Tradisi Megibung pada bulan Ramadan di Masjid Al-Muhajirin, Kampung Islam Kepaon, Denpasar, Bali (15/6/2016)
Tradisi Megibung pada bulan Ramadan di Masjid Al-Muhajirin, Kampung Islam Kepaon, Denpasar, Bali (15/6/2016) Johannes P. Christo / Tempo/STR

Denyut Ramadan dan Idulfitri pun terasa di Bali

Praktik-praktik toleransi beragama menemukan kekuatannya dalam keceriaan warga merayakan toleransi di Bali. Tengok saja kisah-kisah berikut ini.

Kearifan lokal meninggalkan kebijaksanaan yang mampu menjawab tantangan duniawi. Buktinya bisa ditemukan di Bali. Pulau yang dihuni mayoritas umat Hindu itu, juga punya kisah soal Ramadan. Masyarakat muslim Bali mampu berbaur dengan umat mayoritas dalam nuansa toleransi.

Meski umat Islam di Bali jumlahnya kurang lebih hanya 1/6 jumlah umat Hindu, kegiatan seputar Ramadan masih berjejak. Adapun penganut agama Islam di Bali berjumlah 520 ribu, sedangkan umat Hindu mencapai 3,2 juta jiwa dari total 3,9 juta penduduk Bali (BPS Bali, 2010).

Beradab-abad lamanya Bali hingga kini tetap didominasi umat Hindu, meski sebagian besar Pulau Jawa sudah berubah dari dominasi Hindu ke Islam. Apa sebab? Robert Pringle dalam A Short History of Bali: Indonesia's Hindu Realm (2004) punya sedikit penjelasan atas fenomena itu. Yang jelas, bukan karena kondisi geografis.

Menurut Robert Pringle, pada dasarnya Bali tidak benar-benar bersikap "anti-Islam". Minoritas muslim pendatang bisa berdagang, bahkan terkadang dibayar menjadi tentara oleh penguasa di Bali. Selain itu, sejumlah tradisi yang tak cocok dengan ajaran Islam, tak mudah untuk dihapuskan.

Situasi politik lebih dominan jadi penyebab utamanya. Jelang keruntuhan Majapahit (1500-an) dan bangkitnya Mataram sebagai kerajaan Islam, setidaknya butuh waktu 100 tahun. Selama kurang lebih seabad, Kerajaan Gelgel misalnya, bangkit di Bali dan memperluas pengaruhnya hingga ke Blambangan, ujung timur pulau Jawa.

Kerajaan Blambangan, dipercaya sebagai satu-satunya kerajaan besar Hindu di pulau Jawa bagian timur hingga ke Bali saat itu. Mataram tidak pernah benar-benar menaklukkannya. Hingga di penghujung abad ke-18--saat Blambangan akhirnya memeluk Islam--menandai runtuhnya kerajaan Hindu di Jawa.

Runtuhnya Majapahit hingga Blambangan, membuat Bali kehilangan "koneksi" dengan kerajaan di Jawa. Ketika Mataram mulai menguat dan Gelgel akhirnya melemah, Bali malah tak masuk prioritas utama bagi Mataram. Konsentrasi Mataram telanjur terganggu oleh kolonialisme Belanda. Belum lagi konflik internal yang menggerogotinya.

Mataram yang fokus mempertahankan wilayahnya saat kekuatan Belanda menguat, tak lagi memikirkan ekspansi. Seiring melemahnya Mataram oleh kolonialisme Belanda, penguasa Bali melihat tak ada untungnya memeluk Islam.

Adapun dalam Babad Dalem, dokumen tentang raja-raja di Bali, hanya tertulis masuknya Islam ke Bali secara umum. Disebutkan, agama Islam masuk di Bali pada abad ke-5, dalam masa pemerintahan Raja Gelgel, Klungkung, sekitar 32 km sebelah timur kota Denpasar.

Raja Gelgel punya hubungan baik dengan Raja Majapahit. Kedatangan para prajurit Jawa itu diikuti arus migrasi dari Jawa, Madura, Bugis, dan Sasak, Lombok. Ada juga catatan dalam sebuah lontar tentang sekelompok imigran Islam yang datang ke Buleleng pada masa pemerintahan I Gusti Ketut Jelantik, 1850.

Meski minoritas, jejak-jejak toleransi antar-umat beragama di Bali masih tampak jelas. Berikut adalah beberapa bukti, bagaimana denyut Ramadan dan Idulfitri pun terasa di Bali, baik bagi muslim maupun bukan.

Seorang warga menyiapkan hidangan berbuka puasa sebelum tradisi Megibung saat bulan Ramadan di Masjid Al-Muhajirin, Kampung Islam Kepaon, Denpasar, Bali (15/6/2016)
Seorang warga menyiapkan hidangan berbuka puasa sebelum tradisi Megibung saat bulan Ramadan di Masjid Al-Muhajirin, Kampung Islam Kepaon, Denpasar, Bali (15/6/2016) | Johannes P. Christo /Tempo/STR

Beberapa kampung muslim hingga kini bisa ditemukan di Pulau Dewata. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama RI, tahun lalu mengisahkan perjalanan mereka ke kantong-kantong warga muslim di Bali.

Misalnya Kampung Loloan, Jembrana. Kampung berjarak sekitar 90 kilometer dari Kota Denpasar ini, sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pedagang dan nelayan. Tak heran, penduduk daerah ini bermula dari kedatangan sejumlah pasukan Bugis sekitar empat abad silam.

Kampung Loloan dikenal sebagai pemukiman umat Islam terbesar di Kabupaten Jembrana. Hubungan baik antara penganut Islam dan Hindu di Bali yang telah terjalin sejak lama, menjadi penyebab penguasa Jembrana saat itu, I Gusti Arya Pancoran, mengizinkan kelompok Bugis-Melayu menempati daerah Loloan.

Seorang ulama besar dari tanah Melayu bernama Buyut Lebai juga membuktikan hubungan kampung Islam di Bali dengan lingkungan di sekitarnya telah terjalin sejak lama. Makam Buyut Lebai bisa ditemukan di Jalan Gunung Agung, Loloan Timur, Jembrana. Buyut Lebai diperkenankan mengajarkan agama melalui dakwah, berkat hubungan baik dengan penguasa setempat.

Kisah lain bisa ditemukan di Kampung Pegayaman, Buleleng. Kehidupan sehari-hari masyarakat muslim di sini, tak ubahnya kehidupan di Bali pada umumnya. Hanya bentuk rumah ibadah yang jelas berbeda. Inilah keunikannya, simbol-simbol adat Bali seperti subak, seka, atau banjar, tetap hidup dengan baik di lingkungan kelompok muslim.

Bahkan sampai urusan nama. Ketut Abdul Karim, Nyoman Abdurrahman, dan semacamnya, mungkin terdengar aneh, namun nyata. Penduduk kampung Pagayaman dipercaya berasal dari para prajurit Jawa atau kawula asal Sasak dan Bugis beragama Islam. Adalah Raja Buleleng pada zaman kerajaan Bali, yang dipercaya telah membawa mereka.

Penduduk Muslim Pagayaman yang berjumlah sekitar 5000 jiwa ini tekun menjaga adat istiadat leluhur di tengah bergulirnya arus kemajuan zaman. Seperti kebiasaan tarawih, di Pagayaman dilakukan menjelang pukul sepuluh malam. Alasannya, memberi kesempatan kepada para wanita yang memiiki banyak kesibukan untuk mempersiapkan diri. Saat Lebaran, perayaan Idulfitri di Pagayaman juga diwarnai pakaian atau asesoris khas Bali.

Di Kampung Gelgel, Klungkung, dipercaya sebagai permukiman muslim tertua di Bali. Dari kampung Gelgel inilah sejarah lahir dan tumbuhnya komunitas Islam di Pulau Dewata. Terletak di Kabupaten Klungkung, sekitar enampuluh kilometer arah timur Denpasar, di kampung ini banyak ditemukan jejak-jejak penyebaran Islam. Salah satunya adalah Masjid Nurul Huda, sebuah masjid tertua di Bali.

Islam diyakini sudah menyebar di Desa Gelgel sejak lama. Penduduk sekitar percaya bahwa sejarah masuknya Muslim ke desa mereka berawal saat raja pertama Gelgel, Ketut Dalem Klesir, berkunjung ke Majapahit. Saat pulang ke Klungkung, Ketut Dalem dikawal empat puluh prajurit muslim dari Majapahit.

Sebagian prajurit ini kemudian tak kembali ke Majapahit. Dengan izin raja, mereka memilih untuk menetap di Klungkung, mendirikan Masjid Nurul Huda, dan berketurunan. Pasukan muslim Majapahit inilah yang dipercaya sebagai penyebar Islam pertama di Bali.

Masjid Nurul Huda di Glegel, Klungkung, Bali
Masjid Nurul Huda di Glegel, Klungkung, Bali | Google Street View /Google Maps

Ada lagi Kampung Kecicang Islam, Karangasem, yang berada di kawasan Banjar Dinas Kecicang Islam, Desa Bungayan Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem. Kampung ini adalah sebuah kampung Islam terbesar di Kabupaten Karangasem dengan penduduk mencapai 3.402 kepala keluarga.

Kampung ini berbatasan dengan Banjar Kecicang Bali di sebelah barat daya, Banjar Triwangsa di sebelah barat dan di selatan berbatasan dengan Banjar Subagan. Penduduk Kampung Kecicang mempercayai bahwa leluhur mereka berasal dari penduduk Tohpati Buda Keling.

Setelah raja mereka meninggal, raja baru memindahkan penduduknya ke Kecicang dan Tohpati kota dengan cara membuka hutan. Nama kecicang diambil dari nama bunga berwarna putih yang biasa dimasak oleh masyarakat setempat. Sementara itu sebagian lain menyebut kecicang berasal dari kata incang-incangan yang berarti saling mencari saat perang pada zaman kerajaan.

Keunikan kampung Kecicang Islam adalah seluruh masyarakatnya menganut agama Islam. Mata pencaharian masyarakat kecicang sebagian besar adalah pedagang, petani dan sebagian lainnya memilih merantau ke luar Kecicang.

Bukti peninggalan Islam di Kampung Kecicang adalah terdapat masjid Baiturrahman yang telah berdiri sejak akhir abad 17. Saat ini, masjid tersebut akan diperbesar dengan bangunan tiga lantai seiring dengan pertumbuhan penduduk Kecicang yang setiap tahunnya semakin bertambah.

Selain itu, kesenian bernuansa Islam tetap dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Kecicang. Tari-tarian itu antara lain Tari Rudat yang merupakan akulturasi budaya Bali dan Timur Tengah. Sementara itu tradisi ritual keagamaan seperti tahlilan, ziarah, dan selamatan juga masih tetap dilestarikan.

Sebagaimana masyarakat Muslim di Bali lainnya, hubungan antara masyarakat Kecicang Islam dengan penganut Hindu di Bali sebagai mayoritas terjalin harmonis. Secara umum, toleransi beragama di Bali telah terjalin dengan baik, dibuktikan dengan tradisi saat Shalat Idul Fitri, dimana sejumlah polisi adat (pecalang) turut serta membantu keamanan di hari raya Umat Islam tersebut.

Pun demikian penganut Hindu juga mempunyai tradisi ngejot, berbagi makanan kepada umat Islam. Demikian sebaliknya ketika umat Hindu merayakan hari raya seperti Nyepi, umat turut mengamankan dan memberi hadiah makanan.

Ayu Laksmi, seniman asal Bali yang sudah terbiasa hidup dalam keberagaman agama (Foto: 2012)
Ayu Laksmi, seniman asal Bali yang sudah terbiasa hidup dalam keberagaman agama (Foto: 2012) | Dian Triyuli Handoko /Tempo/STR

Dalam Hindu, konsep pluralisme dan toleransi tercermin melalui Tat Twam Asi (aku adalah kamu, kamu adalah aku), Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), dan Wasudewa Kutumbaka (kita satu bersaudara). Konsep serupa yang sebenarnya juga terdapat pada agama atau keyakinan lain.

Praktik-praktik toleransi beragama menemukan kekuatannya dalam keceriaan warga merayakan toleransi di Bali. Tengoklah kisah Ayu Laksmi. Seniman serba bisa ini menghormati saudara dan temannya yang merayakan puasa dengan memasakkan menu buka puasa.

Perempuan vokalis grup musik Svara Semestha ini juga terkadang ikut puasa walau bukan muslim. "Ikut merasakan ruang yang mereka rasakan, juga seperti detoks," ujarnya riang. Ia menuturkan, lingkungan keluarga di Bali Utara sejak lama telah menanamkan perspektif multikulturisme. "Dari kecil tertanam toleransi kuat, saya ikut merasakan kegembiraan menyambut Natal dan tahun baru dan usia dewasa ikut puasa," tambahnya.

Saat kecil ikut merayakan takbiran atau bagi hadiah saat Natal atau Paskah. "Saya bersahabat dengan mereka yang beda paham dan keyakinan serta terlibat diskusi soal ini. Saya kadang diam tak milih ikut berdebat karena menurut saya sensitif," kata Ayu.

Dengan banyaknya nilai-nilai beragam keyakinan ini membuatnya tertarik ingin tahu dan meresapi kebijaksanaannya. Dibesarkan oleh seorang ibu single parent dengan gaya mendidik penuh kelembutan juga membuatnya tak mudah menghakimi.

"Ibu saya respek terhadap multikultur, multi religion, karena itu saat baca doa yang dimulliakan orang lain, saya tak merasa punya beban," papar Ayu. Terlebih saat berkesenian, yang dibutuhkan adalah toleransi dari hati. Dalam ruang bernama Svara Semestha, kolaborasi multikultural ini mewujud.

"Melebur bersama saling melengkapi. Kita kadang melihat perbedaan dari seberang," ingatnya.

Dalam sejumlah musik Svara Semestha yang dikomando Ayu Laksmi. banyak berbicara tentang keragaman. Lirik dan musiknya memberi pengalaman spiritual dan nilai-nilai kemanusiaan dalam nuansa Hindu, Islam, Buddha, Kristen, dan lainnya.

Contoh makanan yang dihantar dalam tradisi ngejot di Bali, disebut jotan.
Contoh makanan yang dihantar dalam tradisi ngejot di Bali, disebut jotan. | Luh De Suriyani /untuk Beritagar.id

Seperti yang telah disinggung pada bagian sebelumnya, ada tradisi yang hidup saat Ramadan dan Idulfitri. Menyambut Idulfitri, sejumlah warga membagikan makanan pada warga lain. Praktik inilah yang disebut ngejot, dan tak hanya dilakukan oleh umat Hindu. Warga muslim juga melakukannya.

Ngejot dilakukan oleh mereka yang sedang atau akan berhari raya atau upacara ritual. Makanan yang diberikan tergantung pemberi, bisa kue-kue atau nasi dan lauk pauknya. Ngejot di perkotaan, misalnya, masih terlihat di kawasan Denpasar Utara. Di antaranya seorang warga bernama Sumiati, yang memberikan satu paket nasi dan lauk pauk pada tetangga dan saudaranya.

Ia sengaja memasak menu ngejot khas keluarganya dari tahun ke tahun. Menu utamanya ayam suwir bumbu merah yang gurih. Ia menyiapkan sedikitnya 20 kotak untuk dibagikan ke tetangga, apa pun keyakinannya. Perempuan yang berencana merayakan lebaran di Lumajang, Jawa Timur selalu semangat memasak untuk ngejot.

"Mohon maaf lahir batin, seadanya ya, " seru Soetir, suaminya yang bertugas membagikan ke para tetangga.

Sementara para tetangga yang merayakan Natal akan gantian ngejot saat hari penting bagi umat Nasrani ini. Demikian juga umat Hindu akan berbagi jotan (materi ngejot) pada saat Hari Raya Galungan atau Nyepi. Isinya biasanya buah atau kue-kue yang juga menjadi pelengkap sesajen. Diberikan sehari atau sebelum ritual.

Ngejot biasanya lebih meriah di kampong-kampung muslim tua di Bali. Karena ditambah dengan kemeriahan makan bersama di dalam satu wadah, namanya menjadi megibung. Para peserta megibung, termasuk pemuka dari lintas agama.

Ada yang menyebut tradisi ini dimulai sejak abad ke-17, ketika salah satu Raja Karangasem, I Gusti Anglurah Ktut Karangasem, berperang menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sasak (Lombok). Saat para prajurit istirahat makan, sang raja membuat aturan makan bersama yang disebut megibung.

Contoh menu dalam tradisi megibung di Bali
Contoh menu dalam tradisi megibung di Bali | Luh De Suriyani /untuk Beritagar.id

Tradisi ini memang lazim di Kabupaten Karangasem dan beberapa wilayah di Lombok. Tapi mulai banyak diadaptasi dengan berbagai model. Tradisi ini dilestarikan oleh warga kampung-kampung Islam berdarah Lombok di Bali Timur. Misalnya kampung Saren Jawa di Karangasem.

Mereka biasanya ngejot yang kemudian diikuti tradisi megibung di masjid. Di sejumlah desa muslim lain di Bali seperti Palasari, Loloan, Yeh Sumbul (Jembrana), dan Nyuling (Karangasem), tradisi ini bisa ditemukan.

Selain ngejot, ada juga kebiasaan khas lain pada bulan Ramadan. Misalnya di Pegayaman, keramaian terjadi pada malam hari. Warga melakukan transaksi jual beli atau Tadarusan (membaca AlQuran) sampai tengah malam. Kemudian beristirahat saat siang hari.

Ketut Pasek Swastika, pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dalam sebuah diskusi multikulturalisme di Yayasan Wisnu pernah menyatakan dengan falsafah Bhinneka tunggal ika, keberagaman yang ada di Indonesia harus diakui sebagai pemersatu.

"Nyama (saudara) Selam (Islam), nyama Kristen, nyama Lombok, setiap hari raya selalu ngejot. Namun saat ini sudah jarang dilakukan karena terputus dalam hubungan orang tua," katanya.

Tradisi ngejot ada dua, ngejot ke loloan (untuk nyama selam) dan ngejot ke baluk untuk tetangga dan saudara yang bukan Islam. "Saat ini sering terjadi gesekan karena dipengaruhi perubahan dari agraris menjadi industri," ujar Pasek.

Nyoman Arya, dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, pernah menyatakan bagaimana umat Islam dan Hindu di Bali bisa memisahkan ranah akidah, dengan ranah budaya yang termasuk kategori muamalah. Alhasil, toleransi dapat berjalan harmonis, kerukunan tetap terjaga, tradisi tetap lestari, tanpa harus mencampuradukan akidah dari dua agama berbeda.

Toleransi paling dramatis yang dilaporkan Kemenag Bali adalah bagaimana tokoh-tokoh agama Hindu dan Islam di Bali melakukan musyawarah pasca peristiwa Bom Bali (2002). Saat itu, telah diketahui pelakunya membawa identitas agama. Namun para tokoh agama Islam dan Hindu bersepakat, aksi bom tersebut bukan merupakan ajaran agama.

Untuk menghindari aksi intoleransi antar-umat beragama, tetua-tetua adat memerintahkan para pecalang (polisi adat Bali), untuk menjaga kampung-kampung Islam dan rumah-rumah umat Muslim agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Inilah bukti bahwa Pulau Dewata tak sekadar tenar karena pariwisata, tapi juga toleransi dalam kehidupan beragama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR