Proses membuat tato tradisional di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat.
Proses membuat tato tradisional di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Febrianti
WARISAN BUDAYA NUSANTARA

Gairah baru akan tato Mentawai

Sejumlah anak muda berupaya menghidupkan lagi tato tradisional Mentawai. Warisan budaya lokal itu mungkin bisa selamat dari kepunahan.

Malam kian larut di Pantai Mapadegat, Tuapeijat, Pulau Sipora Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Lokasi Festival Pesona Mentawai yang berlangsung pada 28 Juni-1 Juli itu sudah mulai sepi. Tetapi sebuah stan masih berdegup. Di dalamnya tengah berlangsung pembuatan tato.

Tiga orang sikerei--ahli pengobatan dan tokoh penting dalam ritual adat setempat-- duduk di lantai sambil bernyanyi. Lirik lagu meminjam bahasa Mentawai kuno. Kidung dialunkan dengan nada-nada lirih. Cocok dengan cahaya redup dari lampu pijar.

Di dekat para sikerei itu terbaring seorang laki-laki muda. Tubuhnya membujur di atas tikar pandan. Dia sedang ditato oleh seorang sipatiti (penato) muda. Sesekali wajahnya terlihat menahan sakit. Meringis. Tetapi, nyeri itu agaknya teralihkan oleh senandung sikerei-sikerei tadi.

Bajak Letcu sang penato itu. Tangannya terampil merajah lengan kiri laki-laki tersebut. Dia terapkan motif tato dari Simatalu, Pulau Siberut bagian barat. Nama motif tato itu Sibeat Sabbahen. Artinya kulit langsat. Disebut begitu karena kulit buah langsat atau duku yang dibuka dan terkembang berbentuk mirip bintang.

Irama bunyi tak-tak-tak dari lilipat patiti--alat menato dari kayu kecil yang melengkung dengan jarum di ujungnya--mengisi ruang. Melengkapi tembang-tembang melenakan.

Jarum yang menembus kulit mengikuti pola yang sudah digambar. Meninggalkan warna hitam di dalam kulit. Pengerjaannya lembut, tapi cepat. Begitu kerja selesai, sipatiti mengolesi jangat kliennya dengan antiseptik dan vaselin agar tidak kena bengkak.

Laki-laki yang ditato itu Cornelius Gojai Sakerebau, 45, pegawai DPRD Kepulauan Mentawai. Di dada kirinya sudah ada tato lumba-lumba, dan di lengan kirinya tato kalajengking.

"Tetapi baru hari ini saya punya tato Mentawai. Padahal, sudah dari dulu saya ingin sekali punya tato Mentawai," katanya.

Cornelius anak seorang sikerei di Simatalu. Ayahnya ditato, tetapi dia dan saudaranya tidak lagi boleh memakai tato Mentawai.

"Saat itu ayah saya mengatakan, 'kalau kau ingin sekolah, kata gurumu tidak boleh ditato, kalau tidak mau sekolah boleh pakai tato'," ujarnya.

Akhirnya dia tak memakai tato Mentawai. Pun teman-temannya yang bersekolah. Mereka tidak lagi ditato seperti anak menjelang remaja Mentawai di masa lalu.

"Akibat larangan itu, generasi saya banyak yang tidak ditato. Begitu juga dengan anak-anak muda Mentawai lainnya. Dengan cepat tato Mentawai mulai hilang, hanya tertinggal pada orang-orang tua," katanya.

Tiap laku menato di Simatalu memang beriring ritual. Seperti yang dijalani Cornelius malam itu. Lagu-lagu dari leluhur hadir sebagai penghiburan bagi orang-orang yang sedang ditato.

"Lagu yang dinyanyikan itu untuk mengalihkan perhatian kita dari rasa sakit ditato," ujarnya.

Satu sikerei dari Simatalu yang duduk di sebelah Cornelius dikenal sebagai Teu Ngaingai Manai. Usianya 55. Dia bilang, orang-orang bertato di Simatalu dulu sering ditangkap polisi. Para tangkapan itu lalu dihukum membersihkan jalan di Muara Sikabaluan, ibu kota Kecamatan Selama. Akibatnya, banyak orang enggan memiliki tato.

"Tapi karena saya seorang sikerei, saya harus tetap ditato. Kampung saya jauh ke dalam dari pantai, jadi tidak ada yang menangkap saya," katanya.

Kini penato di Simatalu sudah tak banyak lagi. Sedangkan dulu, sipatiti dilakoni oleh laki-laki dan perempuan.

"Kalau badan perempuan bagian atas seperti dada, dulu harus sipatitinya perempuan juga, tidak boleh dengan sipatiti laki-laki, kecuali untuk kaki atau tangan," ujarnya.

Belakangan, Manai merasa senang menyaksikan anak-anak muda di Tuapeijat, Mentawai kembali memakai tato Mentawai.

"Sepulang saya dari festival ini, kami para sikerei akan membawa anak-anak muda di Simatalu kembali memakai tato seperti dulu, kami juga masih bisa membuat tato," katanya.

Dalam bahasa Mentawai, Tato disebut Ti'ti. Di masa silam, sudah menjadi kebiasaan bagi perempuan dan laki-laki yang beranjak remaja di Mentawai untuk menerima rajahan. Perubahan drastis terjadi setelah pemerintah melarang kepercayaan Arat Sabulungan pada 1955. Padahal, akidah lokal itu merupakan jantung kebudayaan Mentawai.

Semua aktivitas yang dianggap berhubungan dengan Arat Sabulungan--termasuk menato tubuh--dilarang oleh pemerintah dan agama di Kepulauan Mentawai. Kini saat tato Mentawai hampir punah, anak muda Mentawai giat berjuang melestarikannya.

Salah satu pegiatnya Viator Simanri Sakombatu. Pria berusia 32 itu karib dipanggil Bajak Letcu. Dia penato muda dari Mentawai yang setahun terakhir aktif menghidupkan lagi seni lukis tubuh dari daerahnya bersama teman-temannya.

Mereka mendirikan studio tato di Tuapeijat dengan nama Ti'ti Tradisional Mentawai. Mereka juga giat mendokumentasikan tato dan mempelajari motif-motif tato lama yang masih ada di pedalaman Siberut.

"Kalau tidak diselamatkan, tato Mentawai akan segera punah. Padahal, di Indonesia tato tradisional itu hanya ada di Mentawai dan Kalimantan," ujarnya.

Bajak Letcu belajar membuat tato Mentawai sejak 2014. Dia magang pada sipatiti yang masih ada. Prosesnya tidak mudah. Sebab, pelakunya mesti punya ketajaman rasa khas seniman. Sudah begitu, calon sipatiti harus peka dengan pola gerak tubuh manusia.

"Membuat sketsa pada tubuh itu tidak mudah. Tidak semua orang bisa. Saya sendiri harus sangat hati-hati bikin gambar. Garis yang dibuat jangan sampai salah. Keseimbangan antara tato di kaki kanan dan kaki kiri harus sama," katanya.

Dia dan para koleganya di Ti'ti Tradisional Mentawai juga sedang menyusun petisi yang ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk menyelamatkan tato Mentawai. Targetnya, sebuah Peraturan Daerah bisa terbit. Dengan begitu, tato Mentawai dapat bersandar pada kekuatan hukum.

Untuk menopang petisi tersebut, mereka mengumpulkan tanda tangan khalayak luas secara daring di internet. Selain itu, pengumpulan dukungan juga dilakukan secara nyata di halaman stan lewat spanduk sepanjang 10 meter. Sudah ratusan tanda tangan terpacak pada spanduk putih tersebut.

Gairah bertato di Festival Pesona Mentawai juga terlihat di stan Sitasimataoi, komunitas tato lain. Beberapa anak muda di situ juga sudah bisa pamer tato Mentawai di dada, punggung, kaki, dan tangan masing-masing.

Reynold Silvester Saogo, 30, sipatiti di Sitasimataoi, terlihat sedang menato seorang pemuda. Reynold juga generasi Mentawai yang dulunya hampir tidak mengenal tato. Dia hanya pernah melihat tato Pulau Sipora pada kakeknya.

Dia belajar membuat tato Mentawai di Butui, Siberut Selatan, dua tahun lalu. Kegairahan awal itu terjadi saat dia bertemu Durga, seorang seniman tato Indonesia, yang tengah berada di rumah seorang sikerei di Butui.

"Di sanalah saya belajar menato selama dua minggu menggunakan lilipat patiti, alat tato Mentawai. Saya belajar membuat motif tato pada Durga dan sikerei yang ada di sana," ujarnya.

Reynold--yang dikenal sebagai Paburut Kerei di komunitas tato Mentawai--mulai bertato sejak 2011. Dia melengkapi semua tato Mentawai pada tubuhnya pada awal 2019. Berkat tato-tato itu, Reynold pernah pernah kena tegur pengurus gereja Protestan di Tuapeijat. Pasalnya, di gereja itu dia memberi pelayanan di bidang musik.

"Tetapi, saya diamkan saja. Karena, ini tato budaya saya yang ingin saya selamatkan," katanya.

Keseriusan dia dan kawan-kawannya akan tato Mentawai akhirnya berujung pembentukan komunitas Sitasimataoi, yang secara harfiah berarti kita orang Mentawai.

Penato lain masih muda juga. Namanya Joel Frianto Sikatsila, 23. Dia mulai belajar membuat tato Mentawai di kampung halamannya di Saibi, Siberut Tengah. Mediumnya pohon pisang. Motif tato dia pelajari dengan cara autodidak.

"Baru berani menato orang pada tiga tahun lalu. Yang ingin ditato kebanyakan laki-laki. Hanya ada satu perempuan Mentawai yang pernah saya tato. Tapi dia juga minta dirahasiakan," ujarnya

Akibat pelarangan tato di masa lalu, tato Mentawai cuma bertahan di Siberut. Di tiga pulau lain--Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan--produk budaya setempat itu lenyap. Meski di saat bersamaan, banyak anak muda beralih ke tato modern yang dibuat dengan mesin.

"Di kampung saya di Pagai Utara, banyak yang memakai tato modern. Karena itu saya memakai tato Mentawai sejak tiga bulan lalu. Semoga meeka terpengaruh dan kembali ke tato Mentawai," kata Hieronimus Eko Zebua, mahasiswa Mentawai dari Pagai Utara.

Hieronimus bangga dengan tato Mentawai. Di kampusnya di Fakultas Teknik Perencanaan di Universitas Bung Hatta,Padang, dia tak malu mengekspos tatonya pada para mahasiswa dan dosennya.

"Saya katakana ini tato budaya saya, Mentawai, dan mereka terkagum-kagum," ujarnya.

Menanggapi semangat anak-anak muda di Mentawai untuk kembali menggunakan tato tradisional Mentawai, Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, merespons dengan positif.

"Silakan membuat tato Mentawai karena itu kekayaan budaya Mentawai. Saya sangat senang banyak anak muda Mentawai yang mulai kembali menggali budaya tato Mentawai dan memakainya," katanya. "Saya tidak akan melarang siswa, mahasiswa atau pegawai pemerintah ditato. Suatu kali mungkin kami akan membuat Perda tentang tato Mentawai."

Ia menambahkan, motif tato Mentawai kelak juga bisa dikembangkan pada wadah lain seperti kain dan ukiran, bukan kulit manusia semata.

"Ini akan menguntungkan secara ekonomi, bila kreativitas dari motif tato Mentawai ini dikembangkan," ujarnya.

Tradisi rajah berkembang di Mentawai sejak orang Mentawai datang tiba antara 1500 hingga 500 tahun sebelum Masehi.

Mereka suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan dan lantas berbaur dengan budaya Dongson.

Tato bagi orang Mentawai memiliki bermacam fungsi. Bisa sebagai tanda kenal wilayah dan kesukuan yang tergambar lewat tato utama, bisa pula menjadid penanda status sosial serta profesi. Selain tentunya hiasan tubuh atau keindahan belaka.

Siberut mempunyai 160 motif tato. Satu orang dapat memiliki belasan tato di sekujur tubuhnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR