Keterangan Gambar : Ganda putra Indonesia Marcus Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo berpose usai menjuarai turnamen Yonex All England 2017 di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, 12 Maret 2017. © AP Photo / Rui Vieira

...lebih baik tunggal putra dikirim ke level Grand Prix atau Grand Prix Gold dan bukan Superseries.

Sorak sorai seratusan orang pendukung Indonesia bergema di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, ketika pukulan smes Marcus Fernaldi Gideon gagal dikembalikan Liu Yuchen. Momen itu memastikan Marcus bersama mitranya, Kevin Sanjaya Sukamuljo, menjuarai nomor ganda putra Yonex All England 2017 pada 12 Maret lalu.

Kemenangan dua set Kevin/Marcus atas pasangan Tiongkok, Li Junhui/Liu Yuchen, 21-19 dan 21-14, adalah gelar pertama bagi ganda putra Indonesia di All England sejak Sigit Budiarto/Chandra Wijaya melakukannya pada edisi 2003.

Gelar juara yang direbut Kevin/Marcus juga pelipur lara bagi kontingen Indonesia. Setidaknya, sejak 2012 dan hanya gagal pada 2015, Indonesia mampu menjuarai nomor ganda All England --turnamen bulu tangkis tertua di dunia.

Namun sejak 2012 itu, ganda campuran lebih banyak berbicara. Setelah juara Olimpiade 2016 Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir merajai ganda campuran All England tiga tahun beruntun (2012, 2013, dan 2014), giliran Praveen Jordan/Debby Susanto menjuarai ganda campuran All England 2016.

"Andalan kami sekarang ini memang dua sektor itu, ganda campuran dan ganda putra," ujar Susi Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI sekaligus Ketua Kontingen Indonesia ke All England 2017, saat ditemui Beritagar.id selepas pertandingan semifinal (11/3/2017).

Meski demikian, pencapaian ganda campuran dan yang terbaru dari ganda putra tetap tak mampu menutupi tren menurun pada bulu tangkis Indonesia di ajang dunia. Dalam kasus All England 2017, misalnya, PBSI bisa disebut gagal mencapai target.

Untuk diketahui, PBSI menetapkan Praveen/Debby sebagai andalan utama merebut gelar juara. Kebetulan mereka adalah juara bertahan.

Sementara Kevin/Marcus justru tak punya target. "Tidak ada target pula dari pelatih. Pokoknya hanya main sebaik mungkin," ujar Marcus setelah memenangi pertandingan pertandingan pertama All England 2017 (8/3).

Adapun Praveen/Debby di luar dugaan justru langsung tersingkir pada pertandingan pertama. Mereka menyerah dalam tiga set 21-17, 19-21, dan 21-12, kepada ganda campuran Jepang Yuta Watanabe/Arisa Higashino.

Ironisnya, Praveen/Debby dipersiapkan serius oleh PBSI untuk tampil di All England 2017. Mereka tidak turun di turnamen apapun sebelum All England.

Namun itu justru jadi bumerang. Praveen (23 tahun) mengatakan kekalahan dari pasangan Jepang disebabkan awal (start) yang terlambat panas.

Debby, 27 tahun, menilai keterlambatan panas lantaran mereka belum pernah bertanding selama 2017. "...artinya kami kurang pemanasan sebelum tampil di sini (All England)," katanya.

Keprihatinan bakal bertambah ketika melihat kegagalan pada nomor lain; tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putri. Di All England, tunggal putra dan tunggal putri tak pernah lagi juara sejak Haryanto Arbi dan Susi bersamaan berjaya pada 1993 dan 1994.

Ganda putri lebih lama lagi puasa gelar, 38 tahun. Pasangan putri terakhir yang menjuarai All England adalah Verawaty/Imelda Wiguna.

Pada All England 2017, Indonesia menurunkan empat pemain tunggal putra --satu di antaranya non-pemain pelatnas Sonny Dwi Kuncoro. Tiga pemain lain adalah Ihsan Maulana Mustofa, Anthony Sinisuka Ginting, dan Tommy Sugiarto.

Ihsan langsung tersingkir pada pertandingan kedua kualifikasi. Malangnya, pemain 21 tahun itu disingkirkan Anthony.

Namun memasuki babak pertama, Anthony pun tersingkir. Demikian pula Tommy dan Sonny.

Gagal melewati kualifikasi dan babak pertama juga terjadi pada para wakil tunggal putri. Lyanny Alessandra Mainaky menyerah pada pertandingan kedua kualifikasi dan Fitriani angkat koper pada babak pertama. Hanya Dinar Dyah Agustine yang berhasil mencapai babak kedua meski akhirnya pun kalah.

Ganda putri pun setali tiga uang. Hanya dua dari empat pasangan yang bisa melaju ke babak kedua. Sedangkan ganda putra dan ganda campuran, selain Kevin/Marcus, hanya Tontowi/Liliyana yang berhasil tembus hingga minimal perempat final.

Dalam evaluasi awal dan sementara, Susi menilai ada masalah pada mental pemain. Bila berkaca pada Kevin/Marcus, pelatih ganda putra Herry IP mengatakan bahwa anak asuhnya itu memang piawai pada urusan mental.

"...Itu salah satu kelebihan mereka," katanya.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susi Susanti, berpose untuk Beritagar.id di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, 11 Maret 2017.
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susi Susanti, berpose untuk Beritagar.id di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris, 11 Maret 2017.
© Hedi Novianto /Beritagar.id

Hambatan mental

Susi pun mengakui bahwa mental adalah hambatan pertama para pemain Indonesia saat ini. "Untuk menjadi juara, pemain harus punya mental juara. Mereka juga harus bersikap profesional dan disiplin," ujar perempuan 46 tahun ini.

Menurut Susi, yang mengoleksi empat gelar juara tunggal putri All England, pemain Indonesia harus meniru semangat juang tunggal putri Jepang Akane Yamaguchi. Pemain 19 tahun ini dinilai punya mental juang yang tinggi dan tak mau menyerah sebelum pertandingan berakhir.

"Kita bisa lihat sikapnya di lapangan. Walau kalah, dia harus tetap punya mental juang dan tak boleh gentar pada lawan. Kami akan gembleng mental juang ini pada para pemain," imbuh Susi.

Hal senada diungkapkan mantan tunggal putra Indonesia, Taufik Hidayat. Ditemui setelah acara Yonex Legends' Vision di tengah kegiatan All England 2017 (9/30, Taufik mengatakan mental sejumlah pemain Indonesia saat ini masih belum sesuai harapan.

"Ketika kalah kelihatan tidak terlampau menyesal. Pasti ada rasa menyesal, tapi seadanya," katanya.

Taufik pun menyarankan PBSI perlu membuat terobosan baru untuk mengatasi kemunduran prestasi bulu tangkis Indonesia ini. PBSI tidak boleh melupakan potensi bagus yang sebenarnya ada.

Pria yang dulu terkenal dengan keterampilan smash backhand-nya ini menjelaskan bagaimana Indonesia masih punya banyak bakat bulu tangkis. Indonesia juga punya banyak pelatih yang tersebar di berbagai klub.

"PBSI harus rajin datang ke klub, harus jemput bola. Sebab para pelatih itu yang merawat atlet-atlet Indonesia. PBSI perlu memperkuat pelatih di tingkat bawah atau klub ini, memberi dasar-dasar," kata pria 35 tahun ini.

Lebih lanjut, Taufik pun menghadirkan sejumlah masukan untuk PBSI. Misalnya bagaimana seharusnya PBSI melangkah maju untuk membangun fisik pemain, nutrisi pemain, gizi pemain, dan sport science-nya.

Artinya PBSI dinilai harus mengikuti perkembangan zaman. "Saya pikir Indonesia cuma naik satu tingkat, tapi lihat negara lain. Taiwan punya pemain tunggal putri nomor satu dunia, Thailand juga mulai banyak pemain berkualitas, dan Jepang punya banyak ganda putri.

"Sementara Indonesia hanya muncul ganda campuran. Nah, mana pemain muda lain?" sergah Taufik.

Tunggal putra Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa
Tunggal putra Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa
© Zabur Karuru /Antara Foto

Strategi kirim pemain

Masukan lainnya dari Taufik adalah bagaimana mengembangkan pemain. Pria yang kebetulan punya Taufik Hidayat Arena di Jakarta Timur itu menilai soal ini ada pada tanggung jawab pemain dan pelatih.

Pengembangan harus dilakukan secara bersinergi, tidak bisa parsial. Pemain, misalnya, wajib punya tanggung jawab besar dan tidak manja.

Taufik memaklumi zaman memang sudah berubah karena saat ini para pemain Indonesia dikontrak secara individu sehingga jaminan keuangan semakin baik. Artinya sedikit banyak ada pengaruh pada masalah daya juang di lapangan.

"Jadi atlet itu tidak mudah, harus menghilangkan dunia muda. Jadi atlet bukan milik pacar, atau keluarga, tapi punya bangsa," lanjutnya.

Jadi apakah atlet sekarang kalah disiplin dibandingkan para pendahulunya, termasuk Taufik? Menantu eks ketua PSSI Agum Gumelar ini mengatakan kurang greget.

Namun ini masalah yang harus diselesaikan secara tim, secara organisasi. Ini tidak bisa hanya dilakukan oleh individu.

"Para pelatih juga harus tahu di mana batas pemainnya. Jadi perlu sejumlah pendekatan."

Lebih lanjut Taufik ingin agar PBSI melihat dunia dan menggunakan standar dunia. Para pemain juga diminta tidak menggunakan lagi standar terbaik di Indonesia.

"Jangan bangga hanya menjadi pemain terbaik di Indonesia," katanya soal tiga pemain tunggal putra Indonesia yang tak kunjung berprestasi di level dunia.

Itu sebabnya Taufik menyarankan agar para pemain Indonesia tidak lagi sering dikirim ke turnamen Superseries seperti All England. Mengirim pemain ke turnamen kelas super dan kemudian tersingkir pada babak awal justru tak berdaya guna.

Kepercayaan diri dan mental para pemain muda, seperti yang sekarang ada pada sektor tunggal putra, harus dipupuk dan para pemain juga harus jujur pada dirinya.

"Menurut saya, lebih baik tunggal putra dikirim ke level Grand Prix atau Grand Prix Gold dan bukan Superseries. Kalau bisa juara di sana, dia bakal percaya diri dan dapat poin. Dari pada ke All England dan tersingkir pada babak awal, untuk apa?

"Lagi pula bila dapat poin di turnamen level bawah itu bakal menaikkan peringkat pemain sehingga memudahkan hasil undian ketika tampil di turnamen lain. Mereka tidak langsung ketemu lawan berat," jelasnya.

Kebetulan apa yang disuarakan Taufik senada dengan ide Susi. Istri eks pemain Indonesia Alan Budikusuma ini menunjukkan gelagat untuk membatasi para pemain di turnamen Superseries.

"Kami harus selektif. Jadi pemain yang tidak mampu bersaing di Superseries lebih baik main di level bawahnya; dari Challenge, Grand Prix, kemudian Grand Prix Gold," katanya.

Susi pun berjanji dan mengajak semua pihak yang terlibat untuk bekerja keras. "Kami butuh 2-3 tahun untuk mencapai kemajuan," pungkasnya.

Catatan redaksi: Atikel ini didukung Garuda Indonesia.
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.