Setidaknya, batin tak teriris berlebihan.

David Nurbianto ada di antara sekian banyak orang yang mafhum akan insiden keserimpet dimaksud.

"Karena gue lahir di (tengah suku) Betawi yang awam dengan sebutan nama David yang kebarat-baratan itu, ada (orang) yang (memanggil) Dapit, Apit. Daftar ke Puskesmas juga spelling namanya ada yang Dapit, Dafit," ujarnya.

Pemuda berumur 29 itu tumbuh di lingkungan keluarga Betawi di Gang Bojong, Pondok Ranji, Tangerang Selatan. Buyutnya dari pihak ibu berdarah Pondok Aren. Ayahnya blasteran Cilacap-Gombong.

Meski secara patrilineal David seorang Jawa, dia semata merasa Betawi hingga ke sumsum karena "baru dua kali ke Jawa," katanya pada Selasa (14/8/2018).

Sejak lahir hingga kelar Sekolah Menengah Atas, David seperti katak di kolong batok kelapa. Tak pernah jauh dari rumah.

"Gue akamsi," ujarnya seraya melontarkan akronim yang berarti 'anak kampung sini', atau bocah setempat. "Sampai (zaman) sekolah enggak pernah ngelewatin lampu merah".

Keakamsiannya tulen betul. Terasah pula karena didukung letak sekolah--SD hingga SMA--yang saling berdekatan dan berlokasi hanya beberapa ratus meter dari kediamannya.

Dia terang leluasa mengembangkan spesialisasinya, yakni "nyeletuk...ice breakers".

Plus, masa kanaknya terbilang mengasyikkan karena habis buat "naik-naik pohon, ke empang nyari ikan, main (sepak) bola di lapangan". Gerak bebas itu lumrah karena petak-petak tanah di sekitar rumahnya rata-rata masih berbentuk kebun buah.

Namun, lebih dari 30 kilometer ke arah pesisir utara Jakarta dari lokasi David berdiam, ada Betawi milenial lain yang kampungnya tak seasri Pondok Ranji. Dia Muhammad Amrullah. Bisa jadi dia iri David berkawan balong dan pepohonan. Sebab, lingkungannya di Sunter Jaya kadung sumpek bangunan.

Meski demikian, urusan nama, Amrullah lebih mending. Orang-orang Sunter Jaya tak kesulitan menyebut namanya. Walau di saat bersamaan, dia tak sanggup lari dari alias.

"Betawi punya nama poyokan," kata Amrullah, atau "nama sebutan".

Poyokan Amrullah, Kojek. Sebabnya, dia tuman mengulum permen lolipop sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

"Saya sekolah di SMP Negeri 79, Kemayoran. Saya hobi banget makan yang namanya permen kojek. Mau belajar, mau main," ujar lelaki kelahiran 1986 itu. "Gigi lumayan rusaklah gara-gara sering makan itu," katanya, Rabu (8/8/2018).

Ihwal adaptasi lolipop menjadi kojek ini akarnya Theo Kojak, detektif gundul dari Kepolisian New York, pada serial drama televisi "Kojak" yang dimainkan aktor Telly Savalas.

Di film itu, Kojak acap kali terlihat mengemut gula-gula bertangkai. Penonton pun mungkin dapat tuah dari keasyikan si reserse. Daripada mereka kewalahan melafalkan lolipop, istilah kojek akhirnya dibuat nge-pop.

2. Yang suram, yang ditentang

Di belakang hari, suasana serba terlindas justru menjadi pelecut bagi David dan Amrullah untuk melangkah ke luar batas kampung masing-masing dan menanggalkan pergaulan yang kampung-sentris.

David Nurbianto, pelawak tunggal (stand-up comedian) berdarah Betawi, saat berpose di muka kantornya di Menara Imperium, Jakarta Selatan, Selasa (14/8/2018).
David Nurbianto, pelawak tunggal (stand-up comedian) berdarah Betawi, saat berpose di muka kantornya di Menara Imperium, Jakarta Selatan, Selasa (14/8/2018). | Bonardo Maulana Wahono /Beritagar.id

"Kalau lo maen di kampung aje," kata Amrullah merujuk daerah tempat tinggalnya, pilihannya adalah "lo bisa overdosis (karena obat terlarang), atau ditangkep polisi".

Klaim tersebut absah sebab kampungnya sarang penyamun.

"Waktu gue kecil, gue lagi main bola, tahu-tahu yang main sama gue ada yang ditembak (karena ternyata) dia bandar narkoba. Gue lagi di depan rumah, ada yang lari-lari. Tahu-tahunya maling," ujarnya.

Amrullah butuh tangga darurat untuk menyelamatkan diri dari kesuraman. Peluang itu muncul selepas SMA. Kedua orang tuanya yang berprofesi guru meyakini pendidikan merupakan prioritas utama. Mereka meminta Amrullah ngampus. Sebiji harapan menyertai: putra mereka bisa jadi guru.

Didesak begitu, Amrullah sudi. Dia menjajal tes masuk Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta Timur. Program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) pun ditembus.

Namun, berhubung tak memburu penghidupan sebagai guru, Amrullah melepas UNJ. Dia pilih mendaftar ke Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Persada Indonesia YAI, Jakarta Pusat. Di sana, kegemarannya menyanyi rap--yang dirawat sejak SMA--menemu tambatan.

"Ketika kuliah, ketemu komunitas Hip Hop YAI. Di situ tempat gue ngobrol tentang gimana caranya nulis lirik, gimana caranya ngerap. Nonton mereka manggung di kampus. Sampai gue berani nulis lirik," ujarnya.

Pun begitu, maslahat bagi Amrullah bukan berarti faedah bagi sang ayah. Apalagi waktu dia mulai tampil di klub tertentu. Bagi si babe, orang Betawi tak pantas ada di situ. "Ngapain orang Betawi manggung-manggung di tempat begituan dan ngoceh-ngoceh enggak jelas," ujar Kojek mengutip perkataan ayahnya.

Bagus Amrullah keras kepala. Ayahnya pelan-pelan mengajukan kelonggaran. Syaratnya, dia memainkan "musik luar," tanpa harus kehilangan cinta dengan budaya Betawi.

Lain Amrullah, lain David. Anak Pondok Ranji itu selagi remaja sudah diurus kakek dan neneknya: ibunya wafat saat David masih SMP, dan sang ayah menikah lagi dua tahun setelah ditinggal istri. Karenanya, dia tak berbenturan dengan orang tuanya.

"Posisi gue jadi sulit," ujarnya, "tapi itu justru bikin gue jadi punya mental yang kuat. Tahan banting, open-minded di umur yang seharusnya dipakai buat senang-senang".

David kian intim dengan kemiskinan. Maka, selulus SMA, David mengebiri keinginan berkuliah.

Untuk menambal pengeluaran, dia bekerja serabutan. Menjadi salesman. Menunggui kios penyewaan VCD&DVD, Ultra Disc. Dia bahkan pasang tampang tebal saat harus menjadi penarik ojek motor.

"Kalau papasan sama yang dikenal, gue bilang nganterin sodara," ujarnya.

Kliennya waktu itu tiga: dua anak sekolah, dan seorang wartawan media komunitas, Kicau Bintaro.

Pada 2011, cahaya nasib baik mulai menyorotinya. Itu saat sang pewarta Kicau Bintaro memintanya meliput komunitas Stand-Up Comedy di Bintaro. Pengantar bagi pinta itu pun ringkas: David cuma ditanya bisa menulis atau tidak.

"Waktu itu gue masih setelan ojek banget deh. Sepatu pantofel, celana jin, jaket motor. masuk ke lingkungan stand-up yang gaul-gaul," katanya mengenai hari ketika dia menonton lawakan tunggal untuk kali pertama.

3. Pengakuan itu pun tiba

Menurut David, berasal dari keluarga "broken home" justru menjadi titik balik dalam kehidupannya. "Gue dapet berkah itu," katanya menyinggung tragedi dalam keluarga sebagai sumber inspirasi dalam mengolah dan menyiapkan materi lawakan.

Tentu saja perbaikan itu tak serta-merta.

Awal mencoba tampil di Stand-Up Bintaro Tangerang Serpong (BTS), komunitas yang dia kenal saat melakukan reportase, David acap kali menangguk kritik karena cuma mengajukan "joke kodian", yakni jenis humor yang lazim dilontarkan dan beredar lama di tengah masyarakat.

Namun, semua berubah sejak Andi Gunawan, pembina BTS, melepaskan saran. "Dia bilang," kata David menirukan Andi, "stand-up itu nulis tentang keresahan lo sendiri. Apa yang lo galauin di sekitar lo. Dari situ gue mulai menulis tentang gue, keluarga gue. Memang enggak langsung lucu".

Kepercayaan dirinya merimbun setelah beberapa kali menguji materi di BTS. Pelbagai lomba dia coba. Pengakuan perdana akhirnya diberikan seorang pelawak tunggal, Sammy Notaslimboy, saat ajang Stand-Up for Nation di Mal Kelapa Gading pada 2012. Waktu itu, Sammy menjadi juri.

"Juara dua. Hadiahnya Rp2 juta. Pulang, gue kasih Nyai gue," ujar David. Nyai di situ mengacu ke neneknya di Pondok Ranji, figur yang sangat mempengaruhi sepak terjangnya.

Karena sering juara, nama David jadi perbincangan. Stasiun televisi mulai memutar pandang ke arahnya. Wajah David pun muncul di MetroTV.

Setelah setengah tahun di sana, David mulai kehabisan bahan. Dia memulas leher ke KompasTV demi mengetes hoki di ajang penjaringan bakat, Stand-Up Comedy Indonesia (SUCI).

"Pertama di SUCI 3, tapi cuma dapat golden ticket," katanya. SUCI dipelopori oleh pesohor, Pandji Pragiwaksono dan Raditya Dika. Mulai tayang 2011.

Bintang jatuh ke pangkuan David pada musim berikutnya. 2014. Pada SUCI 4 itu, dia juara pertama.

Bersama kemenangan, popularitas terpaket cepat. Seraya itu pula fondasi keresahan lama yang membawanya ke puncak prestasi di SUCI mulai runtuh.

"Gue enggak bisa lagi bawain materi tentang gue susah makan, dong? Itu gue tinggalkan. Gue naik ke level yang lebih luas dari keluarga. Gue mulai ngomongin Jakarta pada umumnya," ujar penyiar hot932fm yang menyebut Arief Didu sebagai mentor menulis pujaannya.

Mengenai pentingnya keresahan pribadi dalam proses kreatif, Amrullah mengamini. Sebab, musiknya takkan mewujud tanpa hal dimaksud.

"Gue lebih gampang bercerita tentang apa yang gue rasain. Contoh, dulu gang (di kampung) gue gede. Ada orang gendut pulang slow-slow aje. Sekarang gang gue kecil. Gue liat orang gendut nih. Gue naik motor, gue nunggu die lewat dulu. Makenye gue bilang, kalau kampung gue terus mengecil, orang gendut enggak bisa pulang," ujarnya.

Kedekatan dengan sumber keresahan itu yang membuat Amrullah gape mengoperasikan mesin kata-katanya dalam sejumlah ajang adu nge-rap atawa rap battle. "Mungkin itu karena jiwa Betawi yang suka ceng-cengan dari kecil. Pas dipaduin sama musik, juri mungkin ngeliat sesuatu yang beda," katanya.

Pada 2008-2010, Amrullah unggul di pelbagai sayembara rap. Puncaknya 2010 saat dia menjadi kampiun lomba tingkat nasional yang diadakan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). "Temanya KB dan antinarkoba. Saya wakilin DKI. Menang juara satu," ujar mantan pegawai Bank Permata dan Bank Mandiri itu.

Rapper berdarah Betawi, Muhammad "Kojek" Amrullah, saat ditemui Beritagar.id di kantornya, radio hot932fm, Metropolitan Kuningan Superblok, Jakarta Selatan, Rabu (8/8/2018).
Rapper berdarah Betawi, Muhammad "Kojek" Amrullah, saat ditemui Beritagar.id di kantornya, radio hot932fm, Metropolitan Kuningan Superblok, Jakarta Selatan, Rabu (8/8/2018). | Bonardo Maulana Wahono /Beritagar.id

Selain mendapat hadiah uang, Amrullah menerima kado musik dari Igor Saykoji, rapper favoritnya. "Dia ajak saya ke rumahnya. Dia suruh pilih musiknya. Dan musik yang saya pilih langsung yang bertemakan Jakarta. Itu jadi lagu single perdana saya, "Lo Kate Jakarte"," katanya.

2010 tahun yang sama ayahnya meninggal. Dua tahun kemudian, album pertamanya, Betawi Punya Rapper, yang berisi 12 lagu, beredar. Setahun lewat, album dengan hit single "Enjoy Jakarte" itu dinominasikan untuk meraih AMI Award untuk kategori lagu berbahasa daerah dan hip hop.

"Walau enggak menang, gue bangga bisa masuk nominasi," ujar eks penyiar Bens Radio yang kini bernaung pula di hot932fm.

4. Betawi di urat nadi

Muhammad Amrullah dan David Nurbianto dapat dikata generasi terkiwari Betawi yang tak gagap menampilkan identitas kebetawiannya di jagat hiburan Indonesia.

Mereka mengisi ruang yang dibangun para pendahulunya, yang dalam hemat keduanya memiliki modal alami: humor.

"Orang Betawi itu ditakdirkan lucu," ujar Amrullah dan David.

Dan kelucuan itu sukar lerai dari kesesakan hidup sehari-hari.

"Tragedy + time = comedy," ujar David mengulurkan formula humor ala salah satu begawan bodoran Amerika Serikat, Mark Twain.

Rumus itu bukan pepesan kosong. Hasilnya bisa diperiksa. Benyamin Sueb, Muhammad Bokir, Mak Nori, Haji Bodong, Malih Tong Tong, untuk menyebut sedikit nama.

Bahkan, jika berpaling ke ranah keagamaan, orang Betawi pernah punya Zainuddin M.Z.

Menurut David, hal yang memungkinkan generasi lawas Betawi itu mengusung kedigdayaan personal adalah kesanggupan "bawain materi yang relate sama penonton, dirasain sama banyak orang. Gue merasa yang mereka bawain itu deket sama kita. Kita semacam menertawakan diri kita sendiri".

Sikap yang, konon, mensyaratkan keterbukaan dan kepercayaan diri. Sikap yang bermuara pada autokritik.

Sila kenang selarik kisah yang dibagikan David pada salah satu aksi panggungnya: Dulu Nyai gue punya kontrakan tiga pintu. Sekarang tinggal sepintu. Duanya lagi abis dimakan rayap. Rayapnya biasa gue panggil encing.

"Tiap encing (tante) gue nikah, kontrakan dilimpahin. Ada yang nikah lagi, dilimpahin lagi. Gue dapat jatah nyokap gue. Abis juga ujung-ujungnya. Gue pakai buat kehidupan sehari-hari," ujarnya menyibak materi lawakan itu.

Keterbukaan dan kepercayaan diri itu dulu begitu bergetah pada, misalnya, Benyamin, dengan perjalanan karier musiknya--tanpa melupakan jejaknya di film dan sinetron--sebagai bukti.

Kalau tak percaya, coba saja bedah lagu-lagunya yang bejibun itu. Di sana-sini dia tak canggung dalam bersimpang genre. Blues, funk, soul, jazz. Hajar, bleh!

Dalam takaran kecil saja, hip hop pegangan Amrullah juga memiliki semangat fusi global-lokal. Elemen gambang kromong pada beberapa lagunya, misalnya, tak sekadar jadi ornamen. Dialek Betawi pun bukan cuma dibikin-bikin.

"Segala yang (Benyamin) sentuh jadi Betawi. Gue pengin seperti itu. Die sebagai anak Betawi tetep bise jadi Betawi di mane aje, dan kapan aje. Ketika gue ngerap sama Tompi, Glen, Melanie Subono, Superglad, gue tetep Betawi," kata Amrullah.

Terhadap elan David dan Amrullah, zaman kelak memberi jawab. Sebab, mau tak mau, gerak mereka menuntut balas. Dan rasanya, dunia tak abai-abai amat pada tangan yang mau bekerja.

Begitu akhirnya Amrullah menjulurkan pantun: "Tukang sawi namanya Bang Maman, jangan ngaku Betawi kalau cuma jadi preman". Begitu juga David mendengus: "Yang bisa nyelametin kita budaya. Itu perahu karet kita, sekoci kita".

Artikel Terkait