Pasangan Sophi Arifudin dan Suyani yang merupakan alumni Golek Garwo tengah melangsungkan pernikahan dalam ajang Nikah Unik di Jogja Expo Center, Bantul, 26 Oktober 2018.
Pasangan Sophi Arifudin dan Suyani yang merupakan alumni Golek Garwo tengah melangsungkan pernikahan dalam ajang Nikah Unik di Jogja Expo Center, Bantul, 26 Oktober 2018. Beritagar.id / Pito Agustin Rudiana
LAPORAN KHAS

Di Golek Garwo, jodoh boleh diatur

Jodoh, kata orang, di tangan Tuhan. Tapi, bukan berarti bebas berpangku tangan alias ogah berusaha. Golek Garwo membuktikan para 'pejuang cinta' tak kenal lelah mencari tambatan hati.

Hari masih pagi. Minggu pula. Tapi, Kantor Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta tetap ramai orang.

Jumlah hadirin lebih dari 100. Mayoritas laki-laki. Mereka duduk berseberangan. Berhadap-hadapan. Perempuan di meja sisi selatan, dan pria di utara. Di tengah dua kubu itu, terulur gang kecil yang masih bisa dipakai lalu-lalang.

Orang-orang itu tak datang untuk merekam data kependudukan. Tetapi, boleh jadi, apa yang mereka upayakan kelak dapat mengubah kolom status perkawinan di e-KTP masing-masing.

“Siapa ingin berkenalan langsung? Tunjuk jari!”

Demikian seorang lelaki berbunyi. Melempar tantangan. Namanya Yanto. Dia pengurus Forum Ta'aruf Indonesia (Fortais) Sewon. Sembari berkata begitu, dia hilir mudik di gang kecil tadi. Tangan Yanto mengenggam mikrofon yang kabelnya tak sanggup meraih semua sudut ruang.

Lontaran itu berbalas keheningan. Walau tak lama. Seorang laki-laki berusia 30-an lantas mengacungkan telunjuk. Lusinan pasang mata perempuan menangkap gerakan itu. Dalam sebentar jeda, pemuda itu mengajukan tanya. Suaranya menyasar perempuan berkerudung hijau muda: "Spesifikasi yang dicari seperti apa?"

Nyaris semua orang tertawa usai mendengar pertanyaan itu. Spesifikasi mungkin kata kurang pas. Yanto sang penguasa mikrofon pun menyela. "Kriteria, tho, maksudnya? Kok sitik (sedikit) banget (pertanyaannya), Mas?" Forum Minggu itu kembali menyodorkan tawa.

Pemuda itu kembali duduk. Wajahnya memerah tomat. Kemudian, si target berkerudung berdiri. Dia bilang sedang mencari calon pendamping seiman, saleh, bertanggung jawab. dan tidak merokok. Kalau bisa masih lajang. Usia maksimal 40.

Abot iki (berat ini),” begitu respons orang-orang di barisan utara. Di antara mereka, ada yang menyahut, “aku ora ngerokok lho, Mbak".

Acara bulanan yang digelar Fortais tiap pekan ketiga itu telah lama menjadi magnet bagi peserta dari pelbagai latar belakang, status, dan usia. Nama acaranya Golek Garwo, yang dalam bahasa Indonesia berarti mencari pasangan. Garwo sendiri akronim sigarane nyowo atau belahan hati.

Kata Ta'aruf dalam akronim Fortais berakar pada bahasa Arab. Secara umum diartikan sebagai perkenalan.

Berdasar data Fortais, umur peserta terentang mulai 19 hingga 80. Statusnya beragam. Boleh sebut segala. Lajang, duda, atau janda. Asalnya tak cuma dari DIY, tapi juga Jawa Tengah dan Jawa Timur. Luar Jawa juga ada. Bahkan pula negeri seberang seperti Malaysia, Singapura, dan Hongkong.

Peserta ada yang baru datang sekali, ada juga yang sudah berulang kali karena jodoh tak kunjung nyantol di hati. Anwar, 30, asal Kulon Progo, DIY, termasuk golongan yang disebut terakhir itu.

“Wah...enggak terhitung (sudah berapa kali bergabung). Padahal cari yang biasa saja. Enggak tahulah. Jodoh rahasia Tuhan,” katanya saat ditemui di pelataran Kantor Kecamatan Sewon, Minggu (21/10).

Lantaran sering datang dalam tatap muka Golek Garwo, Anwar kali ini cuma menanti di luar ruang pertemuan. Kalah oleh rasa malu. Dia sungkan jika lagi-lagi mesti memperkenalkan diri.

Para 'pejuang cinta' dalam proses perkenalan pada program Golek Garwo di aula Kantor Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Minggu (21/10/2018)
Para 'pejuang cinta' dalam proses perkenalan pada program Golek Garwo di aula Kantor Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Minggu (21/10/2018) | Pito Agustin Rudiana /Beritagar.id

Tetapi, saat bubaran dia bisa melihat sosok-sosok perempuan 'baru'. Pun menenteng pulang sebundel data berisi profil, kriteria, dan nomor kontak para peserta Golek Garwo yang saban bulan selalu diperbarui.

Bagi yang datang ke acara, data bakal dibagikan langsung. Jika peserta absen, data dikirimkan via email. Berbekal data itu pula, para peserta bisa saling berkomunikasi atau berikrar untuk kopi darat di luar forum.

Tri Mulyadi, 31, dari Magelang turut mencicip faedah dari keberadaan data tersebut. Beberapa perempuan jadi intens berkomunikasi dengannya. Tetapi, belum satu pun beranjak serius dengan sang duda.

Mungkin itu akibat standar usia yang sejak mula dia pasang. Tri menyasar sosok lebih muda. Sialnya, di Minggu pagi itu, rata-rata perempuan yang datang lebih tua darinya.

“Yang tahu kebutuhan kan kami. Memang jodoh bukan kami yang tentuin. Tapi kan ada acuan,” katanya.

Bukan cuma Tri yang berhati-hati dalam memilih pasangan. Retno, 54, janda asal Magelang, juga mengikuti langkahnya.

“Enggak mau tertipu dan dikhianati lagi. Tapi yang (hadir) tadi belum ada yang klik,” ujar Retno.

Golek Garwo lahir tujuh tahun silam dari rahim ajang Nikah Bareng yang digelar lebih dahulu pascagempa DIY dan Jawa Tengah pada 2006.

Nikah Bareng menyelingi kesibukan masyarakat dan pemerintah yang lebih berfokus dalam mengurus pemulihan fisik. Sasaran para perintisnya adalah warga Bantul, korban gempa mayoritas. Peserta tak dipungut biaya.

“Orang enggak kepikiran untuk nikah waktu itu. Kami tergerak menggelar nikah bareng,” kata Raden Mas Ryan Budi Nuryanto, 40, ketua Fortais.

Incarannya jelas korban gempa yang mau menikah, tapi mentok dalam urusan biaya. Nikah Bareng juga mengincar pasangan-pasangan tak mampu yang belum menikah secara resmi.

Peserta pertama lima pasangan. Dinikahkan di Bantul. Ryan--kala itu masih jomblo--juga kepincut mau ikut. Dalihnya, menikah serentak berujung lebih banyak keberkahan ketimbang menikah sendiri.

“Bukan soal ragat (biaya). Tapi, nikah bareng kan banyak yang doain. Juga mempererat silaturahim dan bisa saling berbagi,” kata Ryan.

Masalahnya, Ryan jomblo akut. Tak punya pacar. Dia lalu pontang-panting mencari calon pasangan. Macam-macam jurus dilepaskan. Salah satunya, pasang iklan di koran dalam balutan pakaian rancangan Aji Notonegoro. Dia juga mendata alumni sekolahnya yang masih lajang.

Bahkan, tiap kali menggelar Nikah Bareng, Ryan sering menawarkan diri menjadi peserta selanjutnya.

“Teman wartawan juga saya ‘tembaki’. Wajah saya kan ora elek (jelek) banget. Tapi, kok ora payu (tidak laku),” ujarnya.

Salah satu alasan penolakan dari para target: mereka memang tak mau diajak nikah bareng. Mungkin merasa malu dan gengsi. Penginnya nikah sendiri. Dihadiri keluarga, kerabat, dan kenalan. Bukan pernikahan yang disiarkan media sehingga bisa ditonton publik seantero jagat.

Satu anggota panitia Nikah Bareng akhirnya memperkenalkan Ryan kepada adiknya, seorang mahasiswa program doktoral bernama Farida Baroroh. Sialnya, dia ditolak. Dua kali.

Tetapi, pada 2008, sepekan sebelum Nikah Bareng digelar, Farida menghubungi secara dadakan. Menyatakan kesediaan. Keduanya pun menikah bersama pasangan lain di Pendapa Parasamya, sebuah bangunan joglo di kompleks Kantor Bupati Bantul. Empat tahun lalu, mereka dikaruniai seorang anak perempuan.

“Sembilan tahun mencari jodoh sulitnya setengah mati. Bercucuran air mata dan ditolak berulang kali,” kata Ryan mengenang.

Berkaca dari pengalaman pribadi, Ryan terpikir untuk memfasilitasi para jomblo. Soalnya jelas. Kian banyak orang melajang karena berbagai alasan. Ada yang sibuk bekerja, memendam trauma, memiliki keterbatasan fisik, terbelit persoalan keluarga, hingga terjebak faktor X.

“Percaya enggak percaya, faktor X itu ada. Lagi pula negara kan tidak menjamin warga negaranya bisa dapat jodoh,” kata Ryan menyebut guna-guna agar jauh dari jodoh sebagai salah satu faktor X dimaksud.

Alhasil, Golek Garwo berhasil digelar untuk kali pertama pada 2011, tahun yang sama dengan pendirian Fortais. Berbeda dari acara cari jodoh lain, Golek Garwo terbuka bagi khalayak luas tanpa memandang perbedaan latar belakang, agama, etnis, usia. Dan ini mahapenting: gratis.

Calon peserta memang mengeluarkan Rp20 ribu ketika mendaftar di lokasi. Panitia mengistilahkannya uang infak. Lebih ditujukan untuk memfotokopi data semua peserta. Sudah termasuk pula makan siang.

“Kalau keberatan ya, tidak memaksa,” kata Ryan.

Syarat pendaftaran menyertakan sejumlah hal. Data riwayat hidup, foto peserta, foto kopi KTP, kriteria calon yang dicari, serta pernyataan diri bermaterai yang menyatakan masih lajang, duda, atau janda. Panitia melakukan verifikasi status peserta untuk mencegah gugatan hukum dari pihak yang dirugikan.

“Karena muaranya ke pernikahan. Bukan entertainment,” ujarnya.

Foto-foto para peserta Golek Garwo yang didokumentasikan panitia Forum Taaruf Indonesia (Fortais)
Foto-foto para peserta Golek Garwo yang didokumentasikan panitia Forum Taaruf Indonesia (Fortais) | Pito Agustin Rudiana /Beritagar.id

Peserta yang tak bisa hadir dalam forum jumpa darat bisa langsung berkenalan lewat komunikasi jarak jauh. Sebab, panitia selalu mengirimkan data ke semua peserta dan memperbarui apabila ada peserta baru.

Bersandar pada data Fortais, hingga gelaran Golek Garwo terakhir, sudah ada 550 pendaftar laki-laki di bawah usia 40 dan 330 orang di atas usia 40.

Pendaftar perempuan di bawah 40 tahun berjumlah 475, dan di atas 40 tahun ada 325. Pertama kali digelar pada 2011 diikuti 20 orang pendaftar. Sedangkan gelaran Nikah Bareng telah dilakukan 33 kali.

Hingga kini, Golek Garwo dan Nikah Bareng telah merengkuh total pasangan 7.100. Di antara jumlah itu, ada juga beberapa yang sudah bercerai.

Dalam pelaksanaan acara, Fortais--beranggotakan para alumnus Golek Garwo dan Nikah Bareng--menegakkan ritual religius. Harapannya, pelbagai tahapan proses mulai dari mencari jodoh hingga menikah berjalan lancar.

Doa bersama dipanjatkan. Tiap bulan ada khataman Alquran yang melibatkan jemaah penghafal.

“Sebagai muslim percaya sebaik-baiknya doa kan Alquran. Yang mendoakan juga senang banyak pasangan yang berjodoh,” kata Ryan.

Dari ajang Golek Garwo, Ryan menemukan warna-warni kisah dan motivasi para peserta.

Yang berusia 19 menyatakan malas pacaran lantaran hanya sebatas cinta monyet. Dia ingin menikah muda dan hidup mapan.

Yang berumur 80 mencari pasangan yang dapat menjadi pendamping hidup dan teman bertukar pikiran karena anak-anaknya tak mungkin menjaganya 24 jam.

“Jadi yang sepuh-sepuh itu tujuan menikah bukan biologis lagi,” kata Ryan.

Pasangan yang umurnya terpaut jauh juga ada. Satu kasus melibatkan seorang pemuda dan seorang janda. Bisa begitu karena pada pertemuan pertama, mereka memasang kriteria tinggi. Lantaran tak mujur, kriteria diturunkan pada pertemuan kedua. Dan seterusnya. Padahal, sang janda memiliki anak yang sebaya dengan si pemuda.

“Ibarat Raffi Ahmad dan Yuni Shara enggak jadi (menikah), di sini jadi. Penentuan kriteria harus melihat kebutuhan,” kata Ryan yang melihat kasus semacam itu sebagai tanda-tanda kekuasaan Tuhan.

Proses mendapatkan jodoh di ajang itu bisa berlangsung kilat, atau lambat. Kalaupun ada yang sudah merasa sreg berjodoh, perjuangan masih berlanjut. Sebab, tak menutup kemungkinan sosok yang dituju juga diincar peserta lain.

Keseruan pun acap kali muncul. Bak kampanye politik. Sepanjang tidak melakukan fitnah atau black campaign, para rival boleh melakukan negative campaign demi merebut sang pujaan hati.

Tetapi, peserta yang ‘ditembak’ tidak boleh mengumpankan harapan palsu dengan menggantung jawaban terlalu lama. Apabila tak merasa afdal dengan si 'penembak', mereka akan diminta untuk segera memberikan tanggapan.

“Peserta Golek Garwo itu pejuang cinta,” kata Ryan sambil tergelak.

Bagi peserta yang sudah berjodoh, mereka akan memberitahukan kepada panitia agar datanya dicoret dari kepesertaan.

Mereka terus bisa ke pelaminan dengan mengikuti Nikah Bareng. Meski lebih banyak yang memilih untuk menikah sendiri.

Nikah Bareng--yang juga digelar Fortais--diadakan minimal setahun sekali. Konsepnya unik. Selain melibatkan beberapa pasangan, keunikannya bisa meliputi lokasi hajatan, dandanan, hingga prosesi yang digelar.

Ambil saja misal, nikah bareng dan khitanan massal. Atau nikah bareng di lapangan futsal, di dalam kereta tebu (lori), di atas gajah, speedboat, gerobak sapi, pesawat, kereta api, Tugu Jogja, bahkan di atas crane.

Selain spesial, “Nikah Bareng juga gratis. Mulai dari mahar sampai dekorasinya,” kata Ryan.

Untuk itu, Fortais rajin menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Seperti pengadaan cincin kawin, juru rias, lokasi acara, atau mahar. Sponsor berjalan bergantian.

Namun, biaya untuk Kantor Urusan Agama (KUA), dekorasi, dan katering masuk perkecualian. Fortais kerap menanggung sendiri ongkos untuk tiga hal itu. Sebab, mereka tak jua beroleh sponsor.

BACA JUGA