Anton, seorang Casual dari Bandung saat berpose untuk Beritagar.id, Sabtu (23/9).  © Aditya Herlambang  / Beritagar.id

Bukan penggembira belaka

Kehadiran Casual dan Ultras bagi Persib meluaskan cakrawala fandom lokal.

Empat tahun lalu, kemunculan Bobotoh Famiglia memperkaya khazanah Ultras di Indonesia. Pelopornya 15 pendukung Persib. Di stadion, mereka menduduki tribune utara.

Sosok berinisial SM, 21 tahun, salah satu perintis kelompok itu, membilang Bobotoh Famiglia (BF) "tidak menganut ideologi apa pun".

Perkara-perkara sederhana semacam bendera raksasa, yel-yel penggugah spirit, dan koreografi penonton di tribune stadion-stadion Italia memicu persalinan BF pada 2013.

Dan tentu saja, kepercayaan diri.

Pasalnya, walau berlumur pelbagai kelengkapan Ultras comotan seperti kertas gulung, bendera besar, koreografi, lagu-lagu penyemangat (chants), dan flare, BF tak merujuk kepada mazhab tertentu di negeri asing.

"Ideologi kami netral sebagai bobotoh, mendukung Persib selama 90 menit," katanya menyebut akronim Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung, Jumat (29/9).

Keanggotaan BF terbuka bagi siapa pun. Hingga kini, jumlah pengikutnya sekitar 300-an.

"Kami tidak menganut istilah senior dan junior, juga pimpinan. Semua sama rata, tapi tahu batas," ujar SM tentang komunitas berseragam kaus atau jaket hitam itu.

Saat bersiap menonton Persib bertanding, para anggota BF yang juga berasal dari luar Bandung biasanya berkerumun di lokasi parkir stadion. Jarak tempat dimaksud dari Si Jalak Harupat, Soreang, sekitar 500 meter. Jika sudah ramai, mereka berjalan kaki ke gelanggang.

Bendera berukuran 6x4 meter atau separuhnya telah disiapkan. Jumlahnya beragam: 20 helai untuk pertandingan besar, dan 10 helai untuk pertandingan biasa.

"Tulisannya berbahasa Indonesia, buat support Persib dan legenda Persib seperti Indra Tohir," katanya.

Setelah La Curva Pasundan terbentuk, para Ultras ini secara keroyokan menggarap chants dan koreografi yang cocok untuk Persib, "seperti Forza Persib yang berasal dari Milan," kata SM.

Chants umum digarap dalam acara kumpul-kumpul. Ada yang membuat sendiri, atau mengutip dari koleksi Ultras lain. "Tak Ada Kata Menyerah" dan "Forza Persib" adalah dua di antaranya.

Lagu murni ciptaan sendiri ada lima. Liriknya campuran, bahasa Indonesia dan bahasa Italia. Adapun chants dari Ultras Italia, jumlahnya sepuluh.

Seorang anggota divisi musik La Curva Pasundan bernama palsu Travis mengaku tak menemui kesulitan saat mencipta lagu. Justru "susahnya waktu sosialisasi (lagu) ke anggota, yang disebarkan (lebih) dulu di Instagram," ujarnya.

Chants anyar direkam dengan iringan gitar atau pukulan di meja. Di stadion, lagu-lagu itu dinyanyikan beriring tabuhan snare atau bass drum. "Kami sewa gelanggang olahraga untuk latihan," kata Travis sambil menyinggung tribune softball GOR Pajajaran atau GOR C-Tra Arena sebagai venue berlatih.

Pendukung si Pangeran Biru saat Persib menghadapi Bali United dalam lanjutan Liga 1 Indonesia, Kamis (21/9), di stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung.
Pendukung si Pangeran Biru saat Persib menghadapi Bali United dalam lanjutan Liga 1 Indonesia, Kamis (21/9), di stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung.
© Aditya Herlambang /Beritagar.id

La Curva Pasundan mewujud pada 5 Juli 2014 lewat inisiasi BF. Komunitas itu menjadi wadah kelompok Ultras di Bandung dan daerah lain yang berjumlah 20.

Menurut seorang inisiatornya yang berinisial DI, 23 tahun, La Curva Pasundan hadir karena "awalnya dari beberapa komunitas kumpul dan muncul aspirasi, saat itu kurang dari 10 kelompok beranggota total sekitar 100 orang".

Dalam hemat DI, Ultras di Bandung tidak sebanyak kelompok bobotoh lain menyusul perbedaan kondisi. "Kita juga berat bawa nama-nama Ultras. Apa yang cocok di luar negeri, belum tentu cocok ditempelin di Bandung," katanya.

Dus, wajar kiranya jika mereka pun memperlakukan Ultras sebagai akronim dari ulet, terampil, atraktif, dan asyik.

Aksi di Lapangan

Ultras Persib ini wajib bernyanyi sepanjang pertandingan berlangsung 2x45 menit sambil berdiri di tribune. Telepon seluler wajib nonaktif. Mereka hanya mengambil jeda sewaktu laga rehat.

Tiap anggota pun mesti bersepatu sewaktu berada di stadion. "Datang ke istana kita, harus rapi, salah satunya dengan sepatu. Stadion itu tempat ibadah bagi suporter," kata DI.

Barisan penyanyi dipimpin tiga orang capo atau dirigen. Seorang dari trisula itu berinisial HM. Dia capo baru. Tugas utamanya menjaga kekompakan menonton sekaligus memimpin chants dan koreografi.

HM ditunjuk beralaskan sejumlah pertimbangan. Terpokok, aktif di kelompok dan cocok sebagai panutan di tribune.

Sehari-hari, sosok 23 tahun itu mengelola warung nasi khas Sunda milik ibunya. Pun begitu, dia masih harus berkeliling ke komunitas Ultras untuk menjalin keguyuban.

Kelompok suporter ini mendapatkan dana dari sumbangan anggota atau hasil penjualan kaus. Uang itu berguna demi membuat bendera, berlatih chants, dan menciptakan koreografi. "Keuangan dikelola secara transparan," kata DI.

Dukungan tak cuma diberikan kala laga kandang, tapi juga tandang. Rombongan ke luar kota biasanya berangkat dengan sejumlah bus berkapasitas 50-60 orang dan mobil pribadi. Namun, meski berseragam hitam, komunitas Ultras tetap bergabung dengan kelompok bobotoh lain.

Tak cuma Ultras

Bobotoh terbagi menjadi beberapa kelompok. Viking mendominasi. Lalu ada Bomber, kependekan dari Bobotoh Maung Bandung Bersatu.

Ruang pendukung diberikan pula kepada kelompok Casual, dengan Flower City Casual (FCC) nan melegenda. Ia perintis kelompok pendukung sepak bola di Indonesia bergaya kasual.

Sebagian Ultras menunjukkan dukungan saat Persib meladeni Bali United dalam lanjutan Liga 1 Indonesia di Si Jalak Harupat, Kamis (21/9).
Sebagian Ultras menunjukkan dukungan saat Persib meladeni Bali United dalam lanjutan Liga 1 Indonesia di Si Jalak Harupat, Kamis (21/9).
© Aditya Herlambang /Beritagar.id

FCC terbentuk pada 2005 lewat andil Rizki Ardi Maulana, 36 tahun, bersama sebelas kawannya. Masing-masing oknum saling kenal di acara musik Punk dan Brit Pop yang biasa disambangi kelompok skinhead.

Setelah mengobrol, mereka ternyata sama suka sepak bola dan mendukung Persib.

Rizki mengatakan pendukung Casual mengadaptasi atau meniru subkultur pendukung sepak bola klub-klub Inggris--bil khusus Liverpool--pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an.

Saat itu konflik antarpendukung klub di Inggris tengah panas-panasnya. Otoritas setempat dan suporter lawan menjadi ancaman. Dampaknya, akses para pendukung sepak bola untuk memasuki bar dan melakukan perjalanan tandang kian sulit.

Jenama sandang terkemuka seperti Burberry, Stone Island, Sergio Tacchini, Fila, CP Company, Adidas, Ellesse, Lyle & Scott menjadi alternatif pengganti jersey dan merchandise klub yang dinilai terlalu berbahaya untuk dikenakan.

Penyusupan ke kelompok pesaing pun jadi kian gampang.

Era pra-Casual, kata Rizki, dimulai pada akhir 1970-an. Periode awal hingga pertengahan 1980-an, penonton Casual berpakaian layaknya petenis.

Bosan dengan pakaian olahraga, pada 1990-an mereka melirik jaket tentara. Sejak 2000-an, mereka kembali berpakaian sporty. "Jaket training, hoodie, jaket parka, celana jin, kaus polo, dan bersepatu," katanya.

Secara tak tertulis, pendukung Casual terlarang berkaus oblong atau sandal. Tujuannya, menghormati pertandingan di stadion yang mereka saksikan secara langsung.

Pada mulanya, peserta FCC di tiap pertandingan berkisar 30-40 orang. Era media sosial lantas menggemukkan jumlahnya. "Dinyinyirin sebagai bobotoh rasa Inggris enggak apa-apa, asal enggak main fisik," katanya, Sabtu (23/9). Kini, jumlah simpatisan FCC mungkin sekitar 1000-an. Mereka datang dari pelbagai kota di Jawa Barat.

Pendukung Casual secara garis besar dimusuhi dua pihak: bobotoh Persib dari kelompok tertentu, dan pendukung Casual Persija, Tiger Boys.

Secara internal, perkelahian dengan sesama bobotoh jadi mungkin tersebab perbedaan gaya berpakaian. "Kami nyamannya berpakaian begini ke tribune, enggak bisa dipaksa," ujarnya.

Karena besarnya risiko perbenturan, FCC sowan ke kelompok bobotoh lain. "Kalau sudah saling kenal pasti nggak enaklah kalau mau ribut. Tapi selalu ada saja yang reseh di lapangan," kata Rizki. "Karena bola budaya laki-laki, kalau ada yang jual, ya beli".

Sejumlah elemen bobotoh Persib di stadion Si Jalak Harupat pada laga Persib vs Bali United, Kamis (21/9), dalam lanjutan Liga 1 Indonesia.
Sejumlah elemen bobotoh Persib di stadion Si Jalak Harupat pada laga Persib vs Bali United, Kamis (21/9), dalam lanjutan Liga 1 Indonesia.
© Aditya Herlambang /Beritagar.id

FCC telah memiliki sepuluh lagu karya pendukung klub sepak bola di Inggris. Mereka mengindonesiakan liriknya. Sudah dua kompilasi lagu dibuat. "Sempat coba bikin chants sendiri, tapi masih kesulitan," katanya.

Di stadion, mereka hanya berkumpul di tribune tanpa menampilkan koreografi.

Menurut Rizki, koreografi perlu disiapkan secara khusus. Selain tarian atau gerakan, area menonton juga harus dipastikan bersih. Kondisi itu ditentukan oleh jatah tiket.

Namun, dari manajemen Persib mereka tidak mendapat pangsa tiket khusus per pertandingan.

Seperti Ultras, mereka pula berdiri di tribune selama 90 menit walau tak selalu bernyanyi. "Yel-yel untuk dukungan melihat ritme pemain, ketika melendoy, misalnya," kata dia.

Dalam urusan perlengkapan panggung, FCC tak berbekal bendera raksasa, cuma sedia bendera biasa atau banner komunitas hasil kerja dadakan.

Wajah para Casual tak berpenutup. Selain pertandingan kandang, mereka kadang hadir di pertandingan tandang seperti ke Gresik, Jepara, Palembang, Surabaya.

Saat tur ke daerah yang rawan konflik dengan pendukung tim lawan penonton perempuan diminta tinggal. "Kalau ikut, riweuhnya (repotnya) dobel, seperti waktu final dicegat Jakmania di Jakarta. Fokusnya melindungi cewek sama lawan musuh," katanya.

Anwar Siswadi
Kontributor Beritagar Bandung

BACA JUGA