Herry
Herry "Ucok" Sutresna berpose untuk Beritagar.id Jumat (11/5/2018). Ia menceritakan pengalamannya mengikuti riuh-riuh gerakan mahasiswa di Bandung. Aditya Herlambang Putra / Beritagar.id
20 TAHUN REFORMASI

Cerita Ucok 'Homicide' menantang tiran

Mei 1998, Herry "Ucok" Sutresna ada di antara ribuan massa yang menduduki Gedung DPRD Jawa Barat, Gedung Sate, dan Lapangan Gasibu.

Para orator membakar semangat ribuan mahasiswa dalam mimbar bebas di Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, 12 Mei 1998.

Tuntutan reformasi berkumandang. Soeharto, jenderal penguasa Orde Baru, didesak angkat bokong dari kursi presiden.

Tengah hari, massa bergerak ke Gedung DPR/MPR, Senayan, tetapi terhalang blokade aparat kepolisian di Jalan S. Parman.

Meski negosiasi alot, jelang sore, mahasiswa melunak dan sepakat balik kampus Trisakti. Namun, lepas pukul 17.00 WIB, tatkala mayoritas mahasiswa sudah masuk kampus, tembakan menyalak dari arah aparat.

Kericuhan pecah. Aparat buru dan pukul mahasiswa. Sejumlah video menunjukkan aparat melakukan penembakan dari jembatan penyeberangan Grogol. Mahasiswa balas lempar batu, tetapi bedil dan pelor lebih punya dominasi.

Empat mahasiswa gugur: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hendriawan Sie, dan Hafidin Royan. Hasil autopsi menyimpulkan mereka tewas dengan luka tembak di kepala, leher, punggung, dan dada. Dokumen KontraS juga menyebut ada 681 orang luka-luka.

Peristiwa 12 Mei 1998 itu dikenal sebagai Tragedi Trisakti. Bak api menyulut rumput kering, kematian empat mahasiswa Trisakti memicu solidaritas di kota-kota lain.

Di Bandung, tempat keluarga mendiang Hafidin Royan bermukim, Tragedi Trisakti punya harunya sendiri.

Pagi, 13 Mei 1998, mahasiswa dari berbagai kampus mulai melayat ke rumah duka di Jalan Sinargalih-Padasuka, Kota Bandung, Jawa Barat. Mereka membawa karangan bunga, mengucapkan belasungkawa, dan mendoakan Hafidin.

Duka segera bersalin jadi energi menuntut reformasi dan mendongkel Soeharto. Lepas pemakaman Hafidin, mars akbar berlangsung.

Ribuan mahasiswa dan rakyat bergerak dari berbagai penjuru Bandung menuju Gedung DPRD Jawa Barat, Gedung Sate, dan Lapangan Gasibu di kawasan Jalan Diponegoro.

Herry "Ucok" Sutresna ada di antara ribuan massa itu. "Saya ingat, hari-hari itu kita khawatir aksi bakal memicu kerusuhan (rasial) kayak di Jakarta dan Solo," katanya.

Aksi mahasiswa Bandung terus bergelombang hingga Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei).

***

Ucok 'Homicide' berpose untuk Beritagar.id, Jumat (11/5/2018). Ia bergabung dengan gerakan mahasiswa pada medio 1996, dan ikut dalam ribut-ribut reformasi 1998.
Ucok 'Homicide' berpose untuk Beritagar.id, Jumat (11/5/2018). Ia bergabung dengan gerakan mahasiswa pada medio 1996, dan ikut dalam ribut-ribut reformasi 1998. | Aditya Herlambang Putra /Beritagar.id

Jelang magrib, 11 Mei 2018, kami jumpa Ucok di puing gusuran permukiman warga Tamansari RW 11, Bandung. Mahasiswa dan pemuda setempat bikin acara mengenang Marsinah, aktivis buruh di Sidoarjo, Jawa Timur, yang ditemukan tewas pada 8 Mei 1993.

Ucok diminta berorasi pada acara itu. Pria kelahiran Sungailiat, Bangka itu tampak lebih kalem ketimbang aksinya semasa jadi MC Homicide.

Dia memang lebih beken lewat kiprahnya bersama kolektif hip hop pemberontak termaksud. Bersama Homicide, Ucok merapal rima berbahaya beriring bising suara ketukan (beat), distorsi, dan sampel musik yang saling menumpuk.

Album Homicide, Nekrophone Dayz (2006) masuk lis 150 album Indonesia terbaik versi Rolling Stone Indonesia.

Namun, malam saat kami jumpa, tak ada panggung ala skena (scene) musik independen.

Ucok berorasi di panggung dari sisa lantai rumah dan puing tembok korban gusuran Pemerintah Kota Bandung. Ada tali berlampu kelap-kelip mengelilingi panggung berlatarkan jalan layang Pasteur-Surapati dan gedung-gedung tinggi di kejauhan.

Ucok tak meledak-ledak laiknya MC Homicide, tapi kata-katanya tetap menyengat. Ia sarankan aktivis pemuda dan mahasiswa untuk mundur bila tak yakin dengan jalan perjuangan kemanusiaan.

"Marsinah di zaman Orde Baru menggalang buruh pabrik untuk melawan (menuntut kenaikan upah), taruhan nyawa," katanya. Ia sebut pula nama pegiat HAM, Munir Said Thalib, dan jurnalis Bernas (Yogya), Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin.

Mereka, kata Ucok, bersetia menegakkan kemanusiaan meski harus berujung kematian.

***

Ini adalah monumen tenggat kesabaran dan angkara // Satu barisan, ribuan mimpi // Titik berangkat yang tak pernah dapat kami datangi kembali // Terbuang serupa fotokopian pamflet aksi di setiap perempatan // Harapan kami akan berakumulasi menyaingi nyalak senapan kalian //

Homicide, Tantang Tirani

Bandung, pra-1998, tempat meleburnya aktivitas intelektual dan kebudayaan popular. Skena musik independen bermekaran, seiring tumbuhnya kelompok-kelompok diskusi yang menyemai gagasan kritis.

Ucok melewati satu massa saat fotokopi buku Tan Malaka atau Pramoedya Ananta Toer menyebar bersama zine dan kaset skena musik independen.

Masa itu, Ucok kuliah di dua kampus: Sastra Inggris, Universitas Padjadjaran (1992) dan Desain Produk, Institut Teknologi Bandung (1995). Pria kelahiran 1974 tersebut mengaku mulai kenal dunia pergerakan pada medio 1996--tahun kedua di ITB.

Mulanya, dalam aksi-aksi 1997, Ucok sering berhimpun dengan mahasiswa yang aktif bermusik, terutama skena metal, misal: Addy Handy Mochammad Hamdan alias Addy Gembel (Forgotten) dan Iman Rahman Anggawiria Kusumah alias Kimung (eks-Burgerkill)--keduanya pentolan komunitas musik cadas di Ujung Berung, Bandung.

Skena musik Bandung, kata Ucok, punya "modal ideologi natural". Bagi anak punk, hardcore, dan metal, gagasan melawan tirani atau anarkisme bukanlah hal asing.

Saat itu, Ucok dan kawan-kawan kerap ikut aksi di pelbagai lokasi. Bila dapat kabar aksi mahasiswa di sebuah kampus, mereka segera bergabung. Informasi aksi biasanya didapat via pager (radio panggil).

Di tengah gairah perlawanan, Ucok gabung pula dengan Gerakan Mahasiswa Indonesia untuk Perubahan (GMIP) di ITB. Itu merupakan komite aksi afiliasi Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai sosial-demokrat yang dilarang pemerintah Soeharto pasca-peristiwa 27 Juli 1996.

"Saya ikut GMIP karena beda. Kalau aksi sering bentrok. Tuntutannya 'Turunkan Suharto,'" kata Ucok. "Di depan tentara, aksi (kami) main hajar, ketika (mahasiswa) lain mau reformasi damai."

Demonstrasi kian memanas sejak awal 1998. Ucok praktis meninggalkan bangku kuliah untuk sementara waktu. "Itu mulai kencang gesekan dengan aparat," katanya.

Digebuk aparat jadi risiko. Beberapa aksi bahkan berujung penangkapan aktivis--dilepaskan beberapa hari kemudian. Aparat juga berupaya membatasi aksi mahasiswa di sekitar kampus, agar tidak meluas.

"Kita keluar dari Jalan Ganesha itu susah, sudah dicegat di depan Masjid Salman ITB," ujar Ucok. Aksi mahasiswa ITB baru bisa bergeser ke Jalan Dago pada Mei 1998.

Ketika Soeharto mundur sebagai presiden, 21 Mei 1998, Ucok bersama aktivis mahasiswa ITB menyaksikan pernyataan "The Smiling General" lewat televisi dalam tenda aksi di depan kampus.

Beberapa hari kemudian, Ucok dan rekan-rekannya dari GMIP menuju Jakarta. Sejak Mei 1998, Ucok kerap ikut aksi di ibu kota. Dia pun mengaku tak memperkirakan Soeharto bakal mundur selekas itu.

"Prediksinya setahun siap perang. Bayangin, aksi keluar kampus saja masih disikat, bukan oleh polisi tapi tentara. Enggak ada yang bayangin bulan depannya turun," ucapnya.

Ucok tak percaya pergantian kekuasaan yang terjadi sebagai ujung perjuangan. Dia terus berjuang, termasuk ketika molotov dan batu mahasiswa-rakyat berbalas peluru serta pentungan aparat dalam Tragedi Semanggi.

Lepas Mei 1998, Ucok gabung PRD. Namun jelang Pemilu 1999--yang diikuti PRD--ia pilih keluar. "Prinsipnya tidak sepakat (ikut) Pemilu," katanya.

Ada satu momen pertentangan dengan pimpinan PRD yang masih diingatnya. Satu hari, pentolan PRD, Faisol Reza jadi pembicara dalam sebuah diskusi di Universitas Padjadjaran. Dalam diskusi mengemuka pertanyaan tentang ideologi anarkisme.

"Katanya (anarkisme) sama arahnya dengan kapitalisme. Itu fatal, banyak kawan yang keluar (PRD) setelah itu," kenang Ucok. Padahal, sebagian aktivis Bandung, sejak masa silam, kerap menggunakan ide dan gagasan anarkisme dalam aktivisme mereka.

"Anarkisme itu anti-otoritarian, apapun bentuknya, seperti rezim kapitalistik, komunis, fundamentalis agama. Itu dilawan untuk membangun masyarakat otonom," ujar Ucok.

***

Herry "Ucok" Sutresna, lebih dikenal sebagai MC kolektif hip hop pemberontak, Homicide. Pada 1998, ia juga jadi bagian dari gerakan mahasiswa pendongkel Soeharto.
Herry "Ucok" Sutresna, lebih dikenal sebagai MC kolektif hip hop pemberontak, Homicide. Pada 1998, ia juga jadi bagian dari gerakan mahasiswa pendongkel Soeharto. | Aditya Herlambang Putra /Beritagar.id

Pengujung 2000, Ucok merasa lelah dengan riuh-riuh reformasi, dan akhirnya memilih menikah setahun kemudian.

Lepas menikah, Ucok mengaktifkan kembali Homicide. Unit hip hop itu sebenarnya sudah dirintis sejak 1994, bersama Aszy Syamfizie (Sarkasz), Adolf Triasmoro (Punish), dan Kiki Assaf (Kassaf).

Hingga bubar pada 2007, Homicide mengeluarkan tiga album: Godzkilla Necronometry (2002), Nekrophone Dayz (2006), dan Illsurrekshun (2008).

Selain kembali bermusik, Ucok mulai mengaktifkan jalur komunikasi dengan aktivis buruh dan petani. Dia merasa perlu menganalisis perjalanan reformasi selama beberapa tahun pertama, terutama perihal kesalahan perjuangan yang tak boleh terulang.

Kini, selain tetap berjejaring dengan aktivis pergerakan, Ucok beroleh penghasilan dari menggambar ilustrasi buku dan mendesain sampul album band.

Di tempat kerjanya, bilangan Jalan Kartini, Bandung, Ucok juga mengurusi produksi dan distribusi skena musik independen di bawah bendera Grimlock Record.

Sekarang, 20 tahun sejak Soeharto tersungkur, Ucok mengkritik istilah reformasi. "Tidak ada reformasi sejak 10 tahun lalu. Sekarang sudah titik balik. Kita tidak pernah membayangkan separah ini," katanya.

Menanyakan detail pernyataan itu, berarti bersiap mendengar cerita tentang perampasan lahan petani di pelbagai pelosok Nusantara atau kisah perlakuan timpang terhadap buruh.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR