Tampilan laman profil admin akun Instagram Nurhadi-Aldo dalam ponsel milik Edwin, Minggu (13/1/2019).
Tampilan laman profil admin akun Instagram Nurhadi-Aldo dalam ponsel milik Edwin, Minggu (13/1/2019). Beritagar.id / Reza Fitrianto

Cerita di balik kampanye satire Nurhadi-Aldo

Kami jumpa Edwin, salah seorang Tim Sukses pasangan Nurhadi-Aldo (Dildo). Dia berbagi kisah di balik riuh satire politik itu .

Ponsel IPhone7 masih melantunkan lagu lawas, Heal The World milik Michael Jackson.

Si pemilik ponsel berjalan menghampiri saya. Beberapa menit sebelumnya, dia sekadar mengintip gerak-gerik saya dari balik jendela.

"Edwin. Kupikir masnya intel," katanya mengawali obrolan sambil mengulurkan tangan.

Edwin bertubuh ceking. Kulitnya sawo matang. Rambutnya acak-acakan seperti baru terjaga dari tidur. Sepasang matanya berjaga dengan sorot tajam di balik lensa minus satu.

Saat kami jumpa, dia pakai kaus oblong dan celana pendek. Ada pula jaket parka army look yang tersandang di bahunya.

Kami bertemu di Klaten, Jawa Tengah, pada akhir pekan, 12 dan 13 Januari 2019.

Edwin mengaku sedang menepi dari Yogyakarta, kota tempatnya bermukim.

Pemuda berusia 20 itu jadi salah satu figur paling dicari pada awal tahun politik ini.

Dia dan tujuh kawannya merupakan Tim Sukses (baca: admin atau pengelola) Nurhadi-Aldo (Dildo), capres-cawapres fiktif yang menggemparkan jagat media sosial Indonesia.

Sebagai pasangan fiktif, Dildo maju lewat "jalur prestasi". Pengusungnya tergabung dalam "Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik". Motor utama koalisi itu adalah "Partai Untuk Kebutuhan Iman (PUKI)".

Slogannya ditulis dengan susunan huruf nyeleneh: #McQueenYaQueen.

Dildo pun punya tawaran program yang menjungkirbalikkan logika politik.

Mereka berjanji menaikkan upah buruh 60 persen. Petani jadi pegawai negeri. Pun, demi mengurangi pelanggaran Hak Asasi Manusia kepada aktivis lingkungan, aparat (baca: tentara) akan jadi Petani-PNS. Ada pula alih fungsi lahan sawit jadi ladang ganja.

"Condong ke sana disebut cebong. Ke sisi lain jadi kampret. Dildo lahir sebagai penengah konflik. Ini hiburan rakyat."

Edwin, Tim Sukses Nurhadi-Aldo

Edwin bilang Dildo lahir sebagai hiburan untuk publik yang jengah dengan polarisasi politik di media sosial.

Hiburan itu bersambut riuh. Awal Januari 2019, warganet ramai-ramai mendeklarasikan diri sebagai calon legislatif (caleg) yang siap memenangkan Dildo. Poster-poster caleg pengusung Dildo berseliweran di media sosial.

Kanal kampanye Dildo juga banjir dukungan. Per 16 Januari 2019, Dildo punya 402 ribu pengikut di Instagram, 173 ribu penggemar di Facebook, dan 87 ribu partisan di Twitter.

Pencapaian itu diraih dalam waktu kurang dari sebulan. Pertumbuhannya organik alias tanpa iklan.

Dildo pun seolah mentertawai usaha partai politik menarik simpati massa selama bertahun-tahun.

Paling tidak, mereka telah mengalahkan jumlah massa partai politik di media sosial. Misal, di Instagram, Gerindra (377 ribu) PKS (137 ribu), PSI (127 ribu), dan PDIP (94 ribu).

Hampir semua kiriman Dildo dapat ribuan tanda suka. Ratusan komentar bisa masuk tiap satu jam. Kotak pesan tak pernah sepi sepanjang waktu.

Saking ramainya, IPhone 7 milik Edwin kepayahan.

"Jadi lemot. Ini dimatikan notifikasinya. Kalau hidup, pas di-charge, (daya) baterainya enggak nambah-nambah," ucap mahasiswa salah satu universitas di Yogyakarta itu.

***

Edwin, 20 tahun, saat bertemu dengan Beritagar.id di Klaten, Jawa Tengah.
Edwin, 20 tahun, saat bertemu dengan Beritagar.id di Klaten, Jawa Tengah. | Reza Fitrianto /Beritagar.id

Tren Dildo boleh jadi merupakan puncak kepopuleran shitposting.

Istilah itu merujuk pada aktivitas berbagi konten nirfaedah di internet. Terkadang shitposting bisa ofensif dan vulgar, tapi dianggap sebagai humor oleh pegiat serta penggemarnya.

Sekadar contoh, beberapa tahun terakhir, ada sejumlah akun shitposting populer, macam Semiotika Adiluhung 1945, Penahan Rasa Berak, dan Kumpulan Gambar Nirfaedah.

Edwin aktif dalam semesta shitposting sejak 2016. Dia ikut kelola satu akun shitposting. Baginya, shitposting adalah refreshing.

"Tempat mengekspresikan jiwa-jiwa yang enggak berguna," seloroh Edwin.

Medio 2017, dia mulai berkomunikasi dengan pengelola akun shitposting lain. Komunikasi itu melahirkan laman Facebook bernama Kembang Pasir.

Di laman itulah guyonan seputar capres dan cawapres fiktif mula-mula beredar. Konon anggota Kembang Pasir suka gaya facebookan Nurhadi, seorang pemijat asal Kudus.

Nurhadi memang primadona jagat shitposting. Dia sering berbagi kata-kata mutiara dan guyon seputar selangkangan. Alhasil cerita dan fotonya kerap dibagikan di laman-laman shitposting.

Aktivitas serupa juga dilakukan Aldo Suparman--kini akunnya nonaktif.

Belakangan, Tim Sukses punya ide mengawinkan Nurhadi dan Aldo sebagai capres-cawapres.

Bila Nurhadi yang dipajang adalah figur nyata. Tidak demikian Aldo Suparman. Mereka hanya pinjam nama "Aldo", lalu melengkapinya dengan foto rekaan hasil gabungan (fusion) dua wajah politikus beken.

Meski begitu, gagasan Dildo sempat terpendam selama berbulan-bulan. Kampanye Dildo baru terealisasi pada 17 Desember 2018. Sebulan sebelum debat capres sungguhan berlangsung.

"Sebelumnya kami sibuk urusan masing-masing. Lalu ada teman yang mau buat desain materi kampanye pasangan Dildo. Ini memicu semangat," ujar Edwin.

Laman Dildo langsung dibuat tak lama setelah desain itu muncul. "Kami hanya diskusi di grup chat, lantas menyiapkan foto, banner, dan profil. Enggak sampai sejam sudah launching," katanya.

Beberapa kampanye caleg pengunng Dildo. Foto terjaring dari penelusuran tagar #McQueenYaQueen di media sosial dan bersumber dari kriman untuk publik.
Beberapa kampanye caleg pengunng Dildo. Foto terjaring dari penelusuran tagar #McQueenYaQueen di media sosial dan bersumber dari kriman untuk publik. | Istimewa

Konon Tim Sukses Dildo terdiri dari orang-orang muda berusia 17-23. Beberapa mahasiswa. Ada pula pekerja.

"Admin tersebar di beberapa kota. Yogya, Jakarta, dan beberapa di luar Jawa. Kalau adminnya ketahuan enggak seru lagi. Kami mau anonim saja," kata Edwin.

Sehari-hari, mereka berkomunikasi lewat dua grup di aplikasi obrol daring. Nama grup obrol itu juga nyeleneh: Generasi Bangsat dan Koalisi Dildo.

Mereka punya pembagian tugas, mulai dari merancang desain visual, membuat konten, hingga membalas komentar warganet.

"Aku urus program yang kritis dan mikirin strategi memperluas Dildo," ujar Edwin.

Tugas lain untuk Edwin adalah berkomunikasi dengan Nurhadi, Sang Capres.

Nurhadi, saat bincang bersama Beritagar.id, mengaku sudah beri izin kepada Tim Sukses.

"Saya bersedia asal tidak melanggar hukum agama dan negara. Satu lagi, tidak menyakiti orang lain. Harus asyik," kata Nurhadi, Selasa (9/1/2019). "Saya komunikasi dengan Edwin via aplikasi Messenger."

Edwin menghubungi Nurhadi setelah perayaan tahun baru. Waktu itu laman Dildo mulai viral.

Dia minta izin dan menjanjikan kepopuleran Dildo bisa bawa keuntungan ekonomi bagi Nurhadi. Penjualan kaus atau promosi jasa pijat, misalnya.

“Tidak ada tokoh yang paling tepat jadi capres kami selain Pakdhe (sapaan Nurhadi)," kata Edwin. "Pakdhe enggak tabu pakai istilah-istilah seperti Tronjal-Tronjal dan k**tol di media sosial."

Gaya vulgar itulah yang diadaptasi Tim Sukses Dildo. Kampanye mereka lekas populer beriring penggunaan akronim vulgar.

Istilah-istilah a la Dildo juga terdengar jorok. Sebagai contoh, mereka memelesetkan "kontrol pemerintah" jadi "k**tol pemerintah". Mereka pun pakai istilah "pelitik" sebagai ganti "politik". Pelakunya disebut sebagai "pelitikus" atau "pelitisi".

Saat baca tiga lema terakhir, saya ingat satu adegan dalam Mafalda, komik satire karya komikus Argentina, Quino.

Satu hari di kelas...
Guru: "Manolito, sebutkan satu kata yang dimulai dengan huruf P"
Mafada : *dalam hati* "duh! Pasti dia bakal menyebut kata jorok itu"
Manolito : "politik"
Mafada : *dalam hati* "nah benar kan!"

Satire politik hadir untuk menyentil. Boleh menyelip halus. Bisa pula tampil vulgar. Dildo, rasa-rasanya, adalah wajah satire politik yang disebut terakhir itu.

***

Beberapa program dan kutipan dari laman media sosial Dildo.
Beberapa program dan kutipan dari laman media sosial Dildo. | Istimewa /Nurhadi-Aldo

Bahasa vulgar a la Dildo bukan tanpa kritik. Salah satunya datang dari feminis dan konsultan gender, Tunggal Pawestri.

Dia melontarkan kritik lewat artikel opini di BBC Indonesia. Tunggal menyoroti model akronim dalam kampanye-kampanye yang disebutnya mesum, seksis, dan vulgar.

Misal "Rumah Esek-esek" yang muncul sebagai program guna mengatasi kekerasan seksual, atau Perencanaan Reklamasi yang disingkat jadi "PEREK".

"Mereka habis-habisan melucu dengan istilah-istilah, asosiasi, dan akronim yang bernada mesum, vulgar dan seksis," tulis Tunggal.

Gaya bahasa Dildo, menurut Tunggal, bisa menormalisasi kecabulan politik.

Komentar lain datang dari Kunto Adi Wibowo, pakar komunikasi Universitas Padjajaran.

Baginya, bahasa vulgar justru menegaskan posisi Dildo sebagai satire politik. Lagi pula kosakata vulgar itu bisa memikat perhatian warganet. Mau tak mau, ucap Kunto, bahasa vulgar memang disukai di internet.

"Gaya Dildo membedakan mereka dengan politisi yang santun di depan, tapi jorok di belakang," ujar Kunto, Selasa (15/1/2019). "Ruang publik kita memang masih tabu bicara hal vulgar. Masyarakatnya moralis. Dildo mendobrak tabu itu."

Bahasa vulgar bisa pula jadi benteng bagi Dildo. "Kalau salah satu kubu calon presiden mau mengooptasi, maka berhadapan dengan risiko dari penggunaan bahasa kasar itu," ucapnya.

Akademisi yang menaruh minat pada fenomena media sosial itu juga melihat sisi positif Dildo.

Baginya, satire politik sedikit banyak akan meningkatkan pengetahuan politik. Terutama bagi mereka yang cenderung menghindari politik. "Minimal Dildo sudah memberi pelajaran politik," kata pemegang gelar doktor dari Wayne State University, Amerika itu.

Ia pun mencatat upaya Dildo mendorong partisipasi publik dalam solidaritas untuk korban bencana dan orang-orang yang membutuhkan.

Sepekan terakhir, konten macam itu kerap dibagikan di akun-akun media sosial Dildo. "Memang belum jadi partisipasi politik. Tapi, partisipasi politik juga harus melewati proses partisipasi publik," ujarnya.

*) Simak juga dua wawancara khusus kami, "Nurhadi 'Dildo': Cita-cita saya menjadi Arnold Schwarzenegger" dan "Tim Sukses Dildo, Edwin: Saya buzzer rakyat".
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR