Rumah mikro berukuran 2,5 kali tiga meter karya arsitek Benyamin Narkan pada Rabu (27/07/2018). Lokasinya berada di belakang Studio Akanoma, Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat.
Rumah mikro berukuran 2,5 kali tiga meter karya arsitek Benyamin Narkan pada Rabu (27/07/2018). Lokasinya berada di belakang Studio Akanoma, Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat. Aditya Herlambang / Beritagar.id
RUMAH MILENIAL

Bukan gubuk derita

Arsitek Yu Sing mendesain rumah mikro. Ukurannya ekstrem tapi ternyata cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Siang itu ia menunjukkan sebuah maket rumah berlantai dua. Dimensi dasarnya seukuran telapak tangan. Sementara tingginya dua kali lebih panjang dari itu.

Bangunannya seperti rumah panggung dengan atap pelana. Ia lalu mengatakan, ukuran asli rumah maket ini. “Lantai dasarnya tiga kali tiga meter,” kata Yu Sing.

Siapa yang tak bengong. Ini rumah atau gubuk?

Total luasnya hanya 18 meter persegi. Jauh di bawah ukuran standar pemerintah untuk rumah sederhana sehat, yaitu 28 sampai 36 meter persegi. Arsitek kelahiran Bandung 1976 itu keukeuh menyebutnya sebagai rumah.

Sejatinya bukan Yu Sing yang kejam dengan klaimnya itu, melainkan situasi kota besar. Harga tanah yang menggila, ongkos membangun hunian pun terasa jauh di awang-awang kalangan kelas menengah hingga bawah.

“Saya banyak sekali kedatangan klien yang mau bikin rumah murah dengan dana Rp100-200 juta, hari gini loh. Tapi selalu orientasinya mau rumah standar terus. Setengah mati enggak bakal bisa,” katanya.

Rumah standar yang ia maksud di dalamnya terdapat ruang tamu, dua kamar tidur, kamar mandi, dan dapur.

Keinginan seperti ini boleh-boleh saja. Tapi kerap menjadi tidak realistis ketika menginginkan harga pembangunannya maksimum Rp200 juta, dan di kota besar pula.

Tiap kali Yu Sing menyodorkan konsep rumah mini alias mikro itu, kliennya langsung mengeleng. Ide ini memang jauh di luar kotak.

"Saya perlu waktu menyebarkan informasi ini, supaya mereka juga realistis," ujar arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung 1999 itu. Kami menemuinya di Studio Akanoma miliknya di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (27/07/2018).

Hunian itu ia rencananya akan ia bangun tiga unit di daerah Parongpong, Bandung Barat. Jadi, para kliennya punya gambaran jelas dan dapat merasakan nyata. "Ruangan yang dianggap kecil sebenarnya cukup," kata Yu Sing.

Arsitek Yu Sing saat berada di rumah mikro karyanya di belakang Studio Akanoma, Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat, pada Rabu (27/07/2018).
Arsitek Yu Sing saat berada di rumah mikro karyanya di belakang Studio Akanoma, Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat, pada Rabu (27/07/2018). | Aditya Herlambang /Beritagar.id

Yu Sing lalu menujukkan kepada kami denah rumah mikro itu. Ia sengaja memilih model panggung agar tahan guncangan gempa dan ramah lingkungan. Tak ada permukaan tanah yang tertutup langsung oleh bangunan.

Lantai dasarnya berisi kamar mandi dan kamar tidur. Tak jauh dari sana, tentu saja, ada tangga. "Lantai di bawah kasur bisa menjadi tempat penyimpanan, seperti pakaian," kata Yu Sing.

Di lantai dua terdapat ruang keluarga dan dapur. Bagian depan dan samping ada balkon berukuran satu kali dua meter. Yu Sing juga membuat sedikit perluasan ruangan untuk kompor, bak cuci piring, dan tempat menjemur pakaian.

Rumah mikro ini sangat fleksibel untuk ukuran lahan. Tidak perlu terlampau besar, asalkan ada area terbuka untuk sirkulasi udara.

Kalau cukup beruntung punya lahan besar, sisa kavling bisa untuk rumah mikro lainnya sehingga ada ekstra ruangan. Kalau lahannya sempit, penambahan ruang bisa ke atas.

Dengan cara bertahap seperti ini, dana untuk membangun rumah jadi ringan. "Bikin rumah sebenarnya tidak perlu sekaligus jadi," kata Yu Sing.

Prinsip rumah mikro, kata Yu Sing, yaitu hunian sekecil mungkin. Ruang utamanya yakni kamar tidur dan kamar mandi serta dapur. “Soal interior apa perlu? Itu bisa nanti saja," katanya.

Hemat ruang, hemat kantong

Konsep rumah yang Yu Sing tawarkan bukan 100 persen hasil pemikirannya. Ia mendapat ide ini dari berbagai buku arsitek rumah modern di Jepang. "Di sana kamar anak cukup satu kali dua meter," ujarnya.

Tayangan acara televisi luar negeri dan video di dunia maya turut menjadi referensinya. Tak hanya Jepang, di Amerika Serikat dan Eropa pun mulai menjamur rumah-rumah mini. "Ada peralihan gaya hidup dan keterbatasan ruang (di perkotaan)," kata Yu Sing.

Ia menunjukkan beberapa gambar unik bangunan mini itu. Ada yang tunggal dan berkelompok. Ada pula yang memakai teknologi biasa hingga tinggi. Lokasinya di mana-mana. Dari pinggir danau, hutan, sampai tempat parkir.

Yu Sing sebenarnya bukan anti membangun hunian sederhana. Hampir 20 tahun kariernya sebagai arsitek, ia sering membantu klien membangun rumah yang terpepet lahan dan biaya. Barang bekas tak jarang ia pakai pula untuk menghemat material.

Tujuannya, agar semua masyarakat, tak peduli status ekonominya, bisa menikmati rumah dengan desain baik. Predikat "Arsitek Rumah Murah" sempat melekat padanya. Buku karyanya Mimpi Rumah Murah telah terbit pada 2009 lalu.

Studionya, Akanoma, menjadi tempatnya melakukan riset soal hunian. Ia saat ini mempelajari seberapa kecil rumah yang bisa ditinggali oleh orang zaman sekarang.

Rumah mikro berukuran 1,8 kali 1,2  meter karya Yu Sing pada Rabu (27/07/2018). Lokasinya berada di belakang Studio Akanoma, Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat.
Rumah mikro berukuran 1,8 kali 1,2 meter karya Yu Sing pada Rabu (27/07/2018). Lokasinya berada di belakang Studio Akanoma, Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat. | Aditya Herlambang /Beritagar.id

Yu Sing dan rekannya kemudian membuat dua rumah mini di belakang studionya. Keduanya berbentuk kotak dan terlihat unik dari kejauhan.

Rumah yang paling kecil berdiri di atas steger kerangka besi atau scaffolding. Kalau ingin masuk ke dalam harus melalui tangga lipat di sampingnya. Lalu, berjalan menuju teras selebar kurang dari semeter untuk menuju pintu masuk.

Sekujur dindingnya tembus pandang berbahan kaca, pun pintu gesernya dengan tirai penutup di dalam. Selain memakai bingkai aluminum berkaca, Yu Sing memasang kaca-kaca mobil bekas seukuran yang dibariskan vertikal di kedua samping bangunan.

Seluruh posisi kaca mobil pada bingkai aluminium terbuka di bagian bawah. Pot-pot tanaman berjejer di bagian itu. Dari sela itu sirkulasi udara mengalir.

Bobot rumah itu enteng karena memakai rangka tulang untuk atap dari baja ringan. Atapnya pun hanya kain plastik tenda yang tebal berwarna putih. Rumpun bambu yang jangkung membantu menaungi rumah itu dari terik matahari.

“Material apa saja bisa. Tapi kalau lebih bagus yang ringan supaya praktis, masangnya cepat, dan bisa dipindahkan itu lebih bagus lagi,” kata Yu Sing.

Luas bangunan seukuran pos ronda atau kamar mandi itu 3,6 meter persegi. Dimensinya 1,2 kali 1,8 setinggi tiga meter. Di dalamnya terpasang meja kecil dan sebuah kursi lipat.

Begitu masuk, ada papan lantai kayu yang merangkap meja. Di sisi kanan ada tangga untuk naik ke mezanin sebagai tempat kasur. Sebidang papan kecil tergantung untuk tempat televisi.

Rumah mikro itu dinilai cocok bagi yang masih sendiri atau single. Harga membangunnya Rp15 juta.

Rancangannya bisa pula untuk kamar anak atau kamar kos, dengan memanfaatkan bagian atas rumah yang ada. Pelengkapnya tinggal kamar mandi dan toilet serta interior yang ringkas untuk lemari pakaian atau dapur mini.

Bagi yang telah berkeluarga dan belum punya anak atau sudah punya seorang anak kecil, Yu Sing menunjukkan karya rekan arsiteknya di Studio Akanoma, Benyamin Narkan. Berbentuk kotak ukuran 2,5 kali tiga meter, tingginya sekitar tiga meter.

Ketinggian atap yang dibuat mengerucut itu bisa fleksibel untuk diatur lagi. Beny, panggilannya, membuat struktur dari baja. Dinding dan atap rumah dari lembaran aluminium pabrikan yang berlapis baja.

Fasad rumah berupa dua daun jendela dan pintu engsel berkaca tebal, lebar, dan transparan. Jendela kaca memanjang di sepasang dinding samping.

Dinding bagian dalam, lantai, dan langit-langit penuh berlapis papan kayu pinus. Nuansanya pun jadi seperti di rumah kabin minus perapian.

Pada bagian belakang rumah, ada ruang kamar mandi dan toilet. Tepat di atasnya ada mezanin sebagai tempat tidur. Aksesnya ke atas berupa tangga besi vertikal.

Di samping kasur atau tembok atas rumah dipasang jendela kaca jembar yang mengikuti bentuk atap runcing. “Kalau anak bertambah, bisa pasang mezanin kasur lagi,” kata Beny.

Dengan penataan interior yang tepat dan furniture serbaguna seperti lemari pakaian kecil merangkap meja, dia yakin rumah bisa nyaman. Multifungsi ruang juga diperlukan seperti ruang utama sebagai ruang keluarga, ruang tamu, ruang belajar, dan ruang tidur saat malam hari.

“Syarat lainnya, harus minim perabot termasuk hemat koleksi pakaian,” ujar lelaki berkacamata itu.

Biaya membuat bangunan rumah itu Rp 30 juta. Tapi kata Yu Sing, harga itu belum termasuk ongkos untuk membuat sumur dan pemasangan instalasi listrik.

"Bikin rumah sebenarnya tidak perlu sekaligus jadi."

Yu Sing

Yu Sing menepis anggapan konsep rumah mikro tidak manusiawi. “Kita hidup tidak seperti dipenjara di dalam rumah selama 24 jam setiap hari,” kata dia.

Konsekuensi menghuni rumah mikro memang hidup menjadi sederhana dan seperlunya. Aneka perabot diseleksi atau bentuknya diakali agar tidak membuat ruangan jadi sempit. Peralatan pangan dan sandang juga harus dipangkas jumlahnya.

Sekecil apa pun ukurannya sebenarnya tidak menjadi masalah, asalkan dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar. Kebutuhan lain bisa dilakukan di luar rumah.

Ia lalu membayangkan kalau rumah mikro diterapkan di kota-kota pandat penduduk, seperti Jakarta. Mungkin saja cara ini bisa menjadi solusi kemacetan dan polusi di ibu kota.

“Waktu di jalan lebih sedikit. Rumah bisa dekat dengan tempat kerja sehingga waktu untuk keluarga lebih banyak," ujarnya.

Kalau itu terjadi, menurut Yu Sing, daerah pinggiran yang didesak pemukiman bisa kembali menjadi penyangga kota dan lahannya bisa dipakai untuk pertanian atau perkebunan.

Nah, apakah Anda tertarik hidup di rumah mikro seperti ini?

Rumah mikro dalam pandangan Yu Sing /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR