Nugroho, seorang penghayat dan keturunan generasi kedua pencetus kepercayaan Sumarah tengah bermeditasi di bawah pohon pada Kamis (22/2/2018).  © Reza Fitriyanto / Beritagar.id
Gambar: Nugroho, seorang penghayat dan keturunan generasi kedua pencetus kepercayaan Sumarah tengah bermeditasi di bawah pohon pada Kamis (22/2/2018). | © Reza Fitriyanto /Beritagar.id Sumarah

Bukan agama hanya bertuhan

Penghayatnya menyakini pada dasarnya manusia lahir membawa fitrah keilahian.

Tujuh orang itu meriung di pendopo. Empat dewasa, tiga anak-anak. Tiga di antaranya perempuan. Masing-masing duduk di atas kursi, melingkari meja dengan kudapan dan teh panas di atasnya.

Pukul 21.00 hujan yang turun sejak sore tak juga kunjung reda. Nugroho, lelaki berkacamata dan berkemeja batik, mempersilakan Kuswijoyo yang duduk di samping kanannya memulai acara.

"Sepertinya sudah tak ada yang ditunggu lagi," katanya.

Hastiningrum, istri Nugroho, beringsut memperbaiki posisi duduk. Sekar dan Laras, dua dari tiga anak mereka bergerak mengikuti posisi duduk ibunya. Merapatkan kaki, tangan menyatu terpangku di atas lutut, kepala menunduk khusyuk. Warastanto -seorang lelaki dewasa lain- yang datang dengan anaknya juga melakukan sikap yang sama.

Dalam bahasa Jawa krama, Kuswijaya mengajak rekan-rekannya memusatkan pikiran. Melupakan urusan duniawi, memasrahkan jiwa pada ilahi.

Suasana pun berubah hening. Tak satu pun bersuara. Hanya, gumam Kuswijoyo menyebut nama Tuhan dua kali. "Allah... Allah." Suaranya lirih tenggelam dalam gemuruh hujan yang terdengar makin keras saja.

Kamis, 15 Februari 2018 malam, Nugroho (44) mengizinkan saya melihat dari dekat manembah. Ini ritual persembahyangan penghayat kepercayaan Sumarah.

Manembah, berasal dari kata sembah, bagi penghayat aliran ini bisa dilakukan sendiri maupun berjamaah. "Tiap Kamis malam kami melakukannya bersama," kata Nugroho sehari sebelumnya.

Di pendopo Sumarah Jalan Setiaki, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, mereka bertemu. "Ini tempat berkumpul saja," katanya tentang tempat mereka manembah.

Pendopo Sumarah berdiri di atas lahan seluas 3.800 meter persegi. Ukuran bangunan beratap joglo itu mencapai 225 meter persegi. Didirikan pada 1973, pendopo ini pernah direnovasi pada 2013. Di pelatarannya tumbuh aneka pohon. Sukun, alpukat, sawo, belimbing wuluh, jambu air, mangga, rambutan, dan pepaya.

Luas dan rindang. Pendopo sering dimanfaatkan warga beraktivitas sosial. Jadi arena bermain untuk pendidikan anak usia dini, rapat RW, hingga tempat pemungutan suara di masa pemilihan umum.

Beberapa kali pula warga meminjam pendopo menjadi tempat resepsi pernikahan. "Jadi ini bukan tempat ibadah yang kemudian disakralkan begitu," katanya.

Prosesi manembah, juga disebut persujudan, berlangsung giliran.

Kuswijoyo mengawali ritual, beberapa menit kemudian ia menyerahkan pada Nugroho. Ini semacam memberikan kesempatan bagi jamaah lain bergantian memimpin proses meditasi.

Tapi, kata Kuswijoyo, tak ada istilah imam dan makmum dalam ritual. "Tak ada guru tak ada murid, saya hanya memandu (prosesi) saja," katanya.

Sepanjang ritual berlangsung, juga tak ada gerakan dan sesajen tertentu. Kalau tak ada kursi untuk duduk, lesehan pun jadi. Rapalan doa berbeda tak masalah. Semua bisa diucapkan sesuai dengan bahasa dan keinginan sendiri. Bahkan, mereka boleh menyebut Tuhan dengan nama apa pun. Allah boleh, Yesus Kristus juga boleh.

Intinya, kata Kuswijoyo, ritual ini adalah penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan yang Mahaesa. Manembah, menundukkan jiwa pada yang maha kuasa. Karena kelak jika manusia mati, jasad hancur. Yang dikubur jadi tanah, yang dibakar jadi abu. Tinggallah jiwa sumarah (pasrah) pada penciptanya.

Nugroho berpose di dalam pendopo agung Paguyuban Penghayat Kepercayaan Sumarah di Wirobrajan, Yogyakarta pada Rabu petang (14/2/2018). Buku wewarah kepercayaan Sumarah yang berisi ajaran-ajaran yang disampaikan dari R. Ng. Soekinohartono atau lebih dikenal dengan Mbah Kino (kanan atas). Suasana Pendopo Agung Paguyuban Penghayat Kepercayaan Sumarah pada Kamis Siang (22/2/2018).
Nugroho berpose di dalam pendopo agung Paguyuban Penghayat Kepercayaan Sumarah di Wirobrajan, Yogyakarta pada Rabu petang (14/2/2018). Buku wewarah kepercayaan Sumarah yang berisi ajaran-ajaran yang disampaikan dari R. Ng. Soekinohartono atau lebih dikenal dengan Mbah Kino (kanan atas). Suasana Pendopo Agung Paguyuban Penghayat Kepercayaan Sumarah pada Kamis Siang (22/2/2018).
© Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Tak ada nabi tak ada kitab suci

Sumarah didirikan oleh Raden Ngabehi Soekinohartono. Lahir 27 Desember 1897 di Munggi, Semanu, Gunungkidul, ketika lahir kakek buyutnya memberi nama Gudel. Nama itu berarti anak kerbau. Saat dewasa, ia hijrah ke Yogyakarta dan bekerja sebagai mantri dalam pemerintahan keraton Yogyakarta.

Dalam buku Sejarah Paguyuban Sumarah terbitan Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan tahun 1980, Soekino dipercaya memiliki kemampuan kebatinan sejak kecil. Pada usia remaja, ia sudah gemar berguru pada kiai dan menjalankan tapa brata.

Wahyu pertama turun pada 4 Juli 1937. Soekino yang sedang duduk di halaman depan rumahnya mendapat bisikan, Tuhan akan menganugerahinya mahkota. Sejuk terasa di kepala tapi berat bobotnya. Soekino diam tapi tak menolak.

Dua tahun sebelum mengalami peristiwa itu, Soekino mengalami beragam peristiwa spiritual. Dari diperiksa di muka pengadilan gaib, diperlihatkan neraka jahanam, dan disucikan dosanya. Pengalaman gaib itu membawanya pada pertobatan yang sungguh-sungguh. Hingga ia mendapat kesadaran penyerahan diri sepenuhnya pada tuhan.

Sumarah, dalam bahasa Jawa bermakna pasrah. Penghayatnya menyakini pada dasarnya manusia lahir membawa fitrah keilahian. Itu disebut budi.

Laiknya yin dan yang, baik dan buruk, manusia punya pilihan sifat dan perilaku mana yang akan dipeliharanya. Baik atau buruk. Sifat baik itu hanya bisa dicapai jika manusia eneng (diam), ening (hening), dan eling (ingat).

Nugroho mengatakan Sumarah bukanlah agama. "Kami hanya percaya pada Tuhan yang Mahaesa," kata lelaki yang menjabat Sekretaris Paguyuban Sumarah.

Paguyuban ini berdiri pada 1950 untuk mengorganisasikan penghayat Sumarah.

Tak ada nabi dan kitab suci di Sumarah. Soekino adalah pendirinya, tapi bukan rasul laiknya dalam agama samawi. Tak ada pengultusan orang atau tempat tertentu. Maka selain tak ada nabi, penghayatnya juga punya tempat petilasan.

Dalam menyebarkan ajarannya, Sumarah punya wewarah yang berisi nasehat-nasehat dan aturan dari Soekino. Tapi, lagi-lagi ini bukan sebagai kitab suci.

Percaya pada Tuhan, kata Nugroho, adalah kesadaran yang tak bisa dipaksakan. Bahkan tak bisa dipaksakan oleh orang tua pada anak-cucunya. Ia memberi contoh, tujuh orang anak Soekino mengikuti jejak orang tuanya. Tapi dari 25 cucunya, hanya dua orang yang menjadi penghayat Sumarah.

"Saya dan adik saya," kata Nugroho menjelaskan hubungan darahnya dengan Soekino. Sepupu dan kerabatnya yang lain memeluk agama berbeda-beda. Ada yang muslim ada yang nasrani. "Kalau nanti anak saya tak seperti bapaknya tak ada masalah."

Saat ini, jumlah penghayat Sumarah diperkirakan mencapai tujuh ribuan orang. Mereka tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, hingga Jawa Timur dan bernaung dalam organisasi paguyuban Sumarah.

Di luar negeri, kata Nugroho, ada sekumpulan penghayat Sumarah. Semisal di Malaysia dan Perancis tapi komunitas itu bukan bagian dari organisasi paguyuban. Keberadaannya sebatas bersifat personal.

Sebagian besar penghayat Sumarah menganut agama. Islam, Kristen, dan Katolik misalnya. Mereka tetap menjalankan peribadatan agamanya. Pergi ke masjid atau gereja, tapi setelah itu melakukan persujudan Sumarah. Bagi mereka, semuanya memiliki tujuan sama, menyembah pada Tuhan.

Sebagian lain penghayatnya tak memilih satu pun agama. Nugroho misalnya. Dulu, Nugoroho mencantumkan Islam dalam kolom agama di kartu tanda penduduknya. Tapi kini, setelah pemerintah memberi kebebasan, ia lebih senang jika bisa menuliskan "kepercayaan".

Sayangnya, hingga kini pemerintah belum memiliki mekanisme pasti pengisian kolom KTP (Kartu Tanda Penduduk) semacam itu.

Beberapa penghayat, kata dia, ada yang mengosongkan isian kolom agama di KTP. Sekilas langkah itu mencerminkan kebebasan bagi penghayat. Tapi kerap kali cara itu justru menimbulkan persoalan baru. Mereka distigma tak beragama. Pada masa lalu tak beragama berarti ateis dan dituding komunis.

Padahal, menurut dia, beragama dan bertuhan hal berbeda. "Orang tak beragama belum tentu tak bertuhan," katanya.

Para penghayat kepercayaan Sumarah melakukan meditasi saat mengikuti ritual pasujudan di Pendopo Agung Paguyuban Sumarah, Wirobrajan, Yogyakarta (kiri atas). Nugoroho mempersiapkan bahan ajar kepercayaan Sumarah di komputer jinjingnya (kanan atas). Nugroho saat mengajar mata pelajaran kepercayaan Sumarah kepada satu orang muridnya di SMA Negeri 11 Yogyakarta (kiri bawah). Lukisan R. Ng. Soekinohartono, pendiri kepercayaan Sumarah yang terpajang di dinding rumah Nugoroho di Wirobrajan, Yogyakarta, Kamis (22/2/2018).
Para penghayat kepercayaan Sumarah melakukan meditasi saat mengikuti ritual pasujudan di Pendopo Agung Paguyuban Sumarah, Wirobrajan, Yogyakarta (kiri atas). Nugoroho mempersiapkan bahan ajar kepercayaan Sumarah di komputer jinjingnya (kanan atas). Nugroho saat mengajar mata pelajaran kepercayaan Sumarah kepada satu orang muridnya di SMA Negeri 11 Yogyakarta (kiri bawah). Lukisan R. Ng. Soekinohartono, pendiri kepercayaan Sumarah yang terpajang di dinding rumah Nugoroho di Wirobrajan, Yogyakarta, Kamis (22/2/2018).
© Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia mencatat setidaknya ada 37-40 organisasi aliran kepercayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Belum ada data pasti jumlah keseluruhan penghayatnya. "Karena kami masih melakukan pendataan," kata Kuswijoyo.

Kepengurusan MLKI berbasis presidium. Di tingkat pusat jumlah presidiumnya mencapai tujuh orang. Sementara di tingkat provonsi lima orang, di kota dan kabupaten tiga orang. Di presidium DIY, Kuswijoyo adalah salah satu presidium. Ia wakil dari Paguyuban Sumarah. Di organisasi penghayat kepercayaan ini, ia menjadi ketua di tingkat DIY.

Pendataan jumlah penghayat kepercayaan dilakukan setelah keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi pada November 2017 lalu. Dalam putusannya itu, penganut yang selama ini diabaikan negara diakui setara kedudukannya dengan enam pemeluk enam agama yang diakui pemerintah.

Ia tak ingin mengira-ngira jumlah penghayat di DIY. "Karena masih dilakukan pendataannya," katanya. Ia berharap proses itu segera rampung karena data ini bisa mengungkap banyak hal dan menjadi rujukan layanan publik. Selain kependudukan, juga layanan pendidikan.

Di sekolah-sekolah, ia meyakini banyak siswa yang menganut aliran kepercayaan. Meski saat ini baru dua sekolah di Yogyakarta dengan siswa dalam hitungan jari yang terbuka memberikan materi penghayat.

Anang Zakaria
Kontributor Beritagar.id Yogyakarta.

BACA JUGA