Situasi salah satu salon di Jakarta Selatan. © Arie Firdaus / Beritagar.id Tak ada kata 'sakit' bagi warga Kota Sorong Tetap sehat di usia senja
KOTA PARA PESOLEK JAKARTA SELATAN

Bila cantik sudah menjadi kebutuhan

Banyak analis menyebut daya beli masyarakat menurun. Namun konsumen kecantikan di selatan Ibu Kota rela mengeluarkan bujet jutaan rupiah untuk terlihat cantik dan trendi.

Cuaca di Jakarta masih belum begitu terik. Namun, pada saat yang sama justru kapster-kapster salon kecantikan sudah wara-wiri melayani tamu. Tamu yang datang sekadar untuk mencuci atau merapikan rambut biasanya.

Suara bising pengering rambut dan riuh rendah percakapan orang lewat telepon seluler tak jarang menjadi latar suara kesibukan di salon pagi hari. Kesibukan dan pemandangan seperti ini lazim ditemui di deretan salon kecantikan yang ada di daerah Gunawarman, Jakarta Selatan misalnya. Maklum, wilayah tersebut dikelilingi oleh area perkantoran dan juga restoran yang kerap dijadikan sebagai tempat rapat pagi sambil sarapan.

Deretan salon kecantikan dan tempat perawatan di selatan Jakarta.
Deretan salon kecantikan dan tempat perawatan di selatan Jakarta.
© Arie Firdaus /Beritagar.id

Rabu siang (25/10/2017) Beritagar.id mengunjungi sebuah salon di kompleks Rumah Kantor (rukan) Permata Senayan, Jakarta Selatan. Saat itu, Linda Purwoko berpamitan dengan wajah semringah. Rambutnya tertata rapi dan menguarkan aroma semerbak. "Terima kasih, ya," kata Linda ke arah para kapster, yang dibalas dengan senyuman tak kalah berseri.

Perempuan 41 tahun itu baru saja mencuci dan merapikan rambutnya di Stylize, sebuah salon di kompleks Rukan Permata Senayan, Jakarta Selatan. Sebagai persiapan sebelum menghadiri rapat di sebuah mal di kawasan Jakarta Pusat.

"Biar rapi, makanya mampir (salon) dulu," katanya.

Linda sehari-hari berkantor di kawasan yang sama. Tak mengherankan jika ia menyempatkan mampir sebelum berangkat menuju pertemuan.

Kedatangannya saat itu sejatinya bukan jadwal kunjungan rutin Linda ke Stylize. Biasanya, ia mampir salon tersebut kala pagi, sebelum pergi ke kantor. Guna sekadar mencuci rambut dan merapikannya.

"Seringnya begitu (pagi)," tambah Linda, tanpa memerinci lebih lanjut frekuensi kedatangan dan biaya yang dikeluarkan untuk perawatan di salon.

Salah seorang pegawai Stylize, Okky Rezki mengatakan bahwa Linda memang terhitung pelanggan yang rutin datang ke salon tempatnya bekerja. Dengan layanan favorit 'cuci dan blow' tentunya. Hanya saja ia tak bisa mengingat seberapa sering Linda berkunjung.

"Setiap bulan sih ada beberapa kali," ujar Okky.

Linda pun, seingat Okky, bukan satu-satunya pelanggan yang kerap datang untuk sekedar mencuci dan merapikan rambut sebelum bekerja. Ia menyebut ada beberapa orang lain dengan kebiasaan sama seperti Linda.

Dikelilingi perkantoran, Stylize memang menyasar perempuan karier semacam Linda sebagai konsumennya. Mereka yang memiliki jadwal padat namun tetap pengin terlihat trendi.

Lantaran itu pula, tambah Okky, layanan 'cuci dan blow' menjadi layanan favorit di Stylize. Dengan bea sekali layanan sebesar Rp75 ribu.

"Jarang yang datang untuk memotong atau mewarnai rambut," lanjutnya.

Menurut Nina Putri Toto, Manajer Operasional Salon Beautybar yang berlokasi di kawasan elite Dharmawangsa di selatan Jakarta, perilaku konsumen seperti halnya Linda memang jamak di bisnis salon dan kecantikan.

Ia menceritakan polah tingkah beberapa konsumennya yang bahkan kerap datang sebelum jam buka salon pada pukul 08.00 WIB untuk mencuci dan merapikan rambut.

"Banyak yang datang pukul 07.00 WIB, sebelum ke kantor," kata Nina, "Tapi dengan catatan, harus lewat perjanjian."

Untuk ongkos sekali pelayanan 'cuci dan blow', Beautybar mematok harga lebih tinggi dari Stylize, yakni sebesar Rp130 ribu. Kendati begitu, kunjungan ke Salon Beautybar masih lebih ramai ketimbang Stylize.

Saat Beritagar.id mengunjungi salon tersebut pada Kamis siang kemarin, kesibukan nyata terlihat. Para karyawan fokus dengan tugas masing-masing, melayani konsumen: pria-wanita serta tua-muda. Lahan parkir sesak oleh mobil beragam merek dan jenis. Terletak di lokasi strategi di kawasan Dharmawangsa, tak heran rasanya jika salon ini kerap dipadati pelanggan.

Soal fenomena ini, Nina mengatakan bahwa konsumen di wilayah Jakarta Selatan memang terhitung royal dan loyal. Berani mengeluarkan uang lebih asal mendapatkan pelayanan prima dan produk berkualitas serta bermerek terkenal.

"Mereka mau nyaman dan pelayanan bagus. Tak masalah mahal asalkan produknya bagus," kata Nina yang pernah bekerja di sebuah salon di kawasan Jakarta Pusat.

Untuk kawasan Jakarta Pusat yang banyak diisi perkantoran, tambah Nina, pelanggan salon biasanya tak terlalu royal. "Mereka enggak mau ribet dan lama juga di salon. "Beda dengan di sini. Pernah ada satu keluarga menghabiskan sekitar Rp5 juta," ujarnya lagi.

Boleh jadi, karakter konsumen Jakarta Selatan seperti ini yang menciptakan iklim pendukung sehingga salon dan klinik kecantikan tumbuh subur di sini.

Dibandingkan dengan kota administrasi lain di DKI Jakarta, jumlah salon di wilayah ini adalah yang terbanyak. Itu pun baru jumlah salon, belum lagi ditambah klinik yang juga menawarkan berbagai perawatan tubuh dan kecantikan.

Berawal dari loyalitas

Sikap royal konsumen di Jakarta Selatan ini juga diakui Hartati, Manajer Operasional True Aesthetic, klinik kecantikan yang masih berlokasi di kawasan Dharmawangsa: sepelemparan batu dari Salon Beautybar.

"Ada beberapa konsumen kami yang bisa menghabiskan sampai Rp25 juta sekali datang," kata Hartati.

Harga layanan klinik kecantikan True bervariasi, dari yang termurah berupa perawatan wajah dengan terapis seharga Rp500-800 ribu sampai paket lengkap perawatan wajah menggunakan mesin yang dibanderol Rp4,5 juta. "Perawatan wajah dengan mesin itu bahkan favorit," lanjut Hartati.

Sebelum bekerja di True, Hartati pernah bekerja di dua klinik kecantikan lain yang sama-sama terletak di selatan ibu kota. Kedua klinik tersebut, dikatakan Hartati, memiliki karakter konsumen yang tak jauh berbeda dengan True. Mereka berani mengeluarkan uang untuk mendapatkan pelayanan prima.

"Yang mendekati karakter konsumen Jakarta Selatan mungkin hanya daerah Kelapa Gading di Jakarta Utara," katanya.

Nancy --enggan menyebutkan nama lengkap, mengaku bahwa ia memang memiliki dana khusus yang dialokasikan untuk perawatan tubuh seperti ke salon dan klinik kecantikan serta kosmetik saban bulannya.

"Sekitar Rp1 juta sebulan ada lah," kata karyawan sebuah bank tersebut.

Mengenai besaran uang terbesar yang pernah dikeluarkan untuk pos ini, ia menyebut kisaran Rp2 juta. "Itu jika termasuk membeli kosmetik atau krim perawatan lain."

Perempuan 28 tahun itu juga mengaku loyal terhadap klinik atau salon untuk perawatan tubuh. "Karena itu masalah cocok atau tidak cocok. Tak bisa sembarangan. 'Kan demi penampilan juga," ujarnya.

Adapun mengenai alokasi pengeluaran selain perawatan badan, ia mengaku tak memilikinya.

Segendang sepenarian, Gustidha Budhiarti yang mengaku menghabiskan uang di kisaran Rp1 juta setiap bulan untuk perawatan semacam facial, creambath, menicure-pedicure, dan lulur.

"Kalau untuk kosmetik, bisa khilaf," ujar Gustidha yang mengaku pelanggan sebuah klinik kecantikan di Blok M, Jakarta Selatan. "Gue bisa beli lipstick seminggu sekali," katanya.

Berdasarkan riset, menurut Kepala Divisi Pemasaran Klinik Estetiderma Allan Edward Waworuntu, setiap orang rata-rata menghabiskan lima persen dari total pendapatannya untuk bea kecantikan dan perawatan tubuh. Dus, jika seseorang menghabiskan sekitar Rp1 juta per bulan, tambah Allan, artinya ia berpenghasilan sekitar Rp20 juta saban bulannya.

"Makanya, bisnis kecantikan itu memang menyasar golongan menengah atas. Tak heran jika ada yang royal, sampai mau mengeluarkan uang lebih," kata Allan.

Kesadaran akan karakter konsumen itu pula yang kemudian membuat Estetiderma, terang Allan, berani membuka dua klinik baru kelas premium di kawasan Jakarta Selatan pada tahun depan. Klinik Estetiderma sejauh ini telah memiliki beberapa cabang yang tersebar di antero Tanah Air: mulai dari Batam di Kepulauan Riau hingga Makassar di Sulawesi Selatan.

"Dari penjualan online kami saja, 40 persen itu berasal dari Jakarta Selatan. Masyarakat di sini (Jakarta Selatan) memang sudah sadar akan perawatan kecantikan. Sudah menjadi kebutuhan," kata Allan.

Merujuk dari besaran belanja para konsumen salon dan klinik kecantikan tersebut, tak heran rasanya jika mikro data Survei Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis Badan Pusat Statistik 2016, menempatkan kawasan Jakarta Selatan sebagai wilayah dengan pengeluaran belanja kecantikan dan kosmetik paling tinggi dibandingkan dengan kota lain.

Berdasarkan data olahan tersebut, Jakarta Selatan keluar sebagai pemenang Kaskus Beritagar.id Kota Pilihan 2017 untuk Kategori Kota Pesolek mengingat pengeluaran belanja kecantikan di daerah ini jauh di atas kota Banda Aceh, dan Tangerang Selatan.

Secara umum, dalam data survei di sepuluh kota di Indonesia, Badan Pusat Statistik juga menemukan fakta bahwa Provinsi DKI Jakarta adalah daerah dengan pengeluaran non-makanan terbesar dibanding provinsi lain, yakni sebesar 63,11 persen berbanding 36,86. Yogyakarta yang berada di posisi kedua mencatat pengeluaran 59,48 persen untuk non-makanan berbanding 40,52 persen.

Pengamat ekonomi Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih menilai fenomena ini kemungkinan besar dipicu oleh pendapatan per kapita penduduk Jakarta Selatan yang lebih tinggi ketimbang daerah lain.

Fenomena ini pun di sisi lain dinilai Lana membantah opini masyarakat yang beredar bahwa saat ini daya beli masyarakat tengah menurun. "Kalau daya beli turun semestinya tidak ke klinik dan salon," pungkas Lana.

ARTIKEL TERKAIT

Mimpi, disiplin, dan berteman dengan diabetes

Mimpi, disiplin, dan berteman dengan diabetes

Petualangan pengidap diabetes tipe 1 menaklukkan Kilimanjaro menjadi motivasi bagi penduduk dunia yang kini memperingati Hari Diabetes Sedunia, 14 November.

Ibu tunggal juga berhak rayakan Hari Ayah

Ibu tunggal juga berhak rayakan Hari Ayah

Tanpa bermaksud mengesampingkan peran laki-laki (sebagai ayah), ini hanya bentuk apresiasi untuk perempuan yang menjalankan dua peran sekaligus.