Pedangdut beragam daerah punya ciri khas aksi panggung: mulai dari goyangan, senggakan atau seruan, hingga saweran.

Biduan koplo asal Kediri, Nella Kharisma, menyapa penonton, “Eee..eee..goyang bareng..asek,” seperti yang tampak di video Youtube saat menyanyikan "Jaran Goyang".

Senggakanseruan ini biasanya diucapkan di awal, tengah, atau di akhir lagu. Sesuka penyanyinya.

Kalau pedangdut koplo asal Sidoarjo, Via Vallen, senang berseru “Eee, oae, oae," buat menarik massa bernyanyi lagu "Sayang" bersama-sama.

Senggakan yang dibarengi dengan suara ketukan gendang dengan ritme cepat “dang”, “tak”, dan “dut” spontan menyemarakkan panggung.

Nah, lain aliran lain pula seruan. Kalau pedangdut tarling khas pantai utara Jawa di bagian barat, Diana Sastra, justru sering tek-tok senggakan dengan penyanyi latar.

Diana menyerukan, “We o we o,” yang dibalas, “Ceguk, ceguk, ho.” Kolaborasi apik hampir sepanjang lagu saat Diana menyanyikan "Juragan Empang" ini terdengar pas.

Beda dengan duo koplo dan ratu tarling, pedangdut Melayu, Lesti Andryani, justru jarang berseru. Sepanjang nyanyian "Zapin Melayu", ia hanya bernyanyi, berjoget, dan menerima saweran.

Soal saweran, tak semua pedangdut mau menerima duit. Di antara empat biduan, hanya Diana dan Lesti yang menerima sawer.

Bahkan, keduanya justru aktif meminta penonton turut nyawer. “Ayo bu, sawernya,” ucap Lesti yang akrab disapa dedek ini. Diana punya cara unik sendiri, langsung memanggil nama, "Bos Darmonooo!!!"

Buat tahu gimana aksi panggung mereka, gambar di bawah ini menjelaskan aksi dan goyangan empat pedangdut yang membawakan lagu andalan dari empat video di YouTube .

Kalau urusan joget, empat pedangdut kebanyakan sama: menggoyangkan badan. Entah ke kanan, kiri, depan atau belakang.

Yang paling lama goyang badan sepanjang manggung adalah Lesti dan Diana. Wajar saja, ada penonton yang ikut meramaikan panggung berjoget bareng.

Gaya joget khas Via Vallen yang tak ada di tiga pedangdut lainnya adalah lompat. Kalau ada irama dengan hentakan cepat dan ritme semangat, Via tak sungkan untuk melompat-lompat seraya mengarahkan tangannya ke penonton, mengajak bernyanyi bersama.

Beda lagi dengan Nella yang doyan menggoyangkan pinggul dan lutut. Ia menghibur dengan centilnya menggerakkan pinggul ke kanan, kiri, depan, belakang.

Goyangan, seruan, saweran, boleh saja beda. Tapi, ada satu hal yang menyatukan mereka: suara gendang dan massa yang larut dalam goyangan sang biduan.

“Tak tung dang dut. Dang dut. Heek a heek a josss. Mari digoyaaang!”