Keterangan Gambar : Petani garam Bali sedang memanen dari bilah kayu pohon kelapa atau palungan, Rabu (9/8/2017). © Beritagar.id / Luh De Suriyani

Asosiasi garam menganggap pemerintah lambat mengantisipasi gagal panen pada 2016. Pemerintah diminta mengamankan wilayah tertentu untuk dijadikan lahan.

Berbekal alat dari papan kayu, Asmuri begitu antusias memanen garam di ladangnya. Beberapa kali tarikan, dari bawah genangan air yang tingginya di bawah mata kaki itu, muncul butiran garam. Makin lama garam panennya makin menggunung.

Asmuri tak sendiri, ada lima rekan membantunya, dua di antara perempuan juga ikut memanen garam. Dua pria lain bertugas memindahkan gundukan garam ke gerobak untuk kemudian dipindah dan ditumpuk di pematang. Agar garam mudah dikemas dalam zak dan esoknya truk mudah mengangkutnya.

Di usia 60 tahun, tangan tua Asmuri masih tampak begitu cekatan memanen garam. "Garam ini harus segera dipanen, soalnya saya lihat mendung," kata petani garam di Dusun Bengkal, Desa Galis, Kecamatan Galis, Rabu (2/8/2017). Galis termasuk lumbung penghasil garam di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Mendung? Saat Beritagar.id menemui Asmuri Rabu siang itu cuaca sama sekali tak mendung. Hari itu, terik matahari justru terasa menyengat kulit. "Mendungnya tadi malam, jadi pagi-pagi sekali ke ladang, langsung panen garam, khawatir turun hujan," Asmuri menjelaskan soal mendung yang dilihatnya itu.

Bagi petani garam, hujan memang menjadi bencana. Biasanya, Agustus merupakan bulan yang baik untuk bertani garam karena biasanya musim panas. Sejak Mei, biasanya para petani sudah mulai mempersiapkan lahan. Panen raya biasanya dilakukan pada Agustus dan September.

Sejumlah petani sedang memanen garam di Dusun Bengkal, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Rabu (2/8/2017).
Sejumlah petani sedang memanen garam di Dusun Bengkal, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Rabu (2/8/2017).
© Musthofa /Beritagar.id

Dalam beberapa tahun terakhir, cuaca tak menentu. Petani pun was-was. Mereka tak mau spekulasi. Ketimbang garam rusak, begitu muncul mendung mereka langsung memanen. Apalagi, ladang milik Asmuri sudah pakai teknologi geomembran.

Kata dia, bila turun hujan, air tawar yang masuk dalam geomembran bakal sulit memuai, dampaknya garam yang sudah mengkristal akan cepat mencair. Berbeda dengan lahan garam yang beralas tanah, air hujan lebih cepat terserap dalam tanah.

"Garam ini baru berusia lima hari, mestinya lima hari lagi baru dipanen," kata Asmuri menjelaskan usia garam yang sedang ia panen.

Ia kemudian menjelaskan cara membedakan garam muda dan garam tua. "Kalau garam muda, dipencet pakai jari gampang patah. Kalau garam tua, jangan coba-coba mencet, tangan kita yang luka," ujarnya.

Menurut Rusdi, petani garam lain, panen dini itu bukan sekadar urusan cuaca. Salah satu yang memacu petani semangat memanen dini garamnya karena tahun ini harga garam sedang legit. Harganya mencapai Rp3.800 perkilogram.

Harga ini berlaku untuk semua jenis garam, baik yang berkualitas bagus atau jelek. "Biasanya harga garam antara Rp650 sampai Rp700 perak perkilogram," kata Rusdi.

Asmuri tak menampik pernyataan Rusdi. Hari itu, dari beberapa lahan yang dipanen, diperkirakan total garam yang terkumpul mencapai 5 ton. Bila harga tak naik yaitu Rp650, dia hanya akan memperoleh duit sebesar Rp3,2 juta. Namun dengan kenaikan harga hingga Rp3.800 itu, Asmuri bisa mengantongi Rp19 juta. Tentu itu harga yang cukup menggiurkan petani.

"Kapan lagi bisa menikmati harga mahal," ujar dia. "Kalau harga terus segini, kami pasti semangat kerja."

Kelangkaan garam ini, menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Brahmantya Satyamurti disebabkan anomali cuaca yang memang cenderung basah sepanjang tahun ini.

Namun alasan Brahmantya itu dibantah Faisol Baidowi, Sekretaris Jenderal, Asosiasi Petani Garam Republik Indonesia (APGRI). Menurut Faisol, mahalnya harga garam saat ini disebabkan kosongnya stok garam konsumsi di petani. Kalau pun ada produksi, garam langsung dibeli pengepul atau perusahaan.

Faisol Baidowi, Sekjen Asosiasi Petani Garam RI.
Faisol Baidowi, Sekjen Asosiasi Petani Garam RI.
© Musthofa /Beritagar.id

Faisol menduga, krisis garam yang terjadi saat ini bukan sekadar urusan cuaca apalagi karena alih fungsi lahan menjadi tambak ikan, pergudangan atau pemukiman. Asosiasi, kata dia, justru menduga pangkal krisis garam tahun ini disebabkan gagal panen garam tahu 2016.

Saat itu, produksi garam hanya 106 ribu ton sementara kebutuhan nasional antara 1,5 hingga 1,8 juta ton. Sesuai aturan, kata Faisol, bila terjadi gagal panen, maka pemerintah harus melakukan dua hal. Pertama, menetapkan status gagal panen. Kedua mengeluarkan pernyataan kekurangan stok garam sehingga harus impor.

"Tapi sampai hari ini, enggak ada pernyataan gagal panen itu, padahal aturan mengharuskannya," kata dia.

Dalam sebuah rapat di Menteri Koordinator Kemaritiman Januari lalu telah disepakati pemerintah akan mengimpor garam sebanyak 226 ribu ton. Angka ini muncul berdasarkan hitungan kebutuhan garam konsumsi rumah tangga di mana perkapita membutuhkan 3 kilogram garam pertahun.

Meski impor disepakati pada Januari, namun baru pada April 2017 impor garam dilakukan itu pun hanya 75 ribu ton. Impor itu belakangan menyeret Dirut PT Garam dalam perkara hukum. Dan kabar terakhir, pemerintah akan kembali mengimpor garam dengan jumlah yang sama pada Agustus ini. Sehingga total impor garam sebanyak 150 ribu ton.

"Kebutuhan garam 226 ribu yang diimpor 150 ribu, secara logika kurang enggak?" kata dia.

Sebenarnya, kata Faisol, gagal panen 2016 bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Gagal panen juga pernah terjadi pada 1998 dan awal tahun 200an. Pertanyaannya, kata dia, kenapa gagal panen sebelumnya tidak sampai menimbulkan gejolak seperti sekarang. "Karena pemerintah saat itu cepat melakukan antisipasi dengan melakukan impor," ujarnya.

Mestinya, kata Faisol, pemerintah tidak perlu gengsi mengakui bahwa Indonesia gagal panen pada 2016. Agar semua pihak bisa memahami dan mendukung semua keputusan pemerintah untuk mengatasi krisis garam.

Data Asosiasi menyebutkan total luas lahan garam di Indonesia kurang lebih 25 ribu hektar. Paling besar terdapat di NTT dan Pulau Madura. Di Madura, lahan garam terluas terletak di Kabupaten Sampang sebanyak 4.265 hektar. Kabupaten Sumenep 2.067 hektar. Kabupaten Pamekasan 900 hektar dan Kabupaten Bangkalan 300 hektar. Luas lahan ini belum termasuk milik PT Garam sebanyak kurang lebih 5.500 hektar.

Melihat data ini, Faisol mengatakan jika pemerintah ingin meningkatkan produksi garam nasional solusi yang tepat adalah membuka lahan garam baru.

Dia menilai penerapan teknologi untuk meningkat produksi kurang maksimal karena tidak semua petani mau dan mampu menerapkannya dengan tepat. "Kalau nambah lahan baru, produksi bisa diprediksi. Kalau pakai teknologi, pertambahannya masih abstrak," ujarnya.

Petani baru Rabu (8/9/2017) terlihat sedang menyiapkan lahan penggaraman di pesisir obyek wisata Amed, Karangasem karena musim hujan lebih panjang.
Petani baru Rabu (8/9/2017) terlihat sedang menyiapkan lahan penggaraman di pesisir obyek wisata Amed, Karangasem karena musim hujan lebih panjang.
© Luh De Suriyani /Beritagar.id

Lain di Pamekasan, beda di Bali

Jika di Pamekasan lahan masih luas, di Bali, petani garam saat ini justru kesulitan mencari lahan. Ini dialami Wayan Slonong (30), petani garam di Dusun Amed, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Tahun lalu, ia mengaku sangat kesulitan mencari lahan kosong yang bisa digunakan. Sebab, sejumlah lahan yang dulu dipakai untuk bertani garam sudah mulai beralih fungsi. Rata-rata untuk vila, homestay, dan rumah.

Beruntung tahun ini ia bisa menemukan lahan kosong. "Ini baru mulai membersihkan lahan," ujarnya saat ditemui Rabu (9/8/2017) lalu.

Di Amed, kini hanya ada setengah dari sekitar 25 KK petani garam yang memiliki lahan. Sebagian lagi penggarap dan tergantung pada pemilik lahan yang kapan saja bisa menjualnya.

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, I Made Gunaja, persoalan lahan ini karena memang jelas benar aturan yang diterapkan. "Masalah garam rakyat di Bali itu di antaranya perebutan wilayah ruang pesisir. Tanah di pantai riskan jadi hotel dan restoran," katanya.

Mestinya, kata Gunaja, ada wilayah tertentu di pesisir untuk nelayan dan petani garam, agar dilestarikan.

Tak mau hanya tinggal kenangan, petani garam dengan difasilitasi CI Indonesia melakukan pemetaan. Hasil ditemukan luas area garam Amed dan jumlah petaninya terus menurun. Pada 2005 ada sekitar 18,07 ha. Jumlah ini menurun drastis pada 2010 dengan sisa 2 ha. Sementara pada 2016 jumlah lahan diperkirakan hanya 1,22 ha. Sedangkan luas lokasi usaha garam rakyat di Bali mencapai 119,14 ha (2015).

Ketua kelompok petani garam Amed, Nengah Suanda mengatakan di tengah tantangan alih fungsi lahan pesisir ia berharap produksi garam rakyat terus bertahan. Kelompok garam melakukan sejumlah siasat agar harga yang diterima petani di atas harga pasar. Misalnya menyepakati seluruh hasil panen anggotanya masuk ke kelompok.

Cara unik
Sebenarnya produksi garam di Bali cukup unik. Sepetak lahan garapan dibagi empat bagian berbentuk kotak. Di tengah-tengah ada sebuah benda berbentuk kerucut atau mirip cone es krim dibalik. Bagian lingkaran di atas, terbuat dari anyaman bambu. Namanya tinjungan. Ini elemen penting untuk filter air laut yang digunakan sebagai bahan baku garam.

Petani garam Rabu (9/8/2017) sedang menyiapkan tanah sari dengan menggemburkan tanah lalu disiram air laut, dibiarkan mengendap seharian lalu dimasukkan tinjungan bambu bentuk kerucut.
Petani garam Rabu (9/8/2017) sedang menyiapkan tanah sari dengan menggemburkan tanah lalu disiram air laut, dibiarkan mengendap seharian lalu dimasukkan tinjungan bambu bentuk kerucut.
© Luh De Suriyani /Beritagar.id

Langkah pertama adalah mengolah tanah untuk membuat tanah sari. Petak-petak tanah digemburkan, lalu disiram air laut dibiarkan meresap seharian. Keesokan hari, tanah ini kembali digemburkan lalu dimasukkan ke tinjungan. Kemudian dipadatkan dengan diinjak-injak. Lalu air laut yang kini disedot mesin, dialirkan pipa-pipa ke tinjungan berisi tanah sari.

Hasil filter tinjungan masuk ke bak beton. Air baku inilah yang kemudian dijemur di bilah-bilah batang pohon kelapa tua yang sudah dikeruk bagian tengahnya. Namanya palungan. Tiap petani memiliki sedikitnya 50 bilah di sepetak lahannya.

Di awal musim produksi ini, belum semua palungan dan tinjungan dibentangkan di lahan. Masih ditumpuk atau diposisikan terbalik agar air hujan tak menggenang.

Sementara di sentra petani garam rakyat lain di Pantai Les, Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali alat produksinya ada yang diubah. Cara produksinya sama dengan di Amed, namun palungan kini diganti dengan petak-petak beralaskan terpal plastik.

Cening Nuasih, seorang nenek yang masih kuat menggarap lahannya mengatakan penggunaan alas plastik sudah sekitar 3 tahun ini. "Lebih banyak dapat, kalau hujan tinggal lipat," katanya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.