Tiga pendiri Du'Anyam. Dari kiri ke kanan: Melia Winata, Hanna Keraf, dan Azalea “Ayu” Ayuningtyas, dalam peringatan Sumpah Pemuda 2017 di Istana Bogor.
Tiga pendiri Du'Anyam. Dari kiri ke kanan: Melia Winata, Hanna Keraf, dan Azalea “Ayu” Ayuningtyas, dalam peringatan Sumpah Pemuda 2017 di Istana Bogor.

Du'Anyam, anyaman mama-mama NTT di Asian Games

Kisah tiga perempuan muda membawa anyaman mama-mama NTT menjadi tanda mata Asian Games 2018.

Satu hari pada November 2017, Melia Winata menyambangi kantor komite penyelenggara Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, INASGOC.

Melia mengaku tak tahu harus bertemu siapa di kantor yang terletak di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat itu. Ia sekadar bergerak berdasar penciuman bisnis.

Perempuan berusia 27 itu mengintip peluang menjual produk Du'Anyam, satu perusahaan sosial (social enterprise), tempatnya bekerja sebagai direktur pemasaran.

"Awalnya, saya cuman coba-coba menawarkan produk anyaman kami--sandal atau topi--untuk dipakai panitia dan relawan Asian Games," kata Melia, saat kami mengobrol di kantor Du'Anyam, bilangan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (27/7).

Singkat cerita, Melia hanya bisa bertemu beberapa staf INASGOC. Ia pun diminta datang kembali beberapa hari berikutnya guna bertemu para pembesar INASGOC.

Kebetulan, komite pesta olahraga Asia itu sedang mencari jenama lokal sebagai mitra pemegang lisensi tanda mata Asian Games.

Pada hari yang dijanjikan, Melia datang dan langsung diminta presentasi perihal Du’Anyam.

"Di luar dugaan, mereka (INASGOC) terkesan dan minta kami ikut seleksi pemegang lisensi," ujar Melia. "Akhirnya, pada pengujung 2017, kami resmi jadi salah satu pemegang lisensi Asian Games."

Itu secuplik cerita balik layar perihal proses Du'Anyam mendapat lisensi Asian Games. Nama produsen anyaman itu bersanding dengan 16 jenama lain, termasuk merek mi instan nomor satu dunia dan satu label waralaba cepat saji asal Kentucky, Amerika Serikat.

Menyambut hajatan akbar itu, Du'Anyam bikin macam-macam produk anyaman. Total mereka produksi sekitar 30 ribu pernak-pernik bertemakan Asian Games 2018, dari tatakan gelas, kipas, pembatas buku, sampai topi.

Produk itu bisa dibeli di stan resmi Asian Games--tersebar di 10 pusat perbelanjaan ibu kota. Tersedia pula lewat layanan daring (online).

Sebagai perusahaan sosial, Du'anyam memadukan kemahiran mendulang untung sembari menjaga manfaat bisnis terhadap lingkungan sosial.

Mereka merancang, memproduksi, dan memasarkan produk anyaman karya mama-mama dari 17 desa di Flores Timur.

“Nama Du’Anyam itu dari bahasa lokal, ‘Du’ itu berarti ibu. ‘Anyam’ merujuk pada produk kami yang berbasis anyaman,” ujar Melia.

Para pendiri Du’Anyam tergerak merintis perusahaan sosial di pelosok NTT setelah melihat masalah kesehatan perempuan dan anak. NTT memang masih punya masalah di sektor termaksud, misal tingginya angka kematian ibu dan anak.

Melia ikut merintis Du'Anyam, bersama dua sahabatnya Hanna Keraf (29) dan Azalea “Ayu” Ayuningtyas (28), pada 2014.

Ketiganya sudah berteman sejak masih sekolah di SMA Santa Ursula, Jalan Pos, Jakarta Pusat.

Lulus SMA, mereka berpencar menuntut ilmu di luar negeri: Melia ke Universitas Melbourne, Australia; Hanna ke Ritsumeikan APU, Jepang; dan Ayu ke Harvard University, Amerika Serikat.

Lepas menuntaskan dahaga ilmu di pelbagai pusat pendidikan internasional, tiga perempuan muda itu mencoba keluar dari zona nyaman. Pelan-pelan, mereka melirik isu-isu sosial kemasyarakatan sambil memikirkan model bisnis nan ideal.

Beberapa tanda mata Asian Games 2018 dari Du'Anyam. Produk berbahan anyaman ini dibuat oleh ibu-ibu dari NTT.
Beberapa tanda mata Asian Games 2018 dari Du'Anyam. Produk berbahan anyaman ini dibuat oleh ibu-ibu dari NTT. | Tri Aryono Maelite /Beritagar.id

Kisah kehamilan Maria dan hibah MIT

Cerita kehamilan Maria, seorang ibu di pelosok NTT, ikut melecut kelahiran Du’Anyam.

Maria mengalami musibah pada kehamilan keenam. Anaknya meninggal dunia menyusul pendarahan hebat dalam proses persalinan. Nyawa anaknya tak tertolong dalam perjalanan menuju Puskesmas.

Jarak rumah Maria menuju Puskesmas sekitar 10 kilometer. Medannya berupa hutan dan perbukitan. Seseorang dalam situasi darurat kesehatan, seperti Maria, harus ditandu demi mencapai Puskesmas.

Bilapun ada masalah kesehatan selama kehamilan, Maria praktis tak tahu. Lantaran tak punya uang, ia tak pernah periksa kandungan ke Puskesmas atau rumah sakit.

Di kampung Maria, uang fisik jarang beredar. Transaksi ekonomi berlangsung dalam model barter. Persalinan juga sekadar dibantu dukun beranak yang jasanya dibarter dengan hasil kebun atau ternak.

Cerita Maria itu didengar Hanna Keraf, pada medio 2013, di Kabupaten Sikka, NTT.

Saat itu, Hanna masih bekerja dalam program pemberdayaan perempuan yang digagas Yayasan Sahabat Cipta dan Swiss Contact—sebuah organisasi nonpemerintah asal Swiss.

“Cerita seperti itu sering terjadi di NTT. Saya ceritakan kepada Ayu dan Melia. Cerita ini menjadi kegelisahan sekaligus menggugah kami membuat perusahaan sosial yang bisa membantu perempuan di sana,” kenang Hanna, saat kami berbincang di kantor Du’Anyam, Senin (30/7).

Pemerintah, kata Hanna, sebenarnya sudah menyediakan layanan kesehatan gratis. Namun, jarak atau ketiadaan moda transportasi membuat mama-mama di NTT sulit mengakses layanan itu.

“Selain itu, di rumah sakit, meski layanannya gratis, mereka kerap diminta fotokopi surat-surat administrasi. Itu jadi masalah karena mereka tidak punya uang fisik,” kata putri mantan Menteri Lingkungan Hidup ke-5, Sonny Keraf itu.

Berangkat dari masalah itu, Hanna, Melia, dan Ayu mulai mencari model bisnis yang bisa membantu para perempuan di pelosok NTT.

Semula, mereka melirik usaha kain tenun. Namun, dalam hemat mereka, produk tenun "kurang cepat berputar". Tak setiap saat ada orang yang membutuhkan tenun.

Bersamaan dengan itu, mereka melihat peluang memasarkan produk anyaman kepada hotel atau resor.

Lagipula, anyaman lekat dengan keseharian di NTT. Mama-mama di sana sering menganyam daun lontar untuk bikin perkakas sehari-hari, macam keleka (tapis beras), lepa (tas gantung), dan monga (piring).

“Misalnya, kalau produksi sandal hotel, itukan barang yang hampir tiap hari diganti. Perputarannya cepat dan kebutuhannya besar. Ibu-ibu bisa terus produksi,” ujar Hanna.

Sekitar setahun, antara 2013-2014, gagasan mendirikan Du’Anyam terus digodok. Menariknya, proses itu tak menuntut modal besar, kecuali ide-ide segar tentang pemberdayaan ekonomi.

Ide-ide segar itulah yang ditawarkan para pendiri Du'Anyam dalam MIT Global Ideas Challenge 2014.

Itu merupakan kompetisi yang membuka peluang pendanaan bisnis sosial. Penyelenggaranya adalah Massachusetts Institute of Technology (MIT), kampus teknik kesohor di Negeri Paman Sam.

Medio 2014, Du’Anyam berhasil terpilih sebagai salah satu penerima hibah (sebesar USD5.000) dalam kompetisi termaksud.

Sejak itu, pembagian kerja di antara pendiri jadi lebih rinci: Ayu dapat tugas jadi direktur eksekutif; Hanna, yang punya darah NTT, kebagian kerja sebagai direktur komunitas; dan Melia menjabat sebagai direktur pemasaran.

Tiga pengrajin Du'Anyam dari Desa Wulublolong, Flores Tiur, NTT. Dari kiri ke kanan: Mama Osa,  Mama Erfina, dan Mama Yuli.
Tiga pengrajin Du'Anyam dari Desa Wulublolong, Flores Tiur, NTT. Dari kiri ke kanan: Mama Osa, Mama Erfina, dan Mama Yuli. | Melia Winata /Instagram/Du'Anyam

Kerja keras hingga Asian Games

Empat tahun silam, Du’Anyam memulai aktivitas produksi bersama 10 perempuan di desa Duntana, sekitar satu jam perlanan dari Larantuka, ibu kota Flores Timur.

Kini mereka sudah melibatkan sekitar 450 perempuan dari 17 desa di Flores Timur. Tahun ini, bila tiada aral, mereka juga mulai produksi anyaman bersama para perempuan di Nabire, Papua dan Berau, Kalimantan Timur.

Menurut Hanna, usaha Du’Anyam bisa meningkatkan pendapatan para perajin sampai 40 persen per bulan.

Mama-mama perajin jadi lebih sering pegang uang. Sebelumnya, duit fisik hanya beredar ketika musim panen selepas jual hasil bumi ke pasar.

“Aktivitas menganyam tidak seharian penuh. Ada yang sanggup satu jam, tapi ada yang bisa kerja sampai tiga jam, semuanya di sela aktivitas sehari-hari. Penghasilannya tergantung kerajinan, normalnya antara 400-800 ribu per bulan,” ujar Hanna.

Bisnis kian cerah setelah Du’Anyam mulai merambah industri ritel pada pengujung 2017.

“Tapi kalau ritel, kami juga harus pandai pilih-pilih, skalanya harus sesuai dengan kemampuan mama-mama perajin anyaman,” kata Melia.

Tonggak itu ditandai peluncuran sejumlah produk fesyen Du’Anyam dalam ajang Jakarta Fashion Week 2017. Demi bikin produk fesyen, Du’Anyam berkolaborasi dengan beberapa lini busana macam Contempo, Cotton Ink, dan Impromptu.

Belakangan, saat pemerintah mulai menggenjot potensi industri kreatif, Du’Anyam kerap bekerjasama dalam pelbagai agenda Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Tahun ini, misalnya, Du’Anyam jadi salah satu duta Indonesia dalam ajang Indonesia Paviliun di Italia.

Selain itu, pada peringatan Sumpah Pemuda 2017, para pendiri Du’Anyam berkesempatan memamerkan karya mereka di hadapan Presiden Joko “Jokowi” Widodo di Istana Bogor.

“Mama-mama perajin itu senang sekali, waktu produk mereka dipegang Pak Jokowi. Begitu juga ketika produknya sampai ke luar negeri. Kami kasih lihat fotonya, mereka jadi tahu bahwa pekerjaan mereka bernilai bagi orang lain,” kata Hanna.

Dari segala pencapaian ini, bagi para pendiri Du'Anyam, belum ada yang sebanding dengan partisipasi mereka pada Asian Games 2018.

“Ini ajang olahraga terbesar kedua di dunia setelah Olimpiade, dan kami bisa menempatkan nama kami di sana. Ini buah kerja keras selama empat tahun terakhir,” ujar Hanna.