Keterangan Gambar : Seorang dokter memeriksa anak Rohingya berusia sepuluh hari di sebuah posko kesehatan di kamp pengungsian Ukhiya, Cox's Bazar, Bangladesh, Jumat (5/10/2017). © EPA-EFE / Abir Abdullah

Dokter-dokter di kamp pengungsi Rohingya harus melayani 200-an pasien saban hari, dengan keterbatasan stok obat dan fasilitas kesehatan.

Jumat pagi (13/10/2017), seorang perempuan tergesa-gesa mendatangi posko kesehatan Dompet Dhuafa dan Indonesian Humanitarian Alliance, di Jamtoli, Ukhiya, Cox's Bazar, Bangladesh.

Perempuan bernama Laila (40) itu menarik Febi, seorang perawat, ke sebuah rumah tak jauh dari posko termaksud.

Di dalam rumah, terlihat Rujufah (23) yang hamil sembilan bulan tengah kepayahan. Wajahnya pucat, dan siap mengejan. Rujufah adalah istri kedua, sedangkan Laila merupakan istri pertama. Suami mereka tak ada di rumah, karena mengantre pembagian bantuan.

Lewat serangkaian pemeriksaan, Febi menyimpulkan Rujufah sudah masuk bukaan II dan ketubannya telah pecah sekitar enam jam lalu. Tak heran bila Rujufah kesakitan.

Sjarif Darmawan (41), dokter penanggung jawab posko kesehatan, lekas ambil keputusan mengevakuasi Rujufah. Ia perintahkan perawat posko mencari kendaraan evakuasi.

Perawat berhasil mencegat tomtom (bajaj lokal Bangladesh) guna membawa Rujufah ke posko International Organization for Migration (IOM) di pusat Jamtoli. Posko itu jadi rujukan terdekat karena punya fasilitas kesehatan yang lebih baik.

Febi dan seorang perawat lain menemani Rujufah dalam tomtom. Perjalanan ditempuh lebih kurang 20 menit, termasuk menghitung durasi mendorong tomtom yang kepayahan bila lewat jalan terjal.

Begitu tiba di posko IOM, dokter sigap memeriksa bunyi jantung janin. Denyut jantung masih ada meskipun melemah. Menimbang kondisi tersebut, Rujufah dirujuk lagi ke fasilitas kesehatan semacam Puskesmas di Ukhiya--naik ambulans.

Situasi darurat itu merupakan peristiwa sehari-hari bagi Sjarif dan para perawat yang bertugas di posko kesehatan pengungsi Rohingya.

Sjarif adalah salah seorang dokter yang memenuhi panggilan kemanusiaan ke Bangladesh. Pada hari normal, suami dr. Anjar Tri Astuti , Sp. KK itu bekerja sebagai ahli bedah di RS Rumah Sehat Terpadu, Parung, Banten.

"Saya ke sini karena ingin berkontribusi melawan kezaliman, dan menolong sesama Muslim," tutur Sjarif, ketika ditanya alasannya menuju Bangladesh.

Agama memang sering jadi alasan yang melatari para relawan bekerja di kamp pengungsi Rohingya. Namun, Sjarif membantah bila agama disebut sebagai satu-satunya alasan .

"Bukan semata sentimen agama. Ini soal kemanusiaan," ujar dokter yang beroleh gelar spesialis bedah dari Universitas Indonesia itu.

Nyatanya, Sjarif sudah ikut kerja-kerja kemanusiaan sejak kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Pengalaman pertamanya terlibat kerja kemanusiaan terjadi saat "Banjir Bandung", pada 1998. Sejak itu, ia kerap ikut kegiatan-kegiatan sosial lain.

Tak jarang, dalam tugasnya, Sjarif harus mengerjakan peran lain di luar statusnya sebagai dokter. "Sering juga ikut angkat-angkat bantuan untuk korban bencana," katanya, sambil menyengir.

Mengikuti panggilan kemanusiaan menyisakan sejumlah konsekuensi bagi Sjarif. Misal, penghasilannya yang berkurang, lantaran harus mengabdi untuk pengungsi Rohingnya di Ukhiya, Cox's Bazar.

Bila kerja di rumah sakit, Sjarif bisa menggelar 10 operasi dalam sehari. Upah atas jasanya itu berkurang setengah selama bertugas di kamp pengungsi Rohingya pada 10-17 Oktober 2017.

"Karena jadi relawan, saya kehilangan setengah penghasilan sebulan. Kira-kira sekitar 40-50 juta," katanya.

Sehari lepas cerita evakuasi di muka, Sjarif dan tim medis yang dipimpinnya kembali ke posko kesehatan tempat mereka bertemu Laila dan Rujufah.

Kali ini, Laila menyambut mereka tanpa tergesa meski tetap mengajak tim medis mampir ke rumahnya. Di dalam rumah, Rujufah menyambut dengan senyum secerah saree kuning yang dipakainya. Seorang bayi dalam selimut terlihat tenang dalam buaian Rujufah.

Sjarif semringah melihat bayi itu. Febi pun memberi usul nama: Rufaidah.

***

Seorang pekerja layanan kesehatan menimbang berat anak di sebuah posko kesehatan, kamp pengungsian Palonkhali, Coxsbazar, Bangladesh, Rabu (11/10/2017).
Seorang pekerja layanan kesehatan menimbang berat anak di sebuah posko kesehatan, kamp pengungsian Palonkhali, Coxsbazar, Bangladesh, Rabu (11/10/2017).
© Abir Abdullah /EPA-EFE

Hampir semenit ponsel berdering di atas meja tanpa jawaban. Si pemilik ponsel, Dokter Pradipta Suarsyaf (26), sedang sibuk memeriksa anak kecil yang terbaring di atas meja kerjanya. Stetoskopnya menempel di dada anak yang sedang terisak itu.

Kamis siang (19/10/2017), merupakan hari ketiga Pradipta bekerja dalam tim medis Dompet Dhuafa dan Indonesian Humanitarian Alliance di Jamtoli, Ukhiya, Cox's Bazar, Bagladesh. Seperti Sjarif, Pradipta bisa melayani 200-an pasien per hari--dengan pelbagai gangguan kesehatan.

"Junus, tolong angkat teleponnya," kata dokter keturunan Sunda-Padang itu kepada penerjemahnya--dalam bahasa Inggris.

Sejurus kemudian, Junus menempelkan ponsel ke telinga Pradipta yang baru saja melepas stetoskop.

Seseorang mengucap salam di seberang telepon. "Walaikum salam, Say," Pradipta membalasnya.

Panggilan itu datang dari istri Pradipta, Nita (26). Pembicaraan mereka berlanjut. "Iya sudah makan, nih," ujarnya.

Pradipta lantas mendongkak dan melihat antrean yang memanjang di depan mejanya. Demi menyadari antrean nan mengular, Pradipta lekas mengakhiri percakapan telepon, dengan janji akan menelepon balik selepas rampung bertugas.

Tak lama setelah menutup telepon, Pradipta mengalami pengalaman haru. Seorang ibu renta menjadi pasiennya. Ibu itu diangkat dengan tandu darurat--berupa kain yang terlilit ke sebuah kayu yang dipikul dua lelaki pengantarnya.

Kepada Pradipta, si ibu mengeluhkan sakit di dadanya. "Dada sakit karena jatuh di tengah pelarian dari desa," tutur Junus mengalihbahasakan keluhan ibu itu.

Demi mendengarnya, Pradipta tertegun. Matanya basah ketika bunyi napas pasien rentanya tertangkap stetoskop. Ia memberi pengakuan lepas pemeriksaan, "Saya ingat ibu saya."

Tak pernah terlintas dalam benaknya menjadi relawan bagi pengungsi Rohingya. Sehari-hari dokter lulusan UIN Syarif Hidayatullah itu bekerja sebagai staf di Dompet Dhuafa.

Pada akhir pekan, Pradipta menjadi dokter jaga dan mengurusi bisnis pengiriman barang bersama istrinya.

Pradipta mengaku berangkat ke Bangladesh demi memenuhi kewajiban kantor. "Saat itu kekurangan tenaga dokter yang siap berangkat. Jadilah saya dipilih di detik-detik terakhir," kata pria yang berdomisili di Bekasi tersebut.

***

Tiga dokter yang jadi narasumber, dari kiri ke kanan: Sjarif Darmawan, Pradipta Suarsyaf, dan Rosita Rivai.
Tiga dokter yang jadi narasumber, dari kiri ke kanan: Sjarif Darmawan, Pradipta Suarsyaf, dan Rosita Rivai.
© Istimewa

Mencari dokter untuk bekerja di kamp pengungsi Rohingya tak sulit. Namun, mencari dokter yang berselaras dengan tujuan dan kebutuhan tim medis tak mudah.

Pandangan di muka diungkapkan salah satu koordinator relawan tim Indonesian Humanitarian Alliance, Rosita Rivai (41).

"Dokter yang ingin berangkat ke lokasi kebencanaan--seperti kamp pengungsi Rohingya--banyak. Tapi yang mampu dan mau menjalankan program sedikit," ujar Rosita. Ia pun beri penekanan pada program pencegahan penyakit.

"Kebanyakan dokter maunya pengobatan saja. Pengobatan sampai kapan? Kita perlu menjalankan program yang sustainable (berkelanjutan)," lanjut dokter yang sudah lebih dari 15 tahun bergulat dengan urusan kebencanaan itu.

Tantangan lain, kata Rosita, berupa jumlah pasien yang bisa mencapai ratusan orang per hari. Menurutnya, kondisi macam itu hanya bisa diatasi "dokter tahan banting". Tak mudah pula menemukan dokter yang siap menghadapi keterbatasan obat dan fasilitas.

Rosita pun punya siasat khusus saat menyeleksi tim medis yang akan berangkat ke lokasi kebencanaan. Biasanya, dia akan melihat rekam jejak dan pengalaman para dokter di daerah terpencil atau kawasan bencana lain.

Saat ini, Indonesian Humanitarian Alliance punya 27 tenaga medis yang bertugas di Jamtoli, Ukhiya, Cox's Bazar. Tim itu terbagi dalam empat kelompok kecil beranggotakan 7-8 orang--dokter, dokter gigi, apoteker, dan perawat--yang kerja bergantian tiap dua pekan (shift).

Rosita juga sebut bahwa dokter kebencanaan tak menguntungkan secara finansial. "Dokter kebencanaan itu kere. Ini jalan yang murni pengabdian dan kemanusiaan," kata petinggi Bidang Kebencanaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) itu.

***

Krisis pengungsi Rohingya dan respons Indonesia.
Krisis pengungsi Rohingya dan respons Indonesia.
© Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Senin siang (30/10/2017), di Gedung Graha Zakat di Jl. Ir. H. Juada, Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan, Indonesian Humanitarian Alliance melakukan rapat evaluasi terhadap tim medis yang bertugas di kamp pengungsi Rohingya.

Sjarif dan Pradipta dapat giliran presentasi pengalaman di lapangan. Di dalam ruangan, hadir pula Rosita Rivai.

Bahan presentasi Pradipta berfokus pada pengalamannya bertemu pasien-pasien yang membawa keluhan serupa saban hari. Sedangkan Sjarif berkisah tentang aksi penyelamatan ibu hamil yang dilakukan timnya.

Sjarif juga menerangkan program pemurnian air minum dengan menggunakan terik matahari. "Saya minum air itu. Alhamdulillah, saya masih hidup sampai hari ini," katanya berkelakar, disusul gelak hadirin.

Dokter bedah itu lalu menjelaskan langkah taktis menghadapi situasi kekurangan stok obat. "Alhamdulillah, kekurangan obat teratasi lewat silaturahmi dengan beberapa tim medis lain," kata dia.

Rosita Rivai bertanya kepada Sjarif dan Pradipta selepas presentasi singkat itu, "Siap berangkat untuk tim medis selanjutnya?"

"Insya Allah, kalau untuk ini saya selalu siap," jawab Sjarif.

Sedangkan Pradipta hanya tersenyum, tanpa jawaban.

Catatan redaksi: Penulis, Dhihram Tenrisau, merupakan anggota tim medis Dompet Dhuafa dan Indonesian Humanitarian Alliance di Jamtoli, Ukhiya, Cox's Bazar, Bangladesh. Baca juga laporan lain dari Dhihram:
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.