Para pemain, sutradara, dan produser film Dua Garis Biru berfoto bersama usai konferensi pers di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (27/6/2019)
Para pemain, sutradara, dan produser film Dua Garis Biru berfoto bersama usai konferensi pers di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan (27/6/2019) StarvisionPlus
FILM INDONESIA

Film Dua Garis Biru tak sekadar pendidikan seks

Film Dua Garis Biru hadir memberikan suguhan tentang pentingnya membuka ruang dialog dalam keluarga, salah satunya tentang pendidikan seks.

Dara keluar perlahan dari kamar mandi. Wajahnya kuyu. Dengan bibir terkatup, diserahkannya test pack kepada Bima. Muncul dua garis biru dari alat tes kehamilan tersebut.

Kontan Bima menatap nanar. Bibirnya putih pucat. Sebab itu berarti Dara, kekasihnya, positif hamil.

Seketika dua remaja yang masih berstatus kelas tiga SMA ini tak bisa lagi menjalani hari-hari seperti biasa. Tiada lagi canda tawa nan mesra, yang tersisa hanya rasa waswas, kalut, dan takut.

Pada satu titik sempat terbersit pikiran untuk mengambil jalan pintas. Opsi ini kemudian urung mereka lakukan.

Waktu yang terus berjalan membuat sepasang kekasih ini tak kuasa lagi menyimpan rahasia.

Pada sebuah momen saat mengikuti pelajaran olahraga, Dara terjatuh dan tak sadarkan diri. Hasil pemeriksaan di ruangan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) menemukan fakta bahwa Dara telah berbadan dua.

Kehadiran dua orang tua Dara dan Bima, menyusul kemudian Kepala Sekolah, membuat ruangan UKS berkalang emosi. Adu mulut, saling menuding, bahkan adu fisik tak terhindarkan.

Rika, ibu Dara, yang belum lagi dapat mengontrol emosinya meminta Bima bertanggung jawab.

Tak berselang lama, Kepala Sekolah mengeluarkan maklumat. Dara dikeluarkan dari sekolah.

Fragmen di atas merupakan bagian dalam film Dua Garis Biru arahan Gina S. Noer yang tayang di bioskop mulai 11 Juli 2019.

Gina sebelumnya telah angkat nama sebagai penulis skenario dan produser. Menduduki kursi sutradara adalah kali pertama baginya.

Laiknya sutradara debutan, Gina yang bersuamikan Salman Aristo --juga penulis skenario dan kali ini merangkap sebagai co-produser-- mengaku sangat deg-degan.

“Jujur saja semalam saya enggak bisa tidur. Rasanya seperti mau melahirkan. Dan mohon maaf nih, stresnya melebihi saat mau menikah. Ha-ha-ha,” ungkap Gina usai acara pemutaran film Dua Garis Biru untuk kalangan wartawan di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan (27/6/2019).

Naskah awal film ini sebenarnya sudah dirampungkan Gina sejak 2010. Penyelesaiannya tertunda berbilang sewindu karena kesibukan menulis skenario film-film lain.

“Faktor lain karena saya merasa belum siap merampungkannya. Lantaran itu pula saya tak kunjung menemukan konklusi yang pas untuk menyelesaikan cerita film ini,” tambahnya.

Berbekal pengalaman yang lebih kaya setelah berstatus ibu dari dua anak, juga atas desakan produser Chand Parwez Servia dari Starvision, Gina akhirnya melanjutkan penulisan skenario Dua Garis Biru. Versi utuhnya alias final draft rampung tahun lalu.

Chand Parwez pula yang mendesak dan memberikan dorongan kepercayaan diri kepada Gina untuk sekalian menyutradarai.

“Saya merasa tak ada sineas lain yang lebih paham muruah cerita film ini selain dia. Selain itu, industri film Indonesia butuh lebih banyak sudut pandang perempuan,” kata Parwez (60).

Surat cinta sekaligus desakan keras

Melalui siaran pers, Gina menyebut bahwa Dua Garis Biru semacam surat cinta darinya kepada setiap keluarga yang sedang, atau pernah menghadapi kesalahan anggota keluarganya, dan dalam proses memaafkan satu sama lain dalam perjalanannya menjadi lebih baik lagi.

Selain itu, film ini sekaligus desakan keras untuk para pihak yang bertanggung jawab agar berupaya lebih serius mengurangi jumlah kesalahan fatal seperti kehamilan dini pada remaja di Indonesia.

“Kesalahan yang bisa berujung pada kematian ibu dan atau bayinya, menambah jumlah angka pelajar putus sekolah, lingkaran kemiskinan, bahkan kekerasan dalam rumah tangga karena ketidaksiapan pernikahan dini,” demikian lanjutan isi pernyataan Gina.

Apa yang disampaikan Gina bukan pepesan kosong. Seperti tampak pada infografik di atas yang kami rangkum berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, prevalensi perkawinan anak (berumur 17 tahun ke bawah) di atas 10% tersebar di 30 provinsi.

Lima besar provinsi yang membukukan angka pernikahan dini pada anak melebihi 25% adalah Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.

Hanya Kepulauan Riau, Sumatera Utara, DKI Jakarta, dan Yogyakarta yang angka perkawinan pada anak tidak menyentuh 10%.

Secara total terjadi peningkatan pernikahan dini pada anak Indonesia. Jika pada 2017 tercatat sebesar 14,18%, angka tersebut berubah menjadi 15,66% setahun berikutnya.

Laporan lain yang diterbitkan United Nations Children's Fund (UNICEF) pada tahun 2017 menunjukkan, sekitar 14% anak-anak di Indonesia menikah atau dinikahkan mana kala mereka belum lagi menginjak usia 18.

Alhasil anak-anak perempuan hamil pada usia di mana tubuh dan mental mereka belum siap. Ada risiko besar yang menanti di depan mata. Peringatan ini sempat disampaikan dokter yang memeriksa kandungan Dara dalam film Dua Garis Biru.

Lebih lanjut diterangkan dalam Laporan Kajian Perkawinan Usia Anak di Indonesia terbitan 2018, perempuan yang belum genap 18 tahun berisiko meninggal saat melahirkan. Demikian juga sang bayi.

Risiko lain adalah bayi lahir prematur dan stunting (kerdil), hamil saat usia muda juga rentan mengalami pendarahan, keguguran, hamil anggur, dan hamil prematur.

Bahkan saat lahir pun bisa sangat mungkin anak mendapatkan pola asuh yang salah. Penyebabnya karena terbatasnya pengetahuan sifat keibuan dalam psikologi.

Hamil di luar nikah, seperti yang dialami Dara, hanya salah satu penyebab pernikahan pada anak. Hasil penelitian Bank Dunia pada 2016 menyebut penyebab lainnya adalah kemiskinan, tingkat pendidikan, dan konflik kemanusian.

Euis Sunarti, Guru Besar Ilmu Keluarga dan Konsumen Institut Pertanian Bogor, dalam laman situs web BKKBN menerangkan, menikah bukan hanya perkara kesiapan fisik, tapi juga harus diimbangi kematangan mental, spiritual, emosi, dan sosial.

Peran orang tua untuk mendorong anaknya menikah di umur yang tepat agar dapat membangun keluarga berkualitas sangat diperlukan.

"Semakin siap dan semakin baik mereka menjalankan tugas keluarga, maka semakin baik perkembangan anak dalam keluarga mereka," pungkas Euis.

Angga Yunanda (kanan, pemeran Bima) bersama Zara JKT48 (pemeran Dara), dua pemeran utama dalam film Dua Garis Biru
Angga Yunanda (kanan, pemeran Bima) bersama Zara JKT48 (pemeran Dara), dua pemeran utama dalam film Dua Garis Biru | StarvisionPlus

Saling berkomunikasi dan terbuka

Jadi orang tua itu bukan cuma pekerjaan hamil 9 bulan 10 hari, itu pekerjaan seumur hidup,

Rika, ibu Dara, diperankan Lulu Tobing

Gina tak menampik jika terlontar penilaian bahwa Dua Garis Biru adalah film yang memberikan pendidikan seks kepada anak. Sebuah langkah penting yang sayangnya masih dianggap tabu oleh sebagian besar kalangan.

Padahal keingintahuan anak seharusnya menjadi modal utama untuk masyarakat yang lebih sehat dan bahagia. Bukan malah sesuatu yang tabu dibicarakan.

Dalam hemat Gina, pendidikan seks kepada anak seharusnya bermula dari yang paling awal. Semisal menjelaskan tentang bagaimana membangun hubungan yang baik, penghargaan terhadap diri sendiri, dan konsekuensi jika melakukan perbuatan yang melanggar batas.

Pemahaman utuh tentang tubuh dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa penghargaan terhadap diri sendiri sebagai manusia. Batasan tentang bagian mana yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain pun akan muncul dari rasa kesadaran tadi.

Itu pula salah satu pelajaran yang dipetik Zara dan Angga, pemeran Dara dan Bima, setelah bermain dalam film.

Mereka berdua kompak mengatakan jadi semakin menghargai tubuh sendiri dan menimbang resiko secara menyeluruh sebelum melakukan sesuatu.

Selain pendidikan seks yang elementer, Gina sesungguhnya menyuguhkan banyak hal kepada penonton film Dua Garis Biru.

Semua pesan terbingkai dalam rangkaian adegan dan dialog tanpa pretensi menggurui.

Rara Sekar, yang menyanyikan lagu bertajuk “Growing Up” sebagai pelengkap film ini, misalnya. Usai menonton dalam gala premiere ia menulis lewat layanan Instagram Story-nya.

“Film Dua Garis Biru bisa membawa kita pada dialog tentang relasi orang tua dan anak yang sehat, pendidikan kehidupan, dan arti menjadi dewasa,” demikian Rara memberikan testimoni.

Saling berkomunikasi dengan terbuka diinsafi betul oleh Dwi Sasono (39), sosok ayah tiga orang anak dalam kehidupan nyata yang dalam film ini bermain sebagai ayah Dara.

“Cinta kita sebagai orang tua harusnya menjadi modal utama untuk membuka ruang diskusi tentang kesalahan apa yang anak mungkin lakukan nanti. Sebab sejak memutuskan untuk berkeluarga berarti kita memilih berproses dan tumbuh lebih baik dengan segala kesalahannya,” pungkas Gina.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR