Ilustrasi beberapa peranti yang menunjang proses mendesain poster film
Ilustrasi beberapa peranti yang menunjang proses mendesain poster film
POSTER FILM

Desainer poster film Indonesia, ladang baru nan menjanjikan

Zaman boleh berganti, teknologi bisa berkembang, tapi kehadiran poster film akan selalu relevan.

Ada kenangan masa kecil berkaitan poster film yang masih teringat hingga sekarang. Hari-hari ketika mobil pikap putih lewat di jalanan dekat rumah. Dari pengeras suara yang terpasang di atas mobil, terdengar suara pria yang menginformasikan penayangan film baru di bioskop.

"Jangan lewatkan kelanjutan kisah Brama Kumbara sang ksatria Madangkara menumpas kaum pemberontak dalam film Saur Sepuh 4. Diputar mulai besok di Bioskop Benteng, Ujuna, Palu. Saksikanlah!!" Demikian isi promosi yang berapi-api bak orator itu menggema.

Setelahnya bisa ditebak. Berlembar-lembar pamflet poster film versi foto copy-an langsung terhambur dari atas mobil.

Kontan saya dan teman-teman lain yang biasanya berjaga menyambut kedatangan mereka langsung memunguti pamflet poster tadi.

Terkadang kami ikut berlarian mengikuti hingga mobil menghilang di ujung jalan.

Setelah itu saya mulai pasang aksi berlagak laiknya Brama yang sedang menaiki burung Rajawali andalannya. Kalau sudah begitu, setiba di rumah saya pasti merengek agar diizinkan menonton film Brama Kumbara di bioskop.

Demikianlah era 90-an awal sebuah film dipromosikan. Poster menjadi gerbang yang memperkenalkan film dengan khalayak. Setidaknya di Palu, kota tempat saya tumbuh.

Melalui poster pula muncul keputusan akan menonton film atau tidak. Belum ada yang namanya teaser atau trailer sebagai rujukan lebih mendalam.

Zaman berganti. Begitu juga teknologi yang berkembang sangat pesat.

Kebutuhan saat ini menuntut konten promosi disajikan dengan serba cepat bukan hanya melalui media konvensional, tapi juga harus tersebar dalam berbagai kanal media sosial dan platform.

Walaupun demikian, poster selalu relevan. Fungsinya tak tergerus. Sebagai medium berisi sinopsis dalam bentuk grafis. Menggambarkan isi, emosi, tema, dan genre yang ada dalam film.

"Ada sesuatu dalam poster film yang membuatnya spesial. Beda dengan ketika mendesain materi untuk keperluan promosi lainnya. Makanya tidak semua desainer grafis bisa mendesain poster film," ujar desainer Thovfa EndOne.

Saya menemui Thovfa di Ratu Plaza, Jakarta Selatan, Kamis (24/1/2019) malam. Kebetulan saat itu dia ingin membeli hard disk eksternal yang baru.

"Untuk cadangan. Takutnya yang di rumah kenapa-kenapa. Banyak berkas yang isinya sesi pemotretan untuk poster film tersimpan di sana," lanjutnya.

Diiringi hujan deras yang mengguyur Jakarta malam itu, kami asyik mengobrol di salah satu kedai kopi.

Seandainya pramuniaga tak mengingatkan bahwa kedai sudah mau tutup, mungkin perbincangan kami terus berlanjut.

Thovfa, ia lebih senang dikenal dengan nama demikian, adalah salah satu desainer poster film Indonesia yang andal.

Kategori desain poster terbaik dalam ajang Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) selalu dimenangkannya. Mulai dari Comic 8: Casino Kings Part 1 (2016), Cek Toko Sebelah (2017), dan Jailangkung (2018).

Kolase poster film Indonesia lawas dari berbagai era
Kolase poster film Indonesia lawas dari berbagai era | Kolase poster film lawas - flickr.com/indonesianfilmposterarchive

Agak susah menggali sejarah poster film Indonesia karena literatur yang menerangkannya juga sangat terbatas dan langka.

Jika melongok tumpukan arsip poster film yang tersimpan di Sinematek, Kuningan, Jakarta Selatan, film Melati van Agam (1930) menjadi koleksi poster tertua.

Berdasarkan catatan berbagai literatur disebutkan bahwa Loetoeng Kasaroeng (1926) adalah film cerita pertama yang dibuat di Tanah Air.

Selama kurun empat tahun yang hilang tersebut, produksi film cerita terus menggeliat di Nusantara. Mungkin saja setiap film yang rilis kala itu disertai poster. Hanya saja tak sempat diselamatkan dan tersimpan di Sinematek.

Mengutip pernyataan Adi Pranajaya, mantan kepala Sinematek, dalam laman Historia.id (7/11/2018), sedari awal dunia perfilman di Indonesia sudah menggunakan media poster.

"Saat itu posternya masih sederhana. Kadang hanya berupa sebuah gambar yang diambil dari adegan film tanpa tambahan apa-apa lagi," kata Adi yang menulis sejumlah buku tentang poster film Indonesia.

Memasuki dekade 1940-an yang ditandai sebagai awal kelahiran seni rupa modern Indonesia, seni lukis mulai hadir mewarnai poster film. Semisal poster film Poesaka Terpendam (1941).

Hanya saja saat itu keberadaan lukisan dalam lembaran poster film hanya bersifat pemanis. Materi utama tetap foto-foto adegan dalam film yang memuat para pemeran utama. Tak ketinggalan diimbuhi sinopsis film.

Dominasi seni lukis dalam poster film Indonesia terjadi mulai era 1970-an. Sekujur poster menggunakan teknik lukisan tangan bukan lagi hanya pemanis belaka.

Selama kurun 1980-an, tren mulai bergeser. Foto-foto adegan dianggap lebih menjual sebagai materi poster. Hanya segelintir produser yang masih kukuh menampilkan poster film hasil lukisan tangan.

Pada kurun ini pula untuk pertama kalinya Festival Film Indonesia (FFI), atas usulan Asrul Sani, memberikan apresiasi kepada para desainer poster.

Mulai penyelenggaraan FFI 1984, hadir kategori poster terbaik. Pemenangnya berhak membawa pulang Piala S. Toetoer, nama seorang ahli gambar sekaligus pembuat poster film pada era 1940-an.

Beberapa desainer poster film yang moncer kala itu karena kerap memenangi Piala S. Toetoer, antara lain Agus Subagio, Rizal Avetinus, Gunawan Paggaru.

Kurun dasawarsa ini juga lahir embrio poster karakter lewat film Romantika (Galau Remaja di SMA) rilisan 1985. Pasalnya film produksi Kanta Indah Film itu juga membuat poster terpisah yang menampilkan hanya wajah Meriam Bellina dan Paramitha Rusady, dua pemeran utama film tersebut.

Memasuki dekade 90-an, ketika film-film yang mengeksploitasi seks tanpa juntrungan rilis bak cendawan di musim hujan, visual posternya pun tak kalah vulgar.

Iklim perfilman nasional mulai bersemi lagi memasuki abad milenium ketiga. Teknologi pembuatan poster film juga beralih ke ranah digital.

Sayangnya ketika FFI kembali terselenggara mulai 2004 hingga edisi tahun lalu, panitia tetap saja belum mereken kategori poster terbaik.

Awal tumbuh kembang perfilman ini mencatat beberapa sosok baru dalam dunia desain poster film Indonesia. Tersebutlah nama Michael Tju, Michael Alfian, Rheza PN, dan Jonathan Oh. Mereka waktu itu membuatkan poster-poster untuk rumah produksi besar yang produktif merilis film.

Belakangan kemudian hadir sejumlah desainer lain, seperti Lucky Prima, Angga Bhaskara, Thovfa, dan Alvin Hariz.

Dua nama yang tertulis terakhir paling berkibar di samping Jonathan. Kebetulan ketiganya berstatus purnawaktu. Sangat jarang desainer poster film Indonesia berstatus pekerja tetap dalam satu rumah produksi atau tergabung dalam agency.

Hal ini yang membedakannya dengan negara lain yang sudah berkembang industri perfilmannya, seperti di Hollywood, Amerika Serikat.

Thovfa EndOne (kiri) saat proses pemotretan bersama Ernest Prakasa (kanan) dan Valerie Thomas untuk poster film Susah Sinyal (2017)
Thovfa EndOne (kiri) saat proses pemotretan bersama Ernest Prakasa (kanan) dan Valerie Thomas untuk poster film Susah Sinyal (2017) | Thovfa EndOne

Thovfa yang menggemari Drew Struzan dan Matthew Nieblas langganan pemenang di IBOMA, sementara Alvin sudah dua tahun belakangan memenangkan kategori desain poster terpilih dalam ajang Piala Maya.

Saya bertemu Alvin setelah penyelenggaraan Piala Maya di Wyndham Casablanca Hotel, Jakarta Selatan (19/1). Bersamanya ikut serta Hangga Putra Sukmono, fotografer yang kerap menjadi rekan duetnya saat menggarap poster film.

Foto Della Dartyan dan Gading Marten yang muncul dalam poster Love for Sale buatan Alvin adalah hasil jepretan Hangga.

"Itu foto yang lumayan ribet pengerjaannya. Mengeset angle butuh satu jam karena saya ingin presisi. Gading sama Della sudah agak bete menunggu saya. Ha-ha-ha," ungkap Hangga yang pertama kali berkolaborasi dengan Alvin saat mengerjakan film Seteru (2017) arahan Hanung Bramantyo.

Alvin yang alumni Desain Komunikasi Visual di Universitas Trisakti mengaku pertama kali menggarap poster film Tabula Rasa (2014) karena ajakan Sheila Timothy, produser Lifelike Pictures. Sebelumnya ia lebih sering mendesain logo-logo perusahaan dan restoran.

"Karena waktu itu masih baru, gue banyak belajar tentang desain poster, mengasah taste, dan meningkatkan pemahaman tentang branding, karena poster salah satu marketing tool untuk promosi film. Jadi branding-nya itu harus inline mulai dari warna, tipografi, tata letak, hingga ilustrasi," ungkap Alvin.

Dalam bekerja, Alvin biasanya melibatkan tiga hingga empat orang lagi, yaitu fotografer, penata cahaya, dan retoucher.

Lama pengerjaan poster mulai dari pengajuan bujet hingga selesai bisa memakan waktu antara seminggu hingga sebulan.

"Tergantung permintaan rumah produksi karena biasanya mereka ingin dibuatkan poster-poster lain sebagai pendamping. Atau poster karakter," tambah Alvin.

Wicky V. Olindo, produser Screenplay Pictures, saat ditemui dalam gala premiere film Orang Kaya Baru di XXI Plaza Senayan, Jakarta Selatan (21/1) mengatakan, selain alasan karena ada film yang memiliki banyak tokoh sehingga butuh diperkenalkan, pembuatan poster karakter juga menunjang kebutuhan promosi di media sosial.

"Soalnya konten di media sosial kan harus jalan terus, kehadiran poster-poster karakter dalam film bisa dijadikan materi konten," ujar Wicky yang selalu terlibat dalam perancangan poster film produksi perusahaannya.

Cara kerja setiap desainer poster juga berbeda. Alvin biasanya menyiapkan minimal empat sketsa berisi konsep rancangan setelah membaca sinopsis/naskah.

Sementara Thovfa yang belajar mendesain poster film secara autodidak lebih senang menyodorkan beberapa referensi. Bentuknya terdiri dari gabungan foto atau gambar contoh yang mewakili isi film tersebut.

"Yang pasti setiap menggarap poster film gue selalu berjuang agar jangan hanya nilai komersial yang diperhatikan, tapi juga unsur artistiknya. Supaya bisa gue banggakan sebagai portofolio," kata Thovfa yang karya-karyanya bisa dilihat dalam situs web endonestuff.

Jangan dikira mencari titik temu antara nilai komersial dan artistik dalam sebuah poster film selalu berjalan mulus. Pasalnya kemauan produser dan sutradara bisa saling bertolak belakang.

Seorang desainer poster harus menjembatani perbedaan tersebut sekaligus menjelmakannya dalam lembaran poster tanpa kehilangan nilai artistik.

Kalau kebetulan dapat proyek dari produser dan sutradara yang sama-sama perfeksionis, alamat pengerjaan poster berlangsung lama.

"Mungkin karena faktor itu juga makanya tidak semua desainer grafis bisa membuat poster film. Pada akhirnya seperti yang terjadi sekarang. Seolah-olah desainer poster film perputarannya hanya antara gue, Alvin, dan Jonathan," ujar Thovfa.

Sepanjang tahun lalu, Thovfa mengerjakan lebih dari 20 poster film Indonesia. Jumlah tersebut kurang lebih sama dengan yang dikerjakan Jonathan Oh dan Alvin Hariz.

Mereka pun berharap agar lebih banyak lagi yang terjun dengan serius, alias tidak perlu menjadikan desainer poster sebagai sampingan, karena profesi ini sangat potensial.

"Alhamdulillah apa yang gue dapatkan dari hasil menjadi desainer poster sudah melebihi pendapatan gue sebelumnya waktu masih kerja kantoran," ucap Thovfa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR