Budiman Sudjatmiko saat ditemui di kediamannya, rumah dinas DPR RI di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat sore (4/5/2018).
Budiman Sudjatmiko saat ditemui di kediamannya, rumah dinas DPR RI di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat sore (4/5/2018). Bismo Agung Sukarno / Beritagar.id
20 TAHUN REFORMASI

Budiman Sudjatmiko: Reformasi hasilkan kekuasaan yang bertele-tele

“Jatuhnya Soeharto justru antiklimaks dan tidak seromantis yang saya bayangkan”

Sobekan kecil tampak tercetak di ujung bibir Budiman Sudjatmiko. Ia pun menghapus darah yang keluar dari sobekan itu dengan tisu, berkali-kali. Tapi, alih-alih meringis, ia malah tertawa.

"Ini kena pisau cukur, tadi buru-buru, ha-ha," kata Budiman memulai obrolan dengan Fajar WH, Heru Triyono, Muammar Fikrie, dan fotografer Bismo Agung.

Mungkin Budiman tak lagi takut dengan darah, khususnya pas muda. Contohnya pada 1993, jauh sebelum reformasi. Ketika itu kepalanya berdarah tergebuk tangkai bedil saat demo bela petani. "Soeharto kan represif," tuturnya.

Nama Budiman memang mentereng pada masa Soeharto. Ia begitu vokal menentang hegemoni Orde Baru. Perlawanan terbesarnya adalah mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Lahir pada Juli 1996, partai itu mengusung asas sosialis demokratik. Sepekan setelah PRD lahir, bentrokan berdarah pecah di kantor PDI, Jalan Diponegoro, Jakarta.

Bentrokan ini memicu kerusuhan di Ibu Kota. Pemerintah menuding PRD ada di balik itu. Maka aktivis PRD diburu. Budiman dan teman-temannya kemudian ditangkap. Budiman divonis pengadilan 13 tahun penjara karena dianggap subversif.

Tetapi, Budiman terus melawan dari balik jeruji. Aksi mogok makan hingga tolak grasi ia lakukan. Dari penjara pun partai ia jalankan. Namun nasib, PRD kalah telak pada Pemilu 1999. Satu hal yang ia sayangkan: "Soeharto berkuasa terlalu lama tapi turun terlalu cepat," ujar pria yang kini berusia 48.

Kami berbincang dengannya pada Jumat senja (4/5/2018) di kediamannya, rumah dinas DPR RI di Kalibata, Jakarta Selatan. Ia duduk di hadapan kami dengan latar deretan buku yang saling bersandar di tembok.

Masih dengan gayanya yang sama pada 20 tahun silam: kemeja, kacamata dan gaya rambut keriting ala boyband. Selalu rapih. Beda dengan gaya aktivis kebanyakan, yang identik dengan gondrong dan kaos-an.

Selama satu setengah jam ia menjawab banyak pertanyaan tentang 20 tahun reformasi dan soal realisasi manifesto PRD hingga kini. Berikut tanya jawabnya.

Budiman Sudjatmiko saat ditemui di kediamannya, rumah dinas DPR RI di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat sore (4/5/2018).
Budiman Sudjatmiko saat ditemui di kediamannya, rumah dinas DPR RI di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat sore (4/5/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Perlawanan terhadap Orde Baru begitu gencar, tapi apakah orang pergerakan yakin Soeharto akan jatuh saat itu?
Yakin, tapi jatuhnya Soeharto tidak seromantis dan tidak se-ekstravaganza yang saya bayangkan.

Bagaimana Anda membayangkan Soeharto akan turun dari kekuasaannya?
Saat dia lengser, saya ingin para tokoh muncul, kemudian ambil alih kepemimpinan. Ketika itu kan ada Bu Mega, Gus Dur dan Amien Rais.

Malam itu (21/5/1998) harusnya mereka kumpul di Monas atau di mana. Ini kan tidak ada gerakan itu. Tidak seperti di Romania pada 90-an atau di Filipina saat keluarga Marcos digulingkan pada 1986.

Jatuhnya Soeharto pada 21 Mei 1998 menjadi antiklimaks?
Bagi saya iya. Tapi enggak menyangka dia akan cepat turun.

Anda ingin Soeharto jatuh, tapi malah enggak menyangka ketika dia benar-benar turun?
Karena Soeharto berkuasa terlalu lama tapi turun terlalu cepat. Mendadak gitu lho. Kita seperti janjian bertemu jam 12 dengan orang, tapi orang itu sudah nongol jam 6 di depan rumah.

Menu hidangannya belum siap disajikan untuk orang itu?
Kira-kira begitu. Kita merindukan tamu ini datang. Kita tahu dia akan datang siang, tapi pagi-pagi malah udah di rumah, sehingga bikin bengong.

Yang Anda mau itu Soeharto mengakhiri periode jabatannya dulu sejak menang Pemilu 1997?
Tidak harus habiskan periodenya. Tapi begini, kami "dipukul" pada 1996, kemudian diculik pada 1998 awal. Nah, kami butuh recovery kira-kira dua tahun lagi setelah itu--yang membuat kita siap menyajikan "menu hidangan" yang bagus untuk Soeharto.

Jatuhnya Soeharto kurang seru atau kurang heroik ya di mata Anda?
Petinju barunya seperti sudah pingsan sebelum masuk ring. Akhirnya panitia memutuskan gelarnya enggak jadi diberikan pada yang baru, tapi tetap pada yang lama, alias status quo.

Tidak ada pemenang baru ya dalam reformasi?
Tidak ada juara baru dan sayangnya kekuatan Orde Baru berhasil recovery diri dengan baik saat itu. Sementara gerakan perlawanan justru enggak berhasil recovery, karena pertandingan tinju dibatalkan.

Yang paling penting kan Soeharto jatuh, para tokoh reformasi pun sepertinya sudah puas?
Hak kita itu sebenarnya minum kopi luwak, tapi saat itu seperti dicekoki bergelas-gelas air putih, sehingga kita enggak dapat kopi luwak. Kekuatan pro demokrasi enggak dapat apa-apa karena tidak siap dengan konsep.

Kekuatan pro demokrasi ini tidak memiliki figur yang siap menggantikan Soeharto?
Figur sih ada. Seperti Bu Megawati atau Gus Dur misalnya.

Harapan terhadap perubahan memang ada di dua tokoh itu?
Ya. Kita orang yang realistis kok. Tepatnya orang-orang idealis yang realistis.

Begini, gerakan perlawanan terhadap Orde Baru itu terbagi dua kelompok. Ada gerakan kritik Orde Baru dan ada gerakan anti-Orde Baru.

Gerakan kritik Orde Baru itu adalah gerakan yang memang ingin reformasi. Sasarannya adalah bagaimana Pak Harto turun dan kemudian melakukan reformasi sistem yang ada.

Sementara gerakan anti-Orde Baru itu ingin Pak Harto jatuh dan membuat sistem baru, bukan reformasi. Itu juga yang diinginkan PRD, yang masuk dalam kategori ini.

"Politik identitas tidak masalah selama tidak diarahkan untuk menghancurkan mangkuk kebersamaan"

Budiman Sudjatmiko

Kenapa gerakan anti-Orde Baru tidak mengusung figur untuk melakukan perubahan?
Gerakan ini dipukul sehingga tidak siap dengan figur, tapi secara konsep siap. Sedang gerakan kritik Orde Baru secara konsep belum siap tapi secara figur mereka siap.

Gabungan itu membuat kondisi reformasi seperti menghasilkan proses kekuasaan yang bertele-tele, berlarut-larut dan menghasilkan koruptor baru. Meski pada saat bersamaan juga ada perbaikan-perbaikan.

Apakah gagasan perlawanan Partai Rakyat Demokratik (PRD) melawan pemerintah mendapat dukungan masyarakat?
Prinsipnya kami sepakat untuk memunculkan organisasi alternatif. Kenapa pilihannya partai politik? Karena jika perlawanan hanya gerakan sosial dan moral, maka akan begitu-begitu saja, tidak ada alternatif yang ditawarkan.

Gerakan kami pada tingkatan bukan sekadar kritik, bukan juga sekedar memberikan rekomendasi kebijakan, tapi juga harus membuat rekomendasi politik perlawanan dan perlawanan politik.

Soeharto mau melaksanakan rekomendasi yang PRD buat?
Sebagus-bagusnya rekomendasi yang kami tawarkan, negara ini tidak akan pernah jalan kalau Soeharto masih jadi supirnya. Dia enggak layak berkuasa lagi.

Dia harus diganti dengan yang baru karena sudah 32 tahun berkuasa. Dalam kekuasaannya dia tidak bisa dikritik. Yang mengkritik ditangkap, dipenjara, dibunuh. Ya, dia harus diganti, itulah makna tanggal 22 Juli 1996 saat PRD mengeluarkan manifesto.

Selama 20 tahun reformasi, apakah manifesto PRD itu banyak yang terealisasi?
Alhamdulilah. Misalnya tentang demokrasi multi partai, penyelenggaraan pemilu digelar lembaga independen, lahirnya KPK, reformasi agraria, otonomi daerah, pemberdayaan desa, dialog dengan separatis Aceh, referendum Timor Timur. Apa lagi?

PRD ini semacam ahli nujum ya, bisa menebak hal-hal yang terjadi berikutnya...
Kami bukan dukun, kami sekadar melihat fenomena yang ada. Kami baca buku selama belasan tahun, kami diskusikan tiap malam, kami lihat keadaan dan kami bergaul. Ya kami tidak katro meski kere-kere. Makan saja mi instan.

Oh bisa berpikir ya meski cuma makan mi instan he-he?
Enggak setiap hari. Tapi kami memang tidak punya uang. Hampir semua hal urunan. Beli kopi satu gelas, ya diminum bareng-bareng. Satu gelas banyak mulut, kami memforsir fisik kami ketika itu. Baru sekarang terasa.

Teman-teman ada yang kena TBC, liver atau gula. Saya sempat vertigo selama lima tahun tapi sudah sembuh.

Vertigo itu pengaruh dipukul popor?
Pada 1993, jauh sebelum gerakan reformasi, kepala saya terkena pukul popor saat demo membela petani. Ya aksi-aksi itu selalu dibebani keresahan sebenarnya.

Misalnya pertanyaan soal banyaknya orang pintar di Indonesia tapi kenapa tidak berpikir. Sementara kami yang rata-rata di-DO dari kampus justru bisa berpikir, kenapa?

Bangsa ini ibarat diberi resep makan kedaluwarsa oleh Orde Baru. Enggak ada resep lain, kita diminta makan saja, yang penting kenyang.

Ya, sebanyak 200 juta lebih orang diminta makan teori politik yang kedaluwarsa. Yang memberi siapa? Juru masak pembangunan yang katanya doktor-doktor dan profesor itu.

Tapi resep Orde Baru itu kan masih laku dijual saat ini?
Itu masalahnya. Padahal sudah kita ingatkan 20 tahun lalu. Ini tantangan sekaligus kenyataan bahwa makanan kedaluwarsa itu masih bisa dimakan pada 2017 dan 2018 ini.

Contoh produk pra-Indonesia itu adalah masih adanya isu suku dan agama, bahkan laku di kota besar seperti Jakarta.

Itu menunjukkan bahwa bangsa kita memang sengaja dijerumus oleh segelintir orang untuk menjadi bangsa yang bodoh dan tertinggal.

Politik identitas juga laku di Amerika, mereka bodoh juga?
Bodoh bukan dalam arti IQ ya. Politik identitas di Amerika menang karena apa? Karena Amerika yang sudah 200 tahun merdeka pun masih ada yang seperti itu.

Fenomena politik identitas kan gara-gara demokrasi terbuka juga, yang merupakan hasil reformasi?
Politik identitas tidak masalah selama tidak diarahkan untuk menghancurkan mangkuk kebersamaan.

Sup yang enak itu bisa dimakan dengan beradab kalau makannya di mangkuk dan tidak ada unsur yang merusak. Kalau tiba-tiba ada yang taruh ayam kalkun di sana, ya bisa pecah mangkuk itu.

Demokrasi itu seperti memasak sup tadi dan menaruhnya di mangkuk. Tak masalah kalau Anda mau politik Islam, liberal, nasional konservatif atau politik Islam progresif, semua boleh.

Tapi ketika ada yang merusak adonan sup dalam mangkuk, maka itu akan jadi masalah.

Budiman Sudjatmiko saat ditemui di kediamannya, rumah dinas DPR RI di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat sore (4/5/2018).
Budiman Sudjatmiko saat ditemui di kediamannya, rumah dinas DPR RI di Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat sore (4/5/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Gagasan PRD yang dibuat, kira-kira bisa diwujudkan berapa lama ketika itu?
Seandainya waktu itu revolusi ya bisa dalam waktu lima tahun, atau 10 tahun paling lama. Sekitar tahun 2006. Tapi ya kondisinya kan enggak begitu.

Justru kelompok kritik Orde Baru yang memiliki momentum dan Soeharto jatuh terlalu cepat. Ada juga kelompok-kelompok yang tadinya bersama Orde Baru, justru kemudian bisa masuk ke dalam gerbong reformasi.

Maksudnya kelompok Amien Rais dkk.?
Salah satunya itu. Padahal kalau benar 2006 revolusi itu berjalan, maka semua buahnya akan matang. Duriannya jatuh, bukan dipetik. Tapi saat ini perbaikan juga sudah mulai berjalan, meski pelan--seperti yang kita harapkan saat di PRD dulu.

Anda tidak cemas dan takut ketika membacakan manifesto PRD di rezim Orba?
Saya bukan pemberani, saya juga takut. Tapi pada saat yang sama saya juga marah pada keadaan. Yang bisa saya lakukan adalah membesarkan rasa amarah saya pada keadaan sehingga melampaui rasa takut itu. waktu itu kami sudah siap dengan 3B: dibui, dibuang dan dibunuh.

Anda harus kucing-kucingan dengan polisi dan aparat negara lainnya?
Kami harus memadukan kerja intelektual dan kerja blusukan. Blusukan dalam versi yang paling hard core ya. Seperti masuk hutan, galangan sawah, dikejar, kadang kita juga mengejar "lawan". Baik secara literal atau fisik.

Btw kenapa Anda keluar PRD setelah sekolah dari Inggris?
Saya sudah keluar sebelum ke Inggris. Dulu ada perdebatan di PRD. Sebagian teman ada yang ingin berjuang dengan cara lama padahal situasinya baru. Sebagian kalangan pergerakan masih menganggap seolah-olah kekuasaan itu masih seperti Orde Baru.

Padahal kekuasaan sudah berubah. Kalau dulu tertutup, sekarang semua orang bisa masuk. Bukan cuma orang yang pernah berjuang untuk demokrasi, tapi juga orang yang pernah melawan demokrasi.

Ini konsekuensi dalam demokrasi kan. Karena demokrasi juga orang seperti Pak Jokowi bisa masuk ke dalam sistem.

Oke, reformasi sudah 20 tahun, apakah sudah ada kemajuan signifikan?
Sudah ada kemajuan, tapi masih terlalu lambat.

Banyak aktivis 98 yang dulu berjuang kini duduk di pemerintahan dan DPR, tapi seperti tidak bisa melakukan perubahan...
Jumlah dan posisi strategis jadi penting. Kalau kalah jumlah ya susah. Minimal, di DPR dan pemerintahan, harus dikuasai orang-orang yang berpikir netral sebanyak 30 persen.

Kebaikan dan keburukan reformasi di mata Budiman /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR