Ahmad Yunus, peserta lokakarya cuci film hitam putih yang digelar Afdruk 56, Sabtu (10/2/2018). Afdruk 56 merupakan satu divisi cuci cetak analog dalam komunitas seniman fotografi Mes 56 di Yogyakarta.
Ahmad Yunus, peserta lokakarya cuci film hitam putih yang digelar Afdruk 56, Sabtu (10/2/2018). Afdruk 56 merupakan satu divisi cuci cetak analog dalam komunitas seniman fotografi Mes 56 di Yogyakarta. Anang Zakaria / Beritagar.id
LAPORAN KHAS

Fotografi analog, riwayatmu kini

Kejayaan afdruk kilat jadi cerita masa lalu. Kamar gelap di kampus berubah jadi gudang. Meski fotografi analog perlahan tergerus zaman, sekelompok anak muda berupaya melestarikannya.

Perkakas itu tak lebih dari barang bekas. Ia berupa papan sepanjang 15 sentimeter. Bagian tengahnya berlubang dan berfungsi sebagai bingkai bagi lup bertangkai. Sepintas tengok, benda itu bahkan tak cukup menarik bagi tukang rongsok.

Mujadi (37), sang pemilik, membiarkannya tergeletak dalam rak kaca di sudut kios pembuatan stempel miliknya.

"Tak ada gunanya lagi," kata Mujadi, saat kami mengobrol di kiosnya yang berdiri di depan satu lahan kosong, bilangan Jalan Parangtritis kilometer 3, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (15/3/2018).

Satu hingga tiga dekade silam, benda itu masih jadi perkakas andalan untuk urusan cetak foto cepat. Afdruk kilat, begitu sebutannya. Pada masa jayanya, rombong afdruk kilat mudah ditemui di pusat keramaian--sekitar kampus, kantor pemerintahan, dan pasar.

Kini, jasa cetak foto kaki lima termaksud sulit ditemukan. Mujadi juga sudah banting setir. Pada 2003, ia ganti profesi jadi pembuat stempel, setelah lima tahun mengais rejeki lewat keterampilan cetak foto cepat.

Era 2000-an, gedung Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kerjasama Yogyakarta berdiri di lahan kosong belakang kios Mujadi. Pun, kebanyakan pelanggan Mujadi adalah para mahasiswa yang mengurus administrasi di kampus termaksud.

Itu sebelum gempa bumi menggetarkan Yogyakarta pada Sabtu pagi, 27 Mei 2006. Gempa 5,9 skala richter itu membuat gedung STIE Kerjasama ambruk dan lahannya terbengkalai hingga kini.

Jasa cetak foto kaki lima di sekitarnya ikut terguncang. Belakangan, seperti Mujadi, umumnya penyedia jasa cetak foto di sana alih usaha jadi tukang stempel.

Gempa tersebut sekadar satu penanda waktu. Mantan pengusaha afdruk kilat, Abdul Wahab menyebut perkembangan teknologi fotografi sebagai guncangan utama yang bikin afdruk kilat gulung tikar. "Pengaruhnya besar sekali," kata lelaki berusia 59 itu.

Pada masa jayanya, Wahab pantas disebut juragan afdruk kilat di Yogyakarta. Era 1990-an, ia punya 20 rombong di sekitar kampus-kampus, dari Universitas Gadjah Mada, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, hingga STIE Kerjasama.

Dari bisnisnya, Wahab beroleh untung bersih hingga Rp4 juta per pekan. Pada waktu tertentu, misal momen penerimaan mahasiswa baru dan pengurusan rencana studi, laba bisa berkali lipat.

Wahab tinggal di Wedomartani, Sleman. Tanah dan bangunan yang ditempatinya merupakan hasil usaha afdruk kilat. "Saya juga bisa menyekolahkan anak-anak sampai kuliah," kata bapak enam anak itu.

Bisnis Wahab bermula pada 1985 dengan satu rombong yang beroperasi di depan kampusnya, UIN Sunan Kalijaga (dulu IAIN Sunan Kalijaga).

Mula-mulai, ia belajar teknik cetak foto dari kawan sekampus. "Saya kuliah sambil kerja," kata lelaki yang tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jurusan dakwah (1981).

Melihat prospek bisnis nan menggiurkan, Wahab coba-coba buat rombong sendiri. Sekilas lihat, rombong afdruk mirip dengan gerobak dorong kebanyakan: berbahan kayu dengan dua roda di kanan dan kiri yang membuatnya mudah dipindahkan.

Bedanya, rombong afdruk berupa kotak tertutup berukuran setengah hingga satu meter. Kotak itu berfungsi jadi "kamar gelap", tempat cetak foto.

Di dalam kotak, ada perkakas pencetak foto. Rangkaiannya (dari depan): dua papan berkaca pembesar, selubung kain hitam, lensa, papan pembatas, dan kertas.

"Mencetak foto seperti merekam cahaya," kata Wahab. Untuk membuat selembar potret, klise ditempatkan di depan kaca pembesar dan disinari cahaya petromaks dari luar kotak.

Proses itu membuat objek pada klise terpancar menembus kaca pembesar. Cahaya juga terproyeksi melewati kain hitam, menembus lensa, dan jatuh di permukaan kertas.

Adapun papan pembatas berfungsi laiknya tombol penjepret pada kamera. "Saat pembatas diangkat gambar di klise pindah ke kertas," ujar Wahab.

Setelah objek pindah dari klise ke kertas, ada proses pencucian dengan dua cairan kimia berbeda. Cairan pertama untuk memunculkan gambar. Cairan kedua guna mengawetkan gambar.

Selanjutnya, kertas dicuci dengan air tawas guna menghilangkan kotoran yang timbul dari proses cuci kimia. "Terakhir kertas dicuci pakai air bersih dan dikeringkan," kata Wahab.

Saat usahanya moncer, Wahab juga membuat kotak afdruk untuk pengusaha lain--hingga ke luar Yogyakarta.

Kini, tak satu pun rombong afdruk miliknya tersisa. Satu per satu, rombongnya rusak tak terurus, tersapu laju teknologi fotografi kiwari.

Foto kiri: Negatif foto di atas kaca. Sebelum ditemukan film seluloid, kaca menjadi media untuk merekam negatif film. Foto kanan: Papan dengan lobang untuk bingkai kaca pembesar, salah satu komponen dalam proses afdruk kilat.
Foto kiri: Negatif foto di atas kaca. Sebelum ditemukan film seluloid, kaca menjadi media untuk merekam negatif film. Foto kanan: Papan dengan lobang untuk bingkai kaca pembesar, salah satu komponen dalam proses afdruk kilat. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Penjaga kala senja

Hampir 200 tahun lalu, seorang pria Prancis, Joseph Nicephore Niepce (1765-1833) mengenalkan teknik fotografi. Teknik itu berkembang hingga George Eastman (1854-1932), penemu gulungan film, mendirikan perusahaan Kodak yang mempermudah aktivitas memotret.

Teknologi fotografi pun melaju, satu momen puncak terjadi pada pengujung abad ke-20, kamera digital kian populer dan menggantikan model analog.

Perlahan, orang tak lagi butuh klise untuk merekam objek. Gambar dari kamera dengan mudah disalin ke komputer--dengan atau tanpa kabel. Pencetakannya pun dilakukan dengan mesin cetak kekinian (printer).

Di tengah senja kala fotografi analog, sekelompok anak muda Yogyakarta berupaya membangkitkannya. Afdruk 56, demikian nama komunitas itu, merupakan divisi cuci cetak analog yang digagas Ruang Mes 56--ruang seni fotografi yang berbasis di Mangkuyudan.

"Kami berusaha melestarikan pengetahuan teknik analog," kata pengelola Afdruk 56, Edwin "Dolly" Roseno, Sabtu (10/2/2018).

Beberapa tahun terakhir, menurut Dolly, penggunaan kamera analog kembali marak. Komunitas-komunitas baru bermunculan di pelbagai kota--dari Yogyakarta, Bandung, hingga Jakarta.

Meski demikian, Dolly menyayangkan sebab kebanyakan pegiat fotografi analog "berhenti di tombol shutter". Lepas menjepret, mereka menyerahkan proses lanjutan ke jasa cetak foto digital. Klise dipindai scanner, gambar masuk ke komputer, dan dicetak printer. Tidak ada prosedur kamar gelap.

Dibanding induknya, Ruang Mes 56 yang berdiri pada 2002, Afdruk 56 jauh lebih muda. Divisi "kamar gelap" ini lahir pada 2017.

Meski baru setahun, mereka getol mempromosikan pengetahuan tentang kamera analog: mendokumentasikan sejarah, menggelar lokakarya, hingga mengais artefak yang tersisa.

Untuk kegiatan terakhir, anggota Afdruk 56 rajin blusukan ke pasar klithikan (pasar barang bekas) demi berburu film negatif.

Klise-klise lawas, kata Dolly, merekam romantika kejayaan kamera analog sekaligus memuat narasi sosial-budaya pada masanya. Foto-foto lama itu merekam pelbagai fenomena--dari tren busana, kendaraan populer, hingga status sosial seseorang.

Setahun terakhir, Afdruk 56 juga menggelar tiga lokakarya fotografi analog.

Lokakarya pertama bertema hotprint, teknik cetak foto pada abad 19--jauh sebelum film seluloid ditemukan. Masa itu belum ada kertas foto yang teremulsi di pasaran. Alhasil, seorang fotografer harus melumuri sendiri kertasnya dengan cairan emulsi demi mencetak foto.

"Tak banyak yang menguasai teknik ini. Kami juga bekerja sama dengan komunitas yang lebih mahir," ujar Dolly. Di lokakarya perdana itu, Afdruk 56 menggandeng komunitas fotografi mahasiswa ISI Yogyakarta.

Lokakarya kedua (Agustus 2017) mengambil tema photogram, teknik fotografi yang lebih kuno dengan hasil hitam putih.

Dalam proses ini, objek disinari di atas kertas peka cahaya. Sinar yang terhalang objek akan menghasilkan warna putih di kertas. Sebaliknya, proyeksi yang tak terhalang objek menjadi hitam. "Teknik ini diadopsi mesin foto kopi," kata Dolly.

Lokakarya terakhir (Februari 2018) punya tema mencuci film hitam-putih--tak sampai mencetak.

Ada dua proses utama yang diajarkan. Pertama memindahkan film dari dalam kamera ke tabung khusus. Kedua, merendam gulungan film dalam cairan kimia agar hasil jepretan muncul.

Dolly bilang, teknik cetak foto analog memakan waktu dan ongkos yang tak sedikit bila dibandingkan dengan teknologi fotografi kiwari.

Jangan heran bila tak banyak orang yang menguasainya. Studio cuci cetak foto manual kian jarang ditemui. Bahkan, jurusan komunikasi di beberapa kampus menjadikan laboratorium kamar gelap sebagai gudang.

"Sebenarnya tak ada enaknya, tapi harus ada yang menjaga pengetahuan ini," ujar Dolly.

Ketika yang cepat tak selalu tepat

Namanya Ahmad Yunus. Ia tergolong wartawan dengan proyek-proyek ambisius.

Untuk menyebut satu contoh, sepanjang Mei-Desember 2009, bersama jurnalis kawakan Farid Gaban, ia menjelajah Nusantara dengan mengendarai sepeda motor. Perjalanan mereka berbuah buku Meraba Indonesia, Ekspedisi Gila Keliling Nusantara (2011).

Kini, Yunus berstatus wartawan lepas dan berbasis di Bandung. Tatkala media dan jurnalis adu cepat menyajikan informasi, Yunus pilih jadi pewarta zaman baheula: mengetik dengan mesin tik dan memotret pakai kamera analog.

Masalah muncul ketika hendak mencetak foto. Banyak studio menyediakan jasa cetak film, tapi sedikit yang melakukan dengan cara lama. Februari 2018, ia ke Yogyakarta demi menjadi peserta lokakarya Afdruk 56. "Saya ingin belajar cuci cetak film," katanya.

Berbekal Mamiya C330, Yunus tekun memotret sejak tengah tahun lalu. Kamera medium format tersebut hanya bisa menampung 12 foto dalam satu gulungan film.

Ia pun harus berhitung: seberapa penting objek hingga layak dipotret; kapan waktu yang tepat; sudut pengambilan gambar; dan seterusnya. "Kalau pakai kamera digital hajar dulu pilih kemudian. Pakai analog tak bisa begitu," ujarnya.

Perhitungan macam itu juga diterapkan Yunus saat menulis naskah dengan mesin tik. Konsep tulisan harus tuntas dalam kepalanya sebelum tertuang di atas kertas.

Memotret dan menulis dengan perangkat jadul, bagi Yunus, menjadi pelatihan sekaligus perenungan.

Berlatih menyiapkan tema liputan lebih matang. Perenungan untuk fenomena adu cepat media menyajikan informasi. Perihal perenungannya, ia punya satu pertanyaan, "Apakah kecepatan itu menyediakan informasi yang tepat?"

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR