Seorang nelayan membawa peralatan untuk menjala ikan di Danau Limboto, Gorontalo, Jumat (14/12/2018).
Seorang nelayan membawa peralatan untuk menjala ikan di Danau Limboto, Gorontalo, Jumat (14/12/2018). Beritagar.id / Franco Dengo
LAPORAN KHAS

Danau Limboto dan sumpah dua kerajaan

Kondisi Danau Limboto saat ini sangat memprihatinkan. Ada yang meramal 10 tahun lagi danau ini akan hilang.

Jumat (14/12/18) bakda magrib, Yuniarti tengah berjibaku mempersiapkan bekal anaknya. Wanita baya ini, sedang memastikan agar Rizal, nelayan kecil jagoannya tidak kelaparan di atas perahu, sampai esok pagi.

Sejak suaminya meninggal 10 tahun lalu, Rizal, si bungsu dari dua bersaudara itu menjadi pewaris ayahnya untuk menjalankan sepasang katinting (perahu kecil) untuk menangkap ikan di Danau Limboto.

Di pesisir Danau Limboto, dihadapan siluet warna jingga, sisa-sisa cahaya matahari, Yuniarti (41) dengan seksama memperhatikan barang bawaan sang anak. Sementara Rizal (16) tergesa-gesa melihat beberapa perahu kompetitornya sudah mulai melaju ke tengah danau. Perahunya sedikit terseok membuka jalur menerobos tanaman eceng gondok yang terhampar sekitar 12 meter persegi dari pinggiran danau.

Lamban perahu berjalan, mantra-mantra pun berdengung dari mulut sang ibu.

“Jangan menjala sendirian. Cari teman.”
“Kalau makanannya habis, pulang secepatnya.”
“Kalau memang tidak ada tangkapan, jangan maksa.”
“Hati-hati di sana. Ingat, mama menunggu di sini.”

Wejangan-wejangan Yuniarti itu sejalan dengan perahu yang mulai jauh dari keberadaanya.

Hari makin gelap. Dari kejauhan terlihat nyala cahaya senter yang menandakan Rizal telah lolos dari jaring-jaring eceng gondok. Yuniarti berbalik arah. Ia pulang ke rumah.

Yuniarti dan Rizal, warga Kelurahan Dehuwalolo, Kecamatan Limboto, Gorontalo, adalah satu dari ratusan keluarga yang menyandarkan harapan di Danau Limboto. Bagi mereka Limboto merupakan sumber penghidupan.

“Dulu saya masih sering ikut menjala. Tapi, sejak sakit-sakitan, Rizal meminta saya tidak lagi turun ke danau. Dia (Rizal) saat ini menjadi kepala rumah tangga kami,” kata Yuni sapaan Yuniarti.

Yuni bercerita, kondisi danau saat ini berbeda jauh dibanding beberapa tahun lalu. Sekarang danau sangat dangkal. Akibatnya, ikan tak banyak lagi. “Sekarang sih, jangankan untuk dijual dapat hasil tangkapan untuk makan sehari-hari saja kami sudah bersyukur,” katanya.

Seorang ibu mengantarkan anaknya menjala di Danau Limboto, Gorontalo, Jumat (14/12/2018).
Seorang ibu mengantarkan anaknya menjala di Danau Limboto, Gorontalo, Jumat (14/12/2018). | Franco Dengo /Beritagar.id

Nyaris hilang

Danau Limboto membentang di Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo. Dengan luas kurang lebih 3.000 hektar, Danau Limboto merupakan muara dari lima sungai besar di Gorontalo; Bone Bolango, Alo, Bionga, Daenaa, dan Molalahu.

Danau Limboto merupakan salah satu danau yang kondisinya mulai kritis alias dangkal. Saking dangkalnya, ada yang meramal, pada 2025 atau 2030 danau ini bakal hilang.

Prediksi-prediksi tersebut bukan tanpa sebab. Tercatat, pada 1950an, kedalaman danau rata-rata masih berkisar 27 meter. Namun saat ini diperkirakan tinggal 7-10 meter. Bahkan data terbaru, menurut Kepala Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Provinsi Gorontalo, M. Tahir, kedalaman Danau Limboto kurang dari 2 meter.

“Belum lama ini saya coba membawa Speedboat ke danau, untuk memastikan kedalamannya. Speedboat-nya stuck, nggak jalan, walaupun di tengah danau,” ujar Tahir saat acara talkshow Evaluasi Krisis Sosial dan Masa Depan Lingkungan Hidup Gorontalo, Jumat (14/12/2018).

Dari 15 kawasan danau kritis nasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Danau Limboto merupakan satu di antaranya.

Saat ini, kondisi hulu maupun sungai di Gorontalo dalam keadaan kritis. Dari data yang dikeluarkan BPDAS-HL, ada 127 daerah aliran sungai (DAS) kondisinya kritis. Erosi aliran sungai itu berakibat terjadinya sedimentasi di Danau Limboto.

Kondisi itu diperparah dengan kebiasaan masyarakat membuang sampah di seputaran danau.

Beberapa bulan lalu, sempat beredar foto di sosial media yang memperlihatkan sampah-sampah berjubel di Danau Limboto. Saking banyaknya, sampai membentuk semacam sebuah pulau sampah.

Selain itu, eceng gondok yang menyebar di danau itu juga dianggap sebagai momok. Mengutip Invasive Species Database, eceng gondok bisa meningkatkan penguapan air dan menurunkan jumlah cahaya dalam perairan.

Jika cahaya berkurang kadar kelarutan oksigen juga rendah. Selain merusak keindahan danau, eceng Gondok sangat berpengaruh pada keberlangsungan makhluk yang ada di dalam air.

Tumpukan sampah yang berasal dari limbah rumah tangga di area Danau Limboto, Desa Lupoyo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Selasa (10/9/2018).
Tumpukan sampah yang berasal dari limbah rumah tangga di area Danau Limboto, Desa Lupoyo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Selasa (10/9/2018). | Franco Dengo /Beritagar.id

Akademisi Universitas Negeri Gorontalo, Basri Amin, mengatakan selama ini sudah banyak yang berkabung dengan kondisi Danau Limboto. “Orang-orang tahu Danau Limboto makin ke sini makin dangkal. Tapi apa yang kita lakukan untuk menyelamatkannya? Jangan-jangan niat kita yang dangkal,” ujarnya kepada Beritagar.id, Jumat (14/12/ 2018).

Danau Limboto adalah “pertaruhan” bagi masa depan Gorontalo. Ia akan terus menguji semua kadar keilmuan, kapasitas manajerial, peran negara, advokasi masyarakat dan media, serta komitmen kepemimpinan dan ketokohan di Gorontalo. Semua pihak atau sektor haruslah ditagih janji-janjinya untuk danau. Sejauh ini terlalu banyak janji-program yang melanggar janji luhur Popa-Eyato 1673.

Perjanjian dan sumpah itu di antaranya adalah prinsip kesetaraan dalam mengambil keputusan, sikap saling tolong-menolong, solidaritas lintas kerajaan dalam menghadapi pihak luar. Juga ada semangat musyawarah dan berunding, menghindari fitnah memfitnah, mengakhiri konflik serta kekerasan, dan penentuan batas-batas kerajaan. Dan yang paling sakral adalah siapa saja yang melanggar sumpah ini akan beroleh “kutukan” yang dahsyat.

Tenggelamnya dua cincin

Salah satu tokoh adat tertua dan sejarawan, Abdul Wahab Lihu bercerita, sekitar abad ke-17, Belanda datang ke Gorontalo, dengan iming-iming persekutuan dagang Vereenigde Oostindische Compaigne (VOC). Kala itu, perang antar Hulondalo dan Limutu (dua kerajaan besar di Gorontalo) terlibat perang habis-habisan. Entah untuk saling berebut wilayah atau hasil pertanian.

Belanda yang saat itu memang khusus datang untuk kerja sama perdagangan, mengirim orang-orang terbaik mereka dalam urusan bisnis dan politik. Mereka melakukan pendekatan dengan para petinggi kerajaan. Di mulai dari wilayah timur, Kerajaan Hulondalo.

Di kerajaan itu, utusan Belanda memberikan penawaran, membeli sebilah tanah milik Kerajaan Hulondalo untuk dipakai sebagai lapak atau lokasi perdagangan mereka. Panglima Hulondalo menyetujuinya, namun dengan syarat: luas lahan yang dibeli tidak boleh melewati ukuran kulit kerbau. Persetujuan menemui titik temu.

Namun, dibalik persetujuan tersebut ternyata, utusan Belanda sudah merencanakan sesuatu. Dengan berpedoman atas perjanjian luas lahan yang tidak lebih dari ukuran kulit kerbau, mereka menyiasatinya dengan memotong atau menggunting kulit kerbau menjadi beberapa sentimeter.

Guntingan kulit itu, jika dibentangkan cakupannya sangat luas. Siasat serupa juga mereka lakukan sebagai propaganda terhadap Kerajaan Limutu.

Dengan akal picik itu, wilayah perdagangan Belanda makin luas. Hasil-hasil pertanian yang melimpah ruah, mereka manfaatkan mencari keuntungan sebesar-besarnya. Sementara kerajaan Hulondalo dan Limutu masih berkutat untuk saling menguasai satu sama lain.

Merasa kekuasaan dagangnya makin luas, Belanda makin serakah. Mereka berkeinginan menguasai Gorontalo sampai ke akar-akarnya.

Ratusan hingga ribuan serdadu perang bersenjata lengkap, didatangkan langsung dari Belanda. Strategi disusun rapi. Mereka bergerilya ke istana-istana kerajaan, memaksa rakyat untuk memberikan seluruh hasil pertanian kepada mereka. Tentu saja dengan senjata mutakhir yang tertodong di tengkorak kepala para raja.

Wisatawan lokal menikmati sunset di tengah Danau Limboto, Gorontalo, Minggu (16/12/2018).
Wisatawan lokal menikmati sunset di tengah Danau Limboto, Gorontalo, Minggu (16/12/2018). | Franco Dengo

Alhasil, sistem pemerintahan di kerajaan Hulondalo dan Limutu lumpuh total. Alih-alih melakukan lagi perang untuk memperebutkan kekuasaan satu sama lain untuk memakmurkan rakyat masing-masing saja sulit. Di titik ini, Belanda berhasil berdiri di atas kesenjangan kedua kerajaan.

Merasa Belanda telah menguasai Gorontalo, akhirnya dua kerajaan yang semula bermusuhan mulai berunding. Mereka sama-sama melakukan perlawanan kepada Belanda.

Dari arah barat, Popa, panglima Kerajaan Limutu diikuti ribuan prajurit dan rakyat di belakangnya berjalan menuju ke timur. Sebaliknya, raja Eyato, orang nomor satu di Kerajaan Hulondalo, datang bergerombol dengan prajurit dan rakyat menuju barat. Iring-iringan kedua kerajaan itu pun bertemu di perbatasan wilayah. Tepatnya di Danau Limu Otutu, yang saat ini dikenal dengan nama Danau Limboto.

Panglima Popa dan Raja Eyato bertemu di tengah danau. Di tengah danau itu mereka menggelar upacara. Dalam upacara itu dua cincin milik kedua raja dikaitkan satu sama lain sebagai simbol keduanya sepakat berdamai. Cincin itu kemudian ditenggelamkan di tengah danau.

“Sampai nanti cincin ini terapung dan terlihat. Sampai saat itu juga, tidak akan ada perang.” Begitu sumpah perjanjian Popa-Eyato di tengah Danau Limboto, kata Wahab Lihu.

Pria yang biasa disapa Baate Lihu ini, juga menaruh simpati dengan kondisi Danau Limboto yang makin lama makin tidak berdaya. “Dulu, waktu saya masih kecil air danau sampai di rumah saya. Sekarang sudah jauh berada di ujung sana,” katanya sambil menunjuk ke arah danau yang kini jauhnya berada sekitar dua kilometer dari kediamannya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR